Saturday, January 10, 2009

Teknologi Pengolahan Limbah di Rubiyah Sasiirangan

Teknologi Pengolahan Limbah di Rubiyah Sasiirangan

1. Pendahuluan
Industri tekstil termasuk industri kain sasirangan dapat dijuluki sebagai penghasil utama limbah cair, hal ini disebabkan dari proses penyempurnaan tekstil yang memang selalu menggunakan air sebagai bahan pembantu utama dalam setiap tahapan prosesnya.

Pencemaran air dari industri kain sasirangan dapat berasal dari : buangan air proses produksi, buangan sisa-sisa pelumas dan minyak, buangan bahan-bahan kimia sisa proses produksi, sampah potongan kain, dan lainnya.

Air buangan yang bersifat asam atau basa dapat menurunkan daya pembersih alam yang dipunyai air penampungnya. Air buangan yang mengandung bahan kimia dan sisa-sisa pelumas dapat merubah warna, bahkan dapat mengakibatkan matinya makhluk-makhluk air yang sangat penting artinya bagi kehidupan manusia.

Pada beberapa negara maju, termasuk di Indonesia telah ada peraturan pemerintah yang mengatur tentang baku mutu bahan buangan yang diizinkan untuk dibuang langsung ke dalam lingkungan. Dengan adanya peraturan tersebut, maka industri tekstil termasuk industri kain sasirangan boleh membuang limbah cairnya langsung ke lingkungan dengan ketentuan bahwa kandungan bahan kimia atau bahan lainnya dalam air buangannya tidak melebihi konsentrasi yang telah ditetapkan atau dengan kata lain memenuhi persyaratan.

2. Parameter Air Buangan Industri Kain Sasirangan

Potensi pencemaran air buangan industri kain sasirangan sangat bervariasi tergantung dari macam proses yang dilakukan, kapasitas produks, jenis bahan baku, bahan pewarna dan bahan penolong yang digunakanserta kondisi lingkungan tempat pembuangannya.

Parameter yang digunakan untuk menunjukkan karakter air buangan industri kain sasirangan dapat disamakan dengan karakter air buangan industri tekstil yang meliputi parameter fisika seperti zat padat, suhu, warna dan bau; parameter kimia seperti lemak, minyak pelemas zat aktif permukaan, zat warna, fenol, sulfur, pH, krom, tembaga, senyawa racun, dan sebagainya.

2.1. Parameter Fisika

* Padatan Total

Adalah jumlah zat padat yang tertinggal, apabila air buangan dipanaskan atau diuapkan pada suhu 103° C s/d 105° C. Padatan ini terdiri dari padatan tersuspensi, padatan koloidal, dan padatan terlarut.

Padatan Tersuspensi, merupakan padatan dengan ukuran lebih besar dari 1 mikron, dapat mengendap sendiri tanpa bantuan zat tambahan (koagulan), meskipun dalam waktu agak lama.

Padatan Koloidal, merupakan padatan dengan ukuran antara 1 milimikron sampai 1 mikron, tidak dapat mengendap tanpa bantuan koagulan. Kekeruhan air buangan antara lain disebabkan adanya partikel-partikel koloidal.

Padatan Terlarut, merupakan padatan dengan ukuran lebih kecil dari 1 milimikron, terjadi dari senyawa organik atau anorganik yang dalam larutan berupa ion-ion.


* Warna

Ditimbulkan dari sisa-sisa zat warna yang tidak terpakai dan kotoran-kotoran yang berasal dari sutera alam. Disamping dapat mengganggu keindahan, mungkin juga dapat bersifat racun, serta biasanya sukar dihancurkan. Genangan air yang berwarna, banyak menyerap oksigen dalam air, sehingga dalam waktu lama akan membuat air berwarna hitam dan berbau.


* Bau

Bau dari air buangan menandakan adanya pelepasan gas yang berbau seperti hidrogen sulfida. Gas ini timbul dari hasil penguraian zat organik yang mengandung belerang atau senyawa sulfat dalam kondisi kekurangan oksigen.


* Suhu

Suhu air buangan biasanya lebih tinggi dari suhu air tempat pembuangannya. Pada suhu yang lebih tinggi kandungan oksigen dalam air berkurang sehingga memungkinkan tumbuhnya tanaman-tanaman air yang tidak diinginkan.


2.2. Parameter Kimia

Parameter kimia yang digunakan untuk mengukur derajat pencemaran air buangan antara lain adalah : BOD, COD, pH, senyawa anorganik, senyawa organik, karbohidrat, protein, lemak dan minyak.

* Biologycal Oxygen Demand (BOD)

Adalah jumlah oksigen terlarut dalam air buangan yang dapat dipakai untuk menguraikan sejumlah senyawwa organik dengan bantuan mikro organisme pada waktu dan kondisi tertentu. Besaran BOD biasanya dinyatakan dalam satuan ppm,artinya kebutuhan oksigen dalam miligram yang dipergunakan untuk menguraikan zat pencemar yang terdapat dalam satu liter air buangan.

* Chemical Oxygen Demand (COD)

Beberapa jenis zat organik dalam air buangan sukar diuraikan secara oksidasi menggunakan bantuan mikro organisme, tetapi dapat diuraikan menggunakan pereaksi oksidator yang kuat dalam suasana asam, misalnya menggunakan kalium bikromat atau kalium permanganat. Besaran COD dinyatakan dalam satuan ppm.

* pH

Merupakan parameter penting untuk kehidupan manusia, makhluk air, tanaman, kesehatan dan industri. Air buangan dikatakan bersifat asam apabila pH 1 s/d 7, dikatakan alkalis apabila pH 7 s/d 14, dan dikatakan netral apabila pH sekitar 7. Biasanya air buangan industri sasirangan bersifat alkalis karena dalam pengolahannya banyak menggunakan senyawa alkali seperti dalam pemasakan, pencelupan, dan pengelentangan.


* Senyawa Anorganik

Sangat beragam, pada umumnya berupa alkali, asam dan garan-garam. Zat-zat tersebut dapat menyebabkan kondisi air buangan bersifat alkalis, asam atau netral dengan kadar elektrolit tinggi.


* Senyawa Organik

Pada umumnya merupakan gabungan unsur, karbon, hidrogen, oksigen dan juga mungkin unsur nitrogen dan belerang


3. Pengolahan Limbah Cair secara Kimia

Prinsip yang digunakan untuk mengolah limbah cair secara kimia adalah menambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat mengikat bahan pencemar yang dikandung air limbah, kemudian memisahkannya (mengendapkan atau mengapungkan).

Kekeruhan dalam air limbah dapat dihilangkan melalui penambahan/pembubuhan sejenis bahan kimia yang disebut flokulan. Pada umumnya bahan seperti aluminium sulfat (tawas), fero sulfat, poli amonium khlorida atau poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai flokulan.

ImageUntuk menentukan dosis yang optimal, flokulan yang sesuai dan pH yang akan digunakan dalam proses pengolahan air limbah, secara sederhana dapat dilakukan dalam laboratorium dengan menggunakan test yang merupakan model sederhana dari proses koagulasi.

Dalam pengolahan limbah cara ini, hal yang penting harus diketahui adalah jenis dan jumlah polutan yang dihasilkan dari proses produksi. Umumnya zat pencemar industri kain sasirangan terdiri dari tiga jenis yaitu padatan terlarut, padatan koloidal, dan padatan tersuspensi.

Terdapat 3 (tiga) tahapan penting yang diperlukan dalam proses koagulasi yaitu : tahap pembentukan inti endapan, tahap flokulasi, dan tahap pemisahan flok dengan cairan.

3.1. Tahap Pembentukan Inti endapan

Pada tahap ini diperlukan zat koagulan yang berfungsi untuk penggabungan antara koagulan dengan polutan yang ada dalam air limbah. Agar penggabungan dapat berlangsung diperlukan pengadukan dan pengaturan pH limbah. Pengadukan dilakukan pada kecepatan 60 s/d 100 rpm selama 1 s/d 3 menit; pengaturan pH tergantug dari jenis koagunlan yang digunakan, misalnya untuk :


Alum
pH 6 s/d 8
Fero Sulfat pH 8 s/d 11
Feri Sulfat pH 5 s/d 9
PAC pH 6 s/d 9


3.2. Tahap Flokulasi

Pada tahap ini terjadi penggabungan inti inti endapan sehingga menjadi molekul yang lebih besar, pada tahap ini dilakukan pengadukan lambat dengan kecepatan 40 s/d 50 rpm selama 15 s/d 30 menit. Untuk mempercepat terbentuknya flok dapat ditambahkan flokulan misalnya polielektrolit.

Polielektrolit digunakan secara luas, baik untuk pengolahan air proses maupun untuk pengolahan air limbah industri. Polielektrolit dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu non ionik, kationik dan anionik; biasanya bersifat larut air. Sifat yang menguntungkan dari penggunaan polielektrolit adalah : volume lumpur yang terbentuk relatif lebih kecil, mempunyai kemampuan untuk menghilangkan warna, dan efisien untuk proses pemisahan air dari lumpur (dewatering).

3.3. Tahap Pemisahan Flok dengan Cairan

Flok yang terbentuk selanjutnya harus dipisahkan dengan cairannya, yaitu dengan cara pengendapan atau pengapungan. Bila flok yang terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan, maka dapat digunakan alat klarifier, sedangkan bila flok yang terjadi diapungkan dengan menggunakan gelembung udara, maka flok dapat diambil dengan menggunakan skimmer.

Gambar diagram alir proses koagulasi dengan pengendapan adalah sebagai berikut :
Image
Klarifier berfungsi sebagai tempat pemisahan flok dari cairannya. Dalam klarifier diharapkan lumpur benar-benar dapat diendapkan sehingga tidak terbawa oleh aliran air limbah yang keluar dari klarifier, untuk itu diperlukan perencanaan pembuatan klarifier yang akurat.

Kedalaman klarifier dipengaruhi oleh diameter klarifier yang bersangkutan. Misalkan dibuat klarifier dengan diameter lebih kecil dari 12m, diperlukan kedalaman air dalam klarifirer minimal sebesar 3,0 m dan disarankan

KESIMPULAN

Dengan menggunakan beberapa buah unit pengolah limbah dengan cara di atas maka hasil buangan pada unit produksi kain sasirangan di Rubiyah Sasirangan telah bebas dari polutan pencemar lingkungan.

Dengan demikian berarti produk kain sasirangan dari Rubiyah Sasirangan bisa dikatakan adalah produk dengan memperhatikan lingkungan atau produk Ramah Lingkungan.

No comments:

Jurus-jurus praktis memulai bisnis Muslimah

Jurus-jurus praktis memulai bisnis Muslimah

Akhir-akhir ini, biaya kehidupan sehari-hari makin terasa memberatkan. Listrik, bensin, transportasi; berbagai kebutuhan pokok tersebut telah naik berkali-kali. Kenaikannya tersebut kemudian biasanya diikuti dengan kenaikan berbagai komoditas yang tergantung pada hal-hal tersebut juga. Sehingga kini kenaikannya menjadi cukup merata di segala hal.
Banyak orang yang kemudian tergoda untuk berusaha sendiri. Tapi kemudian banyak juga yang kita lihat mengalami kegagalan dalam usahanya tersebut.

Bagaimana dengan kita? Tentu menarik sekali ya jika kita juga bisa memiliki usaha kita sendiri. Apakah itu niatnya sekadar mengisi waktu, apalagi ketika anak-anak kita sudah mandiri. Atau niat membantu suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mungkin malah untuk mengikuti sunnah Nabi saw sebagai seorang pedagang dulunya, dimana Nabi saw juga telah bersabda bahwa, “Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki” (HR Ahmad)

Pertanyaannya sekarang; how? Bagaimana caranya kita memulai usaha kita sendiri?

Selama bertahun-tahun, saya mengamati berbagai usaha muslimah; bagaimana awalnya, suksesnya, dan ada juga yang kemudian menurun. Dari situ, banyak sekali yang bisa kita jadikan pelajaran.

1. Temukan peluang, yang cocok, bagi Anda.

Pertama sekali, Anda harus menentukan dulu, bisnis apa yang ingin dan bisa Anda lakukan.

“Ingin” - usaha tersebut harus sesuai dengan bakat dan minat Anda. Jika usaha tersebut berpotensi bagus, namun tidak menarik bagi Anda, maka akan bermasalah di tengah jalannya kelak. Ini kadang terjadi, dan akibatnya biasanya cukup fatal.
“Bisa” - usaha tersebut memang adalah usaha yang mampu Anda lakukan; Anda punya cukup modalnya, ada waktunya, dan seterusnya.

Ada berbagai jenis usaha, yaitu produksi, jual-beli, jasa, atau kombinasinya. Contoh usaha produksi misalnya usaha konfeksi busana muslim, kerajinan tangan, bakery, dan lain-lain. Contoh usaha jual-beli misalnya warung, MLM, toko, dan seterusnya. Sedangkan contoh usaha jasa seperti konsultan komputer / arsitektur / pembukuan / landscape / dan lain-lainnya.
Yang kombinasi misalnya usaha konfeksi busana muslim, yang juga ada outletnya; sehingga, usaha tersebut mencakup produksi dan jual-beli.

Sebagai muslimah, memang kita ada memiliki beberapa keterbatasan. Biasanya dari segi waktu, karena memang tanggung jawab pertama adalah mengurus keluarga kita. Jadi kita perlu memilih jenis usaha yang bisa kita jalankan, walaupun dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.
Tapi jangan menganggap bahwa ini akan membuat kita tidak bisa menjadi maju - justru beberapa usaha muslimah bisa lebih maju daripada usaha suaminya. Biasanya ini terjadi ketika muslimah tersebut menganggap keterbatasan tersebut sebagai bagian dari tantangan, bukan halangan. Sehingga tidak menjatuhkan semangat, tetapi justru memicu kreatifitasnya.

Untuk pemula seperti kita, sebaiknya kita melakukan usaha yang belum banyak saingannya. Atau kalaupun sudah ada saingannya, kita bisa menawarkan kelebihan, sehingga ada alasan bagi customer untuk memilih kita.
Jangan cuma menjadi peniru tanpa ada kelebihan apa pun — ini yang sangat sering terjadi. Katanya, inilah orang Indonesia, satu orang buka usaha kios ponsel, maka semuanya ikut-ikutan membuat itu juga. Hasilnya? Biasanya cuma terbuangnya waktu, tenaga, dan uang Anda.

“Find your niche”, kata seorang pakar - temukan celah yang cocok bagi Anda. Ada yang membuat kerajinan tangan, sampai bisa diekspor. Ada yang memulai usahanya dari sekolah anaknya, sambil menunggui anaknya sekolah dia berdagang dengan ibu-ibu lainnya. Ada yang malah bekerja dari rumah - dengan modal bahasa Inggris dan bakat desain, kemudian menjadi freelance desainer situs Internet. Dan lain-lainnya.

Seperti yang Anda telah lihat, ini adalah hal yang penting. Karena itu, yakinkan dulu bahwa usaha tersebut memang adalah sesuatu yang cocok untuk Anda. Jika Anda telah merasa cocok, maka berikutnya kita perlu meneliti, apakah usaha tersebut memang bisa menguntungkan.

2. Proposal bisnis

Percaya atau tidak, cukup banyak orang melakukan usaha tanpa terlebih dahulu meneliti, apakah memang usaha tersebut bisa menguntungkan. Banyak orang yang memulai bisnisnya hanya dengan berdasarkan angan-angan, tanpa perhitungan.
Walaupun Anda sudah sangat ingin dan sangat perlu untuk memulai bisnis, tahan dulu sebentar. Waktu yang Anda luangkan untuk membuat proposal bisnis ini bisa menyelamatkan Anda dari kesulitan di masa depan.

“Saya mau buka usaha dengan uang saya sendiri, enggak pakai investor kok. Ngapain musti buat proposal juga ?”. Sebetulnya tetap ada investor disini - yaitu Anda sendiri. Tentunya Anda perlu tahu, apakah usaha yang akan dimodali ini memang akan bisa menguntungkan, atau justru cuma akan melenyapkan uang Anda tanpa bekas.

Minimal, berikut ini adalah hal-hal yang perlu tercantum di suatu proposal bisnis:

  • Kebutuhan modal awal
  • Ongkos rutin
  • Estimasi pemasukan
  • Strategi bisnis

Contoh proposal bisnis bisa kita lihat berikut ini :

Proposal usaha kedai sandwich (roti isi)

  1. Strategi bisnis:
    • Banyak pegawai yang tidak sempat sarapan, karena keterbatasan waktu. Sandwich harganya murah, mengenyangkan, rasanya enak, dan praktis - bisa dimakan sambil duduk di bis sekalipun.
    • Penjualan: sistim bagi hasil laba bersih, penjual: 30%, pemilik: 70%. Berupa kios sederhana, di lokasi-lokasi yang banyak dilewati orang-orang yang akan pergi berangkat kerja.
    • Estimasi modal per sandwich: Rp 3000, Harga jual: Rp 5000
    • Estimasi laba per bulan : (pemasukan - pengeluaran) =
      (laba kotor - ongkos) =
      ( 4.000.000 - 660.000) = Rp 3.340.000
  2. Kebutuhan modal awal:
    • Oven untuk membuat baguette (roti lonjong ala Perancis) : Rp 5.000.000
    • 2 buah kios @ Rp 3.000.000 = Rp 6.000.000
    • Persediaan filling (isi) sandwich untuk 2000 sandwich = Rp 4.000.000
    • Promosi : spanduk, pamflet, kartu nama: Rp 1.000.000
    • Total : Rp 16.000.000
  3. Ongkos rutin bulanan:
    • Gas Elpiji @ Rp 55.000 x 4 = Rp 110.000
    • Kemasan sandwich = Rp 300.000
    • Saus tomat, cabai, mayonnaise, mentega = Rp 250.000 (dimasukkan menjadi ongkos bulanan karena sulit diperhitungkan nilainya untuk setiap sandwich)
    • Total : Rp 660.000,-
  4. Estimasi pemasukan:
    Setiap kios diperkirakan bisa menjual 50 sandwich per hari. Jika target pasar adalah pegawai kantor, maka ada 20 hari kerja dalam sebulan.

    Berarti penjualan per bulan per kios adalah 1000 buah sandwich, total 2 kios = 2000 sandwich per bulan.

    Laba kotor:
    Laba per sandwich = Rp 2000
    Laba kotor per bulan = Rp 2000 x 2000 sandwich = Rp 4.000.000

Keterangan:

Kunci dalam pembuatan proposal bisnis adalah jujur dengan diri Anda sendiri. Terutama pada bagian estimasi pemasukan; sangat mudah untuk tergoda menaikkan angka-angka di bagian ini. Tapi jangan lakukan itu, karena hanya akan menyulitkan Anda sendiri di masa depan; proposal bisnisnya bagus dengan angka keuntungan yang fantastis, namun pada kenyataannya ternyata merugi besar-besaran.

Kunci berikutnya adalah informasi.
Dengan informasi yang mencukupi, maka Anda dapat membuat proposal bisnis yang realistis. Sehingga, pada pelaksanaannya nanti tidak akan meleset terlalu jauh dari apa yang telah kita perkirakan disini.
Untuk setiap bisnis, berbeda lagi cara mengumpulkan informasinya. Pada contoh usaha sandwich ini, mengenai estimasi pemasukan; misalnya kita bisa memperhatikan bakal lokasi usaha, dan menghitung kira-kira ada berapa orang pegawai yang lalu-lalang di daerah itu.
Misalkan ada 1000 orang, maka kemudian kita ambil persentase konservatif bahwa akan ada 5% yang tertarik dengan sandwich kita. Maka, didapatlah estimasi omset 50 buah sandwich per hari.

Bagian modal awal dan ongkos rutin tidak terlalu sulit, terutama memerlukan ketelitian. Jangan sampai ada hal yang terlewat, sehingga menjadi kejutan yang tidak menyenangkan setelah usaha berjalan.

Nah, setelah kita menuliskan semuanya dalam suatu proposal bisnis, maka kini kita telah mempunyai gambaran yang lebih jelas mengenai bisnis tersebut. Jika kita kemudian yakin bahwa bisnis ini memang bisa menguntungkan, maka selanjutnya kita perlu mencari lokasi untuk usaha tersebut.

3. Lokasi

Ketika dimintai tips-tips untuk membuka usaha, seorang kawan pernah menjawab, “1. Lokasi. 2. Lokasi. 3. Lokasi.”

Bagi sebagian besar bisnis, lokasi memang adalah kunci yang terpenting.
Pada usaha produksi, lokasi yang banyak sumber daya manusia dan dekat dengan sumber bahan produksi akan membantu meningkatkan efisiensi. Pada usaha dagang, lokasi yang yang tepat bisa membedakan antara keberhasilan dengan kegagalan. Pada usaha jasa, lokasi yang mudah dijangkau oleh customer bisa meningkatkan penghasilan Anda.
Demikianlah pentingnya lokasi.

Mencari lokasi ini bisa sulit sekali, karena daerah-daerah strategis biasanya sudah ditempati. Atau menjadi mall / ITC, yang biaya sewanya juga sangat mahal.
Tapi bisa juga menjadi mudah sekali, seperti misalnya jika silaturahmi kita bagus dan luas. Maka bisa saja tiba-tiba justru ada orang yang menawarkan tempatnya kepada Anda, tanpa perlu mencari-cari.

Jika Anda menemukan bahwa usaha Anda memang membutuhkan lokasi yang bagus, maka jangan sekali-kali tergoda untuk memulai usaha sebelum menemukannya.
Gencarkanlah usaha Anda untuk menemukan lokasi idaman tersebut. Silaturahmi juga dapat sangat membantu disini.

Tips: seringkali kita bisa menumpang lokasi. Seperti pada contoh usaha sandwich ini, karena kiosnya kecil, maka kita bisa menumpang di halaman minimarket Indomaret / Alfamaret, dengan membayar biaya sewa bulanan. Ini cenderung lebih murah daripada kita menyewa khusus untuk usaha kita sendiri.

4. Modal

Idealnya memang modal bisa 100% dari Anda sendiri. Tapi ini mungkin tidak selalu demikian halnya. Seringkali kita memerlukan tambahan dana dari investor lainnya.

Untuk memulai bisnis, saya sarankan untuk menghindari pinjaman bank, walaupun bank syariah.
Kalaupun proposal bisnis kita bagus, tetap usahakan menghindarinya; karena jika ternyata gagal, maka akan sangat sulit untuk mengembalikannya.

Lagipula pinjaman bank ini sering mengecoh. Kadang kita lupa, apalagi jika tidak ada pembukuan yang rapi, sehingga mengira uang bank sebagai uang kita sendiri. Walhasil, banyak orang yang kemudian justru memakai uang bank untuk membeli rumah, mobil, dan benda-benda yang lebih bersifat konsumtif lagi.

Selain terkecoh seperti itu, kadang juga kita lupa memperhitungkan beban bunga bank dan cicilan bank. Contoh; pada usaha warung, persentase labanya sangat tipis - seperti susu, labanya hanya sekitar 1% - 2%. Padahal harganya mahal sekali ya, siapa sangka ternyata labanya luar biasa tipis seperti itu.
Jika tidak hati-hati dalam memanfaatkan pinjaman bank, maka kita bisa kesulitan bahkan sekedar untuk membayar bunga setiap bulannya.

Alternatif lainnya adalah investor luar. Biasanya kemudian dibuat perjanjian / akadnya.
Jika kita telah membuat proposal bisnis seperti yang dibahas sebelumnya, ini bisa membantu kita untuk menjaring investor yang cocok dengan kita.
Kuncinya disini adalah pada akadnya; buat perjanjian yang tertulis, dan jelas. Bahkan (terutama) dengan investor yang dari keluarga sendiri. Karena seringkali kasus penzaliman itu dilakukan oleh keluarga.
Tapi kita sering lengah, ya maklumlah, apa iya keluarga sendiri mau menzalimi saudaranya sendiri - eh, ternyata, bisa saja lho. Dan sudah banyak kasusnya.

Jadi, berhati-hatilah. Pastikan bahwa akadnya akan mendorong terciptanya keadilan untuk kedua belah pihak.

5. Eksekusi

Ketika semuanya telah siap - maka kini adalah waktu untuk melaksanakannya. Anda kini berada di posisi eksekutif, sebagai eksekutor dari bisnis ini.
Inilah saatnya Anda melakukan semua yang telah Anda rencanakan selama ini.

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan :

  1. Promosi : Tidak ada gunanya Anda menjual barang/jasa yang sangat berguna, dengan harga yang murah, jika orang tidak tahu bahwa Anda ada.

    Promosi adalah suatu keharusan bagi setiap usaha. Namun, promosi yang ngawur juga justru bisa menghabisi suatu usaha.

    Untuk usaha yang tergantung pada lokasi, Anda perlu menyisihkan dana untuk membuat papan nama yang besar dan jelas.
    Sisihkan waktu/dana tambahan untuk membuat desain yang menarik pandangan mata orang yang tadinya hanya lewat. Tidak ada gunanya membuat papan nama besar jika bahkan sekedar dilirik pun tidak.

  2. The only constant is change - satu-satunya hal yang pasti adalah perubahan.

    Dalam melakukan usaha, sulit untuk bisa duduk tenang berpangku tangan. Akan selalu muncul hal-hal baru; pesaing baru, kenaikan ongkos, perubahan pasar, dan lain-lainnya.

    Tidak semuanya bisa Anda perkirakan di dalam proposal bisnis. Karena itu, Anda harus selalu siap untuk menghadapi masalah yang baru.

    Pertama-tama, Anda harus bisa menyadari dulu bahwa ada masalah. Karena, Anda tidak bisa menyelesaikan masalah yang setahu Anda tidak ada.
    Tapi kadang memang kita tidak menyadari akan adanya suatu masalah, karena kita telah sibuk (terjebak) dalam rutinitas.

    Disinilah pentingnya masukan dari pihak ketiga. Secara rutin, undanglah kawan atau saudara untuk menilik usaha Anda tersebut. Dan jangan lupa berterimakasih atas masukan-masukan yang mereka berikan.
    Tanpa informasi dari mereka, maka bisa saja tahu-tahu bisnis Anda telah berada di ambang kebangkrutan, dan Anda hanya bisa kebingungan, mengapa hal ini bisa terjadi.

    Kedua, Anda harus segera menyelesaikan masalah tersebut. Menunda masalah adalah menambah masalah. Masalah tidak akan selesai dengan menundanya.

    Ketiga, anggap saja masalah ini sebagai selingan yang menarik, di tengah-tengah rutinitas bisnis. Maka masalah yang muncul tidak akan membuat Anda patah semangat, malah justru akan mendorong munculnya ide-ide dan semangat baru.

  3. Customer service : Pembeli adalah raja, demikian pepatah yang sering kita dengar. Setelah melayani mereka dengan ramah, baik, dan sabar; maka biasanya beberapa customer akan merasa nyaman untuk berterus terang kepada Anda.

    Dari mereka Anda akan mendapatkan informasi-informasi paling berharga untuk usaha Anda tersebut — apa saja kekurangan Anda, apa kelebihan, apa potensi yang masih bisa digarap / dikembangkan.

    Customer service juga bisa menjadi kelebihan Anda dari para pesaing Anda, ketika usaha Anda sama dengan mereka.
    Berikan layanan yang lebih - layan antar, barang yang bisa dibuat sesuai pesanan, dan seterusnya.

  4. Hemat : Salah satu godaan dalam berbisnis adalah untuk berfoya-foya ketika memegang uang agak banyak.

    Semua pengusaha sukses yang saya kenal adalah orang yang hemat.
    Bahkan walaupun mereka kelihatan kaya / boros; namun ternyata sebetulnya masih termasuk hemat jika dibandingkan dengan income / pemasukan mereka.

    Ingatlah bahwa Anda baru memulai usaha Anda. Jalan Anda masih panjang. Pepatah “bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian” harus Anda camkan di benak Anda.

Berbisnis itu sulit ? Mudah ? Semuanya kembali kepada Anda. Namun, dengan perencanaan yang baik, maka segala hal bisa menjadi lebih mudah.

Selamat memulai usaha Anda.

Menentukan Harga Sebuah Karya Desain

View Full Version : Menentukan Harga Sebuah Karya Desain

Dalam dunia desain (khususnya dunia webdesign) banyak sekali cara menentukan harga sebuah desain yang diterapkan oleh perusahaan jasa desain ataupun freelance desainer. Ada yang memberikan harga per-paket, ada yang berdasarkan jumlah halaman, ada yang menentukan flat-price, ada pula yang menetukan berdasarkan rate per-jam atau per-hari.

Bagaimana sebuah kerja kreativitas dihargai? Sedemikian sulit-kah menentukan harga sebuah desain? Argumen apakah yang bisa diberikan seorang desainer dalam menentukan harga sebuah desain? Ini adalah masalah klasik dalam dunia desain, khususnya bagi para freelance desainer.

Berdasarkan obrolan dengan sesama freelance desainer dan juga dari pengalaman, saya mencoba merumuskan bagaimana memberi harga pada sebuah hasil karya kreatif. Sebenarnya ini bukan rumus mutlak. Setiap desainer pasti punya cara sendiri-sendiri untuk menentukan harga sebuah pekerjaan desain. Tapi paling tidak ini merupakan satu cara menentukan harga desain yang kira2 mungkin bisa diterapkan dan mungkin “cukup fair”.

Caranya adalah dengan memakai formula:

HP = HT – (d x HT)

dimana: HT = [ R x W ] + K + M

HP = Harga penawaran sebuah desain atau project desain
HT = Harga total pekerjaan desain
R = Rate per-hari atau per-jam dari seorang desainer dimana 1 hari = 8 jam kerja
W = Estimasi waktu lamanya pengerjaan desain/proyek
K = Harga konsep desain
M = Harga material desain.
d = prosentase potongan harga (discount) yang diberikan

Mengapa saya bilang “cukup fair”? Ini disebabkan karena dengan formula ini seorang desainer dituntut untuk bisa memberikan estimasi yang masuk akal dan cukup objektif akan hal2 seperti: seberapa objektif seorang desainer menilai skill desain dan pengalamannya, berapa lama sebuah pekerjaan bisa diselesaikan, berapa harga sebuah konsep desain atau perlu/tidaknya memberikan potongan harga kepada klien, dsb. Juga dikatakan "cukup fair" karena dengan menerapkan perhitungan ini, kedua belah pihak (desainer dan klien) diharapkan bisa melihat sisi objektif dari sebuah pekerjaan desain. Calon klien tidak merasa dibohongi dan di sisi lain desainer juga tidak merasa bekerja rodi.

Menentukan Variabel2 Formula.

1. Rate ®
Rate adalah harga perhari atau perjam yang ditentukan pada kemampuan seorang desainer dalam mengerjakan pekerjaan2 desain. Besarnya bergantung pada skill yang dikuasai, pemahaman konsep desain, pengalaman, portfolio, kredibilitas klien yang pernah ditangani, dsb. Singkatnya R bergantung pada pengalaman dan jam terbang seorang desainer.

Sebagai contoh seorang desainer yang menguasai seabrek software desain mulai dari Photoshop sampai program 3D tercanggih, memiliki pemahaman konsep desain yang dibuktikan dengan portfolio yang ditunjukkan, pernah bekerja di perusahaan desain terkemuka, berpengalaman menangani klien2 “wah” seperti Nokia, BMW, dsb, bisa dikategorikan sebagai highly priced desainer dengan rate misalnya Rp. 2.000.000/hari. Sementara seorang lulusan sekolah desain yang baru memiliki 2-3 portfolio dari perusahaan2 kecil bisa dikategorikan sebagai pemula dengan rate sekitar Rp. 100.000/hari. Disini, seorang desainer dituntut untuk mampu mengestimasi “nilai jual” dirinya berdasarkan faktor2 tersebut.

R bisa dihitung perhari ataupun perjam. Mengapa? Beberapa desainer menentukan rate/hari dengan alasan kemudahan perhitungan. Desainer lain menerapkan rate/jam dengan alasan agar lebih gampang menghitung waktu untuk revisi. Sebenarnya ini sama saja. Seperti disebutkan di atas, 1 hari = 8 jam. Sekarang kembali kepada sang desainer untuk menghitung lamanya pengerjaan sebuah proyek desain dalam hitungan hari (agar lebih sederhana) atau dalam hitungan jam agar lebih detail.

Tetapi ada satu hal lain yang harus dipertimbangkan. Ada kalanya rate/jam sangat sulit diterima oleh klien di Indonesia. Di negara2 maju dimana pekerjaan desain sudah dihargai dengan baik, rate/jam mungkin bisa diterapkan dan diterima oleh calon klien. Ini karena profesi desainer sudah dianggap sejajarkan dengan pekerjaan jasa profesional lain seperti pengacara, dokter, dsb. Akan tetapi bila kita berbicara dalam konteks lokal, berdasarkan pengalaman saya, rate/jam sangat sulit untuk diterima oleh umumnya klien di Indonesia. Tapi bila seorang desainer merasa confident untuk menerapkan rate/jam untuk klien di Indonesia, well.. why not?

2. Estimasi Lamanya Pengerjaan (W)
Estimasi lamanya waktu pengerjaan adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah desain/proyek desain. Berkaitan dengan rate ®, waktu bisa dihitung dalam satuan hari ataupun jam. Sebagai gambaran, jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) halaman HTML tanpa programming tentu akan berbeda dengan jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) halaman website full-flash.

Dalam menentukan jumlah hari ini desainer dituntut untuk reasonable dalam arti tidak mengada-ada dan masuk diakal. Sebagai contoh mengerjakan sebuah halaman HTML simpel tentu tidak akan memakan waktu sampai 7 hari (56 jam), bukan? Bila desainer menetapkan variabel Rate ® dalam satuan hari, variabel H tidak harus bulat, ia bisa bernilai 0.5 (setengah hari = 4 jam) hari atau 0.25 (seperempat hari = 2 jam).

3. Harga Konsep Desain (K)
Yang agak rumit mungkin menentukan harga konsep desain. Akan tetapi kita bisa mengira2 seberapa original dan brilyan-nya sebuah konsep desain. Disinilah seorang desainer dituntut untuk bisa menguraikan konsep desain yang ia tawarkan. Bukan hanya terbatas pada ide dan tampilan visual semata, tapi juga mencakup hal2 lain seperti ‘look and feel’, tata letak (lay-out) yang baik, flow navigasi dan penempatan menu sebuah website, sitemap, pemilihan tagline, dsb.

Seorang teman desainer mengatakan bahwa ia juga menerapkan semacam perhitungan untuk menentukan harga K. Dalam kasus ini, harga K ditentukan dari berapa lama ia melakukan eksplorasi untuk mendapatkan ide dan menguraikannya menjadi sebuah konsep desain. Dengan kata lain, K=Rk x Wk (rate desainer dikalikan jumlah waktu eksplorasi). Rumit? Mungkin terlihat rumit, tapi sekali lagi, di negara2 maju (kebetulan teman saya tersebut pernah bekerja di luar negeri dan baru kembali ke Indonesia), ini merupakan hal yang wajar dan bisa diterima oleh klien.

4. Prosentase Potongan Harga (d)
Mungkin terkesan aneh bila diterapkan potongan harga untuk sebuah desain/proyek desain. Akan tetapi hal ini perlu dipertimbangkan bila seorang desainer menghadapi kasus dimana calon klien merupakan sebuah perusahaan besar dan menurut perkiraan memungkinkan terbentuknya long term relationship dan kontinuitas proyek. Dengan menerapkan discount, desainer bisa memberi alasan “proyek perkenalan” dimana sebagai awal long term relationship, sebuah desain yang bagus diberi harga yang relatif murah. Bila memang tidak mau, desainer bisa memberi harga 0 (nol) untuk variabel ini.

5. Harga Material Desain (M)
Harga material desain adalah total harga pengadaan material untuk pekerjaan desain yang mencakup harga session fotografi, pembelian stock image, pembelian lisensi additional software, fee copywriting. dan lain2

Sekarang mari kita lihat variabel mana yang nilainya bersifat fleksibel dan variabel mana yang bernilai tetap. Harga W yang pasti nilainya bersifat fleksibel karena bergantung dari skala proyek desain yang dikerjakan. Harga M juga bersifat fleksibel karena bergantung dari harga pihak ketiga yang menyediakan material desain (copywriter, fotografer, harga stock image, dsb). Harga d juga bersifat fleksibel seperti telah diuraikan di atas.

Harga konsep (K) pun bersifat fleksibel. Perbedaan ada pada cara menentukan harga tersebut. Seperti telah diuraikan di atas, ada beberapa desainer yang menetapkan nilai K dengan rumus K=Rk x Wk. Tapi ada juga desainer yang menetapkan nilai K tanpa menguraikannya seperti itu. K adalah sebuah nilai yang mencakup seluruh hal mulai dari eksplorasi, ide, konsep, dsb. Semata-mata karena pertimbangan kemudahan. Sebenarnya keduanya sama saja, itu hanyalah cara desainer untuk memberikan argumen yang tepat untuk harga sebuah kreativitas.

Bagaimana dengan variabel R?

Ada dua fenomena menarik. Beberapa freelance desainer (dan juga umumnya agensi desain) mematok harga R tetap (fixed) dengan alasan bahwa harga tersebut adalah standar profesionalisme mereka. Desainer dengan harga R tinggi harus bisa bekerja dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan desainer dengan harga R yang lebih rendah untuk sebuah hasil yang kualitasnya sama. Artinya klien yang menyewa desainer dengan R tinggi akan diuntungkan dengan waktu pengerjaan (W) yang lebih singkat/cepat bila dibandingkan dengan mempekerjakan desainer dengan harga R yang lebih rendah.

Di sisi lain ada desainer yang lebih fleksibel dengan harga R yaitu dengan menentukan nilai R sesuai dengan kredibilitas ataupun skala perusahaan klien. Sebagai ilustrasi, desainer seperti ini memberikan nilai R yang tinggi kepada sebuah perusahaan multi-nasional yang memiliki aset milyaran dan memberi rate yang lebih rendah kepada perusahaan kecil berbudget rendah, misalnya.

Contoh berikut mungkin bisa lebih memperjelas:

Seorang desainer level menengah memberikan rate perhari sebesar Rp. 700.000/hari sesuai dengan skill, portfolio, pemahaman konsep dan pengalamannya kepada firma-hukum mid-size untuk mengerjakan website company profile. Struktur website tersebut adalah sebagai berikut:
http://home.graffiti.net/kamdih/sitemap.jpg
Struktur tersebut akan diterapkan dalam halaman2 berbasis HTML dengan tambahan features animasi flash di frontpage-nya dan aplikasi backoffice untuk news update. Estimasi pengerjaannya adalah 10 hari. Tampilan visual, look and feel serta alur navigasi dari website yang akan dibuat sangat sesuai dengan corporate image dari firma-hukum tersebut yang dibuktikan dengan mock-up yang telah dibuat. Untuk itu si desainer memberikan harga Rp. 3.000.000. Stok foto dan text untuk website disediakan oleh client, sehingga harga material = 0 (nol). Desainer tersebut memutuskan memberikan discount sebesar 10% dari harga total dengan pertimbangan akan terjalin long term relationship dimana firma hukum tersebut nantinya mungkin juga akan membuat aplikasi intranet, dsb.

Dalam kasus ini, harga penawaran adalah sebesar:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000

HP= 10.000.000 – (10% x 10.000.000) = 9.000.000

Jadi, harga penawaran yang diajukan adalah sebesar Rp. 9.000.000. Bila ternyata calon klien melakukan bargaining, desainer bisa bertahan dengan memberikan argumen bahwa secara konsep, desain tersebut sangat cocok dengan corporate image perusahaan atau effort yang dikeluarkan untuk pengerjaan proyek memang cukup besar.

Kemungkinan besar, calon klien akan bersikeras melakukan bargaining terhadap harga2 variabel2 tersebut. Disini, desainer bisa memperkecil harga penawaran dengan menurunkan harga rate per-hari menjadi Rp. 650.000 misalnya, sehingga manjadi:

HT= (650.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 9.500.000

HP= 9.500.000 – (10% x 9.500.000) = 8.550.000

atau memperbesar prosentase discount menjadi 15%:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000

HP= 10.000.000 – (15% x 10.000.000) = 8.500.000

Dalam contoh tersebut bisa dilihat bahwa sang desainer melakukan bargaining dengan menerapkan harga R yang fleksibel dengan tidak mengurangi waktu pengerjaan (W) berdasarkan pertimbangan2 tertentu misalnya load pekerjaan yang tinggi, dsb. Sementara desainer yang menetapkan fix rate R, bargaining mungkin bisa dilakukan dengan memberikan discount atau mengurangi waktu kerja (W)

Formula tersebut saya rasa cukup general dan bisa dipakai untuk menentukan harga pekerjaan desain lainnya dan tidak terbatas hanya pekerjaan webdesign. Ia bisa juga diterapkan untuk pekerjaan desain grafis misalnya. Sebagai contoh, katakanlah desain poster seperti Matrix Revolution di bawah.
http://home.graffiti.net/kamdih/revolutions.jpg
Secara teknis pengerjaan poster tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai mudah dan dapat diselesaikan dalam 1 hari saja. Akan tetapi dengan klien sekelas Warnerbros, desainer bisa menetapkan rate per-hari ® yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan konsep desain yang original dan brilyan yang dilengkapi dengan tagline "Everything That Has a Beginning Has an End" mungkin variabel K bisa dihargai jutaan dollar.

Satu hal lagi, contoh diatas adalah dalam kasus programming atau actionscripting dilakukan oleh satu orang desainer yang sama. Namun formula ini juga bisa diterapkan untuk pekerjaan dimana programming atau flash actionscripting dilakukan oleh orang2 yang berbeda. Jadi bila sebuah desain website misalnya menyangkut juga pembuatan basis-data, programming dan actionscripting, harga penawaran adalah akumulasi dari harga yang diajukan tiap2 team member yang terlibat di dalam pekerjaan tersebut.

Sekali lagi, cara di atas bukanlah sebuah hal mutlak. Ini hanyalah salah satu cara dan penerapannya juga kembali kepada desainer yang bersangkutan. Satu hal yang pasti, formula ini juga tidak akan menjamin diperolehnya sebuah pekerjaan/proyek desain? Harus dibedakan disini antara menentukan harga desain dengan mendapatkan proyek desain. Deal sebuah pekerjaan desain bergantung dari banyak faktor lain seperti relasi, jenis klien, budget, kualitas desain, dsb. Tidak ada jaminan bahwa dengan menerapkan formula ini sebuah proyek desain pasti akan diperoleh. Akan tetapi, minimal seorang desainer memiliki dasar untuk menentukan harga sebuah desain dan tidak hanya bisa bergumam sambil berkeringat dingin bila sang klien mempertanyakan dasar penentuan harga desain yang ia tawarkan.

MENENTUKAN HARGA

Dalam dunia IT (khususnya dunia sistem informasi) banyak sekali cara menentukan harga sebuah aplikasi yang diterapkan oleh perusahaan jasa aplikasi ataupun freelance programmer. Ada yang memberikan harga per-paket, ada yang berdasarkan jumlah form, ada yang menentukan flat-price, ada pula yang menetukan berdasarkan rate per-jam atau per-hari.
Bagaimana sebuah kerja skill dihargai? Sedemikian sulit-kah menentukan harga sebuah aplikasi? Argumen apakah yang bisa diberikan seorang programmer dalam menentukan harga sebuah aplikasi? Ini adalah masalah klasik dalam dunia sistem informasi, khususnya bagi para freelance programmer.

Perhitungan Harga Penawaran
Berdasarkan obrolan dengan sesama freelance programmer dan juga dari pengalaman, saya mencoba merumuskan bagaimana memberi harga pada sebuah hasil karya skill. Sebenarnya ini bukan rumus mutlak. Tapi paling tidak merupakan satu cara menentukan harga aplikasi yang kira2 mungkin bisa diterapkan dan “cukup fair” yaitu dengan memakai formula:

HP = HT – (d x HT)

dimana: HT = [ R x W ] + K + M

HP = Harga penawaran sebuah aplikasi atau project aplikasi
HT = Harga total pekerjaan aplikasi
R = Rate per-hari atau per-jam dari seorang programmer dimana 1 hari = 8 jam kerja
W = Estimasi waktu amanya pengerjaan aplikasi/proyek
K = Harga konsep aplikasi
M = Harga material aplikasi.
d = prosentase potongan harga (discount) yang diberikan

Mengapa saya bilang “cukup fair”? Ini disebabkan karena dengan formula ini seorang programmer dituntut untuk bisa memberikan estimasi yang masuk akal dan cukup objektif akan hal2 seperti: seberapa objektif seorang programmer menilai skill aplikasi dan pengalamannya, berapa lama sebuah pekerjaan bisa diselesaikan, berapa harga sebuah konsep aplikasi atau perlu/tidaknya memberikan potongan harga kepada klien, dsb. Juga dikatakan “cukup fair” karena dengan menerapkan perhitungan ini, kedua belah pihak (programmer dan klien) diharapkan bisa melihat sisi objektif dari sebuah pekerjaan aplikasi. Calon klien tidak merasa dibohongi dan di sisi lain programmer juga tidak merasa bekerja rodi. Very Happy

Menentukan Variabel2 Formula.
1. Rate (R)
Rate adalah harga perhari atau perjam yang ditentukan pada kemampuan seorang programmer dalam mengerjakan pekerjaan2 aplikasi. Besarnya bergantung pada skill yang dikuasai, pemahaman konsep aplikasi, pengalaman, portfolio, kredibilitas klien yang pernah ditangani, dsb.

Singkatnya R bergantung pada pengalaman dan jam terbang seorang programmer. Sebagai contoh seorang programmer yang menguasai seabrek software aplikasi mulai dari Delphi sampai program .Net, memiliki pemahaman konsep aplikasi yang dibuktikan dengan portfolio yang ditunjukkan, pernah bekerja di perusahaan sistem informasi terkemuka, berpengalaman menangani klien2 “wah” seperti Nokia, BMW, dsb, bisa dikategorikan sebagai highly priced programmer dengan rate misalnya Rp. 2.000.000/hari. Sementara seorang lulusan sekolah IT yang baru memiliki 2-3 portfolio dari perusahaan2 kecil bisa dikategorikan sebagai pemula dengan rate sekitar Rp. 100.000/hari. Disini, seorang programmer dituntut untuk mampu mengestimasi “nilai jual” dirinya berdasarkan faktor2 tersebut.

R bisa dihitung perhari ataupun perjam. Mengapa? Beberapa programmer menentukan rate/hari dengan alasan kemudahan perhitungan. programmer lain menerapkan rate/jam dengan alasan agar lebih gampang menghitung waktu untuk revisi. Sebenarnya ini sama saja. Seperti disebutkan di atas, 1 hari = 8 jam. Sekarang kembali kepada sang programmer untuk menghitung lamanya pengerjaan sebuah proyek aplikasi dalam hitungan hari (agar lebih sederhana) atau dalam hitungan jam agar lebih detail.
Tetapi ada satu hal lain yang harus dipertimbangkan. Ada kalanya rate/jam sangat sulit diterima oleh klien di Indonesia. Di negara2 maju dimana pekerjaan aplikasi sudah dihargai dengan baik, rate/jam mungkin bisa diterapkan dan diterima oleh calon klien. Ini karena profesi programmer sudah dianggap sejajarkan dengan pekerjaan jasa profesional lain seperti pengacara, dokter, dsb. Akan tetapi bila kita berbicara dalam ruang lingkup lokal, berdasarkan pengalaman saya, rate/jam sangat sulit untuk diterima oleh umumnya klien di Indonesia. Tapi bila seorang programmer merasa confident untuk menerapkan rate/jam untuk klien di Indonesia, well.. why not? Wink

2. Estimasi Lamanya Pengerjaan (W)
Estimasi lamanya waktu pengerjaan adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah aplikasi/proyek aplikasi. Berkaitan dengan rate (R), waktu bisa dihitung dalam satuan hari ataupun jam. Sebagai gambaran, jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) form tanpa konsep OOP (Obyek) tentu akan berbeda dengan jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) form full OOP maupun ODMS.

Dalam menentukan jumlah hari ini programmer dituntut untuk reasonable dalam arti tidak mengada-ada dan masuk diakal. Sebagai contoh mengerjakan sebuah form simpel tentu tidak akan memakan waktu sampai 7 hari (56 jam), bukan? Bila programmer menetapkan variabel Rate (R) dalam satuan hari, variabel H tidak harus bulat, ia bisa bernilai 0.5 (setengah hari = 4 jam) hari atau 0.25 (seperempat hari = 2 jam).

3. Harga Konsep Aplikasi (K)
Yang agak rumit mungkin menentukan harga konsep aplikasi. Akan tetapi kita bisa mengira2 seberapa original dan brilyan-nya sebuah konsep aplikasi. Disinilah seorang programmer dituntut untuk bisa menguraikan konsep aplikasi yang ia tawarkan. Bukan hanya terbatas pada ide dan tampilan visual semata, tapi juga mencakup hal2 lain seperti ‘kredibilitas’, kestabilan aplikasi, sistem update dan backup database, bug report, pemilihan komponen, dsb.

Seorang teman programmer mengatakan bahwa ia juga menerapkan semacam perhitungan untuk menentukan harga K. Dalam kasus ini, harga K ditentukan dari berapa lama ia melakukan eksplorasi untuk mendapatkan ide dan menguraikannya menjadi sebuah konsep aplikasi dengan kata lain K=Rk x Wk (rate programmer dikalikan jumlah waktu eksplorasi). Rumit? Mungkin terlihat rumit, tapi sekali lagi, di negara2 maju (kebetulan teman saya tersebut pernah bekerja di luar negeri dan baru kembali ke Indonesia), ini merupakan hal yang wajar dan bisa diterima oleh klien.

4. Prosentase Potongan Harga (d)
Mungkin terkesan aneh bila diterapkan potongan harga untuk sebuah aplikasi/proyek aplikasi. Akan tetapi hal ini perlu dipertimbangkan bila seorang programmer menghadapi kasus dimana calon klien merupakan sebuah perusahaan besar dan menurut perkiraan memungkinkan terbentuknya long term relationship dan kontinuitas proyek. Dengan menerapkan discount, programmer bisa memberi alasan “proyek perkenalan” dimana sebagai awal long term relationship, sebuah aplikasi yang bagus diberi harga yang relatif murah. Bila memang tidak mau, programmer bisa memberi harga 0 (nol) untuk variabel ini.

5. Harga Material Aplikasi (M)
Harga material aplikasi adalah total harga pengadaan material untuk pekerjaan aplikasi yang mencakup harga Komputer server, perangkat external, pembelian lisensi additional software, fee copywriting. dan lain2
Sekarang mari kita lihat variabel mana yang nilainya bersifat fleksibel dan variabel mana yang bernilai tetap. Harga W yang pasti nilainya bersifat fleksibel karena bergantung dari skala proyek aplikasi yang dikerjakan. Harga M juga bersifat fleksibel karena bergantung dari harga pihak ketiga yang menyediakan material aplikasi (copywriter, komputer sever, perangkat external, dsb). Harga d juga bersifat fleksibel seperti telah diuraikan di atas.

Harga konsep (K) juga bersifat fleksibel. Masalahnya sekarang adalah cara menentukan harga tersebut. Seperti telah diuraikan di atas, ada beberapa programmer yang menetapkan nilai K dengan rumus K=Rk x Wk. Tapi ada juga programmer yang menetapkan nilai K tanpa menguraikannya seperti itu. K adalah sebuah nilai yang mencakup seluruh hal mulai dari eksplorasi, ide, konsep, dsb. Semata-mata karena pertimbangan kemudahan. Sebenarnya keduanya sama saja, itu hanyalah cara programmer untuk memberikan argumen yang tepat untuk harga sebuah kreativitas.

Bagaimana dengan variabel R?

Ada dua fenomena menarik. Beberapa programmer (dan juga agensi aplikasi) mematok harga R tetap dengan alasan bahwa harga tersebut adalah standar profesionalisme mereka. programmer dengan harga R tinggi harus bisa bekerja dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan programmer dengan harga R yang lebih rendah untuk sebuah hasil yang kualitasnya sama. Artinya klien yang menyewa programmer dengan R tinggi akan diuntungkan dengan waktu pengerjaan (W) yang lebih singkat/cepat bila dibandingkan dengan mempekerjakan programmer dengan harga R yang lebih rendah.

Disisi lain ada programmer yang lebih fleksibel dengan harga R yaitu dengan menentukan nilai R sesuai dengan kredibilitas ataupun skala perusahaan klien. Sebagai ilustrasi, programmer seperti ini memberikan nilai R yang tinggi kepada sebuah perusahaan multi-nasional yang memiliki aset milyaran dan memberi rate yang lebih rendah kepada perusahaan kecil berbudget rendah, misalnya.

Contoh berikut mungkin bisa lebih memperjelas:
Seorang programmer level menengah memberikan rate perhari sebesar Rp. 700.000/hari sesuai dengan skill, portfolio, pemahaman konsep dan pengalamannya kepada firma-hukum mid-size untuk mengerjakan Sistem ERP. Struktur website tersebut adalah sebagai berikut:

Struktur tersebut akan diterapkan dalam halaman2 berbasis Client-Server dengan tambahan features backup, Checking Machine and Porchase or Request Order di frontpage-nya dan aplikasi send data via xml untuk update. Estimasi pengerjaannya adalah 10 hari. Tampilan user friendly, look and feel serta alur sistem aplikasi dari sebuah aplikasi yang akan dibuat sangat sesuai dengan corporate image dari firma-hukum tersebut yang dibuktikan dengan mock-up yang telah dibuat. Untuk itu si programmer memberikan harga Rp. 3.000.000. Entry data untuk aplikasi disediakan oleh client, sehingga harga material = 0 (nol). programmer tersebut memutuskan memberikan discount sebesar 10% dari harga total dengan pertimbangan akan terjalin long term relationship dimana firma hukum tersebut nantinya mungkin juga akan membuat aplikasi custommer service message, dsb.

Dalam kasus ini, harga penawaran adalah sebesar:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0= 10.000.000
HP= 10.000.000 – (10% x 10.000.000)= 9.000.000

Jadi, harga penawaran yang diajukan adalah sebesar Rp. 9.000.000. Bila ternyata calon klien melakukan bargaining, programmer bisa bertahan dengan memberikan argumen bahwa secara konsep, aplikasi tersebut sangat cocok dengan corporate image perusahaan atau effort yang dikeluarkan untuk pengerjaan proyek memang cukup besar.

Kemungkinan besar, calon klien akan bersikeras melakukan bargaining terhadap harga2 variabel2 tersebut. Disini, programmer bisa memperkecil harga penawaran dengan menurunkan harga rate per-hari menjadi Rp. 650.000 misalnya, sehingga manjadi:

HT= (650.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 9.500.000
HP= 9.500.000 – (10% x 9.500.000) = 8.550.000

atau memperbesar prosentase discount menjadi 15%:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000
HP= = 10.000.000 – (15% x 10.000.000) = 8.500.000

Dalam contoh tersebut bisa dilihat bahwa sang programmer melakukan bargaining dengan menerapkan harga R yang fleksibel dengan tidak mengurangi waktu pengerjaan (W) berdasarkan pertimbangan2 tertentu misalnya load pekerjaan yang tinggi, dsb. Sementara programmer yang menetapkan fix rate R bargaining mungkin bisa dilakukan dengan memberikan discount atau mengurangi waktu kerja (W)

Formula tersebut saya rasa cukup general dan bisa dipakai untuk menentukan harga pekerjaan aplikasi lainnya dan tidak terbatas hanya pekerjaan sistem aplikasi. Sebagai contoh misalnya adalah sistem informasi monitoring kegiatan dosen. Secara teknis pengerjaan poster tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai mudah dan dapat diselesaikan dalam 1 minggu saja. Akan tetapi dengan client sekelas Code Gear, programmer bisa menetapkan rate per-hari (R) yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan konsep aplikasi yang original dan brilyan yang dilengkapi dengan plugin “Everything That Has a Beginning Has an End” mungkin variabel K bisa dihargai jutaan dollar.

Formula tersebut saya rasa cukup general dan bisa dipakai untuk menentukan harga pekerjaan aplikasi lainnya dan tidak terbatas hanya pekerjaan sistem informasi. Sebagai contoh misalnya adalah sistem informasi monitoring kegiatan dosen di atas.

Secara teknis pengerjaan sistem informasi tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai mudah dan dapat diselesaikan dalam 1 minggu saja. Akan tetapi dengan client sekelas Code Gear, programmer bisa menetapkan rate per-hari (R) yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan konsep aplikasi yang original dan brilyan yang dilengkapi dengan plugin “Everything That Has a Beginning Has an End” mungkin variabel K bisa dihargai jutaan dollar.

Contoh diatas adalah dalam kasus programming atau design database dilakukan oleh satu orang programmer yang sama. Namun formula ini juga bisa diterapkan untuk pekerjaan dimana programming atau design database dilakukan oleh orang2 yang berbeda. Jadi bila sebuah sistem informasi misalnya menyangkut juga pembuatan basis-data, programming dan microsystem, harga penawaran adalah akumulasi dari harga yang diajukan tiap2 team member yang terlibat di dalam pekerjaan tersebut.

Formula di atas bukanlah sebuah hal mutlak. Mungkin ada beragam cara penentuan harga aplikasi yang lain. Ini hanyalah salah satu cara dan penerapannya juga kembali kepada programmer yang besangkutan. Satu hal yang pasti, formula ini juga tidak akan menjamin diperolehnya sebuah pekerjaan/proyek aplikasi? Smile Harus dibedakan disini antara menentukan harga aplikasi dengan mendapatkan proyek aplikasi. Deal akan sebuah pekerjaan aplikasi bergantung dari banyak faktor lain seperti relasi, tipe client, budget, kualitas aplikasi, dsb. Tidak ada jaminan bahwa dengan menerapkan formula ini sebuah proyek aplikasi pasti akan diperoleh. Akan tetapi, minimal seorang programmer memiliki dasar untuk menentukan harga sebuah aplikasi dan tidak hanya bisa bergumam sambil berkeringat dingin bila sang klien mempertanyakan dasar penentuan harga aplikasi yang ia tawarkan. Smile

Frequently Ask and QuestionFrequently Ask and Question

Frequently Ask and Question
Kumpulan beberapa Pertanyaan yang sering di tanyakan kepada kami

Tanya. Apakah ZONEORDERING itu?
Jawab. ZONEORDERING adalah agen yang dapat membantu anda memesan, membeli dan mengimport barang yang anda perlu dari luar negeri, dan kami juga dapat membantu anda memasarkan dan mencari pembeli dari luar negeri.

Tanya. Apakah ZoneOrdering dapat lakukan orderan selain dari Ebay?

Jawab. ZoneOrdering dapat lakukan orderan dari site mana saja sepanjang item yang diorder tidak melanggar hukum atau illegal dan seller dapat menerima transaksi dari ZoneOrdering dan mengirimkan ke Indonesia.

Tanya. Berapa total harga dari item bila dipesan melalui ZoneOrdering?

Jawab. Total harga item setelah dipesan terdiri dari harga item + ongkos kirim item + payment fee ke seller + pajak bea masuk + fee order. Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan klik ke bagian PESAN ITEM atau EBAY ORDER.

Tanya. Berapa fee order pemesanan atau ongkos jasa ZoneOrdering?

Jawab. Fee order atau ongkos jasa hanya sebesar 10% dari (harga item + ongkos kirim item) atau minimal USD 7.50 (atau equivalentnya). Cukup rendah karena kami menanggung resiko pemesanan dan segala pengurusan sampai tiba item ke anda dilakukan oleh kami.

Tanya. Apakah yang dimaksud dengan REMITTANCE FEE atau PAYMENT FEE?

Jawab. Biaya yang timbul sewaktu melakukan pembayaran kepada seller contoh biaya perbankan (bila transfer via bank transfer atau westernunion), kartu kredit charge dll.

Tanya. Apakah total harga yang diperincikan masih dapat ditawar atau dinegokan?

Jawab. Total harga yang diperincikan adalah FIX dikarenakan point-point harga tersebut bukanlah penetapan dari ZoneOrdering. Kami hanya mendapat keuntungan dari point fee order yang telah relatif kecil dan belum dipotong dengan biaya lain-lainnya misalkan biaya kirim paket dari ZoneOrdering ke pemesan dan biaya packing ulang dll.

Tanya. Bagaimana cara bertransaksi dengan ZoneOrdering? karena saya tidak mempunyai kartu kredit atau paypal.

Jawab. Transaksi dilakukan via transfer bank BCA dan bank Niaga. Atau dipersilahkan dengan tangan terbuka untuk berkunjung ke office ZoneOrdering.

Tanya. Apakah semua item pesanan dijamin tiba?

Jawab. Salah satu keunggulan layanan ZoneOrdering adalah memastikan semua pesanan klien tiba. Jaminan uang panjar dikembalikan 100% tanpa potongan apapun bila item yang dipesan tidak tiba.

Tanya. Bagaimana bila item yang tiba tidak sesuai dengan orderan saya?

Jawab. Pemesan selalu menerima INVOICE PEMESANAN yang berisi detail nama item, link site item yang dimaksud, besaran total harga, besaran down payment (panjar) dan detail rekening bank ZoneOrdering. Pemesan diharapkan untuk mengunjungi kembali link site item yang dimaksud untuk mencegah pemesanan item yang salah. Bila ternyata item yang tiba memang sangat tidak sesuai dengan deskripsi item yang di link site yang tertera di invoice pemesanan, pemesan akan menerima uang panjar kembali 100%.

Tanya. Bagaimana kalau item yang tiba rusak?

Jawab. Semua item yang tiba tetap diperiksa secara kosmetikal (bentuk fisik atau luar). Paket akan tidak akan diterima ZoneOrdering bila ada kerusakan fisik yang fatal (mis. patah, pecah dll). Panjar pemesan akan dikembalikan. Bila kasus yang terjadi adalah kerusakan internal (mis. peralatan tidak berfungsi dll). Mohon sebelumnya diperhatikan masalah warranty (garansi) dari item tsb. ZoneOrdering akan membantu memproses klaim warranty item tsb bila memang ada warranty dari seller. Hanya segala biaya yang timbul akibat klaim (mis. ongkos kirim item ke seller, ongkos kirim item dari seller ke Indonesia kembali dll) merupakan tanggungan dari pemesan. ZoneOrdering hanya membantu saja.

Tanya. Untuk memperkecil pajak bea masuk, apakah item dapat diakui sebagai GIFT saja atau membuat harga invoice fiktif yang lebih rendah?

Jawab. Setiap item yang masuk ke Indonesia akan dilakukan pemeriksaan fisik dengan membuka kotak paket. Setelah itu ditetapkan jenis item (code HS) dan besaran pajak bea masuknya. Pertama pihak Bea Cukai (BC) akan memperhitungan bea masuk berdasarkan harga yang tertera di invoice. Bila tidak ada invoice (karena dianggap GIFT /hadiah) maka pihak BC berhak menetapkan besaran harga untuk item tersebut. Pihak BC juga berhak menetapkan besaran harga item bila tidak mempercayai harga yang tertera di invoice kecuali kita dapat membuktikan harga invoice tersebut. Dalam hal ini ZoneOrdering membuktikan dengan bukti pembayaran kepada seller. Jadi maaf bahwa setiap item yang dipesan tidak dapat dibuatkan invoice dengan harga fiktif atau gift.

Tanya. Berapa lama estimasi tiba item pesanan?

Jawab. Delivery time atau waktu tiba item sangatlah bergantung kepada sistem pengiriman yang dipakai. Semakin cepat waktu tiba sistem pengiriman yang dipakai maka semakin mahal ongkos kirim item. Pada umumnya item-item ditawarkan dengan sistem pengiriman via AIRMAIL (USPS priority) yang waktu tiba 2-3 minggu. Untuk beberapa item yang bernilai ekonomis tinggi (handphone, jam-tangan dll) ditawarkan dengan sistem pengiriman via EMS (USPS express) yang waktu tiba 1-2 minggu. Selain itu dapat juga via Fedex, UPS, DHL atau TNT yang relatif lebih cepat (5-10 hari) yang dengan ongkos kirim yang tinggi. Perhitungan ongkos kirim dilakukan pihak seller bukan dari ZoneOrdering.

Tanya. Saya telah membeli sesuatu item dari Ebay atau dari suatu website. Dapatkan ZoneOrdering menguruskan pembayarannya atau pengurusan item tersebut ke Indonesia?

Jawab. Pemesan tidak perlu repot untuk melakukan pemesanan sendiri. ZoneOrdering juga yang akan melakukan transaksi tersebut sejak dari tahap pembelian, pembayaran sampai tiba item di Indonesia. Maaf bahwa ZoneOrdering tidak dapat menerukan sesuatu transaksi yang telah dilakukan oleh pihak pemesan atau hanya melakukan pembayaran.

Tanya. Untuk menghemat biaya, bolehkan item yang diorderkan langsung dikirimkan ke alamat saya atau alamat rekan saya yang di US?

Jawab. Setiap item yang dipesan tidak lagi melalui pihak ketiga. Semua item langsung dikirim pihak seller ke alamat ZoneOrdering. Hampir semua seller hanya dapat mengirimkan item orderan langung ke alamat pemegang kartu kredit atau alamat yang telah diverifikasi Ebay dan Paypal (alamat ZoneOrdering). Bila permintaan pengiriman dilakukan ke alamat yang diluar alamat ZoneOrdering, dikhawatirkan akan menimbulkan perasaan curiga seller dan akhirnya tidak setuju untuk deal dengan ZoneOrdering.

Tanya. Saya tidak berminat lagi dengan item yang telah terlanjur saya pesankan. Apakah saya dapat melakukan pembatalan?

Jawab. Maaf bahwa orderan yang telah disetujui yang ditandai dengan pembayaran down payment atau panjar tidak dapat lagi dibatalkan. Panjar yang telah dibayarkan tidak dapat dikembalikan bila orderan telah dibatalkan.

Tanya. Apakah ZoneOrdering dapat menerima orderan item yang harganya hanya USD 2.oo?

Jawab. Tidak ada batasan harga minimum atau harga maksimum dari item yang hendak diorderkan. Sepanjang item yang diorderkan bukan merupakan item yang illegal atau dilarang oleh pemerintah. Dan pada saat ini ZoneOrdering tidak dapat melayani pemesanan item farmasi (obat-obatan), military, item sexual (atau yang berhubungan dengan itu), makhluk hidup (termasuk tanaman dan benihnya) dan komputer laptop.

Tanya. Apakah pemesanan dari seller Singapore atau Australia dapat menekan ongkos kirim?

Jawab. Pada umumnya ongkos kirim item dari Singapore dan Australia lebih murah daripada dari US atau Eropa. Sekali lagi, bahwa penetapan ongkos kirim merupakan hak seller dan bukan perhitungan dari ZoneOrdering.


Tanya. Barang apakah yang dapat di pesan?
Jawab. Segala tipe dan jenis barang dapat di pesan, kecuali barang/item yang melanggar hukum (illegal) seperti barang jenis MILITERI, OBAT-OBATAN/MAKANAN, MAKHLUK HIDUP dan TUMBUHAN, ALAT SEKS dan BUKU POLITIK atau sejenisnya.

Tanya. Betulkah harga barang di luarnegeri sangat murah?
Jawab. Ada yang sangat murah ada yang hanya murah (tergantung jenis barang). Setiap barang yang dipesan tetap dikenakan biaya-biaya dan membuat total harga KADANG lebih mahal daripada harga barang yg sama yg telah tersedia di dalam negeri.

Tanya. Dapatkah saya memesan barang BM (black market)?
Jawab. Bilamana yang dimaksud BM adalah tanpa melalui jalur pajak, ditegaskan semua item yang dipesan melalui kami tetap harus melewati pemeriksaan BEA CUKAI dan perhitungan PAJAK IMPORT.
Jawab. Bilamana yang dimaksud BM adalah sistem CARDING, ditegaskan kami memesan barang klien dengan sistem yang 100% LEGAL dan bukan CARDING, ini berarti setiap barang yg dipesan adalah TETAP DIBAYAR DENGAN UANG BUKAN SISTEM PENIPUAN kepada pihak penjual.

Tanya. Apakah saya dapat memesan handphone? laptop? baju?
Jawab. Bisa, karena barang tersebut bukan barang illegal. Hanya kurang ekonomis kalau dipesankan barang yang telah banyak beredar di dalam negeri dikarenakan ongkos kirim dan pajak import dan biaya lainnya (klik ke ORDERING ITEM). Pengalaman kami, total harga bisa mencapai 2x lipat untuk pesanan barang yg berharga di bawah US$100.

Tanya. Bagaimana cara ZoneOrdering melakukan pembayaran kepada pihak penjual?

Jawab. Metode pembayaran untuk transaksi online ada beberapa, yang utama adalah,

1. PAYPAL, sistem pembayaran umum pada website EBAY

2. Wire transfer, transfer bank. Saya tidak melakukan pembayaran melalui transfer bank dikarenakan:

- Waktu tiba pembayaran yang tidak tentu, paling cepat 3 hari kadang beberapa kasus mingguan juga belum sampai.

- Memang kita hanya di kenakan biaya transfer sebesar Rp.50.000,- / transaksi tetapi ada pemotongan biaya-biaya di bank-bank transit sebelum tiba di bank tujuan yang besarnya tidak dapat diperkirakan (umumnya USD 25), yang akhirnya bila dijumlah biayanya melebihi biaya westernunion.

- pihak penjual enggan berbagi data bank mereka dengan negara yang dikategorikan terlalu banyak kejahatan internetnya (Indonesia rank 2 sesudah Kroasia)

3. WesternUnion, saya memakai sistem ini dikarenakan pihak penjual menerima jumlah yang sama dengan yang saya kirimkan dan bila saya kirimkan pada pagi-siang hari maka mereka telah dapat menguangkannya pada malam hari.

4. Kartu Kredit, terkadang penjual menerima transaksi dgn kartu kredit via Paypal.

5. Pembayaran online lainnya seperti e-gold, moneybooker, ibill dll dll, sistem terlalu rumit dan belum semua seller setuju melakukan pembayaran via sistem ini atau mempunyai account.

Tanya. Bagaimana proses memesan barang kepada ZONEORDERING?
Jawab. Anda infokan tipe, jenis, merek dan model barang yg anda perlu (alamat website akan sangat membantu). kami akan cari barang yang dimaksud, menghitung total harganya dan mengirim penawaran harga ke anda. Bila disetujui, kami memerlukan JAMINAN PANJAR 20% dari total harga sebagai tanda persetujuan sebelum proses pemesanan. Setelah barang tiba, anda dikonfirmasi dgn photo barang yang dimaksud. Anda melunasi sisa pembayaran dan barang di kirim ke alamat anda (utk detailnya klik ke ATURAN ORDER)

Tanya. Bagaimana kami dapat PERCAYA KEPADA ZONEORDERING?
Jawab. Alamat, no.telepon dan nomor handphone yang tertera di website adalah BENAR dan dapat di VERIFIKASIKAN. No.telepon dan nomor handphone (Indosat Matrix bukan isi ulang) terdaftar atas nama SUYATMO HUGENG bisa di cek di bagian penerangan Telkom atau Indosat. Dan kami dapat mengirimkan gambar dokumen westernunion, transfer bank ataupun dokumen pengiriman barang dari transaksi kami sebelumnya. Saya mempunyai account EBAY yang ber-positif feedback. Dengan terbuka dan senang hati kami dapat menjawab segala keraguan anda beserta bukti-buktinya.

Tanya. Apakah barang yg dipesan ada garansi atau warranty?
Jawab. Pada umumnya barang merek-merek terkenal (seperti Compaq, HP, Sony, Toshiba dll) mempunyai fasilitas worldwide warranty dan garansi dapat di klaim di dealer yang ada di kota anda. Tetapi ada juga barang yang tidak ada garansinya, mohon menanyakan hal tersebut kepada kami bila garansi/warranty merupakan perhatian anda. Karena KAMI TIDAK BERKEWAJIBAN MENGURUS PROSES WARRANTY BARANG YANG TELAH DI TERIMA KLIEN tetapi KAMI DAPAT MEMBANTU DALAM MEMPROSESNYA dan segala biaya yang timbul akibat proses tersebut seperti ongkos kirim dan kepabean merupakan tanggungan klien.

Tanya. Bagaimana perhitungan pajak bea masuk dari item?

Jawab. Pajak bea masuk terdiri dari BM (bea masuk) + PPn (pajak pendapatan negara) + PPn BM (pajak barang mewah) + PPh (pajak penghasilan). Besaran pajak bervariasi menurut jenis item dan mengacu ke BTBMI (buku tarif bea masuk indonesia). Sebagian kecil contoh besaran pajak bea masuk dapat dilihat di http://ems.posindonesia.co.id/custom.html.

BTBMI dapat didownload pada site http://www.beacukai.go.id/library/data/entry_download/BTBMI%202007.pdf

ORDER KAOS

Berhubung informasi ini banyak yang butuh jadi tutorial ini gw repost di sini yang originaly gwa post disini karena berhubung tittlenya agak melenceng dari tingkat kesadaran umum hahahaha (*taking back the keyword)

Kondisi untuk memulai kamu untuk membaca How To ini adalah :

  1. Pengangguran
  2. Bukan tipe pemalas
  3. Modal pas-pasan (kiriman ortu macet)
  4. Bisa design atau punya temen yang bisa design (sebaiknya bisa Corel Draw)
  5. Berdomisili di Jogjakarta
  6. Belum pernah usaha/bekerja di bidang clothing.
  7. Kamu berada di tahun 2003-2005 (where ROCK’N'ROLL is ROCK’N'ROLL)

Kebutuhan yang harus kamu punya untuk bisa menjual produk clothing kamu nanti

  1. Label
  2. tag & tag gun
  3. kain
  4. sablon & perlengkapannya

LabelKaga ngerti label? Coba buka kaos kamu liat dibagian leher dalam belakang disitu ada tulisan merknya nah itu namanya label. Bisa juga ditempatkan di bagian sisi samping luar kaos atau bisa dikatakan sebagai identitas produck kamu.

  • harga sekitar Rp 1500 per lusin, minimal pemesanan 100 lusin
  • yang dimuat di label bisa berupa logo atau tulisan dan size t shirt
  • harga menyesuaikan ukuran dan design
  • label bisa dijait di belakang leher t-shirt dan atau di samping bawah t-shirt atau di tempat lain sesuai kebutuhan dan selera
  • Pemesanan label di jogja di daerah Sleman melalui marketing2 pabriknya

TAG

  1. tag dipake untuk asesoris brand t-shirt buat nyampein info produk kaya harga, kode, ukuran, ma identitas produk atau contact person produsen
  2. Design tag disesuaiin ama tema & identitas produk, bagusnya sih simple & gak useless buat konsumen.
  3. Kalau biaya cetak mahal coba kenalan dengan orang-orang percetakan trus sok akrab deh. Ketika mereka ada order cetak cover buku, atau apalah yang sdikit tebal kamu titip di space yang kosong buat tag kamu, syukur-syukur dapat space yang agak gedean. Nah dengan begitu kamu bisa dapat tag yang full colour, tebal atau mungkin di dof dengan harga murah tapi jumlahnya banyak.
  4. Kalau masih ada space cetak bikin kartunama sekalian.
  5. Tag dipasang pake tag gun bersama dengan tag pinnya. Bisa dibeli di toko2x buku, harganya sekitar 50 ribu trus tag pinnya 20 ribu udah dapet 1 kardus

Kain

  • Kain untuk bahan t-shirt ada banyak macemnya, ada yang katun 100 %: combat, cardet, Double Nit, *ingle Nit klo yang dah campur polyester TC, PE,ada lagi kain yag kaya bahan t-shirt polo namanya lacoste, ada yg katun ada juga yang PE, dll. Buat T-shirt standar distro biasanya pake combat (kualitas terbaik)
  • Kain katun combat ma cardet ga jauh beda, cuman di bagian dalem buat cardet tu agak lebih kasar
  • Klo kain PE biasanya dipake buat kaos partai
  • Toko kain kaos di Jogja :


  1. Morisland Clothing (Jl. Ringroad Timur)
  2. Ngasem Baru (Jl. Mayjend Sutoyo)
  3. Sami Makmur (Jl. Mayjend Sutoyo)
  4. Timoho Kain kaos (Puri Timoho Asri)
  5. Rajut Mas (Jl Magelang)
  • Harga di tiap toko bersaing, buat tau bedanya gimana mendingan coba jalan en tanya2 aja kesana, ada yang produknya lokal, ada juga yang import dari Bandung
  • Harga kain combat berkisar antara 49 – 51 ribu per kilonya untuk warna muda, trus untuk warna tau sekitar 51- 57 ribu. Itu untuk harga ecer. Karena hitungan kain kan pake rol, klo bisa beli per rol harganya emang beda, bisa lebih murah dan hemat.
  • 1 kilo kain bisa jadi 3,5 kaos ukuran cowok (male): M, L, XL ato all size atau jadi 5 kaos untuk ukuran cewek (female), yang ukurannya press body lho. Tapi klo belinya rol bisa lebih hemat lagi, trus klo untuk ukuran XXL itu boros banget soalnya 2 kilo cuman jadi 3
  • Untuk bahan lehernya namanya bahan rib, disesuaiin ma bahan bodynya juga, klo combat ya ribnya combat, PE ya ribnya PE. Warnanya bisa sama or beda2x sesuai selera en bagusnya gimana nge match in nya
  • Pembelian rib itungannya per cm aja, soalnya 7 cm rib itu bisa untuk 4 t-shirt, klo ga bilang aja ma penjual kainnya rib menyesuaikan kain body yang dibeli
  • Klo kain lacoste itu gambarannya kaya kain POLO t-shirt, jadi ada teksturnya gitu. Kain lacoste ada yang katun ada juga yang lacoste PE.
  • Untuk t-shirt berkrah juga butuh beli krahnya, krahnya juga tersedia untuk yang bahan katun ma bahan PE, krah yang bahan PE lebih lemes dari yang katun, klo yang katunnya kesannya lebih kaku. Krah bisa juga dibuat sama dengan bahan bodynya.
  • Harga untuk krah katun sekitar 2500 per pcs, untuk yang PE sekitar 1500 per pcs

DesignYang membedakan satu clothing dengan yang lainnya selain bahan adalah desain. Masa kamu mo jual desain gambar partai di distro hihihihi. Sebaiknya tema desain selalu dinamis dan mempunyai ciri tersendiri kalaupun belum nemu karakter sendiri entar lama-lama pasti ketemu sambil melihat selera pasar. Usahakan desain2x vektor bukan images komplek seperti photo karena kamu akan susah nyablonnya nanti. Vektor itu…nek boso jowone gambar seng ra ribet.


Ingat desain kaos bukan untuk dirimu sendiri tapi untuk yang bakalan beli kaos kamu, ini mo cari makan bukan buat mengagung-agungkan idealismemu hihihi. Ahk bosok….! Internet adalah sumber inspirasi yang bagus, coba buka website-website grapis trendy masa kini.

Adik : “Kak kalau saya jiplak desain orang gimana?”

Kakak : “Hey dosanya kamu yang nanggung tho! bukan saya.”

Sebaiknya kamu mendesain gambar sablon di Corel saja, sebab corel bagus hasilnya ketika dicetak nantinya. Sebaiknya kamu setting desain kamu sendiri untuk pembuatan film sablon, kalau kamu kaga bisa nyetting bisa di orderkan ke tempat setting cuma harganya mahal (extra cost).

Tutorial setting sederhana menggunakan corel :

  1. Gabungkan semua object, klik satu object kemudian Shift + Select object yang lain atau select all kemudian tekan icon “Weld” yang muncul di bar atas.
  2. Pisakan bentuk-bentuk yang memiliki warna berbeda pada design, print hitam tebal diatas kertas 60 Gram (kalau lagi kaya print di kertas kalkir).

Sablon

  1. Sebaiknya sablon dikerjain sebelom kain dijahit or sebelom kaos jadi, soalnya ada beberapa tempat sablon yang emang ga bisa nyablon kaos yang udah jadi, klo bisa nyablon sendiri sih oke banget
  2. So dari kain potongan aja dulu, soalnya ntar screen nya kan butuh yang lebih gede klo buat kaos jadi.

BordirSelain sablon juga ada alternatif desain kaos dengan bordir. Ada yang dibordir langsung di kain kaosnya, ada juga yang dibordir dulu di kain lain baru dijahit di t-shirt. Tapi kebanyakan yang pakai bordir untuk kaos yang berkrah

Jahit

  • Abis selesai disablon, kain dijahit. Jahit kaos sebenernya lebih gampang ketimbang jait baju ma busana lainnya, tapi kadang susah juga cari ahlinya
  • Model2 kaos macem tergantung selera, klo buat cowok biasanya ga terlalu banyak modelnya, pengennya yang simple aja, paling maen di warna rib aja, ma beda warna lengan gitu
  • Bagian2 kaos ada bodi depan, bodi belakang, lengan, ma bagian lehernya yang disebut rib
  • Mesin jait untuk t-shirt ada 3 :
  1. Mesin jait biasa untuk jait pundak ma leher
  2. Mesin jait obras untuk bagian samping body dan sambungan2 lain
  3. Mesin jait overdeck untuk bagian lengan ma body bagian bawah
  • Untuk modifikasi model t-shirt cewek macem2, tergantung selera
  • Untuk kaos berkrah stepnya lebih lama karena butuh jahit krah dan tempat kancingnya



DIMENSI KUALITAS MANUFAKTUR DAN JASA

DIMENSI KUALITAS MANUFAKTUR DAN JASA

DIMENSI KUALITAS MANUFAKTUR DAN JASA

Dalam bahasa iklan setiap produk mengklaim bahwa produk tersebut paling berkualitas dengan berbagai keunggulannya. Pernyataan “kualitas” menjadi senjata utama para produsen untuk menarik hati konsumen agar membeli produknya. Konsumen pun akan merasa bangga, puas dan menjadi pelanggan setia terhadap sebuah produk yang memiliki kualitas yang unggul. Apalagi jika produk tersebut mampu mengangkat image (citra) bagi konsumennya. Bahkan konsumen dapat berfungsi menjadi tenaga pemasaran produk yang efektif. Sedemikian pentingnya kebutuhan akan kualitas baik oleh produsen maupun konsumen sehingga memiliki arti yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup kegiatan bisnis di bidang jasa maupun manufaktur. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai pihak melakukan upaya peningkatan kualitas, baik kualitas SDM, kualitas produk, kualitas air, kualitas otak, kualitas hidup, kualitas pelayanan dan sebagainya. Kualitas telah menjadi suatu tuntutan masyarakat di era persaingan global. Tuntutan masyarakat (konsumen) terhadap kualitas sangat beragam tergantung kebutuhan, daya beli, selera, hobi, dan lain sebagainya. Beberapa ahli mutu mendefinisikan kualitas sebagai berikut:

a. Sesuai dengan kegunaan (Fitness For Use – J.M Juran)

b. Memenuhi persyaratan pelanggan (Conform to Customer requirement – Philip B. Crosby),

c. Memenuhi harapan pelanggan (meeting Customer Expectations – A. V Fegenbaum),

d. Kepuasan pelanggan (Customer satisfaction- K. Ishikawa)

e. Gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat (ISO 9000)

Berdasar definisi di atas, dimensi kualitas (mutu) sangat relatif tergantung target marketnya (pelanggan). Kualitas dapat dinilai secara obyektif maupun subyektif. Kualitas dinilai secara obyektif jika ada standar kualitasnya (spesifikasi) atau dilakukan bencmarking dengan produk lain yang sejenis sedangkan kualitas dinilai secara subyektif jika ditinjau dari kepuasan pelanggan, karena setiap pelanggan akan memiliki persepsi sendiri terhadap sebuah produk tergantung selera, kebutuhan, daya beli dan lain-lainnya. Penilaian kualitas dari aspek pelanggan (subyektif) inilah yang menjadi tantangan dunia industri untuk memenangkan persaingan global. Pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan (segmentasi pasar) menjadi satu faktor penting untuk selalu meningkatkan kualitas dan inovasi dalam menghasilkan produk baru guna mengikuti perubahan pasar. Namun yang perlu diingat untuk memenuhi kepuasan pelanggan (memperoleh penilaian subyektif yang tinggi dari pelanggan) tetap tidak akan lepas dari beberapa dimensi kualitas secara obyektif dengan standar-standar kualitas sebagai berikut.

Tabel 1. Dimensi kualitas

INPUT

PROSES

OUT PUT

Sumber Daya

Cara Kerja

(Metode)

Produk

Jasa

1. Manusia

Kecerdasan, Pendidikan, etos kerja, produktivitas, loyalitas, kepribadian, motivasi dll

2. Mesin

Canggih, otomatis, ,otonom, efisiensi tinggi, cepat, multi fungsi, daya tahan tinggi, purna jual baik, dll

3. Material

Baik, unggul, sesuai spesifikasi, kualitas pertama, tanpa cacat

4. Keuangan

Banyak, Kuat

5. Markets

Segmentasi pasar, tanpa/belum ada pesaing, target market yang tepat, promosi, lokasi

6. Minute

Cepat, Just In time, time to market

Cepat

Tepat

Hemat

Efisien

sederhana

Murah

Aman

Optimal

Teknologi tinggi

Ramah lingkungan

Lay out

Tidak melanggar HAM

Sinergis

Networking

Nyaman

dll

Performance

Feature

Realibility

Conformance

Durability

Serviceabilitty

Estetika

Perceved Quality

Harga

Brand Image

Purna Jual

Zero deffect

dll

Keramahan

Keamanan

Kenyamanan

Empati

Kepercayaan

Keterampilan

Kecepatan

Ketepatan

Brand image

Penampilan

Kejujuran

Aksesibilitas

Komunikatif

Daya tanggap

Garansi

dll

(diolah dari berbagai sumber)

Disamping dimensi kualitas di atas perlu pula diperhatikan tuntutan- tuntutan akan kualitas produk di pasar global baik lokal, nasional dan internasional diantaranya adalah:

  1. Memenuhi standar kualitas di masing-masing perusahaan, negara maupun internasional :SII/SNI (Standar Nasional Indonesia), JIS (Japanes Industrial Standard), ASTM ( The American Society For Testing And Material), ISO (Internasional Organization For Standardization), BS (British Standart) dan lain-lainnya
  2. Menerapkan sistem manajemen mutu seperti ISO 9000, ISO 14000 dan lainnya
  3. Memperoleh sertifikasi (award) seperti sertifikasi halal, ICSA, Superbrand dan lain-lainnya
  4. Menjunjung tinggi HAM (isu gender, UMR, SARA dll)

Jika industri baik manufaktur maupun jasa semakin banyak memiliki keunggulan dimensi kualitas dan memenuhi tuntutan-tuntutan kualitas seperti yang telah diuraikan di atas maka dapat dikatakan daya saingnya tinggi. Daya saing sebuah produk akan sangat ditentukan oleh pengelolaan sumberdaya perusahaan/industri hingga mampu memenuhi standar-standar kualitas untuk memuaskan konsumennya dan mengangkat citra konsumen dalam berkehidupan. Untuk mencapai standar kualitas dibutuhkan pengendalian kualitas dari proses input, produksi hingga output serta pemberian jaminan kualitas. Konsep pengendalian mutu terpadu (TQM) dan pelayanan prima menjadi sangat penting untuk diimplementasikan. Implementasi pengendalian mutu terpadu dan pelayanan prima perlu didasari pengembangan budaya kerja (budaya perusahaan).

QUALITY CONTROL di INDUSTRI GARMEN

QUALITY CONTROL di INDUSTRI GARMEN

QUALITY CONTROL GARMEN
Oleh: Noor Fitrihana

QUALITY CONTROL

Definisi Quality Control (pengendalian mutu) adalah semua usaha untuk menjamin (assurance) agar hasil dari pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan memuaskan konsumen (pelanggan).

Tujuan quality control adalah agar tidak terjadi barang yang tidak sesuai dengan standar mutu yang diinginkan (second quality) terus-menerus dan bisa mengendalikan, menyeleksi, menilai kualitas, sehingga konsumen merasa puas dan perusahaan tidak rugi.

Tujuan Pengusaha menjalankan QC adalah untuk menperoleh keuntungan dengan cara yang fleksibel dan untuk menjamin agar pelanggan merasa puas, investasi bisa kembali, serta perusahaan mendapat keuntungan untuk jangka panjang.

Bagian pemasaran dan bagian produksi tidak perlu melaksanakan, tetapi perlu kelancaran dengan memanfaatkan data, penelitian dan testing dengan analisa statistik dari bagian QC yang disampaikan kepada pihak produksi untuk mengetahui bagaimana hasil kerjanya sebagai langkah untuk perbaikan.

Saat pelaksanaan pengujian QC dan testing bila ditemukan beberapa masalah khusus, perlu dibuat suatu study agar dapat digunakan untuk mengatasi masalah di bagian produksi tersebut.

Di samping tersebut di atas tugas bagian QC yaitu jika terjadi komplain, mengadakan cek ulang dan menyatakan kebenaran untuk bisa diterima secara terpisah lalu dilaporkan kepada departemen terkait untuk perbaikan proses selanjutnya.

Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pengendalian biaya (Cost Control)

Tujuannya adalah agar produk yang dihasilkan memberikan harga yang bersaing (Competitive price)

2. Pengendalian Produksi (Production Control)

Tujuanya adalah agar proses produksi (proses pelaksanaan ban berjalan) bisa lancar, cepat dan jumlahnya sesuai dengan rencana pencapaian target.

3. Pengendalian Standar Spesifikasi produk

Meliputi aspek kesesuaian, keindahan, kenyamanan dipakai dsb, yaitu aspek-aspek fisik dari produk.

4. Pengendalian waktu penyerahan produk (delivery control)

Penyerahan barang terkait dengan pengaturan untuk menghasilkan jumlah produk yang tepat waktu pengiriman, sehingga dapat tepat waktu diterima oleh pembeli.

JENIS JENIS QUALITY CONTROL DI GARMEN

    1. Piece Goods quality control/pemeriksaan bahan baku.
      • Adanya inspector pada saat staffing ( bongkar muat )
      • Melakukan pengecekan sejumlah 10% kain dari total kain yang diterima
      • Melakukan dan mengevaluasi adanya fabric defect/ cacat kain
      • Melakukan perbaikan apabila diperlukan
    2. Cutting Departemen Quality Control

· Melakukan persiapan terhadap kebutuhan manpower

· Mempunyai sistim pengecekan pada setiap step proses cutting ( Misalnya pada proses : marker, spreading, cutting dan cutting pieces/ komponen )

· Mempunyai sistim perbaikan apabila diperlukan.

    1. In process Quality Control

· Melakukan persiapan terhadap manpower, alat yang diperlukan mempunyai tempat dengan penerangan yang baik sebagai tempat pengecekan.

· Mempunyai sistim sampling plan

· Mempunyai prosedur dalam menangani masalah rejection dalam bundeling sistim

· Mempunyai sistim audit minimum per hari untuk setiap operator. Untuk operator baru pengecekan minimum 3 x per hari

· Mempunyai sistim audit untuk setiap tahapan proses

· Mempunyai sistim inspect untuk setiap bundle, dengan cara diambil 7 pcs per bundle dan akan dinyatakan reject apabila ditemukan 1 pcs.

· Mempunyai sistim kontinyu audit untuk operator yang mempunyai masalah.

· Mempunyai sistim menyimpanan record untuk operator bermasalah.

    1. Final Statistical Audit

· Menentukan pada step mana kita melakukan sistim audit , dengan menentukan dari status produksi.

· Menentukan berapa colour/warna atau berapa model/style yang akan di audit.

· Mempersiapkan manpower, alat dan tempat

· Melakukan pemilihan pada garmen sesuai dengan statistical

sampling plan

· Melakukan pemeriksaan terhadap jumlah contract dan melakukan periksaan terhadap akurasi labelling dan model/style.

· Melakukan pemeriksaan secara visual untuk setiap jenis quality defect

· Melakukan pemeriksaan terhadap jumlah garmen yang bermasalah

·

SISTEM PEMERIKSAAN DALAM PROSES PRODUKSI

Pemeriksaan Sample (Sample Inspection)

Sample adalah contoh bahan atau material, contoh model atau style, atau contoh garmen. Sample ini dapat berupa sample dari pihak pembeli atau pun yang dibuat oleh pihak pabrik.

Sample yang dimaksud di sini adalah sample yang dibuat oleh pihak pabrik berdasarkan contoh dari pihak pembeli.

Tujuan pemeriksaan adalah agar seluruh sample yang dibuat oleh pihak pabrik (bagian sample) bebas dari cacat, kerusakan, penyimpangan/ ketidaksesuain baik model, mutu jahitan/finishing, ukuran, warna, dan lain sebagainya.

Mutu produk adalah kesesuaian ciri dan karakter produk yang dibuat, dengan ciri dan karakter produk yang diminta, dan kemampuan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam kondisi tertentu.

Setelah menerima sample, selanjutnya sample di-copy komplit size, cek style dan ukuran, kemudian dilanjutkan dengan membuat top sample pre production sebanyak 4 pcs atau lebih per style dan size.

Urutan/Prosedur Pemeriksaan Sampel (QC Sampel):

a. Petugas bagian quality control (QC) akan menerima sample dan lembar pemeriksaan sample dari petugas bagian sample.

b. Lembar rencana kerja (work-sheet) dan contoh produk garmen yang akan diproduksi dibuat oleh petugas bagian sample & Merchandiser diserahkan ke bagian QC.

c. Petugas QC akan memeriksa dan memberi komentar/koreksi terhadap sample pada lembar pemeriksaan (work-sheet) dan menyerahkan kembali kepada merchandiser.

d. Merchandiser mempelajari catatan QC dan memutuskan untuk dikirim ke bagian produksi atau ditolak dan dikembalikan kepada bagian pembuatan sample untuk dibuat ulang contoh atau sample.

e. Jika sample ditolak oleh merchandiser maka sample akan dikembalikan kepada bagian pembuatan sample untuk diperbaiki atau dibuat ulang sesuai dengan mutu sample yang dikehendaki oleh pembeli.

f. Jika sample diterima atau disetujui oleh merchandiser maka sample tersebut akan dikirim oleh merchandiser ke pihak pembeli guna mendapatkan persetujuan, sesuai permintaan atau tidak (approval sample)

g. Petugas QC akan menerima salinan atau copy laporan pemeriksaan sample dari merchandiser.

h. Sampel yang telah disetujui pihak pembeli (approval sample) dikembalikan ke bagian produksi untuk diproduksi secara massal.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN POTONG/CUTTING

Cutting adalah proses pemotongan kain sesuai pola marker yang ada dan sudah dicek kebenarannya oleh bagian marker dan QC cutting.

Secara singkat yang dilakukan oleh bagian QC cutting adalah mengecek gelaran kain, kain tidak gelombang, tidak melipat, kain bawah sampai atas harus sama, dan penyusutan kain. Kemudian mengecek hasil potongan, potongan harus sesuai dengan sample dan toleransi ukuran.

Urutan/prosedur pemeriksaan pada cutting (QC Cutting):

a. Periksa lembar kain bagian atas sampai pada lembar kain bagian bawah dengan posisi kertas marker.

b. Periksa dan cocokkan komponen pola dengan komponen pola yang terdapat pada kertas marker apakah komponen pola sudah lengkap atau belum. Petugas QC harus mencatat semua temuan pada lembar laporan pemeriksaan.

c. Periksa apakah terdapat kesalahan potong pada setiap garis komponen pola ataukah tidak.

d. Cek interlining dengan pola (bila komponen garmen menggunakan interlining dan bordir)

e. Kesalahan potong pada bagian yang seharusnya dipotong ulang pada kain cadangan, dilakukan pencatatan dan pemotongan ulang

Lebih detailnya adalah sebagai berikut

· Melakukan pemeriksaan terhadap kontruksi kain, warna kain, design kain, bagian luar dalam kain, dan bagian centre line kain. Juga melakukan pemeriksaan terhadap kualitas kain.

· Melakukan pemeriksaan pada marker, apakah rasio size/ukuran sudah memenuhi seluruh size/ukuran yang dipesan

· Melakukan pemeriksaan terhadap hasil spreading/ampar apakah kain yang diampar sudah benar benar rata tidak bergelombang dan lurus.

· Melakukan pemeriksaan terhadap metode cutting

· Pemeriksaan terhadap hasil potong, apakah seluruh hasil potong sudah benar benar sesuai dengan original pattern/pola yang diberikan oleh buyer/pemesan.

· Pemeriksaan pada hasil potong, apakah stripe atau kotak dari potongan komponen benar benar matching dan balance.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN FUSING

· Melakukan pemeriksaan terhadap hasil fusing sebelum dan sesudah pencucian. Apakah mengalami perubahan warna dan ukuran.

· Melakukan pemeriksaan terhadap kualitas fusing yang dihasilkan, terdapat delamination dan strike trough atau tidak. Apakah bond strength sudah memenuhi standar atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan khusus untuk kain stripe/kotak hasil fuse benar benar lurus dan balance.

· Melakukan pemeriksaan apakah interlining yang digunakan sudah sesuai dengan yang ditentukan oleh buyer atau tidak.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN JAHIT.

Urutan/prosedur pemeriksaan pada proses Sewing:

a. Bekerja sesuai dengan pedoman produksi atau work sheet.

b. Mengikuti proses sesuai dengan layout sampai baju jadi

c. Periksa hasil cutting per komponen sesuai dengan sample dan toleransi

d. Memeriksa jumlah stikan dalam 1 inch (stitch/inch)

e. Periksa hasil jahitan dan ukuran tiap tahapan proses, jahitan harus baik, rapi, tidak loncat.

f. Periksa hasil jadi sesuai dengan work sheet

g. Periksa hasil jadi setelah dilakukan trimming

h. Semua data dicatat pada blangko yang sudah disediakan

Lebih detailnya adalah sebagai berikut

· Melakukan pemeriksaan terhadap model/style yang akan digunakan.

· Melakukan pemeriksaan terhadap material penunjang yang akan digunakan, nisalnya : Label, Button, benang

· Melakukan pemeriksaan terhadap hasil komponen jadi, spi, ukuran, model/style, handling/penanganan

· Melakukan pengukuran terhadap garmen jadi

· Melakukan tes cuci pada garmen jadi untuk mengetahui apakah ada perubahan warna, dan ukuran setelah pencucian.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN GOSOK-LIPAT – PENGEPAKAN

· Melakukan pemeriksaan secara tekhnis apakah temperature/suhu yang digunakan sudah sesuai dengan jenis kain yang akan digosok atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan dari hasil gosok, apakah ada perubahan warna, bentuk dan ukuran setelah penggosokan.

· Melakukan pemeriksaan dari hasil gosokan apakah sudah halus sesuai dengan yang diinginkan atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan apakah folding method/cara lipat sudah seusesuai dengan permintaan buyer atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan terhadap material penunjang( card board, paper collar stripe, plastic collar support, tissue paper, hang tag, price ticket ) apakah sudah sesuai yang dengan permintaan dari buyer atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan terhadap kualitas, ukuran dari export carton.

· Melakukan pemeriksaan terhadap total jumlah per carton, dan methode packing.

FINAL AUDIT PROCEDURE/ PROSEDUR FINAL AUDIT

Final audit akan dilakukan pada posisi garmen dengan status produksi tertentu.

· Melakukan pemeriksaan kesesuain pada jumlah pemesanan, warna dan model.

· Melakukan pemilihan/pengambilan garmen secara random sesuai dengan statistical sample plan.

· Melakukan pemeriksaan secara visual dari hasil operasi sewing/ jahit apakah kualitas jahit sudah sesuai atau tidak dengan standar

· Melakukan pemeriksaan terhadap ukuran, apakah sudah sesuai dengan pemesanan atau tidak. Minimum pengukuran 5 pieces untuk setiap warna dan ukuran.

· Melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap: model, kain, warna, jahitan, material penunjang, konstruksi material, price ticket, folding method/cara lipat, carton marking. Dan carton labeling.

KLASIFIKASI DEFECT

1. Defect akan diklasifikasikan menjadi dua yaitu, defect major dan defect minor.

2. Major defect adalah sebuah kondisi garmen yang diindikasikan akan menjadi second quality atau tidak memenuhi standar karena beberapa alasan berikut :

  • Defect tersebut akan mempengaruhi integrity/keutuhan dari product
  • Defect tersebut akan mempengruhi terhadap daya jual dari product
  • Defect tersebut akan mempengaruhu kepercayaan dan kepuasan konsumen terhadap product
  • Defect tersebut menjadikan ketidak sesuaian pada style

3. Minor defect adalah sebuah kondisi dimana defect tersebut tidak akan menimbulkan complain dari konsumen.

DEFINISI DEFECT PADA BAGIAN SEWING/JAHIT

  1. Crooked label/ label tidak di tengah +/- 1/16” dari tengah masih diperbolehkan
  2. Label seam ends on yoke/ jahitan label tembus satu jarum pada bahu. Diperbolehkan tidak melebihi 1/8”
  3. Label stitching over run/ jahitan label keluar. Diperbolehkan tidak melebihi satu jarum
  4. Poor banding/ lapisan kaki kerah melintir. Tidak diperbolehkan
  5. Nose on band extension/pemasangan kaki kerah nonjol. Diperbolehkan tidak melebihi 1/16”.
  6. Uneven collar point length/Lebar dari pucuk kerah tidak sama kiri dan kanan. Tidak ada toleransi , ukuran harus benar benar akurat.
  7. Untidy joint stitching at collar/jahitan sambungan pada kerah. Tidak diperbolehkan ada jahitan sambung pada bagian kerah.
  8. Mismatched collar/kerah tidak matching. Diharuskan matching pada bagian ini.
  9. Skip stitch collar/stik kerah loncat. Tidak diperbolehkan
  10. Open seam collar closing/pasang tutup kerah jebol. Tidak ada toleransi.
  11. Beading collar point/pucuk kerah tidak lancip. Tidak ada toleransi.
  12. Fractured Collar point/pucuk kerah jebol. Tidak ada toleransi.
  13. One front longer than other/bagian depan kiri kanan tidak sama. Tidak diperbolehkan melebihi ¼”
  14. Skip stitch top centre/jahitan loncat pada bagian tengah. Tidak ada toleransi.
  15. Missing or faulty button/kurang atau rusak kancing. Tidak ada toleransi.
  16. Open seam joining/jebol pada penggabungan. Tidak ada toleransi
  17. Faulty pocket blocking/Block saku kurang baik. Tidak ada toleransi.
  18. Incorrect pocket location/penempatan saku yang tidak sesuai. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
  19. Hi Low Pocket/Pocket kiri dan kanan tidak sama posisinya. Diperbolehkan tidak melebihi 1/4”
  20. Sleeve not even at armhole/ tangan tidak sama pada bagian ketiak. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
  21. One sleeve longer than other/panjang tangan kiri dan kanan tidak sama. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
  22. Puckering/Kerut. Tidak diperbolehkan.
  23. Sleeve placket faulty blocking/Blocking tangan tidak bagus. Harus diperbaiki.
  24. Fullness in Cuff/Gelembung pada manset. Harus diperbaiki.
  25. Nose on Cuff/pemasangan manset menonjol ke luar.Harus diperbaiki.
  26. Beading Cuff attached/Pasang manset menonjol ke atas. Harus diperbaiki.
  27. Needle pulls, needle chew/Terdapat bekas karena jarum tumpul. Tidak diperbolehkan.
  28. Brooken stitch/Jahitan putus. Tidak diperbolehkan.
  29. Half sewn button/jahitan kancing hanya separuh.

DEFINISI DEFFECT PADA BAGIAN FOLDING DAN PACKING

1. Crushed or no collar support/Rusak atau sobek kertas penahan kerah. Harus diperbaiki.

2. Tie space too big/overlap/Jarak pemasangan dasi terlalu lebar atau bertumpang tindih.

3. Crooked Collar/Kerah tidak pas pada bagian tengah lipatan.

4. Mismatched front stripe/plaid/Bagian kiri dan kanan tidak matching untuk stripe atau kotak.

5. Mismatched pocket/Pemasangan saku tidak matching.

6. Mismatched collar/Kerah tidak matching

7. Collar not rolled properly/Kerah tidak bulat secara sempurna.

8. Torn/misprinted poly bag/ Plastik robek dan ada kesalahan print.

9. Dry wrinkles/ Gosokan tidak rapi.

10. Poor Pinning/Pemasangan jarum pentul tidak baik.

11. Crooked front folding/Bagian lipatan kiri kanan tidak seimbang.

12. Flaps not covering to pocket/Tutup saku tidak menutupi secara sempurna.

13. Puckering collar closing/kerut pada bagian pemasangan kerah.

14. Fullnes in band/gelembung pada bagian dalam kaki kerah

15. Hi Low Button Down/Kancing kerah kiri kanan tinggi rendah.

16. Misaligned neck button to front button/Kancing leher tidak lurus terhadap kancing depan.

17. Fullness around collar/Gelembung sekitar kerah

18. Fullness between 1st and 2nd front button/Gelembung antara kancing pertama dan kedua pada bagian depan.

19. Wrong size in box/Salah memasukan ukuran pada box

20. Wrong assortment/ Salah assortment

21. Wrong style in box/ Salah style yang masuk pada box

22. Wrong poly bag/ Salah plastic

23. Wrong Carton Marking/ Salah print pada karton box

Sumber bacaan

Aas Asmawati, Pelatihan QA Garmen di PTBB UNY

GRIPAC, Modul QC.

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL By:noor fitrihana

Menurut sumber diperolehnya zat warna tekstil digolongkan menjadi 2 yaitu: pertama, Zat Pewarna Alam (ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil ekstrak tumbuhan atau hewan. Kedua, Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena. (Isminingsih, 1978).

Pada awalnya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Keunggulan zat warna sintetis adalah lebih mudah diperoleh , ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya Meskipun dewasa ini penggunaan zat warna alam telah tergeser oleh keberadaan zat warna sintesis namun penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan budaya warisan nenek moyang masih tetap dijaga keberadaannya khususnya pada proses pembatikan dan perancangan busana. Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif. Dalam tulisan ini akan dijelaskan teknik eksplorasi zat warna alam dari tanaman di sekitar kita sebagai upaya pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah sebagai salah satu upaya pelestarian budaya.

A. Zat Warna Alam untuk Bahan Tekstil

Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (The), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973).

Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun). Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas atau daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.

Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya. Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui secara kualitatif warna yang dihasilkan oleh berbagai tanaman di sekitar kita untuk pencelupan tekstil. Dengan demikian hasilnya dapat semakin memperkaya jenis –jenis tanaman sumber pewarna alam sehingga ketersediaan zat warna alam selalu terjaga dan variasi warna yang dihasilkan semakin beragam. Eksplorasi zat warna alam ini bisa diawali dari memilih berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar kita baik dari bagian daun, bunga, batang, kulit ataupun akar . Sebagai indikasi awal, tanaman yang kita pilih sebagai bahan pembuat zat pewarna alam adalah bagian tanaman –tanaman yang berwarna atau jika bagian tanaman itu digoreskan ke permukaan putih meninggalkan bekas/goresan berwarna. Pembuatan zat warna alam untuk pewarnaan bahan tekstil dapat dilakukan menggunakan teknologi dan peralatan sederhana.

B. Eksplorasi Zat Warna Alam dan Teknik Pencelupannya

Menurut R.H.MJ. Lemmens dan N Wulijarni-Soetjipto (1999) sebagian besar warna dapat diperoleh dari produk tumbuhan, pada jaringan tumbuhan terdapat pigmen tumbuhan penimbul warna yang berbeda tergantung menurut struktur kimianya. Golongan pigmen tumbuhan dapat berbentuk klorofil, karotenoid, flovonoid dan kuinon. Untuk itu pigmen – pigmen alam tersebut perlu dieksplorasi dari jaringan atau organ tumbuhan dan dijadikan larutan zat warna alam untuk pencelupan bahan tekstil. Proses eksplorasi dilakukan dengan teknik ekstraksi dengan pelarut air.

Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen – pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji ataupun akar. Proses eksplorasi pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ekstraksi. Proses ektraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air. Bagian tumbuhan yang di ekstrak adalah bagian yang diindikasikan paling kuat/banyak memiliki pigmen warna misalnya bagian daun, batang, akar, kulit buah, biji ataupun buahnya. Untuk proses ekplorasi ini dibutuhkan bahan – sebagai berikut: 1). Kain katun (birkolin) dan sutera, 2) Ekstrak adalah bahan yang diambil dari bagian tanaman di sekitar kita yang ingin kita jadikan sumber pewarna alam seperti : daun pepaya, bunga sepatu, daun alpokat, kulit buah manggis, daun jati, kayu secang, biji makutodewo, daun ketela pohon, daun jambu biji ataupun jenis tanaman lainnya yang ingin kita eksplorasi 3) Bahan kimia yang digunakan adalah tunjung (FeSO4) , tawas, natrium karbonat/soda abu (Na2CO3) , kapur tohor (CaCO3), bahan ini dapat di dapatkan di toko-toko bahan kimia. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, ember, panci, kompor, thermometer , pisau dan gunting. Proses ekplorasi dan pencelupan zat warna alam adalah sebagai berikut:

C. Proses Ekstraksi Zat Warna Alam

Dalam melakukan proses ekstraksi/pembuatan larutan zat warna alam perlu disesuaikan dengan berat bahan yang hendak diproses sehingga jumlah larutan zat warna alam yang dihasilkan dapat mencukupi untuk mencelup bahan tekstil. Banyaknya larutan zat warna alam yang diperlukan tergantung pada jumlah bahan tekstil yang akan diproses. Perbandingan larutan zat warna dengan bahan tekstil yang biasa digunakan adalah 1: 30. Misalnya berat bahan tekstil yang diproses 100 gram maka kebutuhan larutan zat warna alam adalah 3 liter. Beikut iniadalah langkah-langkah proses ekstraksi untuk mengeksplorasi zat pewarna alam dalam skala laboratorium:

1. Potong menjadi ukuran kecil – kecil bagian tanaman yang diinginkan misalnya: daun, batang , kulit atau buah. Bahan dapat dikeringkan dulu maupun langsung diekstrak. Ambil potongan tersebut seberat 500 gr.

2. Masukkan potongan-potongan tersebut ke dalam panci. Tambahkan air dengan perbandingan 1:10. Contohnya jika berat bahan yang diekstrak 500gr maka airnya 5 liter.

3. Rebus bahan hingga volume air menjadi setengahnya (2,5liter). Jika menghendaki larutan zat warna jadi lebih kental volume sisa perebusan bisa diperkecil misalnya menjadi sepertiganya. Sebagai indikasi bahwa pigmen warna yang ada dalam tumbuhan telah keluar ditunjukkan dengan air setelah perebusan menjadi berwarna. Jika larutan tetap bening berarti tanaman tersebut hampir dipastikan tidak mengandung pigmen warna.

4. Saring dengan kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi tersebut untuk memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu). Larutan ekstrak hasil penyaringan ini disebut larutan zat warna alam. Setelah dingin larutan siap digunakan.

D. Persiapan Pencelupan Dengan Zat Warna Alam.

Sebelum dilakukan pencelupan dengan larutan zat warna alam pada kain katun dan sutera perlu dilakukan beberapa proses persiapan sebagai berikut:

1. Proses mordanting

Bahan tekstil yang hendak diwarna harus diproses mordanting terlebih dahulu. Proses mordanting ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik zat warna alam terhadap bahan tekstil serta berguna untuk menghasilkan kerataan dan ketajaman warna yang baik. Proses mordanting dilakukan sebagai berikut:

a. Potong bahan tekstil sebagai sample untuk diwarna dengan ukuran 10 X 10 Cm atau sesuai keinginan sebanyak tiga lembar.

b Rendam bahan tekstil yang akan diwarnai dalam larutan 2gr/liter sabun netral (sabun sunlight batangan) atau TRO (Turkey Red Oil). Artinya setiap 1 liter air yang digunakan ditambahkan 2 gram sabun netral atau TRO. Perendaman dilakukan selama 2 jam. Bisa juga direndam selama semalam. Setelah itu bahan dicuci dan dianginkan.

c. Untuk bahan kain kapas : Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dan 2 gram soda abu (Na2CO3) dalam setiap 1 liter air yang digunakan. Aduk hingga larut. Rebus larutan hingga mendidih kemudian masukkan bahan kapas dan direbus selama 1jam. Setelah itu matikan api dan kain kapas dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain kapas tersebut siap dicelup

d. Untuk bahan sutera at: Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dalam setiap 1 liter air yang digunakan, aduk hingga larut. Panaskan larutan hingga 60ºC kemudian masukkan bahan sutera atau wol dan proses selama 1 jam dengan suhu larutan dijaga konstan (40 - 60ºC ). Setelah itu hentikan pemanasan dan kain dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain sutera yang telah dimordanting tersebut siap dicelup dengan larutan zat warna alam.

2. Pembuatan larutan fixer (pengunci warna)

Pada proses pencelupan bahan tekstil dengan zat warna alam dibutuhkan proses fiksasi (fixer) yaitu proses penguncian warna setelah bahan dicelup dengan zat warna alam agar warna memiliki ketahanan luntur yang baik. Ada 3 jenis larutan fixer yang biasa digunakan yaitu tunjung (FeSO4), tawas, atau kapur tohor (CaCO3).. Untuk itu sebelum melakukan pencelupan kita perlu menyiapkan larutan fixer terlebih dengan dengan cara :

a. Larutan fixer tunjung : Larutkan 50 gram tunjung dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

b. Larutan fixer Tawas : Larutkan 50 gram tawas dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

c. Larutan fixer Kapur tohor : Larutkan 50 gram kapur tohor dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

3. Proses Pencelupan Dengan Zat Warna Alam

Setelah bahan dimordanting dan larutan fixer siap maka proses pencelupan bahan tekstil dapat segera dilakukan dengan jalan sebagai berikut:

1. Siapkan larutan zat warna alam hasil proses ekstraksi dalam tempat pencelupan .

2. Masukkan bahan tekstil yang telah dimordanting kedalam larutan zat warna alam dan diproses pencelupan selama 15 – 30 menit.

3. Masukkan bahan kedalam larutan fixer bisa dipilih salah satu antara tunjung , tawas atau kapur tohor. Bahan diproses dalam larutan fixer selama 10 menit. Untuk mengetahui perbedaan warna yang dihasilkan oleh masing – masing larutan fixer maka proses 3 lembar kain pada larutan zat warna alam setelah itu ambil 1 lembar difixer pada larutan tunjung, 1 lembar pada larutan tawas dan satunya lagi pada larutan kapur tohor.

4. Bilas dan cuci bahan lalu keringkan. Bahan telah selesai diwarnai dengan larutan zat warna alam.

5. Amati warna yang dihasilkan dan perbedaan warna pada bahan tekstil setelah difixer dengan masing-masing larutan fixer. Pada umumnya hampir semua jenis zat warna alam mampu mewarnai bahan dari sutera dengan baik , namun tidak demikian dengan bahan dari kapas katun. (berdasar beberapa eksperimen yang telah dilakukan penulis).

6. Lakukan pengujian-pengujian kualitas yang diperlukan (ketahanan luntur warna dan lainnya

7. Simpulkan potensi tanaman yang diproses (diekstrak) sebagai sumber zat pewarna alam untuk mewarnai bahan tekstil.

Dengan banyak melakukan eksperimentasi untuk mengeksplorasi kandungan pigmen warna dalam tanaman maka akan sangat memperkaya jenis zat warna alam yang kita miliki. Eksperimen dapat dimulai dari memilih jenis tanaman di lingkungan sekitar anda yang sekiranya belum dimanfaatkan untuk kepentingan lain (untuk obat,tanman hias dan lainnya). Potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah merupakan faktor pendukung yang dapat dimanfaatkan. Produk tekstil dengan zat pewarna alam ini banyak disukai karena keunggulannya selain ramah lingkungan juga warna – warna yang dihasilkan sangat khas dan etnik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi . Produk tekstil dengan zat warna alam dapat dijadikan potensi unggulan produk daerah di pasar global. Untuk pengembangan penggunaan zat warna alam perlu dilakukan melalui penelitian –penelitian untuk mendapatkan hasil yang semakin baik.

Variasi warna Napthol dan Garam Naphtol

Variasi warna Napthol dan Garam Naphtol

Pewarnaan menggunakan napthol membutuhkan pengalaman menggunakan campuran zat warna naphtol dan garam napthol untuk pembangkitnya. Gambar disamping dapat digunakan acuan untuk mengetahui arah warna dalam mewarnai bahan tekstil dengan zat warna napthol.

Proses batik

Proses batik

Pengertian Batik

Secara etimologi kata ambatik berasal dari kata tik yang berarti kecil/titik dapat diartikan menulis atau menggambar serba rumit (kecil-kecil). Batik sama artinya dengan menulis. Tetapi batik secara umum memiliki arti khusus yaitu melukis pada kain mempergunakan lilin (malam) dengan mempergunakan canting).

Yang dimaksud dengan teknik membuat batik adalah proses pekerjaan dari tahap persiapan kain sampai menjadi kain batik. Pekerjaan persiapan meliputi segala pekerjaan pada kain mori hingga siap dibuat batik seperti nggirah/ngetel (mencuci), nganji (menganji), ngemplong (seterika), kalendering. Sedangkan proses membuat batik meliputi pekerjaan pembuatan batik yang sebenarnya terdiri dari pembuatan motif, pelekatan lilin batik pada kain sesuai motif,, pewarnaan batik (celup, colet, lukis /painting, printing), yang terakhir adalah penghilangan lilin dari kain . Teknologi pembuatan batik di Indonesia pada prinsipnya berdasarkan Resist Dyes Technique (Teknik celup rintang) dimana pembuatannya semula dikerjakan dengan cara ikat – celup motif yang sangat sederhana, kemudian menggunakan zat perintang warna. Pada mulanya sebagai zat perintang digunakan bubur ketan, kemudian diketemukan zat perintang dari malam(lilin) dan digunakan sampai sekarang

Untuk membuat motif batik umumnya dilakukan dengan cara tulis tangan dengan canting tulis (batik tulis atau batik painting), menggunakan cap dari tembaga disebut (batik cap), dengan jalan dibuat motif pada mesin printing (batik printing), dengan cara dibordir disebut batik bordir, serta dibuat dengan kombinasi kombinasi cara-cara yang telah disebutkan.

Di pasaran kain batik dibedakan menjadi 2 jenis berdasarkan cara pembuatan motif batiknya. Yang pertama adalah Kain batik yaitu kain yang motifnya bercorak batik yang dibuat/digambar dengan cara pelekatan lilin (malam). Sedangkan kain bermotif batik adalah kain yang bermotif/bercorak batik tetapi motifnya tidak digambar melalui pelekatan lilin batik, biasanya dengan mesin printing tekstil, bodrir dan ataupun ornamen batik tanpa melalui pelekatan lilin.

Proses Pembuatan Batik

Teknik pembuatan batik pada awalnya adalah batik tulis dan alat yang digunakan pertama kali adalah canting tulis dari bambu yang kemudian berkembang/diketemukannya canting tulis dari tembaga. Tahapan proses pembuatan batik sebagai berikut:

1) Ngelowong Yaitu menggambari kain dengan lilin, baik menggunakan canthing tangan atau cap (stempel), sifat lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah supaya lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok, karena bekas gambar dari lilin ini nantinya akan diberi warna coklat (soga).

2) Nembok Proses ini hampir sama dengan ngelowong tetapi lilin yang digunakan lebih kuat karena lilin ini dimaksudkan untuk menahan warna biru (indigo) dan coklat (soga) agar tidak menembus kain. Bedanya dengan ngelowong adalah nembok untuk menahan warna, sedangkan ngelowong untuk menggambar dan menjadi tempat warna coklat setelah dikerok.

3) Wedelan / Celupan.Tahap ini untuk memberi warna biru dengan menggunakan indigo yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki. Pada waktu dahulu dengan menggunakan indigo alami dan proses ini berlangsung lebih dari satu minggu untuk warna biru yang lebih tua. Kemudian setelah ada indigo pasta/puder warna biru dapat diperoleh hanya dalam waktu 1-2 hari. Setelah tahun 1965, sedikit sekali orang memakai indigo. Untuk memperoleh warna biru biasanya menggunakan warna kimia yang lebih cepat seperti naphtol, dengan warna naphtol dapat mempercepat proses hanya beberapa menit.

4) Ngerok :Yaitu menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna coklat, pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan potongan kaleng dengan lebar 3 cm,panjang 30 cm yang ditajamkan sebelah lalu dilipat menjadi dua, alat ini disebut cawuk.

5) MbironiKain setelah dikerok pada bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecek/titik-titik), perlu ditutup dengan lilin menggunakan canthing tulis/biron. Hal ini dimaksudkan agar bagian tersebut tidak kemasukan soga apabila disoga.

6) NyogaKain yang telah dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan ekstrak pewarna yang terbuat dari kulit kayu, soga, tingi, tegeran, dan lain lain (zat warna alam). Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya kemudian ditiris hingga kering. Proses ini diulang –ulang hingga sampai mendapatkan warna coklat yang diinginkan. Untuk warna tua sekali proses ini dapat memakan waktu 2 minggu. Jika mnenggunakan pewarna kimia (zat warna sintetis) proses ini dapat selesai dalam waktu satu hari.

7) Mbabar / Ngebyok / NglorodTahap ini untuk membersihkan seluruh lilin yang masih ada di kain dengan cara dimasak dalam air mendidih dengan ditambah air tapioca encer atau TRO agar lilin tidak melekat kembali ke kain

Bahan - Bahan Batik

Bahan - Bahan Batik

September 3rd, 2008

Mori adalah bahan baku batik dari katun. Kwalitet mori bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan.

1. UKURAN MORI

Mori yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain yang dikehendaki. Ada juga kebutuhan yang pasti misalnya udeng atau ikat kepala.

Ukuran panjang pendek mori biasanya tidak menurut standar yang pasti, tetapi dengan ukuran tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan sekacu. Kacu ialah sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar (persegi). Maka yang disebut sekacu ialah ukuran perseginya mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lainnya. Maka lebar mori sangat menentukan panjang masing-masing jenis mori, meskipun jumlah kacunya sama. Cara mengukurnya pun hanya dengan jalan memegang kedua sudut mori pada sebuah sisi lebar dan menempelkan salah satu sudut tadi pada sisi panjang berseberangan sepanjang lebar mori. Kalau akan mengambil beberapa kacu, maka berganti-ganti tangan kiri dan kanan memegang sudut mori itu, menempelkan pada sisi panjang yang sama dengan menekuk mori.

2. MENGOLAH MORI SEBELUM DIBATIK

sebelum dibatik mori harus diolah lebih dahulu. Baik buruknya pengolahan akan menentukan baik buruknya kain.

Mori yang sudah dipotong diplipit. Diplipit adalah dijahit pada bekas potongan supaya benang pakan tidak terlepas. Benang pakan ialah benang yang melintang pada tenunan. Setelah diplipit kemudian di cuci dengan air tawar sampai bersih. Kalau mori kotor, maka kotoran itu akan menahan meresapnya cairan lilin (malam) yang di aplikasikan ke kain dan menahan cairan warna pada waktu proses pembabaran. Di daerah Yogyakarta dan Surakarta mori dijemur sampai kering. Setelah dicuci bersih mori selanjutnya direbus.

Berbeda daerah, beda pula cara pengolahannya. Di daerah Blora, orang membuat Wantu, yaitu air yang dipanaskan dalam suatu wadah sebelum moridi masukkan didalamnya. Wadah untuk membuat Wantu diberi dasar di dalamnya, supaya barang rebusan tidak hangus. Sebagai wadah dasar tadi digunakan daun bambu, daun pepaya atau merang (tangkai bulir padi). Bahan-bahan tadi lebih baik dari bahan lainnya untuk dasar merebus sesuatu, karena meskipun hangus tidak akan mengerut dan arangnya tidak mengotori mori.

Setelah wantu panas, mori bersih dimasukkan di masukan di dalamnya. Cara memesukkan mori kedalam wantu mulai dari ujung sampai pangkal secra urut. Rebusan memakan waktu beberapa menit. Mori kemudian diangkat dan dicuci untuk menghilangkan kotoran sewaktu direbus. Selesai dicuci barulah dijemur sampai kering.

Mori menjadi lemas; kemudian dikanji. Bahan kanji ialah beras. Di daerah Blora dipakai sembarang beras asalkan putih. Beras direndam beberapa saat dalam air secukupnya; kemudian beras bersama airnya direbus sampai mendidih. Air rebusan beras diambil dan dinamakan tajin.

Mori kering dimasukkan kedalam tajin sampai merata; tanpa diperas langsung dijemur supaya kering. Akhirnya mori menjadi kaku.

Tetapi didaerah Yogyakarta dan Surakarta pada jaman sebelum perang bahan kanji terbuat dari beras ketan; dan cara pembuatannya pun berbeda-beda. Ada yang memakai cara seperti didaerah Blora, tetapi ada juga dengan cara beras dijadikan tepung halus. Apabila berupa tepung, sesenduk tepung diberi empat gelas besar air, dimasak sampai mendidih, kemudian disaring. Air saringan seukuran tadi hanya untuk mori sekacu.

Mori kering sehabis dikanji akan mengerut dan kaku. Maka mori diembun-embunkan setiap pagi beberapa hari. Diembun-embunkan ialah dibentangkan diluar rumah waktu pagi hari ( jam 5.00), supaya menjadi lembab karena air embun.

Setelah mori lembab, kemudian dikemplong. DiKemplong ialah dipukuli pada tempat tertentu dengan cara tertentu pula, supaya benang-benang menjadi kendor dan lemas, sehingga cairan lilin dapat meresap.

Untuk mengemplong mori diperlukan kayu kemplongan sebagai alas dan alu pemukul atau ganden (ganden ialah martil agak besar terbuat dari kayu). Mori dilipat memanjang menurut lebarnya. Lebar lipatan lebih kurang setengah jengkal; kemudian ditaruh diatas kayu dasar memanjang, lalu dipukul-pukul. Jika perlu dibolak-balik agar pukulan menjadi rata.

Selesai dikemplong, tinggal menentukan motif batikan yang dikehendaki. Jika ingin motif parang-paragan, atau motif-motif yang membutuhkan bidang-bidang tertentu, maka mori digaris terlebih dahulu. Fungsi penggarisan ini hanyalah untuk menentukan letak motif agar menjadi rapi (lurus). Pembatik yang sudah mahir tidak menggunakan penggarisan. Besar kecilnya garisan tidak sama, tergantung pada motif rencana batikan. Biasanya kayu garisan berpenampang bujur sangkar. Cara memindah kayu penggaris setelah garisan pertama ke garis kedua ialah dengan memutar kayu penggaris (membalik), tanpa mengangkatnya. Maka lebar sempitnya ruang antara garis satu sama lain ditentukan oleh banyaknya putaran kayu penggaris. Mori yang dibatik motif semen tidak perlu digaris, langsung dirangkap dengan pola pada muka mori. Setelah semua itu selesai, barulah dapat dimulai kerja membatik.

POLA

Pola ialah suatu motif batik dalam mori ukuran tertentu sebagai contoh motif batik yang akan dibuat.

LILIN (MALAM).

Lilin atau malam ialah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang), karena akhirnya diambil kembali sewaktu proses membabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain.

Mengapa Batik Warna Alam Lebih Menarik?

July 6th, 2008

Pernah mendengar kata Batik? Pasti! Coba lihat disekitar Anda. Jangan-jangan baju yang sekarang Anda pakai dari kain Batik.

Batik dikenal diseluruh nusantara. Belum ada informasi pasti kapan awalnya. Batik diterima sebagai warisan leluhur di Indonesia.

Tadinya saya pikir Batik hanya milik Indonesia. Tapi ternyata… di banyak negara ada Batik dengan ciri khasnya masing-masing.

Kata Batik konon kabarnya berasal dari kata ‘tik’ atau ‘tik-tik’. Itu kata Bahasa Indonesia. Bagaimana kalau Batik di negara lain? Apakah adari asal kata yang sama? Entahlah…

Pekerjaan membatik adalah pekerjaan orang sabar. Bayangkan, untuk membuat satu kain Batik diperlukan proses yang panjang. diawali dengan mencuci, menganji, menjemur dan mengetuknya. Suatu proses yang memakan waktu berhari-hari.

Selanjutnya kain putih tersebut dipola. Kemudian baru mulai digambar dengan menggunakan canting. Proses pewarnaan juga memerlukan waktu tergantung berapa warna yang akan digunakan dalam satu kain.

Bagian yang tidak ingin diwarna tertentu harus ditutup dengan lilin. Setelah satu warna selesai, lilin dihilangkan dengan merebus. Selanjutnya dikerjakan warna yang lain. Demikian seterusnya sampai seluruh kain diberi warna sesuai dengna keinginan sang designer.

Warna alami Batik diambil dari daun, bunga serta kulit kayu. Memang penangann batik dengan warna alam sedikit membutuhkan ketelitian, tetapi warna yang ditampilkannya lembut dan alami. Tidak banyak lagi yang mau menggunakan warna alam. Karena itu, jika Anda menggunakan Batik warna alam, Batik yang Anda pakai akan berbeda dari batik-batik yang lain. Batik ini justru menarik karena kelembutan warnanya. Cobalah!

Batik, Setia Bersama Masa PDF Cetak E-mail




Solo adalah Kota Batik. Pemberian nama ini bukan tanpa alasan, karena batik, yang merupakan salah satu ikon identitas bangsa Indonesia, adalah bagian dari keseharian masyarakat Solo yang turut menjadi tulang punggung kehidupan. Batik ada di mana-mana. Setia bersama masa dan meraja melebihi raja. Batik bukan hanya tentang kain dengan berbagai macam motif yang tergambar di atasnya, karena berbagai filosofi pun tertanam di dalam karya seni itu. Batik Solo memiliki keunikan dari daerah-daerah yang lain dan membuatnya mengandung nilai historis di luar kekuatan estetika yang jelas-jelas tersaji. Berdasarkan beberapa sumber, batik dan teknik pembuatannya memang tidak sepenuhnya ditemukan oleh bangsa Indonesia, namun di sinilah ia berkembang dan menemukan tempatnya di dalam perjalanan panjang kebudayaan bangsa.

Batik, Riwayatmu Dulu...
Batik telah dikenal sejak jaman Kerajaan Majapahit, bahkan teknik membatik itu sendiri konon diperkenalkan saat kebudayaan India dan Cina masuk ke Nusantara, karena teknik mewarnai dengan menggunakan malam telah dipergunakan di Negeri Tirai Bambu sejak zaman Dinasti Tang.

Kata batik konon berasal dari kata ambatik, yang artinya kain dengan titik-titik kecil. Tik sendiri artinya titik dan batik merupakan kain yang diberi motif dengan menitikkan malam di atasnya. Dahulu batik hanya dipergunakan oleh kalangan kerajaan, karena teknik pembuatan dan motif yang terkandung di dalamnya. Sebuah catatan sejarah bahkan mengatakan bahwa Sultan Agung, sebagai raja Mataram yang sangat terkenal, mempergunakan batik sebagai pakaian kebesaran.

Canting vs Cap
Pembatikan biasanya dilakukan di atas 2 macam bahan, yakni katun dan sutera. Kedua bahan itu memiliki tingkat penyerapan malam terbaik yang akan sangat membantu dalam proses pewarnaan. Bahan tersebut harus melalui pencucian hingga beberapa kali untuk menghilangkan semua kotoran yang menempel sebelum mulai diproses. Setelah itu outline motif diletakkan dengan menggunakan arang atau pensil, sebelum ditimpa dengan malam.

Terdapat 3 teknik pembuatan batik, yakni tubs, cap dan printing. Namun hanya tulis dan cap yang dipergunakan di dalam batik Solo. Batik tulis merupakan proses yang lebih rumit dibandingkan dengan cap. Pembuat barus memiliki keterampilan dalam menggunakan canting, yakni semacam pena untuk menggambar motif dengan malam atau lilin. Canting sendiri konon merupakan ciptaan asli suku Jawa. Teknik pewarnaan menggunakan malam boleh berasal dari budaya asing, namun alat mungil ini merupakan hasil karya anak bangsa yang pantas dibanggakan.

Seiring waktu, batik tidak lagi hanya digunakan oleh keluarga dan penghuni kerajaan, namun menjadi milik publik dan dipergunakan oleh segala kalangan. Memenuhi permintaan yang semakin meningkat, teknik pembuatan batik pun mengalami perkembangan, yakni dengan menggunakan cap yang terbuat dari tembaga. Berbagai motif dengan mudah diaplikasikan kepada bahan dengan mencapnya. Kuncinya, cap itu harus dibuat dengan sangat teliti dan hati-hati karena antara satu dan lainnya harus benar-benar sama.

Batik yang dibuat menggunakan teknik cap, tulis atau penggabungan keduanya dengan mudah dapat Anda temukan di berbagai toko busana dan pasar tradisional yang ada di Solo. Harga dapat bervariasi, tergantung teknik pembuatan dan bahan yang dipergunakan. Batik yang dibuat dengan teknik tulis, dengan warna yang beragam memiliki harga yang lebih mahal karena pertimbangan waktu, usaha dan nilai estetika yang terkandung di dalamnya. (and)

Tradisi Di Dalam Motif Batik
Walaupun banyak perancang kini seringkali melahirkan motif-motif free style, alias lepas pakem tradisional, namun beberapa motif berikut masih dan tetap akan menjadi identitas utama batik.

Kawung
Motif kawung adalah salah satu motif tertua yang dikenal di dalam pembuatan batik, paling tidak sejak abad ke-13. Motif ini berupa lingkaran-lingkaran yang saling menempel. Beberapa ornamen dekorasi lainnya, seperti garis-garis yang bersilangan atau titik-titik, kadang diletakkan di dalam lingkaran itu. Motif ini dahulu hanya dipergunakan oleh keluarga kerajaan Jogjakarta.

Ceplok
Motif ceplok adalah perpaduan dari banyak bentuk, seperti kotak, bintang atau lingkaran. Walau pada dasarnya sangat geometris, namun motif ceplok juga bisa terlihat sangat abstrak dan mengakomodasi gambar-gambar yang lebih alami seperti bunga atau binatang.

Parang
Seperti motif kawung, dahulu motif parang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan di Jawa Tengah. Motif ini terlihat seperti pisau atau parang yang dipergunakan untuk berperang. Konon orang yang menikah tidak boleh mempergunakan motif ini karena nanti pernikahannya akan penuh pertengkaran.

Fakta Menarik Tentang Batik
  1. Batik tulis yang berkualitas baik bersifat reversible, atau terlihat sama persis dari depan atau belakang.
  2. Kalau maiam jatuh di luar motif yang diinginkan, harus dibersihkan dengan air panas dan harus dicungkil menggunakan besi panas.
  3. Batik cap yang jelek biasanya terlihat dari motif yang saling meniban dan garis yang warnanya tidak solid.

1.KLOWONGAN

1.KLOWONGAN
Langkah pertama membuat Batik adalah menggambar garis rangka dengan Chanting(Alat membatik dengan pipa kecil diujungnya yang diisi malam cair yang dipanaskan)

2.NGISENI
Mengisi kerangka dengan motif Batik yang utuh. Ada beberapa macam Chanting. Cecek untuk pota titik titik, chanting galaran untuk pola garis.dll

3.NERUSI
Langkah berikutnya adalah menduplikat dan mengisi motif Batik sama persis pada sisi kain sebaliknya.

4.NEMBOK
Memisahkan motif Batik warna demi warna dengan menutup warna per warna dengan malam. Proses ini menggunakan chanting tembokan yang memiliki lubang besar pada pipanya

5.BLIRIKI
Menutup warna demi warna pada sisi kain sebaliknya. Kombinasi langkah ke-3 dan ke-4

6.MEDEL
Memberi warna biru pada kain dengan zat pewarna bernama Wedel (terbuat dari Nila).

Namun sekarang wedel jarang digunakkan dan diganti oleh pewarna kimia.

7.NGEROK
Removes the wax and wash the fabric

8.MBIRONI
Menutup kain yang telah diberi warna biru dengan malam, sehingga pada saat dicelupkan ke warna lain, warna birunya tidak berubah.

9.NYOGA
Memberi kain warna coklat(soga), dengan mencelupkan kain pada cairan Soga

10.NGLOROT
Langkah terakhir dalam membuat Batik dengan merebus kain agar lapisan malamnya hilang, sesudah semua malam hilang, kain dicuci bersih dan dijemur sampai kering dibawah sinar matahar

Perbedaan dan Persamaan antara Batik Tulis dan Batik Cap

Perbedaan dan Persamaan antara Batik Tulis dan Batik Cap

Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah.

Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar.

Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.

Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:?

Batik Tulis

    1. Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
    2. Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
    3. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
    4. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
    5. Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
    6. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
    7. Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
    8. Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.

Contoh gambar Batik Tulis:


Batik Cap

    1. Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
    2. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis. Ada pula batik cap yang tidak nampak pengulangannya misalnya pada motif Kembang Buketan, karena biasanya menggunakan lebih dari satu cap (bisa 5 hingga 10 cap).
    3. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain. Kecuali pada bahan atau kain batik yang tipis, seperti pada kain sutra organza atau kain sutra Chiffon.
    4. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
    5. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
    6. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan penggunaan cap batik tembaga untuk pemakainya hampir tidak terbatas tergantung dari permintaan pasar.
    7. Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan batik cap biasanya berjumlah banyak dan memiliki kesamaan diantara satu dengan yang lainnya sehingga tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.

Contoh gambar Batik Cap:


Persamaannya
Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:

  1. Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
  2. Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
  3. Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
  4. Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
  5. Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
  6. Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
  7. Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.
Semoga bagi konsumen pecinta batik tidak akan merasa tertipu lagi dan bisa mengenal lebih jauh perbedaan antara batik tulis dan batik cap. Tidak lama lagi pemakaian Batik Mark Indonesia akan dikenalkan dan dipergunakan oleh perusahaan batik yang peduli akan kualitas batik Indonesia.
Batik pesisir saat ini sangat diminati, setidaknya sebagai barang dagangan. Bentuknya memang menarik, sayangnya popularitas batik pesisir berhenti sebagai sebuah komoditas. Tetapi apa di balik selembar kain batik pesisir kurang menjadi perhatian, dalam konteks ini batik pesisir kalah jauh dengan batik yang berasal dari lingkungan Istana.


Achmad Ilyas

Bahkan, yang ironis, di tingkat lokal sendiri, sebut saja di Pekalongan, yang merupakan sentra terbesar dari batik pesisir, pengetahuan orang tentang apa yang ada di dalam batik pesisir sangat kurang. Mereka jauh lebih akrab dengan nama-nama batik dari wilayah lain, terutama batik yang dibuat di lingkungan istana.

Dalam kajian sejarah batik, batik pesisir hampir diabaikan. Perhatian dan penelitian sejarah yang dilakukan sejumlah ahli lebih banyak ditujukan pada batik yang berasal dari lingkungan istana, terutama batik dari lingkungan Kraton Solo dan Yogyakarta. Kajian tentang batik pesisir dilakukan lebih akhir.

Terlepas dari persoalan ketidakseimbangan perhatian dari pemerhati batik. Memang harus diakui bahwa jumlah peninggalan atau dokumentasi tentang batik pesisir memang sangat kurang, Kalah jauh dengan peninggalan batik dari lingkungan istana. Peninggalan atau dokumentasi tentang-- dari masa lampau yang saat ini ada, lebih banyak yang berkaitan-- dengan batik istana. Kalaupun ada peninggalan yang berhubungan dengan batik pesisir, maka peninggalan itu berasal dari abad sembilan dan abad dua puluh. Sedang untuk masa sebelumnya hampir dapat disebut tidak ada.
Dokumentasi tentang batik pesisir yang paling awalpun, hanya dapat dilihat dari buku The History Of Java, itupun tidak menjelaskan secara langsung tentang corak batik pesisir.Buku ini menjelaskan adanya dua jenis batik yang ada di Jawa.
Para ahli mempercayai bahwa sejarah keberadaan batik pesisir sudah sangat tua. Dalam buku The Development of Javanese Cotton Industry yang disusun Matsuo Hiroshi,batik telah lama menjadi pakaian yang umum dipakai di kalangan petani, bahkan sejak jaman Majapahit. Atau jauh sebelum batik ditetapkan sebagai pakaian resmi kerajaan oleh Mataram. Meskipun begitu, sejarah perkembangan batik di wilayah ini hingga abad delapan belas tidak banyak diketahui.

Karakter Desain Batik Pesisir
Istilah batik pesisir, adalah sebuah istilah yang umum dipakai untuk menyebut style atau gaya batik yang dibuat di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Secara tradisional di Jawa batik dibagi menjadi dua jenis batik, batik pesisir dan batik yang dibuat di lingkungan kraton.

Perbedaan yang menonjol antara batik pesisir dan batik dari lingkungan kraton adalah pada pola pewarnaan dan corak ragam yang dipilih. Desain batik pesisir sangat bebas, warna dan corak ragamnya, berbeda dengan batik kraton yang terikat dengan sejumlah pakem atau aturan-aturan yang ditetapkan kraton.
Memang agak susah untuk mendefinisikan bagaimana karakter yang khas dari batik pesisir, Raffles dalam bukuThe History Of Java menjelaskan bahwa ada dua macam pewarnaan dalam jenis batik yang dibuat di pulau Jawa, salah satunya adalah yang kemudian kita kenal sebagai batik pesisir Dalam buku itu ia menyebutkan tentang salah satu pola pewarnaan dari salah satu jenis batik yang ada, batik bang-bangan, biron dan bang-biron atau pola pewarnaan yang sekarang kita sebut sebagai pewarnaan kelengan. Tentu yang ia maksud dengan dengan jenis itu adalah jenis batik pesisir
Pola pewarnaan ini memang dapat disebut sebagai karakter dari jenis batik pesisir yang dapat dilhat sejak masa Raffles, pewarnaan inilah yang membedakan batik pesisir dengan batik dengan pola pewarnaan sogan pada batik dari lingkungan istana.
Sementara batik pesisir dengan pewarnaan yang warna-warni, banyak disebut sebagai karakter batik pesisir pada masa selanjutnya,hal ini sebenarnya perkembangan dari batik merah-biru Pewarnaan kelengan atau merah biru adalah pola pewarnaan yang paling awal dari batik pesisir, pola pewarnaan ini sangat berbeda dengan pola pewarnaan yang pada saat itu berjalan di lingkungan istana. Yang barangkali menjadi pertanyaan apakah pola pewarnaan yang terjadi di wilayah pesisir merupakah pola pewarnaan yang lebih awal dalam sejarah proses pembuatan batik di Jawa? Tetapi yang pasti, sudah sejak lama, batik pesisir memakai bahan pewarna alam yang berbeda dengan bahan pewarna alam yang di pakai di lingkungan kraton. Mengkudu (Morinda Citrifolia), indigo (indigofera) dan kayu tegeran (Cundria Javanese) adalah bahan yang sering dipakai, sementara itu pewarna dari pohon jambal (Pelthoporum Pterocarpa) untuk warna soga yang banyak dipakai pada Batik kraton di lingkungan istana, tidak dikenal di wilayah pesisir .

Pola pewarnaan yang lebih kaya dan tidak sekedar merah biru yang terjadi selanjutnya adalah sebagai akibat introduksi dari sejumlah pengusaha peranakan, terutama keturunan Cina dan kalangan perempuan indo-Eropa yang banyak berkecimpung dalam proses produksi pada pertengahan abad sembilan belas.

Meskipun batik kelengan atau merah-biru disebut sebagai batik pesisir tradisional, tetapi itu tidak berarti corak ragam yang ada pada jenis batik ini di awal abad sembilan belas dapat disebut sebagai corak ragam yang paling original. Sebagian corak ragam batik merah biru yang disebut batik pesisir tradisional meniru dari corak batik dari lingkungan kraton dan corak ragam asing.
Bahkan batik dari desa Klerek di Tuban, yang sering disebut sebagai batik yang paling tradisional di wilayah utara Jawa, juga tidak dapat disebut sebagai bentuk desain yang mewakili atau menjelaskan desain asli dari batik di daerah pesisir. Bahkan dari corak ragam yang ada dari Batik Klerek Tuban itu sendiri, barangkali hanya ada satu jenis yang barangkali tidak dipengaruhi oleh unsur asing, yaitu corak ganggengan.
Sementara itu catatan lain yang berasal dari Cornet de Groot, seorang pejabat di Gresik pada tahun 1822 tentang sejumlah pola yang banyak dibuat di wilayah Gresik,menunjukan bahwa corak ragam yang banyak di buat pada saat itu adalah corak ragam yang dipengaruhi corak tenun, mulai dari corak ragam yang sederhana hingga ke corak ragam tenun yang kompleks. Corak ragam itu sebagian berasal dari corak ragam kain-kain India yang beredar sebelumnya.

Sebagian besar batik pesisir di masa lampau adalah sarung, hanya sebagian yang merupakan kain panjang. Meskipun sarung bukan asli Indonesia, sarung berasal dari melayu atau bahkan ada kemungkinan dari wilayah lebih utara lagi, tetapi sarung sangat popular di wilayah ini. Corak desain sarung adalah corak desain yang mengikuti corak kain India.
Dalam model kain asal India, bagian kepala seperti dalam sarung tidak terdapat pada salah satu sisi kain tetapi merupakan corak ragam yang ada pada kedua tepi kainnya. Sehingga ketika kedua sisi kain itu dipertemukan seperti dalam pemakaian sarung corak ragam itu menjadi satu atau menjadi bagian kepala yang ada dalam sarung. Corak ragam yang umum di dalam kain India adalah corak ragam tumpal,
Sementara batik pesisir dengan desain kain panjang muncul atau popular lebih akhir di wilayah ini.Desain pagi sore, terang bulan dan jawa hokokai yang dibuat lebih akhir adalah desain batik pesisir dalam bentuk kain panjang.
Karakter Corak ragam
Disamping pola pewarnaan yang disebutkan di atas, batik pesisir dapat dibedakan dari jenis batik lain berdasarkan corak ragamnya. Corak ragam batik pesisir tidak satu, tetapi sangat beragam .
Corak ragam dari luar diserap secara bebas di wilayah ini. Hampir tidak ada kendala yang membatasi di dalam proses ini. Bahkan corak-corak ragam dari kraton yang disakralkan di wilayah ini digabungkan dengan corak ragam lain. Atau diberi nuansa yang berbeda,
Di wilayah pesisir penyerapan unsur asing terjadi begitu bebas. Kondisi ini memang agak berbeda dengan yang terjadi dengan batik di wilayah istana. Dalam kajian yang sering ditulis, Batik di masa lalu sering, bahkan hampir selalu dikaitkan dengan sebuah pemaknaan (symbol) atau sebagai syarat dalam suatu acara ritual. Tetapi itu tidak terjadi dengan batik di wilayah pesisir, meskipun sebagian corak ragam di wilayah pesisir juga dipengaruhi oleh kultur dan kepercayaan setempat, tetapi corak ragam dalam desain batik pesisir setelah abad delapan belas atau barangkali sejak awalnya memang tidak pernah dikaitkan dengan symbol. Orang sering menyebut corak ragam di dalam batik pesisir lebih berfungsi sebagai unsur dekoratif

Barangkali pemaknaan atau simbolitas dalam batik sendiri baru terjadi setelah batik menjadi pakaian resmi di lingkungan Kerajaan Mataram. Dulu, atau sebelumnya, ketika batik hanya di pakai oleh kalangan petani, batik tidak menjadi sebuah symbol
Tidak munculnya fungsi symbol di dalam batik pesisir, barangkali karena perancangan desain batik pesisir tidak pernah berhubungan dengan sebuah proses kekuasaan dari sebuah rezim sebagaimana layaknya batik istana, bahkan pada masa perkembangannya perancangan batik lebih terkait dengan sebuah aktivitas perdagangan. Dalam konteks ini, batik pesisir tidak dibebani pesan untuk membangun sebuah kesakralan, yang ujung-ujungnya berakhir pada sebuah legitimasi kekuasan.

Proses perancangan batik pesisir tidak terpusat pada sebuah kekuatan tetapi tersebar pada sejumlah pelaku yang terjun di dalam proses perdagangan atau pembuatan batik. Dalam konsep ini nyaris tidak ada aturan yang membelenggu kecuali kreativitas itu sendiri. Hampir semua corak ragam dapat masuk ke dalam desain batik pesisir.

Macam corak ragam pesisir sangat beragam. Heringas dan Veldhuisen membagi batik pesisir menjadi delapan macam model batik (1) Batik pesisir tradisional yang merah biru (2) batik hasil pengembangan pengusaha keturunan, khususnya cina dan Indo Eropa (3) batik yang dipengaruhi kuat oleh Belanda (4) batik yang mencerminkan kekuasan kolonial (5) Batik hasil modifikasi pengusaha China yang ditujukan untuk kebutuhan kalangan China (6) Kain panjang (7) batik hasil pengembangan dari model batik merah biru (8) kain adat

Batik Pekalongan
Pekalongan yang dalam sejumlah tulisan disebut berdiri pada jaman Sultan Agung dari kerajaan Mataram, walaupun masih ada kemungkinan keberadaan Pekalongan sebagai sebuah wilayah hunian telah terjadi jauh sebelumnya.
Di wilayah ini, sejak abad sembilan belas telah terjadi perkembangan desain batik yang paling dinamis. Kondisi ini menunjukan kompleksitas sosial yang terjadi di wilayah itu. Betapa tidak, bayangkan hampir seluruh corak ragam asing muncul dalam desain batik Pekalongan. Batik dari wilayah ini sangat kosmopolitan. Corak ragam khas India, Persia, Turki , China dan Belanda terlihat mencolok dalam wajah batik Pekalongan, bahkan menjelang tahun 1940 di Pekalongan, muncul batik dengan gaya Jepang, yang disebut Batik Java Hokokai.

Dalam buku Batik Fabled Cloth Of Java, disebutkan bahwa batik telah diperdagangkan di wilayah ini mulai tahun 1840. tetapi kemungkinan ini bisa lebih awal lagi. Hanya sejak saat itu, dapat disebutkan bahwa di wilayah ini telah berkembang perdagangan batik yang pesat. Kalangan pedagang keturunan, terutama keturunan Cina dan Arab yang banyak tinggal di wilayah pesisir terdorong untuk menjadikan batik sebagai komoditas dagang. Perkembangan yang dipicu oleh hilangnya kain asal di India dan munculnya pasar baru seiring dengan munculnya sejumlah kelas menengah baru di wilayah Indonesia sebagai akibat pemberlakukan kebijakan tanam paksa (cultivation system ) oleh Belanda.
Kalangan pedagang ini pada awalnya hanya memesan batik kepada pengrajin batik yang saat itu banyak tersebar di desa-desa. Konon praktek pemesanan batik oleh kalangan keturunan asing kepada pengrajin yang ada di wilayah pedesaan ini telah berlangsung sejak sebelum VOC.

Batik Tradisional Pesisir
Memang agak susah untuk mendapatkan gambaran yang paling original dari batik pesisir, Veldhuisen ketika mengulas batik Klerek dari Tuban, ia menyebutkan bahwa hanya corak ganggengan yang mungkin merupakan corak ragam yang asli pesisir dan tidak dipengaruhi oleh unsur desain asing.
Sementara corak ragam yang lain dari batik Klerek banyak dipengaruhi oleh corak ragam asing, khususnya India dan China. Memang ada kemungkinan bahwa sebagian corak flora atau fauna adalah corak ragam batik pesisir yang asli, meskipun banyak juga corak jenis dari kelompok ini jelas menunjukan adanya pengaruh India dan China.

Batik India
Kalangan pengusaha keturunan, China dan Arab yang banyak menetap di sejumlah tempat pesisir, memanfaatkan kondisi perubahan peta perdagangan tekstil di wilayah Indonesia dengan memperdagangkan batik.
Mereka memperoleh batik dengan memesan atau meminta para pengrajin untuk membikin batik dengan memberikan upah di depan. Sebagian besar corak ragam yang banyak dipesan adalah corak-corak ragam dari kain Pathola dan Cindai asal India yang sebelumnya sudah sangat popular di Indonesia.
Batik pesisir dengan corak ragam kain India di perkirakan banyak dibuat pada awal abad sembilan belas atau akhir abad delapan belas, Batik dengan corak ragam ini di perdagangkan ke wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan pasar tradisional kain asal India. Karena saat itu kain-kain asal hilang dari pasaran..
Sejak awal abad sembilas atau semenjak menghilangnya kain asal India, batik pesisir dengan corak kain India secara perlahan menjadi busana resmi kalangan perempuan Indo Eropa, mereka memadukan sarung batik yang khas pesisiran dengan kebaya panjang putih.
Corak ragam India yang muncul di dalam batik pesisir adalah corak ragam yang ada di dalam kain India yang dipasarkan di Indonesia sejak abad lima belas. Sebagian merupakan corak ragam geometris tetapi sebagian yang lain corak ragam flora dan fauna. Meskipun berasal dari kain India tidak semua corak ragam itu berasal dari India, sebagian adalah corak ragam dari Persia dan Turki. Batik Jlamprang yang dulu banyak dibuat di Krapyak dan sekitarnya adalah contoh batik dengan corak ragam geometris meniru corak kain pathola (sutera tenun ikat) asal Gujarat India.
Batik Belanda
Berbarengan dengan perkembangan teknik cap, di wilayah Pekalongan sejumlah perempuan Indo Eropa mulai membuat, barangkali terjunnya mereka dalam proses pembikinan batik dipengaruhi sebuah kecenderungan di kalangan mereka yang menjadikan sarung sebagai busana resmi. Mereka dalam mengerjakan batik tidak menggunakan teknik cap(handstamp) yang saat itu banyak di gunakan oleh sejumlah perusahan di wilayah ini. Mereka lebih tertarik dengan teknik tulis(handdrawn).
Mereka yang terjun dalam kegiatan batik ini adalah istri-istri dari sejumlah orang Eropa yang tinggal di Pekalongan, sebagian besar rumah mereka berada di antara Kantor Residen dan Rumah Residen di Kota itu, sekarang jalan Diponegoro, Jl Imam Bonjol atau Jl Progo.
Batik Pekalongan, oleh Veldhiusen dan Heringas disebut sebagai batik yang sangat dipengaruhi Belanda, setidaknya sejak tahun 1860. Caroline Josephine Van Franquemont, adalah orang Indo Eropa pertama yang membikin batik, ia melakukan sekitar tahun 1850-1860. Ia tidak menjalankan kegiatan itu di Pekalongan tetapi di Semarang. Yang lain adalah Lien Metzelaar, dia melakukan pekerjaan itu dari tahun 1870-1920, dan sebenarnya masih banyak nama yang dapat disebutkan. Tetapi yang paling terkenal di antara mereka adalah Eliza Charlota Van Zuylen.
Mereka memusatkan sejumlah pekerja ke dalam sebuah bengkel kerja yang ada di belakang rumahnya, cara ini merupakan sebuah pendekatan baru di dalam proses kerja pembikinan batik. Karena sebelumnya proses batik banyak dilakukan di rumah para pekerja batik. Masuknya mereka atau kalangan perempuan Indo eropa dalam proses produksi pada saat itu, telah menyebabkan sejumlah perubahan pada batik pesisir.

Pengaruh Perempuan Indo eropa dalam perkembangan batik di Pekalongan
Pewarnaan menjadi lebih beragam, sejumlah unsur warna baru muncul di dalam batik Pekalongan, tidak lagi hanya merah biru seperti sebelumnya.
Perubahan pada corak kepala sarung, tidak lagi tumpal, tetapi juga corak yang lain. Pada perkembangan terakhir, corak kepala sarung yang umum merupakan kebalikan (invert) dari corak yang ada pada badan sarung.Pemunculan tulisan nama atau tanda pembikin dalam lembaran batik yang dibuatnya.Corak ragam baru, misal corak ragam flora yang sama sekali baru dalam konsep desain batik, yang kemudian kita sebut sebagai corak buket. Sebagian jenis bunga yang diadopsi dalam batik tersebut adalah bunga khas Eropa.
Corak ragam khas Eropa, mulai muncul setelah tahun 1860. corak ragam yang di adopsi sangat bermacam-macam, disamping corak ragam flora terdapat juga corak ragam yang mewakili symbol budaya Eropa atau corak ragam yang menggambarkan dongeng di negeri mereka, seperti cinderela, topi merah dan yang lain. Dari sekian corak ragam Eropa, maka yang paling menonjol adalah corak ragam buket yang dikembangkan Eliza Carlota Van Zuylen, konon sebagian besar dari corak ragam ini terinspirasi dari gambar karangan bunga pada post-card

Batik China
Menyusul kalangan perempuan indo Eropa, adalah pengusaha keturunan cina. Mereka mulai tertarik pada pengembangan desain batik, mereka tidak hanya terjun pada proses produksi seperti sebelumnya. Dalam pengembangan desain mereka tidak hanya memasukan corak ragam khas China. Tetapi juga corak ragam yang lain. Setelah tahun 1910 banyak batik yang di desain oleh sejumlah pengusaha Cina tidak hanya memasukan ornament yang khas china, seperti Naga atau Phoenix.
TheTie Siet, Oey Soen King, Lim Siok Hien, Lim Boe In, Lim Boen Gan dan Oey Soe Tjoen adalah sebagian dari nama-nama para pengrajin batik dari kalangan keturunan Cina yang banyak berperan dalam pengembangan desain batik di Pekalongan. Diantara mereka Oey Soe Tjoen dapat disebut yang paling dikenal.

Sejumlah batik yang di desain oleh sejumlah peranakan China sangat mirip dengan yang didesain oleh pengusaha Indo eropa. Meski terdapat sejumlah perubahan pada pola pewarnaan atau isen. Sarung encim dapat disebut sebagai contoh dari jenis ini.
Pengaruh desain china pada batik Pekalongan adalah sebagai berikut
Munculnya sejumlah corak ragam China, seperti Naga, Phoenix, Kupu-kupu dan corak ragam yang lain
Pola pewarnaan, para pengusaha Cina memunculkan macam warna yang lebih beraneka ragam, mereka juga memunculkan bayangan atau gradasi warna. Pengembangan pola pewarnaan batik oleh mereka menjadi lebih maju lagi, ketika mereka melakukan proses pewarnaan dengan bahan kimia pada akhir abad kesembilan belas.

Batik Java Hokokai
Malaise dunia yang pertama pada tahun 1930 telah menghancurkan sejumlah perusahaan batik Banyak perusahaan batik di wilayah ini yang bangkrut. Bahkan ada yang mengalihkan usahanya. Di Pekajangan sejumlah pengusaha batik mulai membuka usaha tenun.
Perubahan yang paling fundamental setelah malaise dunia dalam perkembangan desain batik pesisir adalah dibukanya kontak perdagangan Jepang dengan Indonesia. Karena proses ini telah memunculkan gagasan tentang jenis batik yang cocok untuk dipakai sebagai bahan kimono, pakaian khas perempuan Jepang
Batik Java Hokokai dapat disebut sebagai desain batik yang khusus di pasarkan Jepang, rata-rata batik hokokai digarap dengan sangat halus, rancangan corak ragam dan isen juga sangat rumit. Menurut pengakuan pemilik Batik Art di Kedungwuni, Ny Mulyadi Wijaya yang juga menantu Oey Soe Tjoen, Batik Java hokokai yang halus adalah yang di produksi pada saat penjajahan Jepang.Para pengrajin yang bekerja berlama-lama dengan pekerjaan, sederhana saja alasan bagi pembatiknya, untuk tetap mendapatkan jatah makan di tempat kerjanya, Maklum zaman itu makan menjadi problem yang paling penting

Batik Pesisir Yang Lain
Corak ragam batik pesisir yang lain adalah desain batik yang menyerap corak ragam dari batik-batik yang dibuat di lingkungan istana, meskipun terjadi perubahan pada tata warna atau dilakukannya kombinasi dengan corak ragam yang lain. Sehingga desain batik pesisir yang menyerap corak ragam batik dari lingkungan istana ini tidak umum atau tampak beda dengan desain aslinya. Seperti Dlorong Kembang dan Dlorong Kewan.
Disamping itu masih ada corak yang menggabung sejumlah unsur desain yang ada di sejumlah sentra batik, desain ini menyusul perkembangan perdagangan dan interaksi yang kuat antar sentra batik di Jawa. Desain-desain batik yang menggabungkan desain yang berasal dari dua atau tiga sentra batik disebut sebagi batik dua negeri atau batik tiga negeri.
Sayangnya dari sejumlah koleksi batik yang ada dari Pekalongan, lebih banyak yang merupakan batik yang dibuat oleh orang-orang asing atau keturunan, tidak banyak yang merujuk kepada pengusaha pribumi. Kondisi ini dapat berarti karya mereka tidak banyak terkoleksi, mungkin sedikit sekali produksi pengrajin dari kalangan pribumi yang layak di koleksi, tetapi hal ini susah dipahami karena secara kuantitatif jumlah mereka yang terjun dalam proses produksi lebih banyak dari orang-orang asing atau keturunan. Tetapi bisa juga berarti karena mereka tidak menguasai perdagangan. Sehingga sejumlah karya mereka harus berganti label.

Achmad Ilyas, pemerhati batik tinggal di Pekalongan

Wednesday, July 25, 2007

I left my heart in Pekalongan



Ini adalah catatan perjalanan saya ke Pekalongan pada akhir Juni yang lalu. Acara HUT Jalansutra di TMII belum lagi rampung tapi saya sudah harus bergegas ke titik bertemu dengan teman-teman yang akan berangkat ke Pekalongan. Sambil bersalam-salaman dan pamit saya lihat Tatyo berjalan ke mobilnya. “Mau pulang, Mas?” tanya saya. “Oh nggak, ini mau ngambil wine di mobil..” Waks, I missed the best part!

Setelah berkumpul kami pun memulai perjalanan bermobil. Jalan tol Cikampek pamer dada alias padat merayap tersendat-sendat. Di beberapa titik ada rest area yang kian kinclong saja. Jalan Pantura sebagian aspalnya keriting. Di beberapa ruas sedang di perbaiki, mengantisipasi mudik yang akan datang. Lepas tengah malam badan mulai dingin, waktunya minum kopi. Sambil mengurangi kecepatan kami pun celingukan mencari warung atau rumah makan di daerah yang bernama Patrol. Sebagian besar sudah tutup. Ada beberapa warung yang buka, biasanya persinggahan truk, tapi kok remang-remang ya? Bikin malas menghampiri. Akhirnya, kami pun sampai di satu warung yang cukup ramai—walau remang-remang. Sambil ngopi saya mengamati sekeliling ternyata semua warung di daerah situ menggunakan lampu remang-remang untuk menghindari laron dan serangga sejenis kumbang kecil yang banyak di daerah itu. Warung remang-remang di jalur Pantura ternyata memang… remang-remang betulan.

Matahari pagi menyambut kami di Pekalongan. Sekitar jam 07.30 kami sudah sampai di pusat kota. Hmm.. waktunya sarapan. Maksud hati mencari tauto, apa daya sampainya di Masduki. Tauto adalah soto khas Pekalongan yang menggunakan daging kerbau dan tauco. Kuahnya berminyak dan pedas. Tarikan tauco Pekalongan agak berbeda dengan tauco Cianjur; lebih “wide” dan “elegant” ketimbang temannya dari Cianjur yang “sharp” dan “crisp” (lho, ini tauco apa wine??).

Masduki yang saya sebut di atas adalah warung makan khas Pekalongan yang ada di dekat Alun-Alun. Tentu ada megono, cacahan nangka muda dengan parutan kelapa dan bunga kecombrang yang khas. Megono dijadikan taburan atau kondimen. Menu lengkapnya adalah nasi dengan sayur dan lauk pauk. Ada hidangan sayur di Pekalongan yang selalu bikin rindu: potongan tomat hijau, kuah encer berbumbu dengan irisan petai. Pilihan lauk pauk yang tersedia di warung-warung Kota Batik ini adalah sriping (kemungkinan sejenis scallop) yang dioseng-oseng dengan cabai merah (paduan gurih-pedasnya melenakan hati), cumi (biasa disebut sotong) yang dimasak dengan tintanya, juga otot (entah bagian otot sebelah mana dari sapi) yang dimasak pedas. Jadi bisa dibayangkan: sepiring nasi dengan ditaburi megono, kemudian megono itu tenggelam karena disiram kuah sayur tomat hijau dan ada lauk sriping atau otot, atau cumi dengan tinta hitamnya…

Satu hidangan khas warung Masduki adalah garang asem gagrak Pekalongan. Pak Bondan Winarno sudah mencatat paling tidak ada lima varian garang asem yang ada di Jawa. Nah, garang asem Masduki adalah daging sapi dengan kuah kluwak encer yang rich tapi tetap segar. Sebagai pelengkap bisa dipilih telur rebus yang sudah dimasak dengan kuah manis seperti semur.

Badan pun segar oleh kuah garang asem yang hangat. Di alun-alun ada anak-anak SD menampilkan drumband yang unik. Karena belum kuat meniup trumpet atau trombone, selain menggunakan pianika dan xylophone (kalo gak salah ya namanya, itu loh besi yang dentingannya enak), digunakan keyboard yang sudah dirancang bisa dicantel ke pundak dan dihubungkan ke megaphone. Inovasi yang bagus. Lagunya pun nggak tanggung-tanggung buat ukuran anak SD: lagu Melly! “Sampai kapan kau gantung cerita cintaku, memberi harapan.. uwoo uwooo…” Duile… Anak SD geto loh.

Tujuan kami ke Pekalongan adalah menghadiri syukuran pernikahan teman kami Imam Wibowo dengan Afi. Imam adalah penulis di MetroTV. Acaranya di rumah. Hangat dan bersahaja. Sudah lama saya merindukan suasana perhelatan seperti ini. Tapi diam-diam saya juga punya target lain. Saya ingat nasi kebuli Keluarga Darul (orang tua Imam) ini dahsyat punya. Betul juga. Di salah satu pojok ada meja dengan nasi kebuli lengkap dengan uba-rampenya.

Nasi kebuli Ibu Darul selalu hadir dengan dua “lauk” daging. Yang pertama daging sapi yang lean dan tender, yang dimasak dengan bumbu cabe merah berminyak mirip dendeng balado dan yang satu adalah daging yang berlemak yang dimasak bumbu seperti kare tapi dengan kekentalan kuah mendekati kalio. Tapi yang bikin merem-melek adalah acar dari nanas, bawang merah dan cabai merah yang segar lagi merona. Apalagi nasinya tanak sempurna. Ahlan-wa-sahlan.

Selesai bernostalgia dengan nasi kebuli saya pun ngobrol-ngobrol dan menikmati suasana. Eh, ternyata ada tauto. Langsung aja deh diserbu. Keinginan yang tadi pagi sempat teralihkan kini terpuaskan.

Selesai perhelatan kami pun keliling-keliling kota dan terdampar di Warung Barokah di daerah Wiradesa. Jika dari Jakarta, Wiradesa ini ada selepas Pemalang begitu kita memasuki daerah Pekalongan. Sepanjang jalan kita bisa belanja batik grosir. Ada gapura aneh lagi gigantik di perempatan yang mempertemukan empat lengkungan besi di titik tengahnya. Entah apa maksudnya. Nah, warung Barokah ada tak jauh dari gapura aneh itu.

Seperti layaknya warung di Pekalongan, megono, sayur tomat hijau, sotong dan lain-lain juga tersedia di sini. Ada panci berisi sepertinya sayur asem yang menarik perhatian saya karena tidak ada kuahnya. Saya tanya, “Ini kuahnya sudah habis?” Dijawab, “Bukan, Pak. Kuahnya sengaja dipisah biar sayurnya tidak hancur tapi tetap hangat” kata seorang kitchen staff seraya menunjuk panci berisi kuah sayur asem yang nangkring di atas kompor berapi kecil. Wah, tekniknya boleh juga nih..

Tapi bukan itu yang kami buru. Di Barokah ini kambing-kambingannya lumayan mantab (pakai huruf b). Kematangan dan ke-“kering”-an satenya pas dan tidak gosong. Ada kikil dan gulai kambing yang gurih. Sayang sekali karena kami datang ketika matahari mulai doyong ke barat, hidangan karnivoris itu sudah banyak yang habis. Kami cuma kebagian sate dan gulai kambing. Seperti saya bilang, sate kambing yang dihidang dalam hotplate tampil dengan kecantikan yang sempurna. Tidak ada karbon gosong atau bagian yang melawan. Bumbu gule kambingnya tidak kompleks malah menampilkan kegurihan yang lugas, tapi disitulah nikmatnya. Sayang sekali karena hari panas dan gerah, saya tidak bisa memadukan sate dan gule ini dengan “pairing-nya” yaitu teh poci warung ini. Hmmhh.. kalau saja suhu udara agak bersahabat, menyantap sate yang keringnya pas, dengan nasi putih bersaput kuah gule dan tarikan teh poci gula batu… I will be flying…even though I don’t see a bright white light at the end of the tunnel.. (he he he.. serem amat).

Check out dari Barokah dalam keadaan gembrobyos. Teman saya Djudjur T. Susila yang bersama rekan-rekannya beberapa waktu lalu sukses menggelar Festival Batik Pekalongan menceritakan ada kue-kue khas warga Pekalongan keturunan Tionghoa. Terdengar namanya “Nyajo”. Langsung saja mobil diarahkan ke Jl. Rajawali, daerah Bendan. Ternyata yang disebut “Nyajo” adalah “Nyonya Djoe”, nama ibu pembuat kue. Tapi Nyonya Djoe sudah pindah ke Jl. Sumatera, tidak jauh dari situ. Tak lama kami pun sampai di rumahnya. Di ruang tamu yang sederhana itu tersedia beberapa nampah berisi kue-kue berbahan dasar tepung beras dan santan yang gurih yang dimasak di loyang dan dipotong-potong ketika disajikan. Dari sisi genre mungkin agak dekat dengan kue talam, kue pepe atau ongol-ongol di Jakarta. Menurut mbak yang melayani kami, Ny. Djoe sudah 40 tahun berjualan kue “basah” ini. Ada kue lumpang yang berbalut kacang tanah yang digerus kasar. Dicetak dalam mangkok-mangkok kecil. Uniknya, kue lumpang ini tidak terlalu manis. Mungkin bagian dalamnya sengaja dibikin agak “plain” untuk mengimbangi rasa khas kacang. Ada lapis jeruk wangi yang sangat istimewa. Kue tepung beras putih gurih dengan selapis toping warna oranye kecoklatan yang menghantarkan wangi jeruk purut. Balance, dengan sensasi kelembutan yang istimewa. Ada kue latoh, dengan balutan warna dan aroma dari daun suji yang disantap dengan parutan kelapa kukus. Ada satu favorit saya, namun cuma kebagian icip-icip sedikit karena yang tersedia adalah pesanan orang, yaitu getuk singkong, yang mirip dengan getuk singkongnya di daerah Jawa Tengah lainnya namun dengan tekstur yang lebih lembut tapi juga sedikit crusty dengan sedikit isian coklat di tengahnya. I shall return for this getuk singkong!

Sore kami lalui dengan obrolan santai lengkap dengan kopi rempah yang dibeli di toko khas Arab di dekat lapangan Sorogenen. Pekalongan adalah salah satu melting pot kebudayaan yang mengagumkan. Orang keturunan Arab, Tionghoa, OPEK (alias orang Pekalongan) dan etnis-etnis lainnya hidup damai berdampingan dalam vibrancy khas kota pesisir. Almarhum Nurcholish Madjid alias Cak Nur pernah beranalogi, jika secara sederhana mindset kebudayaan nusantara dibagi dua antara pesisir (Sumatra) yang kosmopolit dengan pedalaman (Jawa) yang hirarkis dengan kekuasaan yang efektif beroperasi, maka “sintesis Indonesia” adalah Pekalongan karena Pekalongan adalah “Jawa yang pesisir, Jawa dengan kultur perniagaan dan tata pergaulan yang egaliter”.

Masuk waktu makan malam kami pun berembuk. Ada yang usul kepiting kombor, ikan bakar di Wiroto, sego megono Pak Bon, atau yang lainnya. Saya sebenarnya kepingin sekali makan es sekoteng Wan di daerah Klego. Namanya sekoteng tapi penampakannya sangat berbeda dengan sekoteng konvensional. Selain itu sekoteng di sini bisa disajikan panas atau dingin dengan es. Santan, susu kental manis dan sirup merah mengiringi misoa dan potongan roti tawar. Ya, misoa. Malah tekstur dan rasa plain misoa ini yang menjadi sensasi tersendiri. Tapi akhirnya kami sepakat mencoba tempat baru di Pantai Sigandu yang sudah masuk daerah kabupaten Batang.

Tempat ini merupakan pengembangan dari pelabuhan dan tempat pelelangan ikan di Pantai Sigandu. Agak keluar dari hiruk-pikuk pelabuhan dan pelelangan ikan ada dua tempat makan ikan bakar al-fresco dengan penampilan yang cukup baik. Kami mengambil tempat di salah satu warung itu, yang paling dekat dengan pantai. DI tempat ini saya baru sadar teringat lagi perbedaan nomenklatur penamaan ikan yang sempa menggelitik penasaran saya beberapa tahun yang lalu. Ternyata ikan “pihi” di sini adalah ikan “sebelah” di Jakarta dan ikan “jeruk” adalah ikan “ayam-ayam”.

Bersama pilihan ikan lain dan cumi goreng tepung, datanglah kedua ikan ini. Kesegarannya memang patut dipuji tapi bumbu bakarannya biasa saja, bahkan cenderung tenggelam oleh kecap. Tapi sambel terasinya mana tahan! Sangat kuat aromanya, gurih dan tidak terlalu pedas. Tarikan terasinya mengingatkan saya pada terasi dari Juwana. Aahhh…

Selesai makan kamipun bersiap-siap pulang. Lumayan nih, dua malam berturut-turut tidur di mobil. Sampai di Depok keesokan paginya, walau badan masih pegal, langsung saya menyeduh kopi dan menggelar kue-kue dari Nyonya Djoe untuk dinikmati bareng-bareng keluarga. Tapi rasanya masih ada yang tertinggal di sana.

Duh, Tony Bennett, terpaksa kupinjam lagumu:

“I left my heart, in Pekalongan…”





Tips memilih kain sutera sebagai bahan batik

Untuk menghasilkan batik sutera dengan kualitas terbaik tentunya membutuhkan kain sutera yang batik pula. Ada beberapa tips dalam menentukan kain sutera yang baik sebagai bahan batik:

  1. Anyaman kain adalah anyaman plat. (anyaman blaco)
  2. Kehalusan kain prima sampai primisima (rangkap 2 sampai 4 dari benang 16 cocoon)
  3. Lebar kain kurang lebih 105 cm (untuk kain tapih), 90 cm (untuk rok, baju dsb), 70 cm (untuk kain baju, rok) dan 50 cm (untuk selendang)
  4. Keadaan kain sutera sudah di-deguming (tingkatan souple silk). Karena dasar kain batik sering dibuat agak kuning, maka kiranya kain sutera yang hendak dibatik tidak perlu diputihkan dengan obat pemutih (perxyde dsb)
  5. Anyamannya cukup padat sehingga benang-benang dalam kain tidak bergeser bila kena tekanan atau tarikan .
  6. Karena proses pembuatan batik berhubungan dengan rendaman dalam air (basah), maka sebaiknya twist pada benang sutera jangan terlalu tinggi untuk menghindari mengkerutnya kain pada proses basah
  7. Benang yang ditenun diadakan seleksi agar kain terdapat satu jenis sutera sehingga pada pewarnaan tidak timbul belang-belang karena perbedaan penyerapan warna.

Batik sutera tidak selamanya berupa kain sutera murni, namun dapat dikombinasikan dengan cara ditenun menggunakan benang lain seperti tetoron katun atau acetat rayon. Bila terjadi campuran dan tidak diketahui maka akan timbul problema dalam proses pewarnaan

Sutera Alam ditinjau dari proses pembuatan batik

Secara umum proses pembuatan batik memiliki tiga macam proses utama yakni :

  1. Penempelan ilin batik pada kain baik secara tulis, cap maupun kuas. Lilin berfungsi sebagai resist (penutup) terhadap warna yang akan diberikan pada kain.
  2. Pemberian warna. Dapat diakukan dengan teknik celupan (deying) atau coletan (painting). Pemberian warna dilakukan tanpa pemanasan dan warna tidak hilang pada waktu penghiangan ilin batik.
  3. Menghilangkan kembali lilin batik dari kain, dapat diakukan dengan di kerok (dikerik) atau secara lorodan.

Tinjauan singkat sifat-sifat sutera terhadap proses pembatikan sebagai berikut :

  1. Penempelan lilin pada kain sutera. Liin batik ditempelkan pada kain dalam keadaan panas dan cair, seteleh menempel makan lilin akan dingin dan membeku. Ilin dapat menempel dengan baik pada kain. Pada kain sutera sendiri tidak terjadi perubahan sewaktu terkena lilin panas tidak seperti serat protein lain misalnya rambut yang jika terkena panas maka mengkerut.
  2. Pewarnaan Sutera secara proses batik. Kain yang sudah dilapisi liin maka dapat diwarnai dengan zat warna yang diinginkan. Pewarnaan dapat dikerjakan pada proses dingin dengan adanya lilin yang melekat maka menghidari terjadinya proses pelunturan warna pada bidang tertentu. Zat-zat pewarna yang biasa digunakan adaah indigosol, Rapid, soga ergan, soga croom dan soga dari tumbuh-tumbuhan (tegeran, tingi, jambal) dan indigosol. Pada prinsipnya semua zat warna batik dapat digunakan untuk mewarnai batik sutera namun karena proses penghilangan lilin pada kain sutera yang sedikit bermasalah maka sebaiknya menggunakan zat pewarna yang memiliki ketahanan yang kuat seperti cat indigosol, rapid, dan Napthol.
  3. Menghilangkan ilin pada batik. Pada batik berbahan katun proses penghilangan lilin dapat dilakukan dengan merendam keseluruhan pada air panas, proses ini disebut ”mlorod”(nglorod, ngebyok, mbabar). Sedaangkan bagi zat warna yang tidak tahan alkali maka pada air lorodan dicampur dengan kanji. Untuk batik sutera proses penghilangan lilin memiliki problema tersendiri. Lilin batik memiliki tendensi melekat lebih kuat pada kain sutera dari padakain katun. Untuk itu ada beberapa cara untuk menghilangkannya :
  1. Cara pelepasan dengan air panas alkali. Cara ini menggunakan lilin batik dengan campuran khusus untuk menghindarkan atau mengurangi bahan pokok lilin yang mengakibatkan sukar lepas (speperti lilin bekas, mata kucing dan paraffin kasar). Dalam air lorodan ditambahkan soda abu dan air lorodan akan menjadi alkalis (pada pH tidak lebih dari 9,5 atau soda abu tidak lebih dari 0,1%)
  2. Cara melarutkan lilin. Lilin dilarutkan dengan bensin. Lilin yang melekat pada kain akan larut dan kain pun menjadi bersih. Cara ini mudah akan tetapi banyak perusahan tidak menggunakan karena resiko kebakaran tinggi)
  3. Cara kombinasi antara pelepasan dan pelarutan. Ksin dimasukan dalam air lorodan yang kemudian dicampur dengan pelarut lilin seperti bensin, benzol, minyak tanah dalam bentuk emulsi sehingga dapat bercampur dengan air serta mengurangi resiko kebakaran. Cara ini pertama ditemukan pada seminar sutera alam pada tenggal 23-25 februari 1970.

Secara umum proses pembuatan batik sutera sama dengan batik pada umumnya namun yang berbeda adalah bagaimana proses penghilangan lilin. Namun berkembangnya waktu dan pengalaman hal tersebut tidak menjadi masalah yang sangat serius. Misalnya saja untuk melorodnya cukup dimasukan dalam air lorodan yang ditambah minyak tanah (2 cc/liter) dan teepol (0,5 cc/liter)


Agar Warna Tak Cepat Pudar

Agar Warna Tak Cepat Pudar

— Ini mengingat warna alam pada batik tulis tersebut sama sekali tidak menggunakan zat-zat kimia dalam pewarnaan.

— Kain batik tulis yang pewarnaannya menggunakan hasil rebusan dari berbagai tumbuhan, terutama dari bagian kulit pohon, akar dan daun itu memang memerlukan penanganan khusus. Di sini untuk warna hijau pada motif batik, misalnya, digunakan warna hasil rebusan daun mangga, adapun akar mengkudu menghasilkan warna merah muda.

— Untuk merawat kain batik tulis dengan pewarna alami, caranya antara lain:

* Mencuci kain batik dengan menggunakan sampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu sampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan.

* Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.

* Kain batik tulis jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Cara mencuci kain batik seperti ini akan membuat warna alami kain batik tak bertahan lama.

* Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik tulis berpewarna alami di bawah sinar matahari langsung.

* Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.

* Masih dengan koran menutupi kain, Anda bisa menyetrika kain batik berpewarna alami tersebut. Jangan menyetrika langsung pada kainnya karena ini bisa memengaruhi warna motifnya.

* Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
Proses ekstrak pewarna alami dari tanaman
ambil bagian tanaman yang hendak diekstrak. potong menjadi bagian kecilkecil kemudian rebus dalam air mendidih selama kurang lebih 1-2 jam (perbandingan bahan tanaman dan air adalah 1: 10)
misalnya kita mengambil 250gr daun jati maka airnya adalah 2,5 liter direbus hingga air menjadi setengahnya/sperempat bagian. Setelah selesai air rebusan disaring dan setelah dingin air siap dijadikan bahan pewarna
(resep ini bisa digunakan untuk eksperimen dengan berbagai bagian tanaman di sekitar kita). proses ini disebut proses ekstraksi

Kain yang akan dicelup/diwarnai sebaiknya di rebus dulu dalam larutan tawas (untuk kain katun ditambahkan soda abu dan suhu mendidih sedangkan untuk kain sutera sekitar 60 derajat) selama satu jam dan setelah itu dibiarkan dingin dan biarkan kain terendam semalaman dalam larutan (proses ini disebut proses mordanting)

kemudia kain yang telah di mordanting dikeringkan kemudian dicelup pada larutan hasil ekstrak (dapat menggunakan suhu dingin ataupun panas)
setelah itu dilanjutkan proses fiksasi dalam larutan tunjung(ferosulfat) ato tawas ato kapus tohor ataupun senyawa yang mengandung unsur logam. Untuk membuat larutan fiksasi misalnya
Larutan tawas, kapur tohor ataupun tunjung dibuat dengan melarutkan 70gram bahan dalam 1 liter air (resep ini bisa divariasikan) setelah mengendap diambil larutan beningnya kemudian baru digunakan untuk proses pemfiksasian. masing masing larutan fixer ini akan membangkitkan warna pada kain dengan arah warna yang berbeda-beda tawas cenderung lebih muda, kemudian kapur tohor agak tua, dan tunjung cenderung kearah gelap. beberapa eksperimen yang telah kami lakukan bahan dari daun cenderung mengarah ke kuning ( fiksasi tawas), kuning kecoklatan/kehijauan (fiksasi kapur tohor) dan hijau gelap (fiksasi tunjung).

Hasilnya umumnya lebih bagus pada kain sutera dibanding pada kain katun beberapa pewarna alami bahkan tidak mampu mewarnai katun dengan baik.
Dengan kita memperkaya eksperimen untuk menggali sumber pewarna alami baru maka kita turut menyumbangkan pelestarian penggunaan warna alami. (ingat tanaman penghasil pewarna alami seperti tingi, tegeran, akar mengkudu, dll sudah sulit ditemui di pasaran) oleh karena itu amri kita ekplorasi tanaman di sekitar kita.

demikian sekilas proses pencelupan tekstil dengan pewarna alami. semoga bermanfaat

Hak Moral, Indikasi Asal, dan Hak Kebudayaan

Oleh Miranda Risang Ayu
Opini, Pikiran Rakyat, Selasa 4 Desember 2007.

Belum lama berselang, saya mengunjungi penggiat sekaligus pewaris batik pekalongan. Begitu saya mengatakan maksud saya untuk meneliti kemungkinan penguatan perlindungan atas batik mereka selain dengan Hak Cipta, kontan keluhan berhamburan.

Puluhan tahun silam, sejumlah pebatik pekalongan diundang ke Malaysia untuk memeragakan kebolehannya membatik. Dengan hati bersih dan kebanggaan naif untuk turut mengharumkan nama bangsa, mereka memenuhi undangan itu. Akan tetapi, orang Malaysia itu murid yang bukan hanya pintar, tapi juga cerdik.

Begitu memahami seluk-beluk pembuatan dan pengayaan corak khas batik pekalongan, mereka membuat pola-pola desain tersendiri dengan motif floral dan warna yang mirip sekali dengan batik pekalongan. Hasil “kreasi” itulah yang kemudian didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual mereka.

Pemerintah Kota Pekalongan bereaksi dengan mendata berbagai corak batik khas Pekalongan lalu mendaftarkannya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual di Tangerang. Kini, puluhan corak batik asal Pekalongan telah “diamankan” melalui perlindungan Hak Cipta.

Tentu saja, pendaftaran itu tidak serta-merta menghapus hak para pendaftar di Malaysia. Masalahnya, mereka sudah lebih awal mendaftarkan “kreasi” batiknya, yang kini mulai dikenal luas di mancanegara sebagai batik malaysia. Tampaknya, mereka juga dapat membuktikan bahwa corak batik karya mereka memiliki orisinalitas tertentu yang beda dengan batik pekalongan.

Dalam Hak Cipta, kreasi independen dua seniman yang mirip memang bisa sama-sama mendapat perlindungan, selama dapat dibuktikan bahwa kreasi itu tidak dihasilkan dari niat buruk mencontek. Apalagi kalau “contekan” itu berasal dari karya seni tradisional yang memang masih sulit dilindungi secara menyeluruh oleh sistem Hak Kekayaan Intelektual yang kini umum berlaku, yang umumnya diturunkan dari Perjanjian Internasional TRIPS 1994 (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights 1994).

Milik bersama

Mengapa bisa begitu? Argumen hukum yang paling mudah disodorkan adalah, karena kebanyakan karya tradisional sudah jadi milik umum. Agar dapat dilindungi, harus jelas lebih dulu siapa penciptanya. Padahal sulit menemukan individu pencipta karya seni tradisional. Kalaupun bisa, sering kali penciptanya sudah meninggal lebih dari 50 tahun lalu. Padahal, perlindungan Hak Cipta rata-rata hanya berlaku sepanjang hidup pencipta ditambah 50 tahun. Lebih dari jangka waktu itu, karya itu harus dianggap sudah menjadi milik umum.

Kalaupun hukum Hak Cipta nasional sekarang telah melakukan terobosan dengan memungkinkan pemerintah mengambil alih pengelolaan hak untuk kepentingan pencipta yang tidak diketahui identitasnya, jangka waktu perlindungannya juga rawan perdebatan.

Alhasil, batik pekalongan, angklung sunda, “Rasa Sayange”, dan reog ponorogo, jika tampil murni sebagai karya tradisional tanpa “sentuhan baru” dari individu yang masih hidup, juga adalah kekayaan tradisional yang sudah jadi milik bersama. Inilah yang membuat perlindungan Hak Cipta yang kini berlaku bisa saja bicara, tetapi tidak banyak.

Hak moral

Hak Cipta juga meliputi Hak Moral. Hak Moral tercantum dalam Konvensi Bern dengan Malaysia dan Indonesia terikat di dalamnya. Hak Moral bukan hak ekonomi, tetapi ada untuk melindungi integritas ciptaan serta hak pencipta untuk tetap dicantumkan namanya, sekalipun ia sudah tidak lagi memiliki hak untuk menerima keuntungan ekonomi dari ciptaannya.

Ahli perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dan Hak Kebudayaan berdarah Aborigin Australia, Terri Janke menyatakan, Hak Moral sesungguhnya juga bisa dipakai, tidak hanya untuk melindungi integritas seorang pencipta dengan karyanya, tetapi juga integritas puluhan kelompok masyarakat pemangku tradisi Aborigin Australia dengan kekayaan tradisional mereka (Terri Janke dalam Sam Garkawe et.al, 2001).

Jadi minimal, jika ada reproduksi atau pemakaian baru dari karya-karya tradisi mereka, izin harus tetap dimintakan dan nama kelompoknya juga harus tetap disertakan. Karena karakter Hak Cipta merupakan hak individu, yang terjadi kemudian biasanya, seorang seniman Aborigin yang telah memiliki otoritas dari kaumnya, membuat karya berdasarkan tradisi mereka. Lalu, ketika karya itu diumumkan, ia mencantumkan namanya sekaligus nama daerah atau kelompok masyarakat Aborigin yang memberinya otoritas, sebagai satu kesatuan pemilik.

Hak atas Indikasi Asal

Selain itu, ada juga potensi perlindungan lain yang ditawarkan hukum, yakni perlindungan terhadap tanda, nama atau indikasi asal suatu barang, yang disebut perlindungan Indikasi Asal. Perlindungan ini terdapat dalam Perjanjian Paris untuk Perlindungan Hak Kekayaan Industrial 1883 (The Paris Convention for Protection of Industrial Property of 1883). Perjanjian internasional tersebut melindungi hak-hak kekayaan intelektual selain Hak Cipta. Sama dengan Konvensi Bern, perjanjian itu juga mengikat Malaysia dan Indonesia. Perjanjian Paris melarang setiap barang beredar dengan menggunakan Indikasi Asal yang salah atau menyesatkan.

Dalam hukum nasional Indonesia, Indikasi Asal sebetulnya juga telah diatur. Sayangnya, pengaturannya hanya merupakan bagian kecil dari UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Itu membuat penafsiran umum yang sempit di kalangan pakar hukum nasional, jika ada pembicaraan soal Indikasi Asal, pasti yang dibicarakan “hanyalah” sejenis merek dagang seperti Nike, Channel atau Prada.

Umumnya, lagu, tari-tarian, atau karya-karya artistik lain, memang bukan objek langsung dari Hak Merek, tetapi Hak Cipta. Jadi, belum apa-apa, sudah timbul persepsi bahwa penghubungan perlindungan Indikasi Asal dengan karya-karya tradisional yang berwujud karya-karya seni itu sudah “salah” dari awal.

Padahal, perlindungan Indikasi Asal tidak sesempit itu. Jika Indikasi Asal diartikan sebagai bagian dari Indikasi Geografis dalam arti luas, hanya saja belum didaftar, sejarah dan akar budaya setempat, termasuk tradisi pembuatannya, justru adalah salah satu syarat utama perlindungan, di samping faktor alamiah lainnya.

Perlindungan ini juga tidak mensyaratkan orisinalitas sekualitas Hak Cipta atau tingkat invensi setinggi paten. Yang “hanya” perlu dibuktikan adalah, suatu nama yang disandang oleh barang atau karya material terkait punya karakter yang unik, yang berasal dari pengaruh faktor alam dan sejarah budaya setempat. Jadi, perlindungan atas Indikasi Geografis, termasuk Indikasi Asal, betul-betul menjunjung karakter lokal.

Singkatnya, perlindungan Indikasi Geografis dan Indikasi Asal, sesuai namanya, memang hendak melindungi dan menghormati “tempat asal” karya yang sebenarnya.

Menariknya, kepemilikan Indikasi Asal yang kini umum ditemukan dan diakui banyak negara, justru adalah kepemilikan kolektif dan bukan individual. Selain itu, sekali dilindungi, waktu perlindungannya akan berlangsung terus-menerus, selama kualitasnya terjaga. Yang perlu dilakukan hanyalah memastikan bahwa karya terkait sudah bisa disebut barang. Artinya, sudah ada dalam bentuk material, misalnya kaset.

Selain itu, karya itu pun masih terbukti tetap dirawat, dikembangkan, dan menjadi ekspresi identitas kelompok masyarakat yang tinggal di daerah itu sebagai suatu kesatuan wilayah (cluster). Karena Indikasi Asal cakupannya paling luas, maka kesatuan wilayah itu bisa saja mencakup satu kota atau desa, beberapa desa yang bersebelahan dalam suatu provinsi, sebuah pulau dalam suatu negara, dan bahkan wilayah suatu negara. Contoh mudah, di dalam dompet atau tas Strandbag, salah satu merek terkenal Australia, biasanya juga terdapat keterangan Made in China, Imported by Strandbag, Australia. Keterangan Made in China itulah Indikasi Asal.

Kasus keju Feta

Kasus keju tradisional Feta mungkin adalah kasus paling menarik sekaligus kontroversial tentang “perebutan” tempat asal satu produk kekayaan tradisi. Feta adalah keju putih dari kambing atau domba yang selama ratusan tahun dihasilkan produsen lokal di Yunani. Keju ini kemudian terkenal ke mancanegara dengan nama tradisionalnya, Feta. Dalam bahasa Yunani, Feta berarti irisan. Nama tradisional itu secara tidak langsung mengaitkan produk dengan asal daerahnya, yakni Yunani. Karena terkenalnya, keju itu kemudian diproduksi juga di Perancis, Denmark, dan Jerman.

Awalnya, nama Feta telah dianggap menjadi milik umum, setidaknya di daratan Eropa. Tetapi kemudian, kasus bergulir terus dan penelitian ilmiah, termasuk survei konsumen terbaru, yang diadakan untuk menentukan apakah nama itu sudah betul-betul menjadi milik umum di wilayah Eropa (generik) pada pertengahan tahun 2005, tampil dengan hasil mengagetkan.

Ternyata, ciri khas keju tradisional Feta, baik dari segi tradisi pembuatan maupun asosiasi di benak sebagian besar konsumen, menunjukkan bahwa Feta masih berakar kuat di Yunani. Maka, dengan besar hati, produsen keju Feta di Perancis, Denmark, dan Jerman harus menghentikan produksi mereka. Paling tidak, mengganti sebagian unsur produksi mereka, termasuk pemakaian nama Feta yang terkenal itu, dalam jangka waktu lima tahun sekaligus mengembalikan kontrol atas produk itu kepada produsen lokal di Yunani.

Hak Kebudayaan

Kekayaan tradisional juga merupakan Hak Kebudayaan. Menurut Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang telah diratifikasi Indonesia, Hak Kebudayaan adalah Hak Asasi. Hak Kekayaan Intelektual bisa dikatakan sebagai bagian dari Hak Kebudayaan karena kesamaan objek. Apalagi, jika objek itu juga sudah jelas terkait dengan Hak Atas Identitas, yakni sebagai salah satu faktor penentu identitas kultural. Menariknya, penegakan Hak Kebudayaan sebagai hak kolektif menuntut peran aktif pemerintah.

Pemerintah wajib mengambil langkah konkret, tanpa menunda, melindungi, mengisi, dan menegakkan Hak Kebudayaan itu. Jika tidak, identitas suatu kelompok budaya, yang merupakan sumber kekuatan mental kolektif, akan runtuh juga. Dalam konteks Hak Kebudayaan, Indonesia sebetulnya sudah meratifikasi kovenan tersebut, sedangkan Malaysia belum.

Singkatnya, Hak Moral, Hak Indikasi Awal, dan Hak Kebudayaan dapat dipakai untuk tetap mempertahankan kekayaan budaya Indonesia. Untuk menghormatinya, pemerintah Indonesia harus lebih tegas dan seluruh masyarakat Indonesia pun harus lebih banyak belajar.

Masyarakat negara tetangga pun, terutama Malaysia, harus turut serta belajar. Proses pembelajaran ini tidak mudah, tetapi merupakan kemestian. Jika tidak, integritas bangsa dan harmoni hubungan antarsesama bangsa serumpun akan menjadi taruhannya.***

Penulis, esais, dosen Fakultas Hukum Unpad Bandung, dan kandidat Doktor di Law Faculty, University of Technology Sydney, New South Wales, Australia.

Published in: on December 9, 2007 at 7:51 am Comments (12)
Tags: , , , , ,

Batik Mega Mendung

mega mendung

Hampir di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota lainnya.
Menurut sejarahnya, di daerah cirebon terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari dalam maupun luar negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya.
Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.
Salah satu motif yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau Awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya selera cina.
Motif mega mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingg biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.


Batik Untuk Pengantin

sido mukti sido luhur sido mulyo sido asih

Setiap motif pada batik tradisional klasik selalu memiliki filosofi tersendiri. Pada motif Batik, Khususnya dari daerah jawa tengah, terutama Solo dan Yogya, setiap gambar memiliki makna. Hal ini ada hubungannya dengan arti atau makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Pada motif tertentu ada yang dianggap sakral dan hanya dapat dipakai pada kesempatan atau peristiwa tertentu, diantaranya pada upacara perkawinan.

Motif Sido-Mukti biasanya dipakai oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang).
Sido berarti terus menerus atau menjadi dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. jadi dapat disimpulkan motif ini melambangka harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan unuk kedua mempelai.
Selain Sido Mukti terdapat pula motif Sido Asih yang maknanya hidup dalam kasih sayang.
Masih ada lagi motif Sido Mulyo yang berarti hidup dalam kemuliaan dan Sido Luhur yang berarti dalam hidup selalu berbudi luhur.
Ada pula motif yang bukan sawitan kembar, tetapi biasanya dipakai pasangan pengantin yaiu motif Ratu Ratih berpasangan dengan Semen Rama, yang melambangkan kesetiaan seorang istri kepada suaminya.
Sebenarnya masih banyak lagi motif yang biasa dipakai pasangan pengantin, semuanya diciptakan dengan melambangkan harapan, pesan, niat dan itikad baik kepada pasangan pengantin.
Pada Upacara Perkawinan Orang tua pengantin biasanya memakai motif truntum yang dapat pula berarti menuntun, yang maknanya menuntun kedua mempelai dalam memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu berumah tangga.
Dikenal juga motif Sido Wirasat, wirasat berarti nasehat, dan pada motif ini selalu terdapat kombinasi motif truntum di dalamnya, yang melambangkan orangtua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumahtangga.

Motif Truntum

motif truntum

Boleh dibilang motif truntum merupakan simbol dari cinta yang bersemi kembali. Menurut kisahnya, motif ini diciptakan oleh seorang Ratu Keraton Yogyakarta.

Sang Ratu yang selama ini dicintai dan dimanja oleh Raja, merasa dilupakan oleh Raja yang telah mempunyai kekasih baru. Untuk mengisi waktu dan menghilangkan kesedihan, Ratu pun mulai membatik. Secara tidak sadar ratu membuat motif berbentukbintang-bintang di langit yang kelam, yang selama ini menemaninya dalam kesendirian. Ketekunan Ratu dalam membatik menarik perhatian Raja yang kemudian mulai mendekati Ratu untuk melihat pembatikannya. Sejak itu Raja selalu memantau perkembangan pembatikan Sang Ratu, sedikit demi sedikit kasih sayang Raja terhadap Ratu tumbuh kembali. Berkat motif ini cinta raja bersemi kembali atau tum-tum kembali, sehingga motif ini diberi nama Truntum, sebagai lambang cinta Raja yang bersemi kembali


Batik Pekalongan

Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik Jlamprang.

Batik Pekalongan banyak dipasarkan hingga ke daerah luar jawa, diantaranya Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Minahasa, hingga Makassar. Biasanya pedagang batik di daerah ini memesan motif yang sesuai dengan selera dan adat daerah masing-masing.

Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan jaman . Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama’Batik Jawa Hokokai’,yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik jawa hokokai ini merupakan batik pagi-sore. Pada tahun enampuluhan juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif batik yang mirip dengankain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer akhir-akhir ini adalah motif Tsunami. Memang orang Pekalongan tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik.

Sumber: Ungkapan Spesial Batik, Its Mystery and Meaning

Published in:

Proses Pembuatan Batik

Secara umum proses pembuatan batik melalui 3 tahapan yaitu pewarnaan, pemberian malam(lilin) pada kain dan pelepasan lilin dari kain.

Kain putih yang akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai selera kita atau tetap berwarna putih sebelum kemudian di beri malam. Proses pemberian malam ini dapat menggunakan proses batik tulis dengan canting tangan atau dengan proses cap. Pada bagian kain yang diberi malam maka proses pewarnaan pada batik tidak dapat masuk karena tertutup oleh malam (wax resist). Setelah diberi malam, batik dicelup dengan warna. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai keinginan, berapa warna yang diinginkan.

Jika proses pewarnaan dan pemberian malam selesai maka malam dilunturkan dengan proses pemanasan. Batik yang telah jadi direbus hingga malam menjadi leleh dan terlepas dari air. Proses perebusan ini dilakukan dua kali, yang terakhir dengan larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada batik, dan menghindari kelunturan. Setelah perebusan selesai, batik direndam air dingin dan dijemur.

Limbah Batik

Dibalik semua keindahan Batik Pekalongan yang penuh variasi warna, tersimpan satu masalah yang cukup membahayakan bagi lingkungan, yaitu limbah. Karena hampir semua produsen batik di Pekalongan masih memakai cara tradisional dalam pembuatan batik, maka rata-rata mereka jarang sekali ada yang memperhatikan limbah buangan sisa pencelupan dan ddapat mencemari lingkungan, karena kebanyakan hanya dibuang ke saluran air yang akhirnya bermuara di sungai. Lihatlah saluran air yang berwarna merah ini.

limbah batik

Perlu dipikirkan bagaimana cara menangani limbah yang ekonomis dan praktis sehingga tidak menjadikan masalah unuk sosialisasinya. Adalah tugas kita bersama pemerintah untuk ikut memperhatikan kondisi lingkungan…

Pekalongan Kota Batik

Pekalongan dikenal sebagai kota batik karena produksi batiknya yang indah dan dinamis. Selain itu Pekalongan tepatnya kabupaten Pekalongan lebih dikenal sebagai kota santri, karena kebudayaan kota pekalongan yang sangat kental nuansa islaminya. Beberapa waktu lalu saya berkeliling di salah satu daerah di Pekalongan yang merupakan penghasil batik yaitu daerah Buaran, tepatnya di desa Simbang Kulon, dan menemukan suatu pemandangan menarik.

sd-sarung.jpg

Anak-anak yang sedang bermain sebuah sekolah negri di daerah itu memakai batik dengan seragam pramuka, bersarung batik dan memakai kopiah/songkok. Benar-benar gambaran yang pas untuk kota Pekalongan.

Daur Ulang Malam

Pada umumnya para pembatik dapat mendaur ulang sisa malam yang telah digunakan menjadi malam baru yang dapat dipakai kembali. Setelah batik dilorod (direbus), maka malam akan terlepas dari kain dan terdapat di permukaan air. Hal ini terjadi karena malam (lilin) yang merupakan lemak memiliki massa jenis lebih kecil dari air. Jika air telah dingin maka malampun akan beku dan dapat diambil. Diusahakan air yang terbawa seminimal mungkin, kemudian malam bekas tersebut dicampur dengan BPM (Paraffin/kendal) yang merupakan sisa/ampas dari pembuatan minyak goreng. Bahan lainnya adalah Gondorukem yaitu getah pohon pinus. Jika ingin membuat batik dengan motif garis yang sangat tipis dan halus (ngawat) maka dapat dicampur dengan damar yaitu getah dari pohon meranti. Semua bahan tersebut direbus hingga larut semua yaitu sekitar 5-7 jam. Setelah itu malam yang telah jadi dicetak dan siap digunakan.

Batik Jlamprang

gambar batik jlamprang

Motif – motif Jlamprang atau di Yogyakarta dengan nama Nitik adalah salah satu batik yang cukup popular diproduksi di daerah Krapyak Pekalongan. Batik ini merupakan pengembangan dari motif kain Potola dari India yang berbentuk geometris kadang berbentuk bintang atau mata angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan.


BATIK




POLA BATIK

Pola Batik Semen Contoh Pola Batik Semen [I] [II] [III] [IV]



I. Pendahuluan

Pola batik semen tampil dalam batik dari setiap daerah, terutama di Pulau Jawa, yang meliputi antara lain Yogyakarta, Surakarta, Banyumas dan Cirebon. Pola batik semen dijumpai terutama pada jenis Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran, Batik Petani, dan Batik Indonesia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pola batik semen terdapat pada sebagian besar jenis batik. Pola semen sangat mudah dikenali karena mempunyai ragam hias penyusun yang khas yang selalu hadir dalam pola-polanya.

II. Sejarah Pola Semen

Asal mula hadirnya pola semen berawal pada saat pemerintahan Sunan Paku Buwono IV (1787 1816) di saat beliau mengangkat putera mahkota sebagai calon penggantinya. Beliau menciptakan pola tersebut guna mengingatkan puteranya kepada perilaku dan watak seorang penguasa seperti wejangan yang diberikan oleh Prabu Rama kepada Raden Gunawan Wibisana saat akan menjadi raja. Wejangan tersebut dikenal dengan sebutan Hasta Brata.

Wejangan ini terdiri dari 8 (hasta) hal yang masing-masing ditampilkan dalam pola semen dengan bentuk ragam-ragam hias yang mempunyai arti filosofis sesuai dengan makna masing masing ragam hias tersebut. Oleh karena itu, pola batik ciptaan beliau tersebut diberi nama semen Rama (dari Prabu Rama). Berdasarkan uraian diatas nampak bahwa pola semen merupakan salah satu pola batik yang mencerminkan pengaruh agama Hindhu-Budha pada batik. Hal tersebut dapat dimengerti karena pada saat pola-pola batik diciptakan yaitu kira-kira pada zaman kerajaan Mataram (pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, abad 17 M), peradaban di kerajaan tersebut masih mempertahankan unsur-unsur tradisi Jawa yang sangat dipengaruhi oleh agama Hindhu-Budha. Pengaruh tersebut tidak hanya terdapat pada unsur-unsur kesenian dan kesusasteraan saja, melainkan juga unsur-unsur yang terdapat dalam upacara adat dan keagamaan hingga saat ini.

Dibandingkan dengan pola Parang atau Lereng yang sudah ada sejak zaman Mataram (pada masa Penembahan Senopati), pola semen tergolong lebih muda. Pola semen yang diciptakan setelah pola semen Rama selalu mengandung ragam-ragam hias yang terdapat pada pola semen Rama, baik sebagian ataupun seluruhnya. Namun demikian, ada satu ragam hias yang selalu harus dihadirkan dan merupakan ciri dari sebuah pola semen adalah ragam hias gunung atau meru. Hal ini disebabkan karena nama dari pola semen diperoleh dari ragam hias tersebut.

Asal kata semen adalah semi. Ragam hias gunung atau meru berasal dari kata Mahameru yaitu gunung tertinggi tempat bersemayam para dewa dari agama Hindhu. Di gunung pasti terdapat tanah tempat tumbuh-tumbuhan bersemi. Dari sinilah asal kata semen.

Pola semen termasuk dalam golongan pola batik non geometris, selain pola-pola batik Lung-lungan Buketan, Dan Pinggiran.

III. Perkembangan Pola Semen

Sebagaimana disebutkan diatas, pola semen pertama-tama menampilkan ragam-ragam hias yang mengikuti arti filosofis agama Hindhu (diambil dari ceritera Ramayana), sehingga arti filosofis pola semen sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam Hastabrata Ramayana.

Dalam perkembangan selanjutnya, kandungan nilai filosofis pola semen, selain yang dilambangkan oleh ragam hias dari Hastabrata, ada pula yang ditambah dengan ragam-ragam hias lain yang menjadi dasar pemberian nama polanya, sebagai contoh adalah pola semen Gajah Birawa. Dalam pola tersebut nampak adanya ragam hias berupa gajah, pada semen rante terdapat bentuk-bentuk seperti rantai, dan seterusnya. Selain itu, banyak pola semen dengan ragam hias pokok yang sudah mengalami improvisasi sesuai selera penciptanya tetapi tetap alam arti filosofis yang sama, diberi nama yang mempunyai arti sebagai cerminan serta harapan. Sebagai contoh adalah semen Sidoasih dengan berbagai versi namun mencerminkan arti yang sama.

IV. Jenis jenis batik yang memiliki pola semen

1. Batik Kraton - Kraton Yogyakarta (semen gurdho, semen sinom), Kraton Surakarta (semen gendhong, semen rama), Puro Pakualaman (semen sidoasih), Puro Mangkunegaran (semen jolen), Cirebon (semen rama, sawat pengantin).

2. Batik Pengaruh Kraton - Banyumas (semen klewer banyumasan).

3. Batik Sudagaran - Yogyakarta (semen sidoasih, semen giri), Surakarta (semen rama, semen kakrasana).

4. Batik Pedesaan - Yogyakarta (semen rante), Surakarta (semen rama).

5. Batik Indonesia
Bermacam-macam pola semen terdapat dalam jenis Batik Indonesia ini. Bahkan pada pemunculan pertamanya yaitu kurang lebih pada tahun 1950, pola batik semen mendominasi jenis Batik Indonesia ini disamping pola parang dan lereng karena pada prinsipnya Batik Indonesia merupakan perpaduan antara pola batik klasik atau tradisional (pola semen dan pola parang atau lereng) dengan pewarnaan Batik Pesisira

POLA BATIK

Contoh Pola Batik Semen

Blenderan

Cuwiri

Cuwiri Ceceg

Cuwiri Sala

Semen Condro

Semen Gunung

Semen Gurdo

Semen Jlekethit

Jlekethit - Keraton Sala

Semen Nogo



PROSES PEMBUATAN KAIN BATIK

PROSES PEMBUATAN KAIN BATIK

NGANJI

Proses Nganji - from Handbook of Indonesian Batik

Sebelum dicap, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan air hingga kanji aslinya hilang dan bersih, kemudian di kanji lagi. Motif batik harus dilapisi dengan kanji dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal nantinya malam kurang baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya malam akan “mblobor” yang nantinya akan sulit dihilangkan.

Mori dengan kualitas tertinggi [Primisima] tidak perlu dikanji lagi, karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi syarat.

NGEMPLONG

Proses Ngemplong - from Handbook of Indonesian Batik

Biasanya hanya mori yang halus yang perlu dikemplong terlebih dahulu sebelum dibatik. Mori biru untuk batik cap biasanya bisa langsung dikerjakan tanpa dilakukan pekerjaan persiapan.

Tujuan dari ngemplong ialah agar mori menjadi licin dan lemas. Untuk maksud ini mori ditaruh diatas sebilah kayu dan dipukul-pukul secara teratur oleh pemukul kayu pula.

Mori yang dikemplong akan lebih mudah dibatik sehingga hasilnya lebih baik.

TEKNIK PEMBUATAN BATIK

NGLOWONG, Pelekatan malam [lilin] yang pertama.

Proses Nglowong dengan cap - [Vie]

Proses Nglowong dengan canting - [Vie]

Selesai dikemplong mori sudah siap untuk dikerjakan. Teknik pembikinan batik terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dari pekerjaan utama, dimulai dengan nglowong ialah mengecap atau membatik motif-motifnya diatas mori dengan menggunakan canting

Nglowong pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah selesai dilanjutkan dengan nerusi pada sebelah lainnya

NEMBOK, pelekatan malam kedua

Proses Nembok - [Vie]

Sebelum dicelup kedalam zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap berwarna putih harus ditutup dengan malam. Lapisan malam ini ibaratnya tembok untuk menahan zat perwarna agar jangan merembes kebagian yang tertutup malam.

Oleh karena itu pekerjaan ini disebut menembok, jika ada perembesan karena tembokannya kurang kuat maka bagian yang seharusnya putih akan tampak jalur2 berwarna yang akan mengurangi keindahan batik tersebut. Itulah sebabnya malam temboknya harus kuat dan ulet, lain dengan malam klowong yang justru tidak boleh terlalu ulet agar mudah dikerok.

MEDEL, Pencelupan pertama dalam zat warna

Tujuan Medel adalah memberi warna biru tua sebagai warna dasar kain. Jaman dulu pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari karena menggunakan bahan pewarna indigo [bahasa jawanya : tom]

Zat pewarna ini sangat lambat menyerap dalam kain mori sehingga harus dilakukan berulang kali, kini dengan bahan warna modern bisa dilakukan dengan cepat.

NGEROK, Menghilangkan malam klowong

Bagian yang akan di soga agar berwarna coklat, dikerok dengan Cawuk [semacam pisau tumpul dibuat dari seng] untuk menghilangkan malam nya.

mBIRONI, Penggunaan malam ke tiga

Pekerjaan berikutnya adalam mBironi, yang terdiri dari penutupan dengan malam bagian-bagian kain yang tetap diharapkan berwarna biru, sedangkan bagian yang akan di soga tetap terbuka. Pekerjaan mBironi ini dikerjakan didua sisi kain.

MENYOGA, Pencelupan kedua

Proses Me"Nyoga" - [Vie]

Menyoga merupakan proses yang banyak memakan waktu, karena mencelup kedalam soga. Jika menggunakan soga alam, tidak cukup hanya satu dua kali saja, harus berulang.

Tiap kali pencelupan harus dikeringkan diudara terbuka. Dengan menggunakan soga sintetis maka proses ini bisa diperpendek hanya setengah jam saja. Istilah menyoga diambil dari kata pohon tertentu yang kulit pohonnya menghasilkan warna soga [coklat] bila direndam di air.

NGLOROD, Menghilangkan malam

Proses Nglorod - [Vie]

Setelah mendapat warna yang dikehendaki, maka kain harus mengalami proses pengerjaan lagi yaitu malam yang masih ketinggalan di mori harus dihilangkan, caranya dengan dimasukkan kedalam air mendidih yang disebut Nglorod.

Welcome to our Batik Indonesia website

NEW PRODUCT - Selimut Batik [Segera beredar]

Keunggulan SELIMUT BATIK

WWW.JAVABATIK.ORG adalah web yang dibuat untuk memperkenalkan batik Indonesia. Kami mencoba menelusuri dan share informasi semua jenis batik yang ada di Nusantara, menerangkan bagaimana batik itu dibuat dalam bentuk gambar dan video dengan harapan makin banyak orang, terutama kita sendiri sebagai bangsa yang mengaku mempunyai batik menghargai dan makin mencintai batik sebagai milik bangsa Indonesia.

Alat Cap untuk membuat Batik Cap

Semua Informasi didapat dari artikel, buku, web referensi, meliput sendiri dan sumbangan beberapa teman pecinta batik.

Semua sumbangan dan kritik terhadap keberadaan kami sangat diharapkan agar sesuai tujuan semula, web javabatik.org bisa menjadi rujukan bagi para pecinta batik demi melestarikan batik itu sendiri.

Salam kami,

Contoh Pola Batik

Jenis-jenis Batik

Jenis-jenis Batik

Kawung Prabu

Parang Barong

Parang Curiga

Parang Rusak Barong

Pola kampuh Semen Gunung (1)

Kain ini dibuat di zaman pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Pola kampuh Semen Gunung (2)

Ada satu peristiwa yang tak kan terlupakan sepanjang hayat. Ketika itu, seminggu setelah Sri Sultan HB IX mangkat, GBPH Prabukusumo - salah seorang putra HB IX datang menemui ibu Harti, yang merupakan salah seorang koordinator perajin batik Bima Sakti, Giriloyo, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Gusti Prabu membawa kain kampuh yang sudah koyak-koyak. Kain yang dibuat di jaman HB VII itu bekas alas peti jenazah HB IX. Gusti Prabu minta agar membuat pola dengan kertas, meniru kain kampuh tua motif semen gunung itu.

Bersama suaminya, Albani, pensiunan Brimob Kelapa Dua, bu Harti membuat coretan dengan pensil di atas kertas yang ditumpangkan pada kain yang sudah rusak itu. Tanpa ada pikiran apapun, suami isteri itu menggambar pola dengan menginjak kain itu. Sebab kalau tidak diinjak, tangannya tidak bisa menjangkau kain yang lebarnya 4 meter.

Sebelum mengakhiri pembuatan pola - setelah 3 hari dikerjakan - Pak Albani dan Bu Harti pingsan tanpa sebab. Padahal saat itu kondisi keduanya sehat wal’afiat. Orang se dusun geger. Nenek bu Harti berdoa sambil menyelipkan kalimat mohon ampun karena Albani - Harti terpaksa menginjak-injak kain disebabkan tangannya tidak mampu menjangkau sudut kain yang lain.
Tirta Reja

Tips dan Trik Merawat Batik

Tips dan Trik Merawat Batik

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar busana atau kain batik Anda tetap indah, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.
  2. Pada saat mencuci batik jangan digosok dan jangan gunakan deterjen. Jika batik Anda tidak terlalu kotor maka Anda bisa mencucinya dengan air hangat. Tapi jika batik Anda terkena noda maka Anda bisa mencucinya cukup dengan sabun mandi saja. Akan tetapi jika nodanya masih membandel maka Anda bisa menghilangkannya dengan kulit jeruk pada bagian yang kotor saja. Janganlah mencuci kain batik dengan menggunakan mesin cuci.
  3. Setelah kotoran hilang Anda harus menjemurnya di tempat yang teduh tetapi Anda tidak perlu memerasnya, biarkan saja kain tersebut mengering secara alami. Pada saat menjemur sebaiknya Anda tarik bagian tepi kain agar serat kain yang terlipat kembali seperti sediakala.
  4. Hindari penyetrikaan secara langsung, jika terlalu kusut Anda bisa semprotkan air di atas kain batik Anda lalu lapisi batik Anda dengan kain lainnya. Hal ini untuk menghindari kain batik Anda terkena panas langsung dari setrikaan.
  5. Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya Anda tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
  6. Sesudah disetrika sebaiknya Anda simpan batik Anda dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Sebaiknya Anda jangan memberi kapur barus karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak kain batik Anda. Ada baiknya Anda beri merica atau lada yang dibungkus dengan tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian Anda untuk mengusir ngengat. Atau Anda bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya Anda celup ke dalam air panas kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi tersebut kering Anda baru bisa menggunakannya.

Pembuatan Batik

Pembuatan Batik

Bagaimana cara membuat batik ?

Untuk membuat batik, peralatan yang diperlukan adalah : kain mori (bisa terbuat dari sutra, katun atau campuran kain polyester), pensil untuk membuat desain batik, canting yang terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bercerat atau bermulut, canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen. Canting dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna. gawangan (tempat untuk menyampirkan kain), lilin, panci dan kompor kecil untuk memanaskan.

Langkah - langkahnya adalah sebagai berikut :

  • Langkah pertama kita membuat desain batik diatas kain mori dengan pensil atau biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada.
  • Langkah kedua adalah menggunakan canting yang telah berisi lilin cair untuk melapisi motif yang diinginkan. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena. Setelah lilin cukup kering, celupkan kain ke dalam larutan pewarna.

Maka hasilnya adalah kain batik yang dikenal dengan kain batik tulis. Penamaan itu diberikan, karena disamping batik tulis, ada juga batik cap, batik printing, batik painting dan sablon.

Sejarah batik

sejarah Batik

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa..(Kalau ga salah)


Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.(loh katanya kerajaan Majapahit ko jadi kerajaan Mataram????)

Jadi kesenian batik gaul ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batikkus adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman Majapahit(Kerajaan tempo dulu gtu deh)
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

Batik Solo dan Yogyakarta

Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, pleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan.

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.

Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan raj any a Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.

Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainy a. Meluasny a daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.

Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.

question

FRAKTAL BATIK KOMPUTASIONAL
INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
DEPAN - FRAKTAL - BATIK HIBRIDA - BATIK INOVATIF - TANYA-JAWAB
----------------------------------------------------------------------------






Keunikan Batik
Batik merupakan ikhwal kriya tekstil yang tak asing bagi orang Indonesia, bahkan sering menjadi sebuah simbol akan bangsa Indonesia. Batik dikenal erat kaitannya dengan kebudayaan etnis Jawa di Indonesia bahkan semenjak zaman Raden Wijaya (1294-1309) pada masa kerajaan Majapahit. Namun pada dasarnya berbagai bahan sandang memiliki corak batik juga dari luar pulau Jawa, misalnya di beberapa tempat di Sumatera, seperti Jambi bahkan beberapa tempat di Kalimantan dan Sulawesi. Motif batik digunakan mulai dari hiasan, kain sarung, kopiah, kemeja, bahkan kerudung dan banyak lagi. Namun hal yang sangat menarik dengan batik adalah bahwa ia merupakan konsep yang tidak sederhana bahkan dari sisi etimologinya. Batik dapat merepresentasikan ornamentasi yang unik dan rumit dalam corak dan warna dan bentuk-bentuk geometris yang ditampilkannya. Namun yang terpenting adalah bahwa batik dapat pula merepresentasikan proses dari pembuatan corak dan ornamentasi yang ditunjukkan di dalamnya.

Proses batik atau dalam verbia disebut pula sebagai “mbatik”, merupakan hal yang tidak sesederhana menggambarkan sebuah lukisan, misalnya. Multiperspektif yang terpancar dari ornamentasinya merupakan hasil dari proses dan tahapan-tahapan pseudo-algoritmik yang sangat menarik. Berdasarkan publikasi “Batik: The Impact of Time and Environment” oleh H. Santosa Doellah yang diterbitkan oleh Danar Hadi, terdapat setidaknya tiga tahapan proses dalam ornamentasi batik, yakni:

1. “Klowongan“, yang merupakan proses penggambaran dan pembentukan elemen dasar dari disain batik secara umum.

2. “Isen-isen“, yaitu proses pengisian bagian-bagian dari ornamen dari pola isen yang ditentukan. Terdapat beberapa pola yang biasa digunakan secara tradisional seperti motif cecek, sawut, cecek sawut, sisik melik, dan sebagainya.

3. Ornamentasi Harmoni, yaitu penempatan berbagai latar belakang dari desain secara keseluruhan sehingga menunjukkan harmonisasi secara umum. Pola yang digunakan biasanya adalah pola ukel, galar, gringsing, atau beberapa pengaturan yang menunjukkan modifikasi tertentu dari pola isen, misalnya sekar sedhah, rembyang, sekar pacar, dan sebagainya.

Fraktal: Geometri Batik
Hal yang menakjubkan dari batik adalah bahwa batik adalah sebuah proses yang lahir dari sistem kognitif dan penggambaran akan alam dan lingkungan sekitar. Batik tercipta melalui pemetaan antara obyek di luar manusia pembatik dan artikulasi kognisi dan aspek psikomotorik yang tertuang dalam kriya batik.

Meski batik tak mungkin bisa dilihat dengan melepaskan konteks dan proses pembuatan dari batik tersebut, motif dan ornamentasi yang terkandung dalam batik pun ternyata memiliki tingkat kompleksitas yang sangat menarik.

Cara pandang akan bentuk-bentuk geometris kita saat ini cenderung terkait erat dengan geometri yang diwarisi dari cara pandang pakem Aristotelian barat, yang memandang dimensi geometris sebagai bilangan asli. Dimensi 1 sebagai garis, dimensi 2 sebagai bangun datar, dimensi tiga sebagai bangun ruang, dan seterusnya. Namun dunia ternyata tak sesederhana itu. Perjalanan panjang sejarah ilmu pengetahuan telah membawa kita pada kenyataan ilmu pengetahuan sebagaimana kita saksikan sekarang ini. Dalam perjalanan filsafat ilmu pengetahuan, sains menjadi selalu bersifat positif terhadap kenyataan; bahwa sains tak terbatas, reduksionisme merupakan hal yang pada akhirnya akan membawa kita pada penjelasan yang utama dan fundamental, dan seterusnya.

Kejadian aneh kita anggap sebagai bentuk kerandoman. Ilmu pengetahuan telah sangat percaya diri, hingga akhirnya meta-matematika mulai mempertanyakan aritmatika (oleh matematikawan Kurt Godel, 1931), filsafat mulai berbicara tentang paradoks dan keabsahan deduksi (oleh filsuf Bertrand Russel, 1903), sosiologi mulai berbicara tentang posmodernisme (sosiolog Jean Jaques Lyotard, 1979), gelombang karya seni multi-perspektif seperti dadaisme pada senirupa dan psikodelik pada seni musik, dan banyak lagi di hampir semua lini ilmu pengetahuan dan seni modern, termasuk pertanyaan tentang panjang garis pantai dan bahwa geometri mulai berkenalan dengan konsep fraktal (Benoit Mandelbrot, 1982). Filsafat ilmu pengetahuan akhirnya menyadari bahwa ada permasalahan dalam cara bagaimana kita memandang dunia. Reduksionisme filsafat sains dipertanyakan ketika akhirnya secara umum disadari bahwa "keseluruhan jauh lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya".

Dunia itu ternyata tak linier, dan sains yang ada sekarang perlu memperhatikan hal ini. Bahkan secara filosofis, ilmu pengetahuan yang ada saat ini tak boleh berdiri sendiri dengan tradisi dan konvensionalisme yang menyertainya. Pendekatan interdisiplin menjadi penting. Kenyataan akan betapa tingginya kompleksitas alam semesta dan lingkungan sosial kita akhirnya melahirkan bio-fisika, kimia komputasi, ekonofisika, sosiologi komputasi, sains kognitif, ekonomi evolusioner, dan sederet nama yang menggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan mesti mondar-mandir melintas batas pakemnya. Dalam perjalanan sejarah ilmu pengetahuan modern, semua berlandas secara elementer pada cara kita memandang dunia, di mana geometri klasik tak pelak adalah sebuah fundamen-nya. Sejarah ilmu pengetahuan akhirnya menyadari bahwa fraktal lebih baik dan lebih tepat dalam memandang dunia. Kajian yang berdasar sifat fraktal yang menyadari "ke-tidak-purna-an" model semesta yang salah satunya ditunjukkan dengan pengetahuan akan dimensi yang bukan bilangan bulat, tapi justru adalah pecahan.

Kenyataan bahwa batik bersifat fraktal seolah menjadi hal yang menunjukkan bahwa ada kebijaksanaan terpendam dalam penggambaran dunia yang tak seperti geometri Aristotelian yang kita kenal. Hal ini implisit dalam karya-karya batik. Jika seni budaya dan sains modern telah berinteraksi sedemikian sebagaimana kita kenal saat ini, maka jelas budaya kriya batik telah berinteraksi dengan kebudayaan orang-orang yang tinggal di kepulauan Indonesia. Jika fraktal telah menginspirasi perubahan dan menjadi sumber kreativitas dan progresifitas sains di berbagai bidang dalam bentuk interdisiplinaritas, bukankah menjadi tak mungkin jika batik juga dapat memberi inspirasi dan sumber kreativitas cara pandang yang lebih baik akan dunia?

Bukan tak mungkin, bahasa orang Indonesia-nya interdisplinaritas adalah gotong-royong, sebagaimana geometrinya orang Indonesia adalah batik. Penemuan akan aspek fraktalitas pada batik (sebagaimana juga ditemukan pada banyak aspek seni dan budaya kuno dan klasik lain di banyak temapat ketika pengaruh Yunani dan Romawi kuno belum kuat, seperti Cina, India, Arab) memberi kita peringatan bahwa kita perlu mengubah cara pandang kita atas nilai tradisi dan warisan budaya kita. Menikmati batik tak pernah sama dengan cara menikmati lukisan perspektif. Menyelesaikan permasalahan secara mono-disiplin tak pernah sama dengan menggunakan pendekatan interdisiplin.

Kenyataan fraktalitas pada batik, sebagai aspek budaya visual yang erat dengan budaya dan peradaban Indonesia menjadi sebuah hal yang sangat penting.



mbatik: dari ngisen dan iterasi komputasional ke seni generatif
Perkembangan sains dan teknologi modern telah membawa kita pada generasi dimana kita bisa melakukan simulasi yang meniru proses (baik proses alamiah, fisis, biologis, bahkan pergerakan harga dan interaksi sosial) secara komputasional. Dari berbagai pendekatan sains disadari bahwa banyak sekali fenomena alam dan sosial yang terlihat rumit, acak, chaos pada dasarnya berasal dari sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.

Secara aritmatik, pola matematis dan dinamika yang chaos dan terlihat tak-deterministik dapat ditunjukkan dapat lahir dari apa yang sebenarnya sederhana dan justru deterministik. Ini dapat dilakukan karena teknologi komputer mengizinkan kita merekam dinamika secara iteratif.

Bagaimana dengan bentuk-bentuk dan pola yang rumit di alam, seperti awan, asap, pola garis pantai, dan sebagainya yang terlihat acak dan rumit secara visual itu? Teknologi komputasi, sebagaimana dapat diterapkan untuk melihat pola aritmatika sederhana yang menghasilkan chaos dapat pula diterapkan untuk melihat pola geometri sederhana yang menghasilkan fraktal. Usaha melihat fenomena fraktal pada batik telah memperluas pula khazanah dan peluang apresiasi yang lebih lagi pada batik.

Dekade abad ke-21 merayakan perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat. Karya-karya seni, baik rupa maupun suara mulai mengakuisisi teknologi ini untuk memperluas bidang cakupan dan ketakterbatasan daya imajinasi dan kreativitas manusia. Salah satu aspeknya adalah pemahaman akan seni generatif. Seni generatif visual modern diawali dengan membuat aturan-aturan visualisasi yang secara berulang (iteratif) memvisualkan bentuk sederhana sehingga pada akhirnya diperoleh pola-pola yang rumit dan kompleks. Pola seni ini bertumpu pada proses yang atas perulangan pola dan bentuk yang mirip pada media - sebuah kreasi karya seni yang sering menyebut-nyebut seniman Belanda, G. Escher (1898-1972) sebagai perintisnya dalam sejarah seni rupa modern. Jelas pola berulang (baca: iteratif) akan menghasilkan bentuk fraktal sebagaimana pola berulang aritmatik sederhana dapat menghasilkan pola chaos.

Pigmentasi kerang, pola sulir cangkang kerang, bentuk-bentuk rumit dari bunga salju, pertumbuhan kanker, bahkan beberapa pola pergerakan harga saham dan indeks dalam ekonomi menunjukkan pola-pola fraktal. Dengan melakukan "peniruan" secara komputasional dengan berbagai sistem komputasional, kita mengetahui bagaimana pola-pola kompleks dapat terjadi di alam semesta dan lingkunngan sosial kita. Analisis semacam ini dikenal pula sebagai bentuk analisis berdasarkan ilmu generatif, dan berbagai obyek estetik yang melahirkannya dinamai seni generatif komputasional. Dalam studi-studi komputasi dan ilmu geometri fraktal, hal-hal seperti otomata selular, himpunan Mandelbrot dan Julia, sistem-L, kurva Peano, dan sebagainya sering dijadikan bentuk referensi.

Ketika batik telah dapat ditunjukkan pola fraktalnya, maka ia menjadi memiliki peluang untuk dilihat sebagai bentuk generatif. Beruntung, karena kita memang telah pula mengetahui pseudo-algoritma bagaimana menghasilkan batik sebagaimana kita telah singgung sebelumnya: klowongan >> isen >> harmonisasi. Bahkan bukan tak mungkin, beberapa jenis pola fraktal yang telah dikenal sebagai "keindahan matematika" dapat pula meng-inspirasi pola batik. Dari sini, penelitian menunjukkan bahwa terdapat setidaknya 3 tipe pola fraktal yang secara komputasional dapat menjadi bentuk motif batik fraktal generatif secara komputasional, yakni:

Tipe 1: Fraktal sebagai Batik
beberapa jenis fraktal yang dikustomisasi sedemikian sehingga memiliki pola tertentu dapat didesain sebagai inspirasi atas konstruksi desain batik. Kustomisasi dapat dilakukan atas aturan-aturan iteratifnya, modifikasi pada bentuk pencorakan warna, dan sebagainya. Dalam demonstrasi berikut ini, kita mensimulasikan zooming dan kustomisasi teknis pewarnaan dari himpunan Mandelbrot yang dapat digunakan sebagai bahan dasar fraktal batik mode 1.

Tipe 2: Hibrida Fraktal Batik
pola-pola dari fraktal dapat digunakan sebagai pola model utama dari ornamentasi dan dasar dekorasi bersama-sama dengan isen original dari motif dasar batik dan sebaliknya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan secara komputasional apa yang merupakan motif batik tradisional dengan hasil adaptasi sedemikian dari fraktal non-batik. Modus disain ini menggabungkan secara estetik pola fraktal yangr dilahirkan secara komputasional dan apa yang dilahirkan melalui tradisi budaya batik yang luas dikenal. Dalam demonstrasi ini, ditunjukkan sebuah modifikasi dari sistem-L yang dirancang sehingga menghasilkan bentuk pengisian ruang (space-filling curves) yang dapat dijadikan sebagai bentuk bahan bagi batik untuk dikustomisasi.

Tipe 3: Batik Inovasi Fraktal
merupakan bentuk implementasi dari gambar dengan pola tertentu dan atau acak dengan menggunakan bentuk-bentuk teselasi iteratif atau algoritma pengisian dari ornamentasi batik yang asali sebagai isen atau pola batik yang telah dikenal secara tradisional. Hal ini dapat dilakukan dengan ekstraksi motif dasar dari ornamentasi batik yang kemudian di-iterasi ulang dengan menggunakan pseudo-algoritma batik yang telah dikenal. Sebagai contoh demonstratif sebagaimana yang ditunjukkan pada contoh ini. Di sini, dua motif batik di-proses ulang secara komputasional dengan memberikan desain besar atas pola umum yang secara komputasional akan diproses (isen dan harmonisasi) yang menghasilkan sifat-sifat fraktal sehingga menghasilkan motif yang sama sekali baru dengan memperhatikan pola dan prinsip proses mbatik. Pengguna dapat melakukan kustomisasi dengan pewarnaan tertentu.

Ketiga pola ini merupakan bentuk dari implementasi generatif atas kesadaran bagaimana batik memiliki sifat fraktal dan mendukung peluasan bentuk apresiasi terhadap budaya tekstil Indonesia non-tenun ini.

Catatan
Budaya batik berasal dari pemahaman kognitif yang tertuang ke dalam karya estetika visual yang sedikit banyak memberi gambaran implisit tentang bagaimana orang Indonesia memandang dirinya, alamnya, dan lingkungan sosialnya. Pola batik yang diketahui bersifat fraktal merupakan sebuah kenyataan bahwa terdapat perspektif alternatif yang ada di kalangan masyarakat dan peradaban Indonesia yang unik relatif terhadap cara pandang modern yang umum. Keunikan ini merupakan sesuatu yang penting mengingat fraktal merupakan bentuk pemahaman geometri yang mutakhir dan memiliki kesadaran akan kompleksitas sistem dan menanganinya dengan lebih bijaksana.

Batik sebagai sebuah obyek estetika berpola memiliki tata aturan penggambaran pseudo-algoritmik yang dapat diperlakukan sebagai bentuk seni generatif yang memiliki kegunaan:
- memberikan sumbangan dan inspirasi kepada peradaban umat manusia, khususnya dalam bidang perkembangans seni generatif.
- mendorong dan memperluas ekslorasi dan apresiasi atas batik sebagai bagian dari seni tradisi nusantara Indonesia.
- penelitian tentang aspek fraktalitas pada batik secara umum mendorong penggalian lebih jauh tentang aspek kognitif terkait cara pandang dan kebijaksanaan masyarakat terdahulu kita tentang alam dan masyarakat - mengingat eratnya kaitan antara seni dan sains sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah perkembangan dan sejarah sains modern.

BATIK

Batik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Batik Indonesia

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan "malam" (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya "wax-resist dyeing".

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

MAGANG

MAGANG/PRAKTEK KERJA

1. Teknologi proses tekstil kerajinan (jumputan, tritik, dan sasirangan)
2. Produk kerajinan anyaman menggunakan serat alam non tekstil dengan teknologi weaving (sarung bantal, topi, tas dan lain-lain).
3. Pewarnaan batik dengan Zat Warna Alam (untuk bahan tekstil)
4. Pewarnaan logam non ferrous dan elektroplating.
5. Teknologi proses batik painting.
6. Produk kerajinan knitting menggunakan serat alam non tekstil.
7. Pewarnaan batik dengan Zat Warna Alam II (untuk bahan serat alam non tekstil).
8. Teknologi proses batik remukan pada bahan sutra.
9. Produk kerajinan macrame menggunkan SANT.
10. Pewarnaan batik dengan ZWA (untuk bahan kombinasi)
11. Sulaman tangan dobel kruistik
12. Produk kerajinan dari kertas seni.
13. Teknik sulaman tangan metode Sashiko.
14. Teknik jahit lipat metode smoke.

INTISARI

Unggulan Ekonomis Penggunaan Zat Penguat lapisan Peka Sinar dari Gondorukem untuk Kasa Cap



INTISARI

Dibuat formulasi zat penguat lapisan peka sinar yang komponen utamanya adalah gondorukem. Gondorukem dicairkan dengan beberapa pelarut organik selektif sampai kekentalan tertentu. Untuk meningkatkan laju pengeringan, sistem larutan gondorukem setelah diberi stabilisator diemulsikan dengan kecepatan pengadukan 5000 rpm (konstan), selama 5 menit dengan pengemulsian dibuat variatif.

Formulasi yang mempunyai tingkat ketahanan optimal ditentukan sebgai berikut : zat penguat lapisan peka cahaya setelah dioleskan diatas lapisan peka sinar (pada kasa cap) diamati laju pengeringannya kemudian diuji ketahanannya terhadap gosokan (makanik) dan pasta zat warna (kimia). Nilai ketahanannya dibandingkan dengan ketahanan zat warna penguat peka sinar yang biasa dipakaiseperti : lak merah, renyulux dan kopal vernis.

Dari hasil percobaan, ternyata bahwa formulasi yang menggunakan pelrut organik terpentin dan emulsifier TS memberikan ketahanan yang paling baik dengan laju pengeringan sekitar 3 jam (alamiah) atau 2 jam (dibantu kipas angin), nilai ketahanan gosok 3-4, sedikit lebih rendah dari nilai ketahanan gosok lak merah (4), sedang komposisinya sebgai berikut : gondorukem : erpentin = 1:1, asam nitrat 0,5%, air 5 % dan pengemulsi 0,325%-0,350%.


PENGARUH SUHU DAN WAKTU OKSIDASI PADA PROSES PENCELUPAN BATIK KAIN KAPAS

DENGAN ZAT WARNA INDIGOSOL



PENELITIAN REKAYASA PEMBUATAN ALAT CELUP BENGAN TENUN BENTUK HANK



INTISARI

Proses pengerjaan benang tenun bentuk hank dengan alat celup tradisional (bak) dapat ditingkatkan efisiensi dan kualitas hasilnya apabila ditambah peralatan yang lebih efektif dan mempunyai kestabilan yang mantap. Teknologi penggulungan benang, pencelupan dan pengerjaan bahan logam dan pengetahuan tentang elemen mesin merupakan landasan yang dipergunakan dalam perencanaan rekayasa peralatan. Kegiatan penelitian meliputi pembuatan desain, bagian peralatan, suku cadang, perakitan dan ujicoba. Kemudian dilakukan pengujian ketidakrataan serta pengamatan jalannya proses.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peralatan dapat berfungsi dengan baik dan selama ujicoba terjadi kekusutan benang sebanyak satu kali untuk warna biru dan dua kali pada warna merah dengan hasil kerataan kedua warna mempunyai koefisien variasi dibawah satu persen.


INTISARI

Pencelupan batik dengan zat warna indigosol memerlukan sinar matahari untuk membangkitkan warnanya (oksidasi), karenanya pencelupan batik bentuk panjang dengan alat celup BLC mengalami kesulitan. Agar batik bentuk panjang (dengan alat BLC) dapat dicelup dengan zat warna indigosol, maka dilakukan penelitian untuk mengganti energi matahari dengan larutan oksidasi panas. mengingat sifat lilin batik yang melunak pada suhu tinggi, maka oksidasi dilakukan pada suhu 40 derajat celcius selama 1, 2, dan 3 menit.

Hasil penelitian diuji kekuatan tarik dan ketuaan warnanya. Dari evaluasi dapat diketahui bahwa kekuatan tarik lusi terendah sebesar 12,70 kg/cm2 lebih tinggi dari standar (Standar SII 10,39 kg/cm2). Untuk ketuaan warna, warna Grey IBL dan Green I3B lebih tinggi dari warna hasil pencelupan tradisional, sedangkan warna Pink R berada 1 tingkat dibawah hasil celupan tradiional.


DAYA SAING PROSES "BATIK RADIOAN" DENGAN ZAT WARNA REAKTIF DAN INDATHREEN



INTISARI

Pada proses Batik Radioan digunakan tahapan proses pemutihan yang berdampak menurunnya kekuatan tarik kain. Untuk mengatasi hal ini perlu dikembangkan proses penyempurnaan Batik Radioan yang tidak mengurangi kekuatan tarik tetapi kemurnian warnanya sama, sehingga warna pertama bila ditumpangi warna kedua tidak akan timbul warna tunpangan, warna yang diperoleh tetap warna yang kedua.

Dari hasil penelitian proses Batik Radioan dengan zat warna efektif dan indathreen sesuai dengan sifat kimianya, diperoleh efektifitas proses tanpa diperlukan tahap pemutihan karena zat warna rekatif dan indathreen mengandung gugus yang bila direduksi akan pecah dan mengikat ioh H dan membentuk gugus amin yang tidak berwarna. Selain itu biaya proses dapat ditekan dengan memperhitungkan harga zat warna dari yang termurah sampai yang termahal. Zat warna yang diperhitungkan antara lain zat warna reaktif, indathreen, indigosol, dan naphtol.

Efisiensi proses Batik Radioan dengan zat waran rekatif dan indathreen mencapai 8,76% sampai dengan 41,33% dari perhitungan harga zat warna termurah sampai dengan yang termahal utnuk zat warna tersebut diatas.

PENENTUAN KONSENTRASI ALKALI (NaOH) DAN JENIS OKSIDATOR PADA PEWARNAAN BATIK SUTERA DENGAN ZAT WARNA INDANTHREEN



INTISARI

Pewarnaan batik sutera dengan zat warna Indanthreen adalah salah satu alternatif aplikasi pewarnaan batik. Tetapi pada prosesnya diperlukan alkali (NaOH) sebagai zat pembantu pelarutan zat warna yang sifatnya dapat merusak serat sutera. Penelitian dilakukan untuk menentukan konsentrasi alkali yang diwujudkan dalam formulasi perbandingan zat warna : alkali : zat pereduksi. Pembangkitan warna dilakukan dengan cara oksidai dengan udara, H2O2 dan NaNO2 + H2SO4 (1 :5). Hasil percobaan diuji ketahanan luntur warna, kekuatan tarik kain dan kilau sutera dengan cara metode rangking. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa formulasi B ( 1 : 1,5 : 4 ) dengan oksidasi H2O2 selama 2 menit, menghasilkan ketahanan luntur warna yang baik, nilai rangking tertinggi serta kekuatan tarik kain memenuhi syarat mutu batik sutera (SNI 08-4039-1996).

PENGKAJIAN ZAT WARNA ALAM UNTUK BATIK SEBAGAI ALTERNATIF PEWARNA



INTISARI

Harga zat warna sintetis yang sangat tinggi dan beberapa diantaranya antara lain zat warna Naphtol diduga bersifat karsinogenik, telah mendorong pengkajian kembali terhadap kemungkinan penggunaan zat warna alam untuk batik sebagai alternatif pewarna. Dalam penelitian ini telah dilakukan identifikasi terhadap 17 jenis zat warna alam yangberasal dari bagian tumbuh-tumbuhan : kayu, umbi, akar, daun, kulit buah, kulit kayu dan getah. Zat warna yang terkandung didalamnya diambil melalui proses ekstaksi dengan pelarut air, vlot 1 : 10 pada suhu kamar (29*C) selama 24 jam, kemudian dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu yang divariasikan 50*C dan 90*C, selama 1 jam. Ekstrak yang diperoleh digunakan utnuk mencelup kain katun mori Primissima merser. Pencelupan dilakukan sebanyak 6 kali, selanjutnya kain difiksasi dengan larutan tawas 10 g/l. Hasil pencelupan diuji terhadap kualitas pewarnaan dan dihitung tekno ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan dari 17 jenis sumber zat warna alam yang diteliti, terdapat 11 jenis sumber zat warna alam yang secara teknis dan ekonomis layak utnuk pewarna batik, sedangkan 6 jenis lainnya perlu penelitian lebih lanjut untuk kelayakannya secara teknis. Suhu ekstraksi berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas ekstrak zat warna alam yang diperoleh.

MODIFIKASI MEJA EVALUASI PERBEDAAN WARNA

PADA INDUSTRI TEKSTIL KERAJINAN DAN BATIK





INTISARI

Industri tekstil kerajinan dan batik dalam mengevaluasi ketidak seragaman kualitas, dilakukan dengan pengujian perbedaan warna produk yang dihasilkan. Kekeliruan penilaian hasil pengujian dapat diminimalisasi apabila ada sarana kotak penilaian yang menjaga standar penyinaran yang meneranginya.

Penilaian perbedaan warna dilakukan pada kekuatan penerangan 50 feet candle atau lebih. Penerangan tersebut dapat disubstitusikan cahaya lampu listrik setara dengan 62.849,7 Lumen yang terdiri dari penggabungan warna ungu (violet), biru, putih dan kuning/jingga.

Meja evaluasi direncanakan berupa penggabungan berbagai warna sinar lampu listrik pada suatu ruangan, yang kemudian dilewatkan pada kaca pembaur sinar. Hasil sinar pada jarak tertentu dipakai untuk menyinari hasil pengujian perbedaan warna yang akan dinilai. Pembuatan meja diawali dari bagian box pengumpulan sinar yang berada diatas meja evaluasi dan bertumpu pada empat tiang penyangga. Pengerjaan pembuatannya sesuai aturan teknik pengerjaan yang berlaku.

Hasil unjuk kerja peralalatan terlihat bahwa sinar yang dihasilkan dapat menyinari obyek contoh uji pada setiap sudut meja tanpa menimbulkan bayangan. Kekuatan penyinaran yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dikatakan bahwa meja dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

OPTIMALISASI PENGGUNAAN ZAT WARNA PEREDUKSI DAN WAKTU FIKSASI PADA PEMBUATAN BATIK ETSA DENGAN BAHAN BAKU RAYON VISKOSA



INTISARI

Pembatikan etsa memungkinkan menghasilkan produk yang lebih efisien dan murah karena proses pelekatan lilin yang pertama sesuai desain motif, diganti dengan pencapan etsa putih. Pembuatan batik etsa pada kain rayon viskosa (shatung) belum lazim dilakukan karena serat rayonviskosa mempunyai derajat polimeraisasi jauh lebih rendah dari pada serat kapas sehingga daya tahan serat rayon secara fisika kimia lebih rendah dari serat kapas. Untuk membuat batik etsa pada bahan rayon viskosa dengan proses cabut warna tanpa merusak kainnya, dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi zat pereduksi dan waktu fiksasinya dengan cara pengukusan (steam). Hasil percobaan diuji derajat putih dan kekuatan tarik kain ke arah lusi dan pakan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapan pasta cap etsa putih dengan konsentrasi 50 g/kg zat pereduksi dan waktu fiksasi selama 12 menit pada suhu pengukusan 100 derajat Celcius medapatkan hasil yang sempurna dengan nilai derajat putih 75,83 dan kekuatan tarik arah lusi 9,37 kg/meter persegi, kekuatan tarik arah pakan 7,49 kg/meter persegi memenuhi syarat mutu batik rayon.



perbedaan batik

Perbedaan Batik Tulis dan Cap


Batik Tulis

1. Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
2. Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
3. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
4. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
5. Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
6. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
7. Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
8. Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.

Batik Cap

1. Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
2. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
3. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
4. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
5. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
6. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
7. Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.

Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:

* Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
* Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
* Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
* Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
* Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
* Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
* Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.

About Me

My Photo
Lulus dari seni rupa Solo Dan Jogya, jurusan seni kriya batik, patung dan ukir kayu,dan melanjutkan ke Design Komunikasi Visual ( DISKOMVIS ) Menyukai Teater, dan lukis, telah mengikuti beberapa lomba dan pameran, baik, pameran seni kriya, patung, lukis di solo dan jogya Bekerja di Ramayana Lestari Santosa Tbk Group di Jakarta( 1992 – 1993) Surabaya ( 1993 – 1994 ) Jogyakarta( 1994 – 1995 ) Semarang( 1996 – 1997 ) Bali ( 1997) sebagai Visual merchandiser. Visual merchandiser Pt Pakuwon Jati Tunjungan plasa Surabaya( 1995) Dekorator Citraland Semarang ( 1996 – 1997 ) Fashion Show Bali fashion week 2001 Hongkong Fashion Week 2006 Bali fashion week 2005 Fashion Tendenace APPMI Jakarta 2005 Fashion JFFF Jakarta 2006 Bali fashion week 2007 Dubai Fashion Week 2005 Fashion show german venus fair 2007 Fashion show indonesia switzerland 2008 Jebolan tata busana di LPTB Adrianto Halim Masuk APPMI ( 2004 sampai sekarang, Sebagai guru pengajar di Bali design Scholl LPTB Susan Budihardjo bali thn 2008 Fashion Els School Bali

Followers