Saturday, January 10, 2009

TUTORIAL MENULIS HINGGA MENER

Tulisan tutorial ini disadur dan dikompilasi dari berbagai sumber (buku panduan menulis, majalah, situs atau blog pribadi para penulis, hingga beberapa sumbangan tulisan), dengan sedikit tambahan dan revisi di sana-sini. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis aslinya, tulisan ini semata-mata dimaksudkan untuk memotivasi para penulis pemula yang berkeinginan menekuni dunia tulis menulis secara profesional. Tanpa maksud komersial, tulisan ini murni mengemban misi informatif untuk semata-mata membagi ilmu dan informasi dunia tulis menulis kepada semua orang. Bukankah ilmu akan lebih bermanfaat bila dibagikan serta disebarluaskan kepada semua orang secara cuma-cuma ?

MEMBIASAKAN DIRI MENULIS

Tentu saja Anda dapat menulis di mana saja. Ciptakanlah suasana nyaman di sekitar tempat Anda menulis sehingga Anda merasa betah berlama-lama bekerja. Menulis sesungguhnya sama saja dengan mengerjakan pekerjaan lain. Diperlukan konsentrasi dan stimulus lain supaya kita dapat menghasilkan “output” yang baik. Salah satu keleluasaan yang Anda miliki jika melakukan pekerjaan menulis adalah waktunya bisa kapan saja. Banyak orang merasa tenang bila menulis setelah lewat tengah malam. Sepi katanya. Tetapi banyak pula orang yang suka menulis pada pagi hari, segar, alasannya. Meskipun sangat bebas, sebaiknya Anda mendisiplinkan diri dalam menulis. Ada beberapa batasan yang dapat Anda pakai guna menjaga produktivitas dan memelihara semangat menulis. Berilah target kepada diri sendiri berapa halaman tulisan yang harus Anda selesaikan dalam sehari-semalam. Atau patoklah berapa jam Anda mesti bekerja dalam seminggu. Dengan demikian Anda sudah belajar menjadi profesional. Menulis di luar ruangan bisa menjadi sensasi yang sangat menyenangkan. Cobalah menulis di taman atau lokasi alam terbuka lain. Kesannya bisa sangat berbeda dan amat mencerahkan, terlebih-lebih pada saat cuaca memang sedang nyaman-nyamannya (pagi atau petang). Ditemani makanan kecil atau minuman kesukaan Anda pasti setuju bahwa pekerjaan menulis menjadi betul-betul menggairahkan. Ada orang yang dapat menulis dalam segala suasana, namun banyak penulis yang mensyaratkan berada dalam keheningan agar dapat menulis dengan tenang. Ada penulis yang selalu menyetel radio atau tape bahkan menghidupkan bila sedang bekerja. Masing-masing pribadi memiliki kebiasaannya sendiri. Beberapa penulis pemula dalam menyelesaikan karyanya biasa tergantung pada “mood” atau suasana hati. Ini kebenaran yang tidak dapat dibantah, namun bila Anda telah mencapai tahap profesional, “mood” harus dapat Anda timbulkan setiap saat Anda mau menulis. Pekerja jurnalistik sering kali dikejar deadline atau tenggat waktu, yaitu batas waktu terakhir suatu tulisan harus masuk untuk naik cetak. Sebagai profesional Anda perlu mempersiapkan diri mengatasi tenggat waktu ini. Dalam kondisi terdesak pun Anda harus sanggup menulis dengan baik tanpa harus panik. Menjadi penulis adalah sebuah pilihan serius. Sama seperti pekerjaan lain, untuk berhasil, Anda dituntut memiliki integritas penuh dan komitmen seutuhnya terhadap pekerjaan.

TULISAN SEBAGAI EKSPRESI JIWA

Salah satu fungsi tulisan yang terutama dan terpenting adalah menyampaikan gagasan, pikiran dan isi hati. Berbeda dengan berbicara, menulis memungkinkan kita memikirkan, merenungkan, dan menimbang-nimbang terlebih dahulu atas apa yang mau kita tulis. Ini sebabnya mengapa tulisan ditafsirkan lebih mengandung kedalaman daripada ucapan. Tulisan yang baik memang hasil kontemplasi (=perenungan) mendalam dan meluas. Orang tidak akan dan tak bisa menulis sesuatu yang tidak dipikirkannya terlebih dahulu. Selama berpikir, seseorang pun biasa mengembangkan imajinasinya serta mengait-ngaitkan apa yang akan ditulisnya dengan berbagai aspek, sehingga suatu hasil tulis mencerminkan bukan hanya pikiran, melainkan juga sikap dan sifat penulisnya. Tulisan jelas lebih kompleks dari sekedar kata-kata yang diucapkan karena merupakan hasil olah otak dalam waktu relatif lebih lama daripada bila berkata-kata. Jika dalam berbicara orang sering memaki-maki, dalam tulisan, kata-kata kasar muncul hanya apabila memang dianggap pantas.

MEMILIH TEMA TULISAN

Untuk belajar menjadi penulis, Anda dapat memulai dengan tema (atau lebih tepatnya sub tema) apa saja yang paling Anda suka. Jika Anda seorang pelajar, tak ada salahnya memulai menulis tentang tema cinta. Andaikata Anda mahasiswa fakultas ekonomi, Anda dapat menulis tentang strategi dan taktik pemasaran produk tertentu. Kalau Anda seorang karyawan, mengapa tidak memulai menulis mengenai ikan hias, bos yang pemarah atau kucing yang jatuh cinta di atap rumah ? Mereka yang gemar sepakbola silahkan iseng-iseng menulis analisis suatu (bakal pertandingan) atau bakal suatu novel yang bercerita tentang suka duka dan seluk beluk dunia sepakbola dan segala kontroversinya, pasti bakal seru, karena kayaknya belum ada tuh yang nulis novel tentang ini. Anda guru atau dosen ? Tulislah cerita tentang perilaku anak-anak didik Anda, hal ini yang pernah dilakukan oleh penulis cerita anak-anak terkenal dari Inggris, Enid Blyton yang terkenal dengan karya-karyanya yang terkenal, khususnya “The Famous Five” (Lima Sekawan). Bagi ibu-ibu rumah tangga, silahkan menulis mulai dari cara mengarahkan anak agar mau belajar tertib, taktik menghadapi tetangga yang banyak mulut, teknik menaklukkan suami atau menulis novel yang mengulas tentang kehidupan ibu-ibu di kampung (meniru-niru serial televisi “Desperate House Wife”). Mungkin lebih baik menulis karangan pendek dengan tema sederhana dulu sebelum menggarap tulisan panjang dengan tema lebih kompleks. Menulis suatu topik secara detil lebih mudah daripada mengait-ngaitkan topik tersebut dengan hal-hal lain. Supaya tulisan Anda menjadi istimewa, Anda pun perlu mengembangkan tema dengan cara dan pemikiran berbeda dari orang lain. Jika “orang miskin” selama ini diwakili dalam banyak tulisan oleh tukang becak, Anda perlu menemukan kemiskinan dalam wajah lain bila akan menggubah tema “miskin”. Anda bisa menulis bahwa orang kaya yang telah pensiun pun sesungguhnya sangat “miskin”, bahkan suatu kali untuk membeli roti saja ia harus meminta uang dari anak-anaknya yang mewarisi kekayaannya. Tema pun dapat Anda dekati secara kontradiktif. Contohnya, tema cinta yang sudah sangat sering digarap orang, dapat Anda sorot dari sudut pandang baru yang kontroversial. Cinta katanya indah, Nah, Anda carilah celah untuk membantahnya, sehingga cinta tak tampak indah semata-mata, melainkan juga gombal, penuh intrik dan jorok. Toh, tema Anda tidak bergeser dari cinta, bukan ?

ANEKA TEMA MENARIK UNTUK TULISAN KITA

Novel-novel dewasa ini banyak mencoba mengolah tema-tema yang lain dari biasanya guna menarik minat baca orang. Tema drama rumah tangga dianggap sudah menjenuhkan, sehingga pengarang kreatif berpaling mengembangkan tema-tema yang unik dan bahkan aneh. Beberapa tema yang menarik yang bisa dijadikan ide penulisan, antara lain :
1. Alien. Suatu ketika, setelah orang jenuh menulis tentang flora dan fauna atau kehidupan dan penghidupan manusia di bumi, tiba-tiba ada penulis yang mulai menggarap tema ruang angkasa serta tentang kemungkinan munculnya alien (makhluk asing) yang berkepala besar dan berwarna hijau. Alien digambarkan ada yang baik dan ada yang jahat. Alien baik ingin bersahabat dengan manusia, sedangkan alien jahat dilukiskan berhasrat menaklukkan bumi. Lantas manusiapun bersatu memerangi alien jahat dan seterusnya.
2. Romansa perang. Tema cinta, persahabatan, atau perjuangan yang mengambil latar belakang sejarah perang dunia II cukup banyak digarap. Asmara dipertentangkan dengan heroisme cinta tanah air. Kemudian kisah dipelintir menjadi happy ending bersamaan dengan selesainya perang.
3. Paham-paham ekstrem. Liberalisme, komunisme, dan atheisme pun pernah menjadi bagian dari tema saat paham-paham tersebut secara dominan mengkooptasi kehidupan manusia. Tetapi penggarapan tema yang mengacu kepada pembeberan paham tertentu harus dilakukan dengan hati-hati supaya tidak menjadi propaganda. Anda pun perlu pandai-pandai membaca situasi politik sebelum menyinggung suatu paham dalam karya Anda. Ingat, paham komunisme dilarang di Indonesia, sehingga kalau diadopsi menjadi tema bakal menimbulkan masalah.
4. Tokoh eksentrik. Banyak novel bagus menokohkan seseorang yang hidup eksentrik. Contohnya : bahwa tokoh tersebut adalah seorang kanibal, maniak atau pembunuh berantai. Anda pun boleh mencoba menciptakan tokoh imajinatif (seperti Batman yang populer lewat komik) untuk mendukung penyampaian tema.
5. Cerita rakyat. Cerita rakyat atau dongeng fantastis tak ketinggalan muncul sebagai tema besar. Ternyata apabila dikerjakan dengan bagus, cerita rakyat dan dongeng bisa tampil menjadi kisah hebat pula. Contoh : Yeti manusia raksasa yang konon hidup di pegunungan Himalaya atau naga di Danau Lochness di Eropa.
6. Fabel. George Orwell pernah menampilkan setting kehidupan hewan (atau apa yang selama ini dikenal sebagai cerita fabel yaitu cerita yang menokohkan binatang) dalam karyanya yang cukup ternama “Animal Farm”. Kisah dalam film kartun “Ice Age” pun merupakan fabel yang sangat berhasil. Manusia dapat bercermin dari fabel yang tak lain tak bukan adalah replika hidupnya sendiri.
7. Hantu atau horor. Ingat hanti pasti ingat film “Hantu Jeruk Purut”, bukan ? Cerita film seperti itu bisa berasal dari kisah kejadian nyata, urban legend ataupun berangkat dari sebuah karya tulis (novel). Atau memang khusus karya tulisan skenario (memang dibuat untuk difilmkan). Tema hantu atau horor sebaiknya digarap tanpa sama sekali melupakan akal sehat, sehingga tidak menjadi terlalu khayal (yang terkadang malah mengundang gelak tawa).
8.Metro Life atau Urban Sensation. Karena sasaran pembaca yang dituju adalah para warga kota, tak heran tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan dalam kota besar timbul ke permukaan. Gaya hidup urban atau kota nan gemerlap dan ikon yang berhubungan dengan kasak-kusuk kehidupan metropolitan, seperti laptop, cafe, internet, seks bebas, dsb pun mengemuka. Anda berada pada suatu titik waktu dan menjadi milik zaman yang bersangkutan.
9. Teenlit. Terakhir kita mengenal teenlit (teenagers literature) yang mengupas habis tema-tema seputar kehidupan remaja. Cinta sudah pasti masuk sebagai menu utama subtema. Kemudian ada pula sub-tema khas anak muda, seperti : pencarian diri, mode, persahabatan, perseteruan antar kelompok, kehidupan seputar sekolah atau kampus, hingga soal jerawat.
10. Seks. Seks pun menjadi sub-tema yang paling diminati pengarang dan pembaca. Seolah-olah tiada karya tanpa pembicaraan tentang seks. Dalam khasanah karya tulis fiksi Indonesia, seks akhir-akhir ini sangat gamblang ditonjolkan dalam tulisan-tulisan karya novel ataupun cerita pendek di koran-koran. Bila tergelincir sedikit saja maka karya-karya seperti itu tidak ada bedanya dengan stensilan porno yang akhir-akhir ini juga cukup marak beredar di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya). Penggambaran secara detil tentang alat kelamin dan hubungan intim (yang dulu dianggap sangat tabu) sekarang justru diumbar oleh pengarang buku novel maupun cerpen yang secara kebetulan justru ditulis oleh para penulis wanita negeri ini. Sepertinya justru hampir tidak ada penulis novel pria yang menulis atau menyisipkan bumbu cerita cabul dalam karya novelnya. Entah hal ini sebagai gejala semakin liberalnya budaya di negeri ini ataukah pertanda bangkitnya emansipasi wanita yang justru malah salah kaprah malah mencoreng muka sendiri dengan mengumbar hal-hal yang tabu dalam bentuk tulisan ?

Tema-tema baru senantiasa bisa digali sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Banyak penulis besar menulis mengikuti insting atau nalurinya semata-mata. Barulah setelah tulisannya selesai, pembaca atau kritikus ramai-ramai mempersoalkan tema karya tersebut, padahal penulisnya tak pernah merencanakan dan mengarahkan buah penanya pada suatu tema eksklusif. Jadi kalau Anda punya peluang menulis bebas, jangan risau soal tema. Curahkan saja apa yang ada dalam benak Anda. Sebaliknya, ada kalanya memang Anda harus menulis dengan mengikuti panduan tema tertentu. Berusahalah fokus pada tema tertentu dalam karangan pendek. Ketika tulisan Anda mulai memanjang, biasanya tema pun dengan sendirinya ikut tertarik melebar.

JENIS KARYA TULIS

Menilik dari panjang pendeknya, sebuah tulisan atau karya tulis dapat dibagi menjadi karangan pendek atau karangan panjang (buku). Logisnya Anda dianjurkan menulis dalam format pendek dulu sebelum mencoba menulis buku. Bukannya meremehkan kemampuan Anda, tetapi cuma menunjukkan jalan yang biasa dilalui orang pada umumnya. Pendek atau panjangnya sebuah tulisan sangat relatif ukurannya. Cerita pendek, sebagai contoh, ada yang hanya terdiri atas tak lebih dari 5000 karakter termasuk spasi (kira-kira 3 halaman kuarto ketik berhuruf ukuran 14 points dan berspasi tunggal), tetapi ada yang panjangnya 10 atau 20 kali lipat dari itu. Lantas orang mulai memakai tema sebagai ukuran, yaitu bahwa cerita pendek cuma mengisahkan sepenggal kehidupan tokohnya. Namun batasan terakhir ini pun tidak selalu dapat mengikat. Bagaimanapun juga Anda perlu mengambil ancang-ancang menentukan panjang tulisan yang hendak Anda hasilkan. Katakanlah, artikel yang dibuat untuk dikirim kepada surat kabar atau majalah, ketentuan panjang tulisan bisa sangat mengikat. Bukan apa-apa, penerbitan pun perlu mengatur setiap tulisan sehingga panjangnya pas mengisi halaman yang tersedia. Beberapa acuan berikut bisa menjadi pegangan Anda dalam memperhitungkan panjang tulisan :
1. Karakter huruf sebagai ukuran.
Karakter atau huruf menjadi patokan terpenting dan terakurat dalam membicarakan atau menentukan panjang tulisan. Tulisan yang pas untuk mengisi satu halaman majalah berukuran kuarto adalah kira-kira 4000 karakter (termasuk spasi antar kata yang dihitung 1 karakter). Artikel populer yang ditulis untuk surat kabar lazimnya terdiri atas 5000-7000 karakter (termasuk spasi antar kata). Satu halaman buku saku (pocket book) normalnya terdiri atas sekitar 1500 karakter.
2. Kata sebagai parameter.
Kata bisa juga dipakai sebagai penentu panjang tulisan walaupun tidak seakurat penghitungan berdasarkan karakter huruf, sebab ada kata yang terdiri atas sedikit karakter dan ada kata yang terdiri atas banyak karakter. Dalam bahasa Indonesia, misalnya kata “ia” hanya terdiri atas 2 karakter, sedangkan kata “mempertanggungjawabkan” terdiri atas 22 karakter. Tetapi keduanya masing-masing dianggap satu kata.
3. Panjang tulisan berdasarkan halaman.
Buku serius lazimnya memiliki jumlah halaman lebih dari 100 lembar (50 halaman bolak-balik). Tetapi sesungguhnya jumlah halaman tak dapat dipakai sebagai patokan untuk menilai mutu sebuah buku. Novel “Peace and War” karya Leo Tolstoy terdiri atas lebih kurang 1000 halaman bila dicetak dalam format buku. Contoh tersebut hanya sebagai motivasi bagi Anda yang ingin menulis secara serius. Mulailah menulis artikel, berita, atau cerita pendek singkat sepanjang beberapa halaman.
4. Buku dalam beberapa jilid.
Cerita silat terkenal panjang. Kalau cuma terdiri atas 30 jilid, sebuah judul cerita silat dianggap lumrah saja. Ensiklopedi terdiri atas banyak jilid, namun ditulis oleh banyak orang pula. Dalam hal ini sebetulnya Anda tidak ditantang untuk menulis dalam beberapa jilid buku, tetapi didorong untuk menulis dengan bagus.

MEMULAI MENULIS SUATU TULISAN

Semua orang tahu bahwa kisah Harry Potter yang ditulis J.K. Rowling dan menjadi karya best seller dunia itu hanya khayalan semata. Ternyata mutu karya tulis tidak ditentukan oleh apakah ia kisah nyata atau khayalan. Fakta atau fiksi, keduanya sama-sama bisa menjadi karya tulis nomor satu. Modal apa yang perlu dimiliki seseorang untuk menjadi penulis cerita atau buku imajinasi atau fiksi jempolan (dalam arti bakal disukai banyak pembaca alias berpotensi menjadi best seller).
1. Buat jalinan cerita yang kompleks.
Kata pepatah “sudah kepalang basah, ya, mandi saja sekalian !” Namanyajuga menulis cerita khayalan, rekaan, alias fiksi, ya, tak ada larangan mengarang jalan cerita yang aneh-aneh. Tonton saja banyak-banyak telenovela, sinetron atau drama seri serta FTV di pesawat televisi maupun DVD. Begitu banyak ide cerita yang bisa digali untuk kemudian dikompilasi menjadi suatu cerita baru yang sama sekali berbeda. Plagiat sah-sah saja kalau kita menggabungkan berbagai ide cerita dari, misalnya, 50 macam cerita mini seri yang pernah kita tonton menjadi satu cerita yang sama sekali baru dengan penambahan atau revisi di sana-sini. Namun memang akan lebih baik bila ide cerita yang kita tulis sama sekali baru dan bukan sekedar mengekor dari berbagai ide cerita yang pernah ada.
2. Ciptakan tokoh berkarakter kuat.
Tokoh cerita rekaan mestilah memiliki karakter kuat. Kalau jahat, ya, dibuat jahat sekali, sedangkan kalau baik ya, dilukiskan sangat baik. Usahakan mengikuti keyakinan masyarakat umum atau sama sekali menabraknya (biar jadi cerita kontroversial). Jangan tanggung-tanggung jangan setengah-setengah. Fiksi atau cerita rekaan didefinisikan sebagai cerita yang diciptakan dan dikarang oleh penulis, termasuk fiksi ilmiah, dongeng imajinatif, novel picisan dan naskah telenovela.
3. Hadirkan kejutan tak terduga.
Dalam cerita rekaan, tokoh yang sudah “mati” tiba-tiba bisa saja diceritakan hidup kembali. Utarakanlah saja pembenaran-pembenaran (argumen yang masuk akal), misalnya ketika terjatuh ke dalam jurang, sang tokoh tersangkut pada cabang sebuah pohon. Ia kemudian ditemukan dan diselamatkan seorang pertapa tua dan dirawat. Eh, ternyata pertapa tua itu adalah…tidak lain tidak bukan ternyata kakek buyutnya !
4. Gunakan gaya bahasa yang istimewa.
Kalau cerita tak membuat perbedaan berarti, giliran bahasa yang memegang peranan dalam menentukan mengapa suatu karya tulis dapat dinilai lebih baik atau lebih jelek daripada karya lain. Penulis harus memiliki kepekaan bahasa istimewa dan mahir menggunakan bahasa dalam mewujudkan karyanya, termasuk sampai perkara-perkara paling kecil, seperti menyiasati tanda baca. Anda sangat dianjurkan terus menerus memperdalam kemampuan bahasa Anda. Rajin membaca karya tulis bermutu dapat mengasah ketajaman bahasa Anda, sekaligus pula bisa memperdalam kemampuan daya ungkap Anda dengan menggunakan bahasa. Makanya banyak-banyaklah membaca !
5. Kenali calon pembaca karya Anda.
Tentu Anda tidak akan menulis mengenai arwah penasaran atau memasukkan bumbu seks dalam cerita fiksi anak-anak, bukan ? Ya, biarpun namanya cerita khayalan, penulis perlu memiliki tanggung jawab moral untuk tidak sembarangan mengumbar imajinasinya. Seorang penulis wajib mengetahui siapa kira-kira calon pembacanya dalam hal usia, jenis kelamin, serta budaya.
Bagi beberapa orang, mengarang cerita rekaan ini lebih menyenangkan daripada menulis laporan, atau opini yang harus memperhatikan fakta dan teori. Sebaliknya, bagi beberapa orang lain, menulis fiksi sama sekali tidak menarik. Anda termasuk golongan yang mana ?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul berbunyi, “Apakah seseorang harus belajar mulai dari menulis fiksi atau menulis fakta ? Tidak ada jawaban yang pasti terhadap pertanyaan ini, Pada kenyataannya memang banyak wartawan yang belakangan menulis novel, tetapi seorang penulis dongeng anak-anak pun sebetulnya sanggup menulis berita dengan baik, bila kemudian suatu kali diminta. Mohon dicatat bahwa hasil ramuan kombinasi antara fakta dan fiksi tetap menjadi fiksi ! Tidak dibenarkan mengarang cerita rekaan tetapi menyebutnya kebenaran faktual walaupun cerita tersebut ditulis berdasarkan inspirasi dari suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Banyak roman rekaan ditulis dengan mengambil beberapa bagian true story (kisah nyata) sebagai load (pedoman) atau latar waktu. Anda bisa mengarang fiksi setelah menyaksikan atau mengalami suatu peristiwa. Perang kemerdekaan (1945-an), tumbangnya menara kembar World Trade Center di New York 11 September 2001 atau bencana tsunami di Aceh (26 Desember 2004) mengilhami banyak cerita fiksi. Benar, banyak cerita rekaan dihasilkan dengan mengambil latar belakang sejarah. Sejarahnya sendiri tentu merupakan fakta, sedangkan cerita yang diilhaminya harus tetap disebut fiksi. Perang Dunia II pun banyak membuahkan lahirnya novel dan roman, mulai dari yang bertema detektif, spionase, sinis, lucu sampai percintaan. Pernah dengar tentang buku berjudul The Diary of Young Girl ? Ini adalah kumpulan tulisan yang diolah dari catatan harian Anne Frank (1929-1945), seorang gadis kecil Yahudi yang bersembunyi selama 2 tahun menghindari kejaran tentara NAZI Jerman. Buku harian Anne Frank ditemukan pertama kali pada tahun 1947 dua tahun setelah Anne Frank dieksekusi NAZI. Ada beberapa versi mengenai hal ini, ada sebuah versi yang mengatakan bahwa Anne Frank meninggal karena demam akibat terkena wabah kolera disentri saat musim salju yang dingin, namun ada pula yang mengatakan bahwa ia mati dieksekusi. The Diary of a Young Girl dapat dianggap karya faktual historis hanya untuk bagian yang merupakan kutipan langsung dari catatan harian Anne Frank.

Dengan pengetahuan tentang elemen-elemen dasar dan semangat yang berkobar dan setumpuk kesabaran, tidak terlalu sulit bagi Anda untuk menulis sebuah cerita (baik cerpen maupun novel). Tidak ada yang memaksa Anda untuk menulis. Anda menulis karena hanya Anda yang bisa menuliskan cerita yang ada di alam pikiran Anda. Tapi, bagaimana cara menulis cerita yang hebat ? Apa saja yang harus diperhatikan untuk menulis cerita fiksi (cerpen maupun novel) ?
1. Bacalah.
Membaca sangat penting bagi setiap orang yang ingin menulis. Demi meningkatkan kemampuan menulis cerita, Anda mula-mula harus banyak membaca. Ini bukan hanya memberi motivasi dan inspirasi kepada Anda, tetapi juga membantu Anda memahami bagaimana penulis lain memikat pembaca dan bagaimana mereka menerapkan gaya mereka. Dari sana, Anda membangun gaya bertutur Anda sendiri.
2. Mendapatkan ilham.
Bagi para penulis yang sudah jago, ilham tampaknya datang begitu saja setiap saat. Bagi penulis baru ? Jangan khawatir, ilham bisa didapat dimana-mana. Inspirasi bagi Anda bisa berupa sebuah benda, seseorang yang membuat Anda terkesan atau mau muntah, atau peristiwa yang tak terlupakan.
3. Rumuskan konsep cerita Anda.
Apa yang ingin Anda sampaikan ? Misalnya Anda ingin menyampaikan cerita tentang seseorang cowok yang jatuh cinta pada peri. Bagaimana mereka bisa bertemu ? Apa menariknya percintaan manusia dan peri ? Bagaimana cara cowok itu apel ? Apakah ia menceritakan kisah cintanya kepada keluarga atau teman-temannya ? Apa keajaiban-keajaiban yang dialami oleh si cowok selama berpacaran dengan peri ? Apakah ada yang sirik terhadap percintaan mereka ? Bagaimana akhir percintaan mereka ?
4.Peristiwa kunci.
Tulislah daftar peristiwa yang akan terjadi dalam cerita Anda. Tulislah karakter-karakter yang akan menghidupkan cerita. Tidak harus detil. Ini hanya sketsa kasar jalan ceritanya.
5. Pahami karakter-karakter tokoh Anda.
Menulis cerita baik cerita pendek maupun novel kira-kira sama dengan menceritakan sebuah peristiwa yang dialami “seseorang” atau “beberapa orang “. Jika Anda kenal betul dengan orang itu, cerita yang Anda buat akan meyakinkan. “Seseorang” dalam cerita Anda adalah tokoh yang Anda ciptakan. Kenali tokoh itu sedalam-dalamnya dan Anda akan bisa menuturkan cerita yang menarik tentangnya. Bikinlah tokoh Anda masuk akal tetapi menyimpan misteri.
6. Bangunlah plot yang memikat.
Dari awal, sodorkan peristiwa yang akan segera melahirkan persoalan atau konflik bagi karakter utama. Perbesar konflik selama cerita berjalan. Ini akan membuat pembaca dengan senang hati melahap cerita Anda sampai habis.
7. Tulislah cepat-cepat.
Anda harus cepat menyelesaikan cerita Anda sebelum kehilangan mood. Kalau terlalu lama manyun di satu cerita, Anda sendiri akan bosan dan kelelahan.
8. Buatlah pembukaan yang baik.
Pembukaan harus menarik karena Anda harus memikat pembaca dari awal hingga akhir cerita. Pelajari paragraf pertama dari banyak cerita yang Anda baca. Apa yang membuat Anda tertarik untuk terus membaca ? Apakah pembukaan itu menyuguhkan misteri kepada Anda atau kalimatnya bagus ? Anda juga bisa mendapatkan ilham dari kalimat pertama milik orang lain. Pilih kalimat pertama dari sebuah cerita, tutup cerita itu, lanjutkan kalimat pertama itu dengan kalimat-kalimat Anda sendiri. Lihatlah ! Anda menemukan cerita Anda sendiri. Jika cerita Anda sudah rampung, jangan lupa mengganti kalimat pertama yang Anda pinjam itu.
9. Gunakan dialog.
Dialog penting untuk menghidupkan cerita. Gunakan dialog untuk memperkuat cerita dan menghidupkan karakter. Jangan menggunakannya untuk berpanjang-panjang.
10. Edit dan Revisi.
Cerita Anda sudah selesai. Simpan barang seminggu. Tulis lagi cerita baru. Setelah kira-kira seminggu, tiba saatnya untuk mengedit cerita yang lama. Perbaiki sebagus-bagusnya cerita tersebut. Baik juga meminta teman untuk membaca cerita Anda. Mereka biasanya jeli melihat kesalahan. Tidak usah cemberut jika mereka mengkritik.

ALUR CERITA DALAM TULISAN

Jika tulisan atau novel biasa dimulai saat tokohnya remaja dan berakhir ketika sang tokoh meninggal dunia, penulis tertentu kadang-kadang memulai ceritanya sewaktu sang tokoh misalnya, sedang sekarat terbaring di tempat tidur, baru selanjutnya dikisahkan kembali pengalaman hidup tokoh pada masa silam. Cara bercerita ini dikenal sebagai mengikuti alur mundur. Di antara banyak tulisan atau buku yang berkisah dalam alur maju, sesuai pergerakan waktu, menulis dengan pola alur mundur (atau maju-mundur) mula-mula dianggap unik atau kreatif. Namun dengan semakin meningkatnya jumlah dan beragamnya karya yang ditulis beralur mundur, metode ini pun kini bukan lagi termasuk suatu inisiatif luar biasa. Teknologi tulis-menulis dengan komputer sekarang juga sangat mempermudah seorang penulis mengacak-acak tulisannya, memajukan atau memundurkan sebagian segmen isi, dan menyelipkan tambahan atau perubahan di sana-sini untuk menghasilkan karya rekaan atau fiksi kreatif. Ringkas kata, alur pada cara menulis modern melalui teknologi komputer fleksibel sekali diatur. Selama ini alur bercerita yang telah dikenal adalah :
1. Alur maju. Sesuai dengan namanya, alur maju adalah gaya bercerita yang mengalir maju berdasarkan pergerakan waktu atau mengikuti urutan terjadinya peristiwa secara logis. Umumnya penulis menerapkan alur maju dalam tulisannya.
2. Alur mundur. Bertolak belakang dengan alur maju, alur mundur mengisahkan suatu peristiwa dengan cara flash-back atau mengenang kembali. Banyak novel perang mengungkapkan riwayat masa lalu tokohnya dengan memanfaatkan teknik bercerita beralur mundur.
3. Alur maju-mundur. Sesungguhnya tak ada karya tulis yang 100% konsekuen berjalan mengikuti alur maju atau mundur, melainkan lebih banyak yang silih berganti masuk ke alur maju dan mundur. Alur pun biasanya berkaitan dengan tulisan atau buku yang isinya cukup panjang, sehingga alurnya dapat dideteksi. Karya tulis pendek hampir dapat dikatakan tidak ketat atau tidak penting dikenali alurnya.

GAYA PENULISAN YANG BISA DIPILIH

Gaya menulis dapat dibagi-bagi berdasarkan beberapa acuan titik tolak. Beberapa gaya tersebut antara lain :
1. Serius versus kocak.
Serius atau kocak di sini bisa bermakna baik integral (keseluruhan atau menyeluruh) maupun parsial (sebagian-sebagian atau per bagian). Anda pernah membaca “Don Quixote” karangan Miguel De Cervantes ? Ini adalah cerita klasik tentang kisah kocak. Sepanjang cerita berbagai pengalaman dan petualangan tokohnya membuat pembaca geli. Don Quixote digambarkan membayangkan dirinya seorang satria, padahal kenyataannya ia tak lebih dari seorang kakek peyot. Ia pun memilih seorang wanita desa berwajah buruk serta gembrot sebagai kekasih khayalan yang perlu dibelanya mati-matian. Berbeda dengan “Don Quixote”, banyak pengarang yang menyelipkan penggalan cerita lucu hanya pada beberapa segmen tulisannya. Misalnya, bahwa suatu hari tokoh salah mengenali orang atau terpeleset masuk selokan. Serius dan kocak di sini pun dapat berarti baik bahasa yang digunakan maupun situasi yang dibangun. Apabila diminta menulis pidato penerimaan tamu kehormatan, niscaya kita akan menulis dalam bahasa sopan dan serius, bukan ? “Dalam rangka menyambut….menyukseskan pembangunan seutuhnya….” Ah, pokoknya yang bagus-bagus saja kata-katanya. Bahasa yang lucu itu bagaimana ? Bahasa yang tidak umum atau bahasa yang diplesetkan bisa juga menimbulkan suatu kelucuan. Kelucuan suatu cerita bisa juga dengan menggambarkan suatu situasi yang lucu walau dengan bahasa yang serius (dengan cara ini justru suatu kelucuan bisa menjadi bertambah lucu dan mengundang tawa geli para pembaca).
2. Tokoh sebagai subyek atau obyek.
Ada penulis atau pencerita yang menulis atau menceritakan tokoh sebagai dirinya sendiri, ada pula yang menempatkan tokoh sebagai obyek cerita. Pada gaya pertama, si pencerita adalah sekaligus si aku yang menjadi tokoh cerita atau subyek yang bercerita. Pencerita atau penulis seolah-olah menuliskan pengalaman dirinya sendiri. “Aku melihatnya memandangku tanpa berkedip. Lalu aku menghampirinya. Kemudian kami saling merangkul dan berjalan beriringan menyusuri pantai yang malam itu terasa lebih sepi dari biasanya.” Pencerita pun bisa menceritakan tokoh sebagai obyek yang diceritakan atau orang lain. Dengan gaya ini, penggalan kisah di atas akan ditulis menjadi : “Aris melihat gadis itu memandangnya tanpa berkedip. Lalu dihampirinya gadis itu. Kemudian mereka saling merangkul dan berjalan beriringan menyusuri pantai yang malam itu terasa lebih sepi dari biasanya.” (Andaikan tokoh dalam kisah ini bernama Aris). Anda sudah melihat dan memahami apa yang dimaksud dengan gaya penulisan yang menganggap “tokoh sebagai subyek” dan “tokoh sebagai obyek” bukan ? Gaya manapun yang Anda pilih sama-sama bisa menjadikan suatu karya asyik dibaca, biarpun ada orang berpendapat bahwa gaya bercerita dengan menempatkan “tokoh sebagai subyek” terasa lebih emosional.
3. Kalimat pendek versus panjang.
Dalam pelatihan menulis,teristimewa kelas-kelas jurnalistik, peserta selalu diarahkan agar menulis dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek. Kalimat pendek diyakini lebih mudah dipahami daripada kalimat panjang bagi sebagian besar pembaca surat kabar. Keyakinan ini ada benarnya, tetapi tidak perlu dianut dengan terlalu taat dan ketat. Ada kalanya kita perlu memakai kalimat panjang untuk mengungkapkan sesuatu secara lebih komprehensif dan utuh. Bahkan ada penulis suka mengeksplorasi dan mengeksploitasi kalimat sehingga menjadi sangat panjang. Perhatikan perbandingan gaya penulisan berikut :
“Pak Lurah mempunyai seorang anak laki-laki. Anak itu bernama Adi. Suatu hari Adi memanjat pohon mangga. Pohon mangga itu ada di halaman rumahnya. Adi terjatuh. Ia jatuh karena tidak berhati-hati.
Paparan di atas terdiri atas 6 kalimat pendek dan masing-masing kalimat terdiri atas 2 sampai 6 patah kata. Kata-kata yang terkandung dalam keenam kalimat tersebut total berjumlah 30. Makna yang akan disampaikannya pun dapat ditulis menjadi cuma satu kalimat panjang (terangkai dari 17 patah kata) tanpa kehilangan detil yang perlu disampaikan. Tidak percaya ?
Begini : “Suatu hari Adi anak Pak Lurah memanjat pohon mangga di halaman rumahnya dan terjatuh karena tidak berhati-hati !”
Silahkan saja memilih gaya mana yang cocok dengan kepribadian Anda. Kedua gaya, baik dengan mengandalkan kalimat pendek maupun menggali kalimat panjang, sama-sama bisa , sama-sama bisa indah ; tergantung pada kemahiran kita mengolahnya. Bisa saja pula kedua gaya ini Anda pakai sekaligus bergantian.
4. Menciptakan tokoh idola.
Berita atau cerita yang menghadirkan seorang tokoh idola berkarakter terkuat biasanya lebih disenangi pembaca. Banyak pula novel bagus yang menokohkan seseorang. Tokoh biasanya digambarkan sebagai manusia istimewa atau luar biasa (dalam arti berbeda dengan orang kebanyakan, baik penampilan maupun sifatnya.) Lazimnya tokoh utama protagonis diatur supaya berada di pihak yang benar, bergaya satria dan ganteng atau cantik. Pada sisi lain, demi menonjolkan tokoh protagonis, diciptakan pula seorang tokoh antagonis yang memiliki karakter bertolak belakang (jahat, licik, dan buruk rupa).
5. Sensasi memulai dan mengakhiri.
Pengarang harus pandai-pandai mencari sensasi memulai dan mengakhiri karyanya. Untuk buku, misalnya, banyak calon pembaca meneliti sejenak halaman pertama atau terakhir sebuah buku sebelum memutuskan membacanya atau tidak. Maka apa yang Anda tulis pada halaman pertama dan terakhir, jika Anda seorang penulis buku adalah sangat menentukan. Banyak cerpen (cerita pendek) pun memancing orang meneruskan membaca dan menyuguhkan greget pada alinea pertama dan meledakkan sensasinya pada paragraf terakhir. Tapi kendali pun diminta memulai dengan kejutan dan menyimpan sensasi pada akhir tulisan, Anda tetap diingatkan supaya menjaga ritme sehingga cinta/artikel/buku yang ditulis senantiasa mengalir indah.

MELAKUKAN EDITING DAN PERIKSA ULANG TERHADAP KARYA KITA

Dalam sebuah wawancara untuk mendapatkan pekerjaan atau ketika membujuk orang yang kamu gebet untuk pertemuan pertama, atau mengirimkan tulisan ke majalah, kamu hanya memiliki satu kesempatan untuk dapet kesan pertama. Orang bilang cinta pertama sulit dilupakan, begitu juga kesan pertama. Seseorang yang dicap buruk pada pandangan pertama akan sulit untuk mengubah pikiran orang di saat-saat selanjutnya. Karena itu, tak ada pilihan lagi bagi kamu. Untuk menawarkan artikel, novel, produk atau diri sendiri, atau menawarkan apa saja, kamu perlu menunjukkan kesan pertama yang menarik. Bagaimana kamu bisa meyakinkan sebuah majalah, atau pembaca, bahwa kamu bisa menulis karya yang bagus jika kamu sudah menunjukkan banyak kesalahan pada karya kamu, situs pribadi kamu, jika kamu punya, dan pada materi promosi lainnya ? Sebagian besar pembaca dan pecinta buku akan jengkel dan malas meneruskan membaca buku atau artikel yang banyak kesalahannya. Jadi sebaiknya tampilkanlah tulisan dan diri Anda seprofesional dan sesempurna mungkin. Image diri seorang penulis dan juga karya tulisnya sangat penting dalam dunia tulis menulis profesional. Untuk memperoleh karya tulis yang tampil secara sempurna dan tidak memiliki kesalahan dalam hal penulisan, redaksional dan tata bahasa, perlu dilakukan editing dan periksa ulang berkali-kali terhadap karya kita. Walau pada akhirnya nanti, karya tulis kita itu akan dilakukan editing ulang oleh para editor majalah atau penerbit buku, namun sebaiknya naskah tulisan kita itu sudah sempurna atau paling tidak mendekati sempurna dalam arti tidak mempunyai banyak kesalahan, terutama dalam hal redaksional (tata bahasa, tidak adanya salah ketik, tanda baca, dsb). Berikut disajikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan editing :
1. Nggak cuma soal salah ketik.
Editing bukan sekedar membetulkan salah ketik. Editing juga mencermati dan ngebenerin pernyataan-pernyataan yang tidak konsisten, kekaburan, kalimat-kalimat yang kaku dan tidak menarik, dan pilihan kata (diksi) yang lemah. Editing merupakan bagian yang sangat penting dari penulisan, dan inilah yang membedakan antara penulis yang baik dan penulis yang sedang-sedang saja, teledor, dan tidak peduli pada karya yang dibuatnya.
2. Periksa ejaan dan tata bahasa.
Jika kamu teledor dalam penulisan dan sering menggunakan tata bahasa yang tidak benar, ini juga akan membuat orang sulit percaya bahwa kamu bisa menulis secara baik. Dalam hal ini kita tidak bicara tentang tata bahasa baku. Sebab banyak juga novel terutama novel remaja - yang ditulis tidak dengan tata bahasa Indonesia baku, tetapi bahasa pergaulan para remaja pun memiliki aturan mainnya sendiri yang membuat bahasa tulis kamu enak dibaca, lancar dan tidak tersendat-sendat.
3. Cetaklah tulisan kamu.
Biasanya mata kamu akan lebih nyaman mengoreksi tulisan yang tercetak di kertas ketimbang jika memelototinya di layar monitor. Gunakan tinta warna merah atau hijau untuk melakukan koreksi.
4. Simpan beberapa waktu.
Simpan dulu naskah kamu beberapa waktu. Setelah itu, kamu akan lebih berjarak dari naskah tersebut dan akan membacanya lagi dengan mata yang lebih segar. Dengan jarak beberapa waktu, kamu bisa menempatkan diri sebagai pembaca dan akan lebih mudah untuk menemukan kelemahan-kelemahan tulisan yang kamu hadapi. Dan bagaimana agar menjadi lebih baik. Mungkin kamu perlu mengetatkan kalimat-kalimat yang bertele-tele atau membuang pengulangan-pengulangan informasi. Periksalah apakah kata-kata yang kamu pilih sudah tepat dan kuat. Temukan kesalahan-kesalahan yang tidak kamu sadari ketika sedang dalam proses menulis.
5. Meminta orang lain membaca.
Mintalah teman kamu membaca naskah kamu dan mintai komentarnya atas naskah tersebut. Biasanya teman kamu akan sungkan memberikan komentar-komentar kritis. Jadi yang perlu kamu minta untuk membaca naskah kamu adalah teman yang bisa memberikan komentar kritis dan tidak basa-basi.
6. Bergabunglah dengan kelompok kritis.
Kelompok seperti ini mungkin akan menjadi pencela yang menyeramkan atas naskah kamu dan naskah-naskah yang ditulis orang lain. Tapi kamu bisa mengambil manfaat dari koreksi mereka atas tulisan-tulisan yang mereka kritik. Kamu akan bisa belajar banyak dari kesalahan-kesalahan orang lain. Kamu bisa juga membentuk kelompok semacam ini secara online, atau bila kamu kesulitan, mengapa harus bingung ? Kalo kamu sudah menjadi anggota komunitas penulis “Forum Penulis Kota Malang”, sering-seringlah datang setiap hari Sabtu dan Minggu pagi pukul 10.00 WIB di ruang arsip Gedung Perpustakaan Kota Malang, di situ komunitas penulis FPKM selalu mengadakan pertemuan rutin, acara bedah buku, diskusi buku dan banyak lagi kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan, salah satunya yaitu membahas naskah karya tulis para anggota sebelum diajukan ke penerbit atau media cetak. Jadi, tunggu apa lagi bergabunglah dengan komunitas ini, atau paling tidak kamu bisa meramaikan forum diskusi atau milis komunitas ini di internet.
7. Baca buku.
Buku-buku yang baik akan mengajarkan kepada kamu cara menyusun kalimat yang baik, cara menyampaikan informasi yang baik, dan cara menyusun cerita yang menarik. Bacalah juga buku-buku di luar genre penulisan kamu. Jika kamu berminat menulis cerita remaja, akan baik juga kamu membawa buku-buku sastra yang kamu anggap rumit, misalnya. Setidaknya kamu akan mencoba memahami kenapa buku-buku tertentu mendapat penghargaan, sedangkan buku-buku lain malah dicaci. Setiap penulis adalah orang-orang yang membuka diri terhadap segala kemungkinan. Karena setiap hari ia memahami pekerjaannya sebagai sebuah proses belajar untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
8. Sewa seorang editor atau literary agent.
Di negara-negara yang perbukuannya sudah maju, hal ini biasa dilakukan oleh penulis. Mereka membayar editor yang mereka percayai. Para editor di sana banyak juga penulis-penulis yang baik, yang memahami betul bagaimana menyusun kalimat yang baik, mana kata yang lebih kuat untuk dipilih dan dia punya kepekaan untuk menemukan kesalahan-kesalahan, ketidakkonsistenan, atau kelemahan naskah yang ada di tangannya. Di Indonesia, pekerjaan editing di penerbitan-penerbitan umumnya merosot fungsinya hanya sebagai tukang koreksi salah ketik atau salah ejaan.
9. Begitu pentingkah editing naskah ?
Ya, sebab kamu harus selalu ingat bahwa salah satu yang akan mempercepat rusaknya kredibilitas kamu adalah menghasilkan karya yang mengandung banyak kesalahan. Namun, ingat juga bahwa banyak yang bisa kamu lakukan untuk tidak membuat kesalahan-kesalahan seperti itu.

MENYIAPKAN COVER BUKU YANG MENARIK

Kata orang, jangan menilai buku dari covernya. Kata orang, jangan sampai beli kucing dalam karung (atau buku, dalam hal ini). Tapi mau bagaimana lagi ? Begitu kita sampai di toko buku, perhatian kita pasti langsung tertuju pada buku dengan cover yang paling catchy (menarik). Ini kenyataan : buku yang covernya bagus, mau gak mau punya lebih banyak kemungkinan untuk diangkat dibaca sinopsisnya, lalu akhirnya dibeli. Nah, ayo kita telusuri lebih jauh peran orang yang berupaya untuk membuat cover tersebut menjadi menarik.

Langkah-langkah desainer sampul (cover buku).
Orang yang bertanggung jawab atas desain sampul sebuah buku disebut desainer sampul. Mereka sendiri punya tahapan-tahapan khusus untuk menghasilkan cover buku yang cocok dengan isi buku tersebut dan cukup komersil untuk memikat para calon pembeli. Petama-tama, desainer sampul mendapatkan naskah buku yang akan mereka kerjakan covernya. Mereka lalu membaca naskah tersebut, untuk mendapatkan gambaran tokoh-tokohnya, terutama karakter fisik. Nah, kalau sudah, biasanya desainer sampul akan melakukan brainstorming atau proses pencarian ide. Lalu setelah ide-ide tersebut disaring, desainer sampul kemudian membuat tiga buah desain sampul, dan penerbit memilih satu diantara tiga pilihan tersebut. Baru deh, satu desain sampul terbaik ini mejeng di toko buku. Namun, pada kenyataannya, desainer sampul sering bekerja tidak melewati tahapan-tahapan tersebut. Apalagi kalau dikejar deadline. Hal ini diakui oleh Jeffri Fernando, desainer sampul GagasMedia. “Normalnya (tahapannya) memang seperti itu. Tapi kalau deadlinenya mepet, harus ada yang di-skip (dilewati). Misalnya saja, kita bisa hanya membaca sinopsis aja. Jika waktunya sudah mepet banget. Tapi kita juga harus tetap nanya ke editornya untuk mengetahui karakter tokohnya bagaimana. Biar kita bisa dapat feel-nya.” Salah satu musuh utama sewaktu membuat desain cover buku adalah minimnya inspirasi. Bete juga dong, lagi dikejar-kejar deadline, eh ide gak dateng juga. Jeffri sendiri mengaku pernah mengalami masa kering ide seperti ini. Dia berkata, “Kalau udah blank, biasanya gue nanya ke teman-teman. Kalau lagi bekerja trus blank, wah itu harus dipaksa terus.”

Pengalaman dipuji sama penulis buku terkenal.
Cerita menarik didapatkan dari Muhammad Taufik (eMTe), seorang designer grafis freelance yang sudah menangani berpuluh-puluh cover buku. Suatu waktu eMTe mendapatkan sebuket besar bunga dari Hotel Grand Hyatt Jakarta beserta kartu ucapan mungil berbunyi, “We want to congratulate you on how beautiful The Undomestic Goddes book jacket”. Ternyata, kartu tersebut dikirim oleh Sophie Kinsella dan agennya. Memang, cover The Undomestic Goddes yang asli hanya bergambar sebuah tas berisi perkakas rumah tangga. Tapi, di tangan eMTe, cover tersebut diubah menjadi gambar yang bisa membuat Sophie Kinsella, penulis buku “Confession of Shoppaholic” kagum. Rahasia eMTe dalam mengerjakan ilustrasi adalah memerhatikan jenis huruf atau font. Karena, sadar nggak sadar, jenis font juga sangat berpengaruh. Desainer cover itu memberikan contoh, misalnya, kita bikin cover untuk buku yang feminin, tapi dengan font yang di-bold, itu kan nggak pas juga. Tiap font punya mood-nya sendiri dalam pembuatan cover. Font merupakan elemen yang nggak bisa dipisahin dari pembuatan cover. Jadi unsur yang menarik juga. Bahkan ada beberapa buku yang hanya font aja.” Ilustrator freelance pemenang Adikarya IKAPI 2005 untuk kategori ilustrasi terbaik ini sangat menyukai cover-cover buku Agatha Christie bikinan Dwi Koendoro (pengarang komik strip Panji Koming). Menurutnya, nuansa detektif yang diciptakan Dwi Koendoro sangat “kena”. eMTe berkata “[Ilustrasi Dwi Koen] Agak-agak sinematografis. Kalau ngeliat covernya dia, kayak ngeliat poster film deh.

Biar tidak mirip.
Ada juga beberapa buku yang covernya dibuat oleh penulisnya sendiri. Contohnya salah satu buku wajib baca remaja cewek zaman sekarang, “Lukisan Hujan” terbitan TerrantBooks (2006) karya Sitta Karina. Desain cover yang menggambarkan cowok cewek sedang melihat hujan di balik jendela itu dibuat oleh pengarangnya sendiri, Sitta Karina. Selain ilustrasi cover, Sitta juga membuat ilustrasi dalam buku tersebut. Alasan Sitta membuat ilustrasi cover-nya sendiri adalah agar cover-nya bisa sesuai dengan apa yang benar-benar dia inginkan. Ya wajar tho, bagaimanapun juga, penulis adalah orang yang paling tahu yang terbaik untuk bukunya. Ketika ditanya, Sitta menjawab, “Aku lebih seneng kalau aku sendiri yang membuat ilustrasi cover. Aku kan juga yang nulis, biar lebih pas. Kalau ilustratornya dari luar, nanti cover-nya mirip dengan buku remaja lain. Jadi, kenapa gak cobasendiri dulu ? Itung-itung ngasah kemampuan. Sitta sendiri dari dulu memang sudah senang melukis. Mengenai teknik menggambar cover Lukisan Hujan, Sitta mengaku cukup menggunakan spidol dan tinta cina warna hitam, lalu di-scan dan diwarnai di Photoshop. Sedangkan, untuk ilustrasi dalam, dia bikin semuanya menggunakan cat air. Sama seperti ilustrator lain, Sitta juga mulai mengerjakan desain sampul bukunya jika bukunya sudah rampung, atau paling tidak sudah mulai mendapatkan gambaran jelas atas jalan ceritanya.

Ternyata memang proses pembuatan cover sebuah buku adalah proses yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Makanya, ucapan “jangan menilai buku dari sampulnya” bisa diperdebatkan tuh. Coba bayangkan novel yang sampulnya jelek banget. Bisa-bisa tidak akan dipegang sama sekali sama calon pembeli. Yah gimana mau dipegang ? Dilihat aja gak enak ! Makanya kalo kamu gape menggambar atau bikin ilustrasi kenapa gak nyoba bikin sendiri untuk cover buku kamu. Tapi kalo memang gak berbakat menggambar, ya pasrahkan semuanya pada penerbit buku yang bakal nerbitin buku kamu, OK !

MEMPUBLIKASI TULISAN

Apabila Anda berhasrat mempublikasikan tulisan, jalan yang dapat Anda tempuh adalah :
1. Mengirim artikel kepada redaksi.
Artikel pendek berupa opini atau karya ilmiah populer dapat Anda kirim kepada redaksi surat kabar atau majalah yang punya misi sesuai. Biasanya surat kabar menyediakan opini publik. Supaya dimuat antara lain tulisan Anda harus aktual dan disajikan dalam bentuk padat dengan bahasa yang enak dibaca. Tulisan Anda pun seyogyanya menyangkut kepentingan terbesar pembaca. Di samping rubrik opini, surat kabar kini juga mempunyai rubrik khusus yang dapat diisi penulis luar, misalnya : arsitektur, rumah, elektronika, telekomunikasi, otomobil, dll. Karena surat kabar adalah bacaan umum, Anda perlu menyajikan tulisan dalam gaya lebih enteng atau tidak terlalu teknis. Anda pun perlu mengenal karakter atau corak suatu surat kabar atau majalah. Artikel politik tentu tidak cocok dikirimkan ke majalah remaja. Sedangkan karangan bertema anak-anak pun tidak sesuai ditujukan ke koran serius. Sementara tulisan bersifat ilmiah berat seharusnya Anda kirimkan kepada jurnal ilmiah sejenis untuk dipublikasikan.
2. Mengirim naskah kepada penerbit.
Naskah bakal buku dapat Anda kirimkan kepada sebuah penerbit. Pilihlah penerbit yang memiliki niat menerbitkan buku bertema sesuai dengan tema naskah Anda. Penerbit pun memiliki visi dan misi sendiri-sendiri. Ada penerbit umum yang menerbitkan semua jenis buku, ada penerbit yang cuma berkonsentrasi menggarap satu kategori buku, misalnya buku pelajaran sekolah atau religius saja.
3. Mengikuti sayembara.
Karya tulis dapat Anda kirimkan kepada panitianya bila memang ditulis dalam rangka mengikuti suatu sayembara.
4. Mencetak dan menerbitkan atas biaya sendiri.
Kalau Anda punya banyak duit, tentu sanggup mencetak dan menerbitkan karya atas biaya sendiri. Ini kondisi yang sangat ideal bagi mereka yang menjadi penulis fulltime.
5. Jangan berkecil hari bila tulisan Anda tidak dimuat dan dikembalikan. Sebab, kadang-kadang meskipun tulisan Anda cukup berbobot, surat kabar atau majalah memiliki keterbatasan ruang. Coba dan coba lagi saja sambil terus memperbaiki mutu tulisan Anda serta menyesuaikannya dengan visi dan misi penerbitan bersangkutan.

TIPS MENGIRIM NASKAH ARTIKEL KE MEDIA MASSA

Sebagai penulis tentunya kita dituntut untuk selalu produktif dalam menghasilkan berbagai karya tulisan, baik itu yang berupa cerita fiksi, atau bahkan tulisan yang sifatnya informatif, seperti artikel mengenai cara berkebun, artikel resep masakan, maupun artikel mengenai segala hal yang berhubungan dengan teknologi, misalnya saja artikel tentang berbagai tips dan pembahasan mengenai software komputer terkini. Ingatlah bahwa tulisan kita bisa “dijual” dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Tentu kita tidak ingin bahwa tulisan dan naskah karya kita hanya menumpuk begitu saja di rumah, atau bahkan di hard disk komputer kita tanpa berdaya guna apa-apa. Buat apa produktif kalau kita tidak bisa menghasilkan “uang”, sesuatu yang bisa sekedar menjadi insentif bagi kita untuk terus berkarya. Memang segala kegiatan tulis menulis tidak sepenuhnya harus melulu bersangkut paut dengan uang, namun tentunya sebagai penulis kita juga membutuhkan penghasilan untuk dapat terus “hidup” dan “eksis” melalui tulisan-tulisan kita. Honor yang kita dapat dari menulis selanjutnya bisa kita gunakan untuk berbagai keperluan riset, misalnya, atau paling tidak untuk membiayai pengeluaran “perangko” atau untuk membiayai “ongkos mengirim artikel melalui internet di warnet”. Oleh karena itulah, sedapat mungkin setiap naskah tulisan kita hendaknya berbobot, berkualitas dan bernilai “jual” sehingga bisa layak dimuat di berbagai media massa baik lingkup nasional maupun internasional.

Karena dewasa ini dunia internet sudah begitu akrab di kalangan para penulis dan banyak membantu dalam pengiriman naskah artikel dengan biaya yang lebih murah, cepat dan efisien, maka dalam artikel tips kali ini akan dimuat beberapa alamat e-mail redaksi media massa mulai dari surat kabar, tabloid hingga majalah. Semoga alamat-alamat e-mail ini cukup berguna bagi para penulis yang ingin “mengadu nasib” mengirimkan naskah-naskah artikelnya. Naskah artikel bisa dilampirkan sebagai file attachment (file lampiran) dalam e-mail yang kita kirim ke redaksi media massa. Tentunya di e-mail yang kita kirim tersebut, sebaiknya kita berikan surat pengantar yang berisikan mengenai data pribadi kita, seperti nama, alamat, pendidikan terakhir penulis, minat dan spesialisasi penulis, nomor telepon, alamat e-mail hingga nomor rekening bank untuk menampung honor dari media massa bila tulisan kita dimuat. Biasanya kita baru akan menerima respon atau konfirmasi dimuat tidaknya karya tulis kita antara 1 hingga 2 bulan semenjak tanggal pengiriman naskah artikel.

JURUS AGAR TULISAN BISA MENEMBUS DAN DIMUAT OLEH MEDIA CETAK

Setiap orang bisa menulis. Untuk menjadi penulis yang baik, ketrampilan menulis harus terus menerus dilatih. Selanjutnya tetapkan tujuan, untuk apa menulis ? Untuk diri sendiri atau karya itu akan dipublikasikan agar dibaca banyak orang ? Supaya karya penulis bisa dipublikasikan, diperlukan jurus-jurus agar tulisan dimuat di media cetak. Apa saja ?

Faktor Teknis
1. Gagasan. Gagasan bisa datang dari mana dan kapan saja karena sesungguhnya gagasan berserakan di mana-mana. Dari pengamatan, pengalaman, membaca, dsb. Untuk itu usahakan selalu membawa alat tulis ke mana saja. Bila memperoleh gagasan apalagi dalam kondisi ide “mengalir deras”, segera tulis ide-ide pokoknya. Hal ini untuk mencegah hilangnya gagasan. Dalam keadaan demikian kadang kecepatan tangan menulis tidak bisa mengimbangi kecepatan pikiran dengan seabreg gagasan yang lalu lalang.
2. Kerangka karangan. Membuat kerangka karangan hanya untuk memudahkan penulis mengembangkan naskah. Setiap penulis mempunyai cara sendiri untuk membuat naskah, apakah membutuhkan kerangka karangan atau tidak. Tulis karangan yang disukai dan dikuasai saja karena akan lebih memudahkan penulis menuangkan gagasan secara utuh. Pengetahuan dasar penulis sering mempengaruhi mutu tulisannya.
3. Penulis spesialis/generalis. Pada awalnya mungkin penulis pemula akan membuat tulisan yang bermacam-macam seperti opini, artikel, cerpen, puisi (penulis generalis). Tetapi semakin sering menulis, pikirannya akan semakin terasah dan mutu tulisannya akan meningkat. Lama kelamaan penulis akan menemukan ciri khas, karakter dan kekuatannya sendiri, apakah lebih kuat menulis artikel, cerpen, essai, dsb. Dengan menjadi penulis spesialis, kita akan lebih cepat diakui sebagai pakar di bidang tertentu.
4. Pengiriman naskah. Ada baiknya pengiriman artikel pertama ke media dilakukan melalui pos sebagai salam perkenalan dengan menyertakan fotokopi identitas dan surat pengantar. Bila perlu, pengalaman menulis (jika sudah ada) dicantumkan untuk memperkuat pengakuan. Apabila sudah kenal redakturnya, pengiriman lewat surat elektronik (email) dapat dilakukan. Di zaman serba cepat sekarang ini, sesungguhnya tidak ada larangan mengirim artikel lewat e-mail, asalkan ada surat pengantar.

Faktor Non Teknis
1. Karakter media. Masing-masing media mempunyai karakter. Ini berlaku untuk surat kabar harian, majalah dan tabloid. Penulis perlu memperhatikan, mengetahui dan memahami karakter tulisan di media menyangkut segmen pembaca, pilihan tema dan gaya bahasa. Caranya dengan mempelajari artikel-artikel yang sudah dimuat. Contoh : Tabloid Nova dan Nakita membidik para ibu rumah tangga dan keluarga. Majalah Femina membidik para lajang dan ibu rumah tangga menengah ke atas. Gaya bahasa resmi dipakai harian Kompas karena segmen pembacanya luas (nasional). Harian Kedaulatan Rakyat dan Jawa Pos yang merupakan koran daerah menyelaraskan gaya bahasa sesuai dengan kebudayaan setempat yang kadang menyelipkan bahasa daerah setempat.
2. Kenali redakturnya. Bila memungkinkan, bicarakan dengan redaktur sebelum mengirim tulisan. Tanyakan tulisan macam apa yang layak dimuat dan tema apa yang diutamakan. Dari pembicaraan ini penulis dapat mengetahui selera redaktur terhadap naskah yang akan dimuat. Pergantian redaktur kadang mengubah selera tulisan yang dimuat.
3. Kebijaksanaan redaksional. Penulis perlu mengetahui syarat-syarat mengirim naskah seperti panjang pendek tulisan, banyaknya karakter, ketentuan spasi, dsb.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan !
1. Jangan menjiplak.
2. Jangan mengirim tulisan yang sama ke banyak media.

Buku-buku yang disarankan untuk dibaca
Among Kurnia Ebo, Menulis Nggak Perlu Bakat, MU: 3 Books, Jakarta, 2005.
Andrias Harefa, Agar menulis Mengarang Bisa Gampang, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.
Bambang Trim, Saya Bermimpi Menulis Buku, Kolbu Publishing, Bandung, 2005.
Carmel Bird, Menulis dengan Emosi - Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Kaifa, Bandung, 2001.
Caryn Mirriam-Goldberg, Daripada Bete Nuli Aja !, Kaifa, Bandung, 2003.
Edi Zaqeus, Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, Gradien Book, Yogyakarta, 2005.
Hernowo, Mengikat Makna : Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku, Kaifa, Bandung, 2001.
Jordan E. Ayan, Bengkel Kreativitas, Kaifa/Mizan, Bandung, 2002.
Josip Novakovich, Berguru kepada Sastrawan Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi, Kaifa, Bandung, 2003.
M. Arief Hakim, Kiat Menulis Artikel di Media dari Pemula Sampai Mahir, Nuansa Cendekia, Bandung, 2004.
Mark Levy, Menjadi Genius dengan Menulis, Kaifa/Mizan, Bandung.
Zaenuddin, H.M., Freelance Media - Cara Gampang Cari Uang, Milenia Populer, Jakarta, 2003.
dan lain-lain.

BACAAN ANJURAN LAINNYA
Majalah Matabaca, bulanan, Gramedia.
Majalah Bukune, Group Agromedia Pustaka.
Suplemen Ruang Baca, koran Tempo hari Minggu terakhir setiap bulan.
Pustakaloka, Kompas hari Sabtu III dan IV.
Rubrik Pustaka dan Selisik, Republika setiap hari Minggu.

Mailing List komunitas penulis yang lain :
penulisbestseller@yahoogroups.com
penulislepas@yahoogroups.com

Konsultasi (yang berhubungan dengan kepenulisan, penerbitan, dan sejenisnya):
Edy Zaqeus edzaqeus@yahoo.com atau edzaqeus@pembelajar.com

Buka Hati dan Mata
Ungkapkan dengan Kata
Kabarkan lewat Tinta
Untuk Berkarya
“Buku adalah teman yang paling setia. Dia selalu hadir saat susah dan senang. Cintai dan sayangilah dia”.

TIPS MENGIRIM NASKAH TULISAN

Sitta Karina, seorang penulis buku best seller, membagikan beberapa tips menulis dalam situsnya yaitu www.sittakarina.com. Berikut beberapa tips yang sengaja disalin dari situs tersebut untuk menambah wawasan kalian sebagai penulis.
Kalian tentu ingin mengirim naskah tulisan kalian ke penerbit, namun tidak yakin apa saja yang sebaiknya disertakan agar naskah kalian memberi kesan pertama yang OK. Agar naskah kalian memberi “first impression” yang bagus di mata Penerbit, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ! Simak beberapa tips yang perlu kalian garis-bawahi berikut ini !
Dalam mengirim naskah, biasanya kalian menggunakan amplop coklat besar kan ? Nah, apa saja isi “amplop coklat” kalian ini:
1.Surat pengantar . Simpel, sopan, namun lugas. Kemukakan maksud dan tujuan kalian dengan mengirim naskah ke penerbit tersebut dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar , seperti yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah perihal tata-cara mengirim surat formal. (Jangan memakai kata atau sapaan Dear Pak A, Regards, Thanks, dan lain-lain).
2.Cover page. Apa itu cover page ? Kalian bisa melihat contoh cover page di www.sittakarina.com. Kebanyakan penulis di Indonesia tidak membuat ini, padahal ini adalah standar internasional dan sangat membantu si editor atau proofreader yang memeriksa naskah kalian.
3.Sinopsis . Sertakan synopsis cerita kalian; singkat, padat, jelas, dan menarik. Cukup ½ halaman kertas saja.
4.Naskah cerita . Jilid biasa (lakban hitam) yang rapi dan ikuti ketentuan penulisan sesuai yg diminta penerbit (huruf, ukurannya, spasi, dll).
5.Proposal . Isinya adalah: garis besar cerita kalian tentang apa (maks. 5 kalimat), apa selling-point dari cerita kalian ini (buat dalam bentuk poin), serta kemukakan alasan kuat kalian “kenapa penerbit harus menerbitkan naskah kalian” (cukup 1 alasan). Gaya bahasa boleh kasual, tapi harus tetap sopan ya. Contoh untuk penulisan selling-point sbb:
•Cerita saya dilatarbelakangi sejarah kerajaan Bali kuno yang digabung dengan kehidupan modern remaja masa kini. Unik, dan belum pernah ada sebelumnya di pasaran.
•Cerita saya juga bernuansa pop-culture dengan sentuhan sastra yang kini sedang digandrungi orang banyak.
•Dst.
6.Biodata singkat. Biasanya berisi: nama lengkap, alamat lengkap (+ kodepos), tempat/tanggal lahir, no. KTP/kartu pelajar, no. telpon rumah dan HP, Sekolah, minat/hobi, serta yang paling penting untuk dicantumkan—dan kalau ada—adalah prestasi yang pernah kalian raih sehubungan dengan tulis-menulis (misalnya: cerpen kalian pernah dimuat di majalah A, kalian pernah menang lomba bikin puisi atau novel di se-Jakarta Selatan, atau kalian pernah masuk 20 besar di lomba membuat fiksi remaja, dll).
7.Amplop kosong dan perangko balasan secukupnya . Apabila naskah kalian tidak diterima oleh penerbit (biasanya penerbit akan mengabari kalian paling lama dalam 3 bulan; apabila tidak, kalian dapat menelpon langsung untuk menanyakan), maka naskah tersebut tidak akan masuk tong sampah dan kembali lagi kalian… siap untuk dikirim ke penerbit lain yang—siapa tahu—akan menerimanya!
Dalam mem-print out naskah cerita kalian, jangan pernah gunakan tinta printer tipis atau yang sudah mau habis. Hal seperti itu malah akan membuat editor BT dan akhirnya malas baca naskah kalian. Beri judul cerita kalian, maksimal sampai dengan 3 judul.
Tulis-menulis juga merupakan bisnis, jadi perlakukan secara professional, OK!

Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan*
*) Berbagai ulasan, diskusi dan uraian ini disalin dari situs www.penulislepas.com

“Bisakah mengandalkan hidup dari menulis?” Pertanyaan seperti ini kerapkali diajukan kepada orang-orang yang berprofesi sebagai penulis. Umumnya, si penanya adalah orang yang ingin terjun ke dunia penulisan, tapi masih ragu dengan potensi materi yang akan ia peroleh. Dan, menjawab pertanyaan seperti ini ternyata tidak mudah. Sebab faktanya, banyak orang yang kaya dari menulis, namun banyak pula yang sebaliknya.
Maria Adelia (17 tahun) adalah contoh sosok penulis yang sukses dari segi materi. Siapa sangka, novel “Aku VS Sepatu Hak Tinggi” yang dikirimnya secara iseng-iseng ke Penerbit Gramedia, menjadi laku keras di pasaran. “Enggak nyangka, cetakan pertamanya laku hingga 10 ribu kopi,” ujarnya, sebagaimana dikutip harian Kompas, 16 Juli 2005.
Kini, novelnya ini sudah diangkat ke layar kaca, bahkan dijadikan sinetron berseri. Tentu, royalti pun membanjiri dompet Maria Adelia. Dalam sebulan, ia mendapat penghasilan kotor sekitar Rp 5 juta!
Kisah sukses lainnya dialami oleh Yanti Puspitasari (34 tahun). Dengan menjadi penulis skenario sejumlah sinetron (antara lain Kehormatan, Bidadari, dan Perkawinan Sedarah), ia dan suaminya dapat menikmati kehidupan yang layak. Namun karena mereka bekerja di rumah, banyak tetangga yang mengira mereka pengangguran dan dituduh memelihara tuyul. Pasalnya, mereka jarang ke luar rumah, tetapi punya mobil dan materi lain yang secara kasatmata bisa dilihat sebagai kekayaan, termasuk dua rumah di Nirwana Estat, Cibinong, Bogor (Kompas, 27 November 2005).

Dari kedua cerita di atas, apakah dapat dipastikan bahwa menjadi penulis merupakan pilihan yang amat menjanjikan dari segi materi? Ternyata tidak juga. Sebagai bahan perbandingan, coba simak penuturan Fira Basuki lewat blog pribadinya. Pengarang novel laris “Jendela Jendela” ini mengeluhkan, betapa sulitnya mengandalkan penghasilan dari menulis, khususnya di Indonesia. Di Amerika, menurutnya, profesi penulis mendapat penghargaan yang sama - dari segi finansial - seperti para aktor film. Penulis skenario pun dibayar amat mahal. Selain itu, dunia penulisan pun sudah menjadi industri. Ini ditandai dengan adanya agen penulis, maraknya ghost writer(*), dan sebagainya.
Berdasarkan info dari sejumlah pengamat, memang dunia penulisan di Indonesia tidak terlalu menjanjikan dari segi materi. “Kalau di Singapura, penulis bisa jadi jutawan,” ujar sastrawan Yanusa Nugroho dalam sebuah kesempatan, tahun 2005 lalu.
Sebagai gambaran, berikut disajikan contoh kasus tentang seorang penulis yang menerbitkan dua buku yang penjualannya biasa-biasa saja.

1. Buku A
Harga jual: Rp 35.000
Royalti: 10 % dari total penjualan
Masa pembayaran royalti: 6 bulan sekali, yakni Januari dan Juli.
Selama periode Januari - Juni 2005, jumlah eksemplar buku A yang terjual adalah 600 kopi. Maka, royalti yang diterima si penulis adalah:
[ ( Rp 35.000 X 600 kopi ) x royalti 10% ] - pajak 15 persen
= Rp 1.785.000

2. Buku B
Harga jual: Rp 45.000
Royalti: 10 % dari total penjualan
Masa pembayaran royalti: 6 bulan sekali, yakni Januari dan Juli.
Selama periode Januari - Juni 2005, jumlah eksemplar buku A yang terjual adalah 1.000 kopi. Maka, royalti yang diterima si penulis adalah:
[ ( Rp 45.000 X 1.000 kopi ) x royalti 10% ] - pajak 15 persen
= Rp 3.825.000

Jadi, penghasilan si penulis selama 6 bulan dari kedua bukunya adalah Rp 5.610.000.
Dengan kata lain, penghasilan rata-ratanya perbulan adalah Rp 935.000.

Jika si penulis tinggal di Jakarta, sudah menikah dan punya dua anak, cukupkah penghasilan sebesar itu untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya?

Perlu dicatat pula, contoh di atas kebetulan menggunakan angka-angka yang cukup tinggi. Coba Anda hitung sendiri, jika buku si penulis hanya terjual 300 kopi selama 6 bulan, dan harga jualnya Rp 20.000 atau Rp 18.000 per eksemplar.

Dari gambaran di atas, kita kini memiliki gambaran, bahwa profesi penulis - secara umum - sebenarnya belum terlalu prospektif dari segi finansial. Ini adalah kondisi di Indonesia, bukan di negara-negara lain.
Memang, ada sebagian penulis yang bisa hidup berkecukupan dari menulis. Namun biasanya, orang yang bernasib seperti ini adalah:
1.Penulis yang buku-bukunya laris manis di pasaran, mungkin terjual hingga ribuan bahkan jutaan eksemplar. Bahkan pula, buku-bukunya diangkat menjadi film atau sinetron (ini sudah dialami oleh Hilman Hariwijaya).
2.Penulis skenario sinetron yang laris, karya-karyanya sering dipakai sebagai bahan cerita. Tapi sekadar info, menjadi penulis skenario sinetron kejar tayang bisa menimbulkan rasa stress tersendiri. Bagaimana tidak! Si penulis terus diburu deadline, sehingga harus sering lembur dan nyaris tak ada waktu untuk istirahat.
3.Penulis yang berwirausaha dari hobi mereka. Biasanya, potensi materi dari bidang ini cukup menjanjikan. Ada begitu banyak jenis pekerjaan yang bisa digarap; Mulai dari menjadi editor dan penerjemah freelance, mengerjakan company profile, hingga menggarap media internal bagi perusahaan besar.
4.Penulis yang telah menerbitkan puluhan buku. Mungkin hasil penjualan buku-bukunya biasa-biasa saja, sehingga royalti per buku hanya sedikit. Tapi karena ia telah menerbitkan banyak buku, total royalti yang ia peroleh per bulan bisa sangat besar.
Jika anda adalah penulis yang tidak memenuhi keempat kriteria di atas, jangan berkecil hati dulu. Tapi sebaiknya, jadikanlah menulis sebagai pekerjaan sampingan saja. Tentunya, Anda harus punya pekerjaan yang bisa diandalkan dari segi materi, misalnya menjadi karyawan pada perusahaan tertentu, atau membuka usaha di bidang lain.
Lagipula, materi atau finansial seharusnya bukanlah tujuan utama bagi seorang penulis. Ada tujuan-tujuan lain yang jauh lebih mulia. Misalnya, si penulis dapat menularkan ide, gagasan, dan prinsip hidup yang dianutnya kepada para pembaca. Jika yang “ditularkan” adalah nilai-nilai kebaikan, tentu si penulis merupakan manusia yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.
Tentunya, setiap penulis akan senang jika ide-ide yang ia tuangkan lewat goresan penanya, diikuti dan diterapkan oleh para pembaca. Jika ini terjadi, kepuasan yang didapatkan tentu tak ternilai harganya.
Sebagai penutup, coba simak penuturan Yanusa Nugroho. Sastrawan yang satu ini punya prinsip hidup yang unik. “Saya punya dua tangan, yang kanan dan yang kiri. Tangan kanan saya gunakan untuk menulis karya sastra. Di sini, saya bebas berekspresi, tidak bisa diintervensi oleh siapa dan apapun. Dan saya tidak berorientasi uang. Sedangkan tangan kiri saya gunakan untuk mencari uang dari bidang penulisan.”
Yanusa pun menambahkan, ia pernah menjadi ghost writer untuk naskah pidato mantan Presiden BJ Habibie dan menulis naskah iklan produk-produk Netsle. Hasilnya sangat lebih dari lumayan.

Keterangan:
(*) Ghost writer adalah orang yang menulis naskah atas nama orang lain, misalnya seorang pejabat atau public figur. Si pejabat (dan sebagainya) biasanya tidak sempat menulis. Karena itu, ia menyewa orang lain (biasanya adalah orang yang sudah ia kenal dekat dan tahu persis karakter tulisan dan pola pikirnya) untuk menulis atas nama dia.

HASIL DISKUSI ONLINE MENGENAI ARTIKEL “Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan”

A.Sudarmaji Hg Ed :
Kaya Sebagai Penulis Buku?
Tidak bisa dipungkiri pertanyaan itu memancing debat berkepanjangan.
Semua orang memiliki pengalaman, argumentasi dan sisi kebenarannya sendiri-sendiri.
Alih-alih memperpanjang debat yang selalu mendaratkan kita ke pantai pluralitas, akan lebih baik bila kita melihat sisi yang lebih mendasar bagaimana mempersiapkan diri menjadi seorang penulis sebagai karir. Bukan menulis buku karena sedang ada mood, atau pelepas kesibukan rutin. Saya yakin kita bisa kaya dari menulis buku, asal tahu rahasianya. Saya berharap gagasan sharing berikut ini bisa menambah kekayaan nuansa kita dalam tema yang amat mulia ini. Tampaknya tulisan ini akan lebih pas bagi mereka yang akan menapaki karir sebagai penulis buku. Masa depan akan lebih cerah bila sejak dini kita sudah memiliki strategi bagaimana memaksimalkan diri sebagai penulis buku (yang kaya).
So, bagaimana bisa hidup layak (baca: kaya) sebagai seorang penulis?
Saya melihat setidak-tidak ada lima poin yang bisa kita renungkan. Here we go…
1. Menemukan kekuatan/usp:
Setiap (calon) penulis pasti memiliki kekuatannya sendiri. Pendidikan, pengalaman, latihan, karir menjadi batu loncatan untuk menemukan kekuatan pribadi sebagai seorang penulis. Dari poin pertama, muncullah tuntutan mengembangkan usp.
Keberanian dan keberhasilan menampilkan genre dan tema buku yang tidak akan bisa dimasuki oleh penulis lain jelas merupakan keunggulan kompetitif tersendiri. Masalahnya bagaimana kita menemukan usp ini?
2. Mencari link optimal
3. Pandai memilih pasar yang lapar
4. Menciptakan metode penulisan instan
5. Memosisikan diri sebagai penulis generalis
Sebagai calon penulis, saya menyarankan untuk merambah dunia kepenulisan dengan memfokuskan diri sebagai penulis generalis, tidak tergesa-gesa menerjunkan diri sebagai penulis spesialis. Tahap ini bisa berfungsi untuk menajamkan indera kepenulisan, merengkuh pengalaman dan pengetahuan sebanyak-banyaknya, mendeteksi kelemahan, menghimpun preferensiu dan mengembangkan kebebasan memilih ladang berkreasi.
Jika pertanyaan apakah penulis bisa kaya muncul, saya yakin, dengan menerapkan kelima poin di atas, kekayaan (kalau memang ini tujuan kita) tidak akan sulit diraih. Selamat menemukan usp Anda dan saya tunggu buku Anda;-)
Menulis atau habis/publish or perish…
Sudarmaji
Malang

B. Shofyankhasani :
Dunia penulisan mungkin juga sama dengan dunia yang lain, apabila ditekuni tentu akan memberikan hasil yang pasti akan memuaskan . sehebat apapun kita ,dengan bidang yang kita hadapi ,apabila tidak ditekuni tentu hanya akan menjadikan sebuah profesi yang menjemukan . jadi setuju sekali dengan mas jonru . Bukankah Allah akan mengabulkan do’a hanya bagi orang-orang yang tekun..??

c. Irenia Vitrya Alyssa (http://ezha-echa.tk ) :
Sebenarnya menulis itu adalah hobby dari seseorang.. menulis itu bisa menggambarkan suasana hati seseorang, menulis cerita juga bisa menghasilkan sesuatu. akan tetapi lebih baik jangan terlalu berharap dari hasi menulis. lebih baik dijadikan sekedar hobby saja.

D.Katrin suni :
Ide yang terus berputar di kepala,sayang sekali bila tidak dituangkan
diatas kertas. Bentuk ekspresi diri yang jujur,idealisme,talenta,sekedar hobi atau apapun yang menghasilkan sebuah karya tulis berhak mendapatkan apresiasi. Seorang script writer ataupun penulis skenario drama akan merasa puas dan bangga bila karyanya dipentaskan. Seorang penulis artikel akan senang apabila tulisannya menjadi acuan bagi orang lain. Alhamdulillah, Sekarang ini ada bentuk lain apresiasi untuk para penulis,yaitu honorarium..
Mungkin kita merasa untuk para pemula atau untuk penulis tertentu nilainya tidak sebesar negara lain,terlalu sedikit untuk mengapresiasi sebuah karya.Mengapa tidak kita ciptakan sendiri? Lewat situs ini,atau melalui mas Jonru,kalau tidak kita awali,siapa lagi ?

E.Yulyanto ( http://www.yulyanto.multiply.com ) :
Menulis adalah sebuah pekerjaan profesional, artinya jika ditekuni secara “total”, pasti bisa dijadikan sebagai sandaran hidup. Sudah banyak contoh Penulis yang berhasil, seperti Pramoedya Ananta Toer. Dia hidup dan bahkan bisa kaya hanya dari tulisannya saja dan tidak ada mata pencaharian lainnya.
Nama Andrea Hirata dan Habiburahman dan juga Pak Saderi adalah motivasi bagi para penulis yang ingin menyandarkan pendapatannya dari buku, pendapatan penulis-penulis tersebut berkisar antara satu sampai tiga milyard rupiah. Luar biasa besarnya kan?
Selain itu ada Fira Basuki (pengarang brownies yang sudah di angkat dalam layar lebar) yang setiap bukunya sangat laris karena selalu “best-seller” ataukah itu Jenar Mahesa Ayu ataukah Dee - Dee Lestari yang bukunya pernah sekali cetak sampai 50.000 - 90.000 eksemplar.
Nama-nama besar para penulis tersebut bisa dijadikan patokan bagi para penulis pemula yang ingin terjun dalam dunia tulis-menulis. Pekerjaan apapun bentuknya, jika dilaksanakan secara sungguh-sungguh (jangan lupa ber-doa dan ber-ikhtiar), Insya Allah akan membawah berkah bagi pekerjanya……..
F.Ketut :
Dulu saya juga sempat bertanya seperti itu, apakah bisa mengandalkan finasial dari menulis ? Ketika pertamakali saya menekuni dunia jurnalis, saya masih tetap mengajar di sebuah PT sasta di Denpasar. Tapi karena banyak kesempatan yang saya dapatkan dari dunia kewartawanan, saya tidak bisa membagi waktu lagi mengambil dua kerjaan. Hasilnya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri di kampus. Saya sempat berpikir dan ragu, apakah dari penghasilan sebagai wartawan cukup untuk hidup. Tapi karena saya menyukai dunia tulis menulis, saya pastikan tidak menyesal. Memang honor yang saya terima tidak seberapa, tapi saya merasa menjadi lebih bergairah dan mendapat wawasan luas setelah menjadi wartawan. Jadi saya tidak menyesal menekuni dunai jurnalis.
G.Angdaga :
Saya sangat setuju dengan pendapat saudara Shofyankhasani yang mengatakan bahwasanya suatu bidang pekerjaan, apabila ditekuni akan menghasilkan suatu keuntungan berupa materi, walaupun awalnya kita melakukannya bukan untuk itu. Sepanjang pengamatan dan pengalaman saya, orang yang mendedikasikan dirinya pada suatu bidang tertentu, hidupnya berkecukupan. Selain contoh-contoh penulis sukses yang rekan-rekan sebutkan, ada banyak contoh lain dalam bidang yang berbeda, yang bisa kita jadikan sebagai panutan. Misalnya pengalaman teman saya yang berprofesi sebagai tukang jahit pakaian.
Secara singkat saya akan menceritakan kesuksesan teman saya ini.Awalnya teman saya mendirikan usahanya dengan ala kadarnya, namun kini dirinya mampu mempekerjakan empat orang karyawan untuk membantunya. Selain itu dia sudah mampu membeli mobil dan menyewa tempat tinggal yang layak untuk dirinya sekaligus untuk menjalankan usahanya. Ketika saya menanyakan apa rahasia kesuksesannya, dia menjawab bahwa dirinya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pelanggannya. Walupun memberikan yang terbaik itu harus mengorbankan keuntungannya. Contohnya pernah ia mendapati pelanggannya kecewa karena hasil jahitannya tidak sesuai dengan keinginan si pelanggan (teman saya pada saat itu tidak mengikuti trend atau mode pakaian pada saat itu), padahal si pelanggan telah membayar ongkos jahitannya. Karena merasa bersalah, teman saya akhirnya bersedia mengganti hasil jahitannya tanpa si pelanggan harus membayar ongkos penggantinya termasuk kain yang dipesan pelanggannya. Pengalaman inilah yang mengajarkan teman saya ini bahwa dirinya harus selalu mengikuti trend pakaian saat ini, agar hasil jahitannya tidak monoton. Bahkan teman saya pernah membuat pakaian dengan mode hasil kreatifitasnya sendiri, dan ternyata disukai oleh pelanggannya. Ketekunannya untuk selalu kreatif dalam menjalankan usahanya inilah yang akhirnya membuat teman saya hidup berkecukupan. Begitu juga halnya dengan pekerjaan menulis, saya yakin apabila kita menekuninya dengan sungguh-sungguh dan disertai dengan kreatifitas, maka akan mendatangkan keuntungan berupa materi.
Sebagai masukan, saya pernah membaca sebuah buku mengenai tips dan trik menjadi penulis yang sukses (maaf, saya lupa nama penulisnya, penulisnya berasal dari negara Amerika serikat), penulis menemukan fakta bahwasanya manusia sangat menyukai hal-hal yang praktis (instan atau cepat) dan tidak menyukai sesuatu yang bertele-tele. Oleh sebab itu diciptakanlah teknologi-teknologi untuk mempermudah pekerjaan manusia.
Sama halnya dengan membaca buku. Hasil surveynya mengatakan bahwasanya pembaca cenderung lebih menyukai buku yang tipis walupun bersambung daripada membaca buku yang tebal tapi langsung tamat. Itu sebabnya kita sering menemukan buku berjudul sama tapi edisi-nya berbeda (ada edisi ke satu dan ada edisi ke dua, atau ada edisi pemula dan ada edisi lanjutan).
Demikianlah pendapat saya ini, apabila ada kata-kata yang saya yang salah saya mohon maaf dan kepada Allh SWT saya mohon ampun.
H. Qahar ( http://qah4r.blogspot.com ) :
Sebelum kaya, bisa menulis buku kemudian diterbitkan saja sudah senang rasanya. Mungkin, untuk seorang mahasiswa seperti saya, menulis menjadi suatu impian yang idealis. Membagi ide dan pengetahuan dengan pembaca. Membuka dan terbuka untuk menerima kritikan tentang ide-ide kita sendiri.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwasanya reward berupa uang-pun sering diharapkan. Biasanya saya semakin rajin nulis, untuk di kirim ke koran meskipun jarang dimuat, kalo dah hampir akhir bulan. Saat-saat keuangan mulai menipis.
Menjadi penulis memang suatu tantangan, terlebih memberikan tulisan yang dibutuhkan oleh kondisi saat ini. Tidak hanya tantangan dalam ide tapi juga dalam diri sendiri yang kadang2 ga bisa fokus. Sementara, cukup banyak penulis yang serius namun tidak cukup mendapatkan ruang hingga dapat dibaca oleh masyarakat. Akan tetapi menurut saya, penulis tetaplah penulis. Ia kaya karena tiap susunan kata yang dituliskannya, karena sejarah akan mengenang namanya. Karena dimasa depan, sadar ataupun tidak, zaman dibentuk diatas pilar-pilar ide-nya.
I. Delzacca ( http://delryo.blogspot.com ) :
Sekarang dunia menulis bagi saya masih sebatas media menumpahkan ide-ide yang terus bermunculan manakala ada kejadian, berita atau apapun yang ‘mengganggu’ pikiran saya. Karena itu, ada orang yang sudi membaca dan mengomentarinya saja suatu kebahagiaan bagi saya. Yang berarti tulisan saya dihargai.
Tapi jika tulisan saya suatu hari nanti ada yang ‘menghargai’ dalam arti materi, tentunya saya akan lebih serius menjalaninya tidak hanya sebatas menumpahkan ide. Karena saya yakin sesuatu yang dilakukan dengan serius pasti akan mendapatkan penghargaan yang lebih.
J. bsetiawan55 ( http://360.yahoo.com/bsetiawan55 ):
Menurut saya jalan keluar dari persoalan ini adalah meningkatkan jumlah copy yang terjual. Dalam perhitungan di atas, diasumsikan hanya 500 dan 1000 copy saja.
Kalau sumber persoalannya di dalam diri kita, artinya kita harus meningkatkan kualitas tulisan kita. Atau, kita harus lebih mendekati apa yang diinginkan oleh pembaca. Dengan demikian bisa diharapkan lebih banyak lagi orang yang membeli buku tulisan kita. Bisa juga persoalannya ada di luar kendali kita. Misalnya, sudah cukup menyebarkah toko buku kita? Mal dan plaza memang dibangun di mana-mana. Tapi apakah selalu ada toko buku disana? Belum tentu. Jadi bagaimana masyarakat mau beli buku, kalau tidak ada toko buku dalam jangkauan mereka.
Saya pernah berkunjung ke kota Pekalongan yang katanya banyak menghasilkan orang pinter. Tapi saya punya kesan disana tidak banyak tersedia toko buku yang serius. Seorang penjaga satu toko buku menjelaskan bahwa ada toko buku lain di jalan Anu. Lalu saya bilang bahwa saya perlu peta kota Pekalongan supaya saya bisa mencapai toko buku lain itu. Dan ternyata peta kota pun tidak ada. Itu mengenai pasar di dalam negeri. Sebenarnya kita juga bisa menggarap pasar luar negeri. Sebagaimana diketahui di negara Malaysia, Brunei dan Singapura terdapat populasi penduduk Melayu berpenghasilan besar, dalam jumlah yang cukup banyak. Tetapi tentu bahasa yang dipakai untuk menulis harus lebih cenderung ke bahasa daerah di Sumatera, bukan cenderung ke bahasa daerah di P. Jawa. Bahasa daerah di P. Sumatera lebih mirip dengan bahasa Melayu yang dipakai di ketiga negara tetangga itu.

TATA CARA DAN PROSEDUR MENDAFTARKAN HAK CIPTA - Untuk Karya Novel dan Karya Tulis Lainnya

Sebagai seorang penulis, Anda tentu ingin agar karya tulis Anda bisa diterbitkan oleh perusahaan penerbit dan buku karya tulis Anda beredar secara luas dan dibaca oleh banyak orang serta Anda bisa memperoleh perlindungan dalam hal hak cipta. Untuk itulah Anda perlu tahu tentang bagaimana sih prosedur dan tata cara pengurusan hak cipta guna melindungi karya tulis Anda dari bahaya pembajakan. Berikut ini tulisan dari salah seorang penulis anggota Forum Penulis Kota Malang yang ingin berbagi pengalamannya dengan Anda.

Tahapan pendaftaran hak cipta:
1. Pembayaran permohonan hak cipta atas karya sebesar Rp.75.000,- melalui transfer ke no rekening BNI 19718067 a/n DITJEN HAKI. Bukti tranfernya difoto copy
2. Legalisir foto copy ktp dua lembar
3. Bila anda menggunakan nama samaran dalam karya anda sertakan surat pernyataan bahwa anda menggunakan nama samaran dan cantumkan juga nama asli anda sesuai ktp
4. Bila anda mencantumkan foto dalam karya anda sertakan surat pernyataan bahwa anda
5. Kunjungi situs www.DGIP.GO.ID klik hak cipta dan print out formulir pendaftaran lalu isi lengkap formulir (diketik)
6. Print out karya anda sebanyak dua kali ( jilid buku) dan simpan karya juga data diri anda dalam bentuk cd sebanyak dua buah cd
7. Kirimkan persyaratan dibawah ini kepada :

DITJEN HAKI (Untuk Direktur Hak Cipta)
Jl. Daan Mogot KM 24 Tanggerang 15119 Banten
Catatan : Hak cipta secara resmi baru bisa dikeluarkan setelah 9 bulan semenjak pendaftaran.

Persyaratan yang dikirimkan:
1. Foto copy transfer bukti pembayaran satu lembar
2. Legalisir foto copy ktp dua lembar
3. Surat pernyataan penggunaan nama samaran
4. Surat izin penggunaan foto (jika mencantumkan foto dalam karya anda)
5. Formulir pendaftaran rangkap dua
6. Dua lembar print out karya
7. Dua buah cd berisi file karya dan data diri anda

Tata cara penerbitan :
· Daftar karya anda ke hak cipta
· Kirimkan karya ke penerbit yang berisi:
· Print out satu lembar dan satu buah CD berisi :
1. Naskah
2. Biodata
3. Kata pengantar/special to (jika ada)

Tanya Jawab mengenai Hak Cipta*
*) Tulisan ini disadur dari situs www.dgip.go.id

Kekayaan Intelektual = Hak Cipta

Apakah Hak Cipta itu ?
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.

Apakah yang dimaksud dengan pengumuman?
Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat di baca, didengar atau dilihat orang lain.

Apakah yang dimaksud dengan perbanyakan?
Perbanyakan adalah penambahan jumlah suatu ciptaan baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk pengalihwujudan secara permanen atau temporer.

Apakah yang dimaksud dengan pencipta?
Yang dimaksud dengan pencipta adalah :
Seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.

Siapakah yang dianggap sebagai pencipta atau pemegang hak cipta terhadap suatu ciptaan?
1. Jika suatu ciptaan terdiri dari beberapa bagian tersendiri yang diciptakan dua orang atau lebih maka yang dianggap sebagai pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan itu, atau jika tidak ada orang itu, yang dianggap sebagai pencipta ialah orang yang menghimpunnya, dengan tidak mengurangi hak cipta masing-masing atas bagian ciptaannya.
2. Jika suatu ciptaan yang dirancang seseorang, diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang, maka penciptanya adalah orang yang merancang ciptaan itu.
3. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam lingkungan pekerjaannya, pemegang hak cipta adalah pihak yang untuk dan dalam dinasnya ciptaan itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak pembuat sebagai penciptanya apabila penggunaan ciptaan itu diperluas keluar hubungan dinas.
Ketentuan tersebut berlaku pula bagi ciptaan yang dibuat pihak lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam hubungan dinas.
4. Jika suatu ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, maka pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai pencipta dan pemegang hak cipta, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak.
5. Jika suatu badan hukum mengumumkan bahwa ciptaan berasal daripadanya dengan tidak menyebut seseorang sebagai penciptanya, maka badan hukum tersebut dianggap sebagai penciptanya, kecuali jika dibuktikan sebaliknya.

Apakah yang dimaksud dengan pemegang hak cipta?
Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta atau pihak yang menerima hak tersebut dari pencipta atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak tersebut di atas.

Apakah yang dimaksud dengan ciptaan?
Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni atau sastra.
Apakah suatu ciptaan perlu didaftarkan untuk memperoleh perlindungan hak cipta?
Perlindungan suatu ciptaan timbul secara otomatis sejak ciptaan itu diwujudkan dalam bentuk yang nyata.Pendaftaran ciptaan tidak merupakan suatu kewajiban untuk mendapatkan hak cipta. Namun demikian, pencipta maupun pemegang hak cipta yang mendaftarkan ciptaannya akan mendapatkan surat pendaftaran ciptaan yang dapat dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan pelaku?
Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari atau mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra, foklor atau karya seni lainnya.

Apakah yang dimaksud dengan produser rekaman suara?
Produser rekaman suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman suara atau perekaman bunyi lainnya.

Apakah yang dimaksud dengan lembaga penyiaran?
Lembaga penyiaran adalah organisasi penyelenggara siaran yang berbentuk badan hukum, yang melakukan penyiaran atas suatu karya siaran dengan menggunakan transmisi dengan atau tanpa kabel atau melalui sistem elektromagnetik.

Apakah lisensi itu?
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait, kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu.

Apakah dewan hak cipta itu dan apa tugasnya?
Dewan hak cipta adalah dewan yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden berdasarkan usulan Menteri Kehakiman yang memberikan penyuluhan, bimbingan dan pembinaan tentang hak cipta. Dewan ini anggotanya terdiri atas wakil pemerintah, wakil organisasi profesi, dan anggota masyarakat yang memiliki kompetensi di bidang hak cipta.

Sebutkan dasar perlindungan hak cipta!
Undang-undang Hak Cipta (UUHC) pertama kali diatur dalam Undang-undang No.6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Kemudian diubah dengan Undang-undang No.7 Tahun 1987. Pada tahun 1997 diubah lagi dengan Undang-undang No.12 Tahun 1997. Di tahun 2002, UUHC kembali mengalami perubahan dan diatur dalam Undang-undang No. 19 Tahun 2002.Beberapa peraturan pelaksana yang masih berlaku yaitu :
· Peraturan Pemerintah RI No.14 Tahun 1986 Jo Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1989 tentang Dewan Hak Cipta;
· Peraturan Pemerintah RI No.1 Tahun 1989 tentang Penerjemahan dan/atau Perbanyak Ciptaan untuk Kepentingan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Penelitian dan Pengembangan;
· Keputusan Presiden RI No.18 Tahun 1997 tentang Pengesahan Berne Convention For The Protection of Literary and Artistic Works;
· Keputusan Presiden RI No.19 Tahun 1997 tentang Pengesahan WIPO Copyrights Treaty;
· Keputusan Presiden RI No.17 Tahun 1988 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta atas Karya Rekaman Suara antara Negara Republik Indonesia dengan Masyarakat Eropa;
· Keputusan Presiden RI No.25 Tahun 1989 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat;
· Keputusan Prcsiden RI No.38 Tahun 1993 tentang Pengesahan Persetujuan Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Australia;
· Keputusan Presiden RI No.56 Tahun 1994 Mengenai Perlindungan Hukum Secara Timbal Balik Terhadap Hak Cipta antara Republik Indonesia dengan Inggris;
· Peraturan Menteri Kehakiman RI No. M.01-HC.O3.01 Tahun 1987 tentang Pendaftaran Ciptaan;
· Keputusan Menteri Kehakiman RI No. M.04.PW.07.03 Tahun 1988 tentang Penyidikan Hak Cipta;
· Surat Edaran Menteri Kehakiman RI No. M.01.PW.07.03 Tahun 1990 tentang Kewenangan Menyidik Tindak Pidana Hak Cipta;
· Surat Edaran Menteri Kehakiman RI No. M.02.HC.03.01 Tahun 1991 tentang Kewajiban Melampirkan NPWP dalam Permohonan Pendaftaran Ciptaan dan Pencatatan Pemindahan Hak Cipta Terdaftar.

Apakah hak cipta itu dapat dialihkan?
Hak cipta dapat dialihkan baik seluruhnya maupun sebagian karena :
· pewarisan;
· hibah;
· wasiat;
· perjanjian tertulis; atau
· sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

Ciptaan apa saja yang dilindungi oleh UUHC?
Ciptaan yang dilindungi ialah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra yang meliputi karya :
· buku, program komputer, pamflet, susunan perwajahan(lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain;
· ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
· alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
· ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
· drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomim;
· seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan;
1. arsitektur;
2. peta;
3. seni batik;
4. fotografi;
5. sinematografi;
6. terjemahan, tafsiran, saduran, bunga rampai dan karya lainnya dari hasil pengalihwujudan.

Bagaimanakah hak cipta atas hasil kebudayaan rakyat atau atas ciptaan yang tidak diketahui penciptanya?
· Negara memegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah dan benda budaya nasional lainnya;
· Negara memegang hak cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi dan karya seni lainnya.

Bagaimana posisi Indonesia di bidang hak cipta di dunia internasional?
Indonesia saat ini telah meratifikasi konvensi international di bidang hak cipta, yaitu :
· Berne Convention tanggal 7 Mei 1997 dengan Keppres No.18 Tahun 1997 dan dinotifikasikan ke WIPO pada tanggal 5 Juni 1997, Berne Convention tersebut mulai berlaku efektif di Indonesia pada tanggal 5 September 1997;
· WIPO Copyrights Treaty (WCT) dengan Kepres No. 19 Tahun 1997.
Kini, pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan peratifikasian WIPO Performances and Phonogram Treaty (WPPT) 1996.

Hak Moral dan Hak Ekonomi
Apakah yang dimaksud dengan hak moral dan hak ekonomi atas suatu ciptaan?
Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang tidak dapat dihilangkan atau dihapus dengan alasan apapun, walaupun hak cipta atau hak terkait telah dialihkan.
Hak ekonomi adalah hak hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan serta produk hak terkait.
Apakah yang dimaksud dengan hak terkait?
Hak terkait adalah hak eksklusif yang berkaitan dengan hak cipta yaitu hak eksklusif bagi pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukkannya; bagi produser rekaman suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi lembaga penyiaran untuk membuat, memperbanyak atau menyiarkan karya siarannya.

Jangka Waktu Perlindungan
Berapa lama perlindungan atas suatu ciptaan?
Hak cipta atas ciptaan:
· buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lain;
· drama atau drama musikal, tari, koreografi;
· segala bentuk seni rupa, seperti seni lukis, seni patung dan seni pahat;
· seni batik;
· lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
· arsitektur;
· ceramah, kuliah pidato dan ciptaan sejenis lain;
· alat peraga;
· peta;
· terjemahan, tafsir, saduran dan bunga rampai;
berlaku selama hidup pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah pencipta meninggal dunia. Jika dimiliki 2 (dua) orang atau lebih, hak cipta berlaku selama hidup pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun sesudahnya.

Hak cipta atas ciptaan:
· program komputer, sinematografi, fotografi, database, karya hasil pengalihwujudan berlaku selama 50(lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan;
· Perwajahan karya tulis yang diterbitkan berlaku selama 50(lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan;
Jika hak cipta atas ciptaan tersebut di atas dimiliki atau dipegang oleh suatu badan hukum, hak cipta berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan.

Hak cipta yang dimiliki/dipegang oleh Negara berdasarkan:
· Pasal 10 ayat (2) UUHC berlaku tanpa batas waktu;
· Pasal 11 ayat (1) dan ayat (3) UUHC berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan.

Pendaftaran Ciptaan
Ciptaan apakah yang tidak dapat didaftarkan?
· ciptaan di luar bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra;
· ciptaan yang tidak orsinil;
· ciptaan yang tidak diwujudkan dalam suatu bentuk yang nyata;
· ciptaan yang sudah merupakan milik umum;

Bagaimana syarat-syarat permohonan pendaftaran ciptaan?
(Bagan Prosedur Permohonan Pendaftaran Hak Cipta maupun Format isian Formulir Pendaftaran , bisa dilihat di halaman lampiran majalah digital Forum Penulis Kota Malang / FPKM E-zine Edisi Januari 2007 yang bisa didownload di halaman download majalah digital FPKM).
· Mengisi formulir pendaftaran ciptaan rangkap dua (formulir dapat diminta secara cuma-cuma pada kantor Ditjen HKI), lembar pertama dari formulir tersebut ditandatangani di atas meterai Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah);
· Surat permohonan pendaftaran ciptaan mencantumkan:
1. nama, kewarganegaraan dan alamat pencipta;
2. nama, kewarganegaraan dan alamat pemegang hak cipta; nama, kewarganegaraan dan alamat kuasa; jenis dan judul ciptaan;
3. tanggal dan tempat ciptaan diumumkan untuk pertama kali;
4. Uraian ciptaan rangkap 3;
· Surat permohonan pendaftaran ciptaan hanya dapat diajukan untuk satu ciptaan;
· Melampirkan bukti kewarganegaraan pencipta dan pemegang hak cipta berupa fotocopy KTP atau paspor;
· Apabila pemohon badan hukum, maka pada surat permohonannya harus dilampirkan turunan resmi akta pendirian badan hukum tersebut;
· Melampirkan surat kuasa, bilamana permohonan tersebut diajukan oleh seorang kuasa, beserta bukti kewarganegaraan kuasa tersebut;
· Apabila permohonan tidak bertempat tinggal di dalam wilayah RI, maka untuk keperluan permohonan pendaftaran ciptaan ia harus memiliki tempat tinggal dan menunjuk seorang kuasa di dalam wilayah RI;
· Apabila permohonan pendaftaran ciptaan diajukan atas nama lebih dari seorang dan atau suatu badan hukum, maka nama-nama pemohon harus ditulis semuanya, dengan menetapkan satu alamat pemohon;
1. Apabila ciptaan tersebut telah dipindahkan, agar melampirkan bukti pemindahan hak;
2. Melampirkan contoh ciptaan yang dimohonkan pendaftarannya atau penggantinya;
3. Membayar biaya permohonan pendaftaran ciptaan sebesar Rp. 75.000, khusus untuk permohonan pendaftaran ciptaan program komputer sebesar Rp. 150.000;
Dalam hal apa suatu pendaftaran ciptaan dinyatakan hapus?
Dalam Pasa1 44 UUHC disebutkan bahwa kekuatan hukum dari suatu pendaftaran ciptaan hapus karena:
· penghapusan atas permohonan orang, suatu badan hukum yang namanya tercatat sebagai pencipta atau pemegang hak cipta;
· lampau waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, 30, dan 31 dengan mengingat Pasal 32;
· dinyatakan batal oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pelanggaran Hak Cipta
Perbuatan apa yang dimaksud dengan pelanggaran hak cipta?
Suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai suatu pelanggaran hak cipta apabila perbuatan tersebut melanggar hak eksklusif dari pencipta atau pemegang hak cipta.
Perbuatan apa yang tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta?
Tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta, hal-hal sebagai berikut:
· Pengumuman dan/atau perbanyakan Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
· Pengumuman dan/atau perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan dan/atau diperbanyak oleh atau atas nama pemerintah, kecuali jika hak cipta itu dinyatakan dilindungi, baik dengan peraturan perundang-undangan maupun dengan pernyataan pada ciptaan itu sendiri atau ketika ciptaan itu diumumkan dan/atau diperbanyak; atau
· Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, lembaga penyiaran dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap.
· Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan :
1. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta;
2. Pengambilan ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan:
· pembelaan di dalam atau di luar pengadilan;
· ceramah yang semata2 untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
· pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pencipta.
3. Perbanyakan suatu ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra, kecuali jika perbanyakan tersebut bersifat komersial;
4. Perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer, secara terbatas dengan cara atau alat apapun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan dan pusat dokumentasi yang bersifat non komersial semata-mata untuk keperluan aktifitasnya;
5. Perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur, seperti ciptaan bangunan;
6. Pembuatan salinan cadangan suatu program komputer oleh pemilik program komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri.
Apakah yang dapat pencipta atau pemegang hak cipta lakukan jika ada pihak yang melakukan pelanggaran ?
· Mengajukan permohonan Penetapan Sementara ke Pengadilan Niaga dengan menunjukkan bukti-bukti kuat sebagai pemegang hak dan bukti adanya pelanggaran Penetapan Sementara ditujukan untuk :
1. mencegah berlanjutnya pelanggaran hak cipta, khususnya mencegah masuknya barang yang diduga melanggar hak cipta atau hak terkait ke dalam jalur perdagangan, termasuk tindakan importasi;
2. menyimpan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran hak cipta atau hak terkait tersebut guna menghindari terjadinya penghilangan barang bukti.
· Mengajukan gugatan ganti rugi ke pengadilan niaga atas pelanggaran hak ciptanya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil perbanyakannya.
Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan pengumuman dan/atau perbanyakan ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran hak cipta (putusan sela).
· Melaporkan pelanggaran tersebut kepada pihak penyidik POLRI dan/atau PPNS DJHKI.
Bagaimana pengaturan tentang ketentuan pidana dalam undang-undang hak cipta ?
Tindak pidana bidang hak cipta dikategorikan sebagai tindak kejahatan dan ancaman pidananya diatur dalam Pasal 72 yang bunyinya :
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidanan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu program komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 19 atau Pasal 49 ayat (3) dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah);
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah)
· Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah);
Siapa yang berwenang melakukan penyidikan tindak pidana di bidang hak cipta?
Selain penyidik pejabat Polisi Negara RI juga pejabat pegawai negeri tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan hak cipta (Departemen Kehakiman) diberi wewenang khusus sebagai penyidik, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang hak cipta.

UU dan PP - Undang undang dan Peraturan yg berhubungan dengan Hak Kekayaan Intelektual

Undang Undang
· Paten
· Merek
· Hak Cipta
· Desain Industri
· Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
· Rahasia Dagang

Peraturan Pemerintah
· Bidang Paten
· Bidang Merek
· Bidang Hak Cipta
· Bidang Desain Industri
· Bidang Konsultan HKI

Keputusan Presiden
HKI / Umum
· Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 189 Tahun 1998 tentang Pencabutan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1986 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden no. 26 Tahun 1995 (29 Oktober 1998).

Peraturan Menteri
Bidang Hak Cipta
· Peraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01-HC.03.01 Tahun 1987 tanggal 26 Oktober 1987 tentang Pendaftaran Ciptaan.

Keputusan Menteri
HKI / Umum
· Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI Nomor M.11.PR.07.06 Tahun 2003 tentang Penunjukan Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan HAM RI untuk Menerima Permohonan Hak Kekayaan Intelektual (04 November 2003).

Keputusan Direktur Jenderal HKI
· Keputusan Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Nomor H-17-PR.09.10 Tahun 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pendaftaran Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (1 Maret 2005).
· Keputusan Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Nomor H-01.PR.07.06 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penerimaan Permohonan Hak Kekayaan Intelektual melalui Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (23 April 2004).

TIPS DAN CARA MENERBITKAN KUMPULAN MAKALAH, SKRIPSI, TESIS, DISERTASI Menjadi BUKU POPULER

“Apa yang kita tulis akan terukir abadi sepanjang masa.
Apa yang kita ucap akan sirna bersama pusaran waktu.”

Kenapa Karya Perlu Dibukukan?
· Memperkaya khasanah keilmuan
· Membagi ilmu pengetahuan kepada publik pembaca
· Membangun tradisi menulis dalam mengantisipasi bahaya ‘anomali’ sebagai efek tradisi lisan
atau perjuangan melawan Lupa
· Mudah mendapatkan pengakuan intelektual dalam segala konteks.
· Kepuasan Intelektual & motivasi edukasi.
· Mendapatkan keuntungan finansial dengan cara yang halal, wajar dan mendidik. (dst).

Karya Apa Saja Yang Bisa DiBukukan?
Banyak buku (Sastra maupun ilmiah) di toko2 yang awalnya adalah naskah yang diramu dari:
· Kumpulan Makalah atau Artikel.
· Skripsi/ Tesis/ Disertasi.
· Catatan Harian di buku Diary
· Hasil Penelitian Ilmiah.
· Dst.

Bagaimana Proses Dari Naskah Menjadi Kemasan Buku?
· Bermitra dengan Penerbit yang berpengalaman dan transparan.
· Naskah diedit mulai dari pilihan judul hingga penyajian isi.
· Desain Cover, LayOut naskah dan Pemeriksaan Aksara oleh editor.
· Permohonan kode ISBN dari Perpustakaan Nasional.
· Proses Produksi, dan siap beredar sesuai kehendak anda.

Umumnya ada tiga jenis kerjasama dengan Penerbit: 1) Produksi buku dibiayai total oleh Penerbit dengan kompensasi royalty bagi Penulisnya, 2) Biaya Produksi ditangani secara bersama-sama. Dan 3) semua anggaran Produksi ditanggung penulisnya dan penulis bebas menentukan segala distribusi buku. Penerbit sebatas pada ‘menyulap’ naskah anda hingga menjadi buku yang siap ‘saji’ dan memiliki ISBN.

Menerbitkan Karya Sendiri, Kenapa Tidak?
Menerbitkan sendiri karya tulis sudah menjadi trend para penulis akhir-akhir ini. Selain karena kita bisa melepaskan diri dari ikatan kontrak dengan penerbit yang sering tidak adil, juga kita bisa mendapatkan kewenangan penuh atas naskah kita dan memungkinkan bagi kita untuk mendapatkan keuntungan finansial yang lebih besar dari sekedar royalti.

Ketika DOSEN & GURU Berkarya;

Trend Pendidik Masa Depan.
Para Dosen atau Guru pasti memiliki banyak naskah tulisan yang menjadi materi pengajarannya. Alangkah lebih baiknya kalau materi pengajaran tersebut dibukukan dan menjadi reverensi pendidikan untuk bidang studi yang diajarkan. Baik berupa kumpulan makalah maupun sebuah materi khusus yang terkait bidang studi tertentu. Contoh sederhana Menciptakan Buku bagi seorang pendidik:
Seorang Dosen memiliki sebuah naskah tesis seputar Sejarah Akuntansi Modern dan sering dia jadikan sebagai draft reverensi perkuliahan. Lalu naskah itu diterbitkan dalam kemasan buku dan memiliki ISBN. Katakanlah Dosen tersebut mengeluarkan anggaran produksi Rp 8. 000,- per buku untuk 500 eksamplar buku yang diproduksi.
Karena buku tersebut sesuai dengan materi kurikulum, maka karya tulis itu bisa didistribusikan di berbagai toko buku lewat agent resmi atau ditawarkan kepada para mahasiswa dengan harga yang di bawah standar harga toko buku. Antara rasio ongkos produksi, harga standar toko yang mahal dan jumlah aset (buku) memungkinkan bagi penulis untuk mendapatkan dua keuntungan: meringankan beban pembaca melalui pemberian harga di bawah standar dan mendapatkan keuntungan langsung yang bisa digunakan untuk mencetak lagi naskah anda yang lain…
Cara di atas berlaku bagi akademisi/ pendidik dan siapapun, dan temanya bebas: Sejarah, Politik, Medis,Hukum, Ekonomi, Pariwisata, Seksologi, Lingkungan, Budaya, Sastra dst…

“Menerbitkan langsung karya sendiri adalah langkah yang paling strategis dan menguntungkan yang jarang diungkap dalam industri penerbitan buku di Indonesia.”

TULIS DAN TERBITKANLAH KARYA ANDA

a. Semua Orang Adalah Penulis.

Banyak sekali orang yang mengeluh tentang susahnya menuangkan isi pikiran ke dalam bentuk tulisan. Sementara, pada saat yang sama ia biasa menulis surat, mengisi buku diary, menyusun laporan, skripsi, tesis, disertasi dst. Menulis merupakan sesuatu yang mudah dilakukan apalagi diirngi dengan banyak membaca buku dan rutin mencatat apa saja yang ingin kita tulis. Berarti, menulis (mengarang) itu bukanlah monopoli mereka yang berbakat.
Semua orang yang pernah mengenyam dunia pendidikan pasti pernah menulis yang berarti kalau ia rajin mendokumentasikannya, ia memiliki naskah yang pada satu waktu bisa diterbitkan. Bisa berupa naskah sastra (puisi, cerpen, novel), artikel, diktat kuliah ataupun skripsi dan tesis hingga disertasi. Kalau begitu, kenapa kita tidak berupaya menerbitkan gagasan kita untuk dibaca orang lain? Atau bila perlu masuk dalam bursa toko buku nasional?

b. Mudah Menerbitkan Karya Kita.
Katakanlah kita punya satu naskah (entah skripsi atau novel). Kita ingin menerbitkannya dan bila perlu harus masuk dalam bursa buku nasional. Bagaimana langkah-langkahnya?
Pertama, meng-edit naskah tersebut agar lebih populer dan ‘menjual’. Misalnya meringkas judulnya dengan lebih menarik dan mengolah isinya agar lebih menarik untuk dibaca umum. Kedua, bekerjasama dengan sebuah Penerbit yang pengalaman dalam dunia buku. Semisal sudah ada komitment dengan penerbit yang dimaksud, maka si penerbit akan me-LayOut naskah anda dalam bentuk isi buku, membuatkan desain cover dan menerbitkan nomor ISBN yang diajukan dari Perpustakaan Nasional di Jakarta.
Satu contoh print-out buku akan ditunjukkan pada anda dan jika anda puas pada hasilnya silahkan anda buat perjanjian dengan penerbit: apakah buku anda perlu dimasukkan dalam bursa buku? Jika ‘iya’, maka si penerbit akan menggandeng distributor dan dalam waktu dekat karya anda akan masuk di berbagai toko buku, serta bersiaplah buku tersebut dibedah di forum2 yang anda kehendaki.

c. Bagaimana Bentuk Kerjasama dengan Penerbit?
Umumnya ada tiga jenis kerjasama:
Pertama, karya anda akan diterbitkan atas biaya Penerbit dan anda hanya akan mendapatkan beberapa eksamplar buku dan beberapa % royalty dari hasil penjualan. Keuntungan dari kerjasama jenis ini anda tidak perlu keluar biaya tetapi anda mudah dicurangi terutama pada royalty. Kedua, naskah anda akan diterbitkan dengan biaya ‘patungan’ antara anda dengan penerbit. Keuntungannya anda berhak mendapatkan jatah buku lebih banyak (sesuai perjanjian) tetapi tetap terikat pada orientasi komersial penerbit.
Ketiga, naskah diterbitkan dengan biaya anda sendiri, penerbit hanya menjadi mitra yang mewujutkan agar naskah tersebut menjadi buku yang siap dibaca. Kelemahannya, anda akan mengeluarkan biaya, tetapi anda berhak total atas semua buku yang tercetak. Anda bebas menentukan berapa jumlah yang masuk toko buku dan penerbit fleksibel dalam mendapatkan konpensasi dari anda. Berdasarkan rasio anggaran produksi buku yang tergolong murah, kami sering mendapatkan mitra yang memilih model kerjasama yang terakhir itu. Dan dalam waktu yang singkat, si penulis biasanya mendapatkan modalnya kembali oleh saldo penjualan buku. “Apa yang kita tulis hari ini akan menjadi ukiran sejarah sepanjang masa. Siapa yang tidak menulis, akan sirna dalam perputaran sejarah manusia”
Aksara Tumapel (RATU) adalah sebuah Lembaga Penerbitan yang berbadan hukum Yayasan (Akte Nmr: 144/27-12-05) dan telah memiliki keanggotaan ISBN dari Perpustakaan Nasional RI dengan nmr: 979-25-2200-X. lembaga ini telah banyak menerbitkan buku Sastra dan Ilmiah yang telah beredar dalam pasar buku.

Bebas konsultasi seputar penerbitan buku dan dunia per-bukuan:
email: ratuaksara@plasa.com
Hp: 081.5555.6177 / 081.392.158.867.

AKSARATUMAPEL
Profesional & Transparant
Aksara Tumapel telah menerbitkan beberapa buku antara lain:
Wasiat Mpu Tantular; Kumpulan Artikel Budaya, karya: Drs. Peni Suparto, MAP, Walikota Malang (Sept’05). DiLauncing di Studio Mahameru TV lantai III Kantor Perpustakaan Umum kota Malang bulan Sept 2005.
Menyambut Tantangan Globalisasi; Sebuah Biografi & Gagasan Walikota Malang, karya: Liga Alam M (Ratu/ Jan’06). Dilauncing di STIE Malangkucecwara tanggal 10 Feb 2006.
Di Balik Ramalan Joyoboyo; Kumpulan Artikel Budaya, karya: Drs. Peni Suparto, MAP, Walikota Malang (Ratu, Juni ’06).
Tumbal Perawan Jenggala; Novel Sejarah karya: Liga Alam M (Ratu, Ags’06). Masuk di berbagai toko buku.
Buih-Buih Ombak; Novel Karya: Liga Alam M (Ratu Nop’05)
Segenggam Pasir; Sahabatku Di Meulaboh (kumpulan Cerpen pelajar kota Malang hasil lomba). Ratu, Juni 06.
Pelangi Di Taman Oval; Novel Remaja Karya: Liga Alam M (dalam proses percetakan)
Garuda Sang Bima. Novel Sejarah edisi revisi. Karya: Liga Alam M (dalam proses percetakan).

Aksara Tumapel juga sedang menerbitkan sebuah Majalah etnik RATU yang beredar setiap bulan di Malang Raya. Selain menerbitkan buku, RATU juga pernah mengadakan lomba cipta karya sastra (kategori Cerpen) tingkat pelajar se-kota Malang bekerja sama dengan Perpustakaan Umum kota Malang pada bulan Agustus 2005. Juga sebagai konseptor dan narasumber dalam Pelatihan Menulis Gratis tingkat Pelajar di Aula SMAN 1 Kota Tarakan Kaltim pada tanggal 15 April 2006. Untuk mensukseskan programnya, RATU bermitra dengan berbagai lembaga penerbitan Profesional yaitu: Grha Guru Jogjakarta.

TIPS - TIPS MENERBITKAN BUKU DARI PENERBIT ANDI

Persyaratan Penerbitan Naskah
Hubungan Antara Penulis dan Penerbit
Penulis dengan Penerbit memiliki kedudukan setara; secara umum Penulis memandang Penerbit bertindak sebagai intermediary karya-karya yang akan disampaikan kepada masyarakat, sedangkan Penerbit memandang Penulis sebagai aset penting perusahaan yang menyebabkan proses penerbitan tetap berlangsung.
Kepentingan apa di balik dorongan untuk menulis? Menulis dapat meningkatkan kredit point (bagi pengajar), meningkatkan kredibilitas, dan pemenuhan finansial. Hal tersebut yang memotivasi penulis untuk menghasilkan suatu karya yang berkualitas.

Apa kelebihan Penerbit ANDI dibanding penerbit lain?
• Buku ANDI telah memiliki Brand Name tersendiri di hati masyarakat.
• Memiliki jaringan distribusi yang luas.
• Memiliki mesin cetak sendiri sehingga hasil, kecepatan, dan kualitas dapat diatur dengan baik.
• Memiliki sistem royalti yang jelas, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan sinergi kerja sama antara Penulis dengan Penerbit akan diperoleh hasil berupa penerimaan masyarakat terhadap buku terbitan ANDI.

Bentuk Royalti Penerbit ANDI
Penerbit ANDI memberikan royalti sebagai berikut:
Besar royalti standar adalah 10%, dengan perhitungan: 10% x harga jual x oplah (potong pajak)
Mengingat Penerbit ANDI memiliki bentuk kerja sama yang beragam pada saluran distribusi pemasaran, maka perhitungan royalti adalah berdasarkan buku yang benar-benar telah terbayar lunas, dengan demikian buku yang sifatnya konsinyasi atau kredit belum dianggap sebagai buku laku. Dalam hal ini Penerbit ANDI akan selalu menjaga kejujuran dan kepercayaan bagi semua relasinya, ini semua karena nama baik sangat penting bagi Penerbit ANDI.

Bentuk Kerja Sama Penerbitan
Bentuk kerja sama penerbitan yang ditawarkan Penerbit ANDI mencakup:
Kerja sama Penerbit dengan Penulis; yaitu kerja sama antara Penerbit dengan Penulis secara individu untuk menerbitkan sebuah buku.
Kerja Sama Penerbit dengan Kelompok Penulis; yaitu kerja sama antara Penerbit dengan beberapa Penulis sekaligus untuk menerbitkan sebuah buku. Dalam kerja sama ini, Penulis wajib menunjuk satu orang dengan pemberian surat kuasa, untuk bertanggung jawab terhadap segala urusan administratif maupun non administratif yang berkaitan dengan penerbitan.
Kerja sama Penerbit dengan Lembaga; yaitu kerja sama antar Penerbit dengan sekelompok Penulis yang telah dikoordinasi oleh Lembaga/Institusi untuk menerbitkan sebuah buku. Dalam hal ini Penerbit hanya berhubungan dengan Lembaga/Institusi yang telah diberi kepercayaan oleh Penulis.

Kerja sama Umum
Kerja sama cetak. Penerbit hanya membantu dalam jasa percetakannya, seperti buku jurnal ilmiah dan sebagainya.
Kerja sama cetak dan penerbitan, Penerbit bekerja sama dengan Perorangan/Lembaga untuk menerbitkan sebuah buku dengan tanggungan biaya penerbitan bersama.

Prosedur Penerbitan Buku
Materi yang Harus Dikirim
Penulis harus mengirimkan ke Penerbit naskah final, bukan outline ataupun draft, yang disertai:
. Kata Pengantar
• Daftar Isi
• Daftar Gambar
• Daftar Tabel
• Daftar Lampiran
• Isi
• Daftar Pustaka
• Indeks
• Abstrak (sinopsis)
. Penjelasan perihal: pasar sasaran yang dituju, prospek pasar, manfaat buku ybs.
. Profil penulis, memberi keterangan singkat tentang penulis.

Penilaian Naskah
Penerbit menilai naskah dari berbagai aspek:

Aspek Ideologis
Apakah topik bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila, apakah topiknya akan meresahkan kondisi masyarakat seperti: politik, hankam, sara, sopan santun, harga diri, dll.

Aspek Keilmuan :
• Apakah topik yang dibahas merupakan topik baru bagi masyarakat, dan apakah masyarakat sudah siap menerima topik tersebut?
• Apakah naskah tersebut gagasan asli atau jiplakan?
• Terkait dengan akurasi data maka diperlukan sumber daftar pustaka yang lengkap.

Aspek Penyajian:
• Apakah sistematika kerangka pemikiran baik sehingga alur logika pemaparan mudah dipahami?
• Bahasa yang digunakan apakah komunikatif sesuai dengan jenis naskah dan sasaran pembaca?
• Apakah cara penulisannya sudah benar, yaitu menggunakan tata bahasa dan ejaan yang baku?
• Kelengkapan naskah secara fisik seperti kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, batang tubuh, daftar gambar, tabel, lampiran, index, daftar pustaka, sinposis, apakah sudah lengkap?
• Pengetikan menggunakan media dan alat apa, apakah tulis tangan, diketik manual, ketik komputer menggunakan software tertentu?
• Mutu gambar, tabel dan objek lain yang dipasang (capture) apakah layak atau masih harus diperbaiki lagi?
• Apakah urusan perizinan penggunaan gambar tertentu, izin terjemahan, izin pengutipan dll. sudah diselesaikan?

Aspek Pemasaran:
• Apakah tema naskah mempunyai pangsa pasar jelas dan luas sehingga buku akan dapat dan mudah diterima pasar?
• Apakah naskah memiliki selling point atau potensi jual tertentu, seperti judul, keindahan, bahasa, kasus aktual, dsb?
• Apakah ada buku sejenis yang beredar dan telah diterbitkan? Apa kelebihan naskah tersebut dibandingkan dengan buku lain?

Aspek Reputasi Penulis:
• Apakah penulis adalah tokoh, praktisi, dosen yang sangat diakui kepakarannya oleh masyarakat luas?
• Apakah buku-buku yang pernah diterbitkan mempunyai catatan keilmuan dan pemasaran yang baik?

Keputusan Menerima/Menolak Naskah

Untuk Apa dan Mengapa Penerbit Harus Menilai Naskah? Penerbit adalah suatu badan usaha yang bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk tujuan tersebut Penerbit mengusahakan, menyediakan, dan menyebarluaskan bagi khalayak umum, pengetahuan dan pengalaman hasil karya ilmiah para Penulis dalam bentuk sajian yang terpadu, rapi, indah, dan komunikatif, baik isi maupun kemasan fisik, melalui tata cara yang sesuai, dan bertanggung jawab atas segala risiko yang ditimbulkan oleh kegiatannya. Berdasarkan pengertian mengenai penerbitan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerbit tidak bermaksud untuk menghakimi hasil karya Penulis, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menghargai karya tersebut karena Penulis adalah “rekan sejawat” bagi Penerbit.
Penilaian naskah bukan untuk menjatuhkan vonis naskah baik atau buruk, layak terbit atau tidak. Langkah tersebut digunakan sebagai sarana untuk memperlancar proses penerbitan secara optimal.
Proses penilaian ini adalah proses standar penerbitan sehingga perlu ada komunikasi yang baik antara Penerbit dan Penulis. Dengan demikian tidak ada salah-pengertian bahwa Penerbit menganggap remeh Penulis atau Penulis merasa naskahnya sudah yang terbaik.

Keputusan Naskah
Setelah Penulis menyerahkan naskah, Penerbit memberikan keputusan melalui surat resmi kepada Penulis, apakah buku diterbitkan atau tidak. Untuk naskah yang diterima, Penerbit akan mengirim surat pemberitahuan resmi. Penulis wajib melengkapi kelengkapan naskah - softcopy. Untuk naskah yang ditolak, naskah akan dikembalikan kepada Penulis bersama dengan surat pemberitahuan penolakan penerbitan.

Pengiriman Softcopy: Disket atau CD
Softcopy naskah dikirim dapat dengan cara: Lewat pos/paket ditujukan ke:
Penerbit ANDI
Jl. Beo 38-40 Yogyakarta 55281
Telp (0274) 561881; Fax (0274) 588282

Datang langsung ke kantor Penerbit ANDI dan menemui bagian penerbitan ANDI.
Atau lewat email (Maksimal 1 Mb per kiriman):
penerbitan@andipublisher.com

Format Naskah
Format Naskah Siap Cetak
Format pengaturan naskah dapat menggunakan Template yang disediakan oleh Penerbit Andi. Format ini merupakan Template standar yang dapat disesuaikan dengan naskah yang sedang ditulis. Anda dapat meminta Template tersebut melalui e-mail, atau datang langsung ke Penerbit ANDI.

Format naskah standar siap cetak, adalah sebagai berikut:
Jenis huruf untuk teks isi: Bookman Old Style, New Century School Book atau Times New Roman 10/11 point.
Judul bab (Heading 1): font sama dengan teks isi, ukurannya diatur sedemikian rupa agar tampak menonjol dan serasi dengan ukuran 20 pt.
Judul sub-bab (Heading 2): font sama dengan teks, 18 point, capital, bold.
Judul sub-sub-bab (Heading 3): font sama dengan teks, 10 point, capital underline
Header dan Footer: menggunakan font yang berbeda, dapat divariasikan dalam style huruf bold atau italic.
Footnote : Font sama, 8 point; dapat menggunakan font lain yang serasi.
Alignment : Justified
Spacing : Before – 0, After – 0,6
Line Spacing : Single
Gambar-gambar tangkapan (capture) layar sebaiknya menggunakan format jpg. Gambar sebaiknya dikirimkan dalam file tersendiri yang di kumpulkan dalam sebuah folder gambar dan dilakukan link terhadap naskah.

Catatan: Segala bentuk aturan layout di dalam template adalah layout standar di Penerbit Andi, Anda dapat memodifikasi perwajahan buku Anda dengan terlebih dahulu melakukan konfirmasi dengan Penerbit.

Contoh Penomoran Halaman:
Halaman judul : i
Halaman Copyright : ii
Halaman Persembahan : iii
Kata Pengantar : v
Daftar Isi : vii
Halaman Isi
Pendahuluan (Bab I) : 1
Bab II : 3, 5, 7, 9, dst. (selalu halaman ganjil).

Ukuran Buku dan Area Cetak
Setelah Anda menentukan sistematika penulisan buku Anda, hal penting berikutnya adalah format buku yang akan Anda tulis. Format buku terdiri dari beberapa ukuran yaitu ukuran besar, standar, kecil, atau buku saku serta format spesial. Penentuan format ini akan berpengaruh terhadap ketebalan buku dan kedalaman materi yang Anda inginkan.

Format buku di Penerbit Andi:
Format Besar : 20 cm x 28 cm, 21,5 cm x 15,5 cm
Format Standar : 16 cm x 23 cm, 11,5 cm x 17,5 cm
Format Kecil : 14 cm x 21 cm, 10 cm x 16 cm
Buku Saku : 10 cm x 18 cm, 13,5 cm x 7,5 cm
Format Khusus

Banyak Penulis tidak memperhatikan format ini sehingga saat dilakukan pengaturan layout dan setting, beberapa bagian buku menjadi tidak sesuai dengan maksud Penulis. Ketidaksesuaian tersebut contohnya: proporsi gambar yang tidak benar, pemotongan kata yang tidak tepat (terutama pada listing program pada buku pemrograman), dan ketebalan buku yang tidak proporsional.

Catatan: Prosedur penerbitan ini sewaktu-waktu dapat berubah mengikuti perkembangan, situasi dan kondisi, untuk itu diharapkan Penulis dapat mengikuti informasi terbaru di Penerbit Andi. Template penulisan naskah bisa di download pada section “download” pada situs www.andipublisher.com .
(Disalin dari situs Penerbit Andi di internet www.andipublisher.com)

TIPS MENULIS - 11 CARA JADI PENULIS

Bagi kamu para teenager entah cowok apa cewek, daripada nganggur gak jelas, mendingan ikuti aja cara-cara jitu yang otomatis bikin kamu bisa hepi jadi penulis. Apalagi bagi kamu yang emang udah punya bakat alam jadi penulis. Tunggu apa lagi coba? Check this out !
1.The first, tekadkan diri kalo kamu bangga jadi penulis. It’s a must !
2.Cara kedua dengan ngelamun. Karena kebanyakan ide nongol saat kita lagi ngelamun.Tapi jangan suka keterusan, ya? Ato kalo gak dengerin curhatan temen aja. Kan bisa tuh dibikin cerita. Listen to the music ato mo lebih gampangnya lagi dari kisah diri kamu sendiri. Tentunya, cerita itu kudu seru dong !
3.Sebelum nulis, pilih jalur penulisan yang kamu kuasai : cerpen, cerbung, ato novel. Di dalam novel kamu juga mesti pilih jalur, lho. For example : teenlit, chiclit, metropop, preteen, roman, horor, dll.
4.Cari tempat dan alat yang nyaman buat menulis cerita. Bagi kamu yang gak punya komputer cukup di buku tulis aja.Tapi ntar kalo ngirimin ke penerbit harus di ketik komputer, lho. Kan sekarang banyak rental pengetikan. Tempat yang asik untuk yang gak punya komputer adalah : meja belajar dan tempat tidur. Trus bagi kamu yang punya komputer, tinggal tik ketik aja lagi. Keluarin deh semua uneg-uneg kamu.
5.Usahakan kegiatan tulis menulis bagi kamu yang masih skul di saat week end ato long holiday aja, biar gak ganggu konsentrasi belajar, maksudnya. Tapi kalo kamu bisa bagi waktu …….why not kalo tiap hari ?
6.Banyak orang bingung mo nulis kata pembuka cerita gimana. Padahal caranya banyak banget. Nih contohnya :
-Pada suatu hari ……..
-Di malam yang gelap ……..
-Di atas bukit nan jauh, Teletubbies, eh Just kidding = P
Ato langsung dibikin seperti ini :
•“Serius lo ?”
Kan kesan yang ditangkap para pembaca adalah mereka disuruh menyelidiki apa maksud terselubung dari kalimat tanya itu. Biar penasaran gitu…. Ato kamu mo bikin contoh yang lain ? That’s good idea.
7.Kalo kamu bikin cerpen, itu mah cepet banget selsenya. Tapi kalo kamu bikin novel, uhm …….dijaga aja mood-nya. Biar gak drop. Caranya, cukup nikmati aja pekerjaan kamu and jangan jadiin beban. Karena kalau kamu maksa-maksain diri, hasilnya malah bad banget !
8.Kalo Novel, sering kali kita bosen bikin lanjutan ceritanya. Tau sendirilah, novelkan tebelnya amit-amit. Therefore cara nyegerin kepala biar otak gak blank adalah refreshing ke manaaaaa gitu ato cari referensi dengan beli novel karya anak bangsa. Kan kita mesti cinta produk dalam negeri.
9.Bagi cerpen, cerita yang udah kamu buat sebarin ke temen-temen satu skul trus suruh baca dan kasih comment. Kalo tanggapan mereka bagus, coba kirim aja ke majalah-majalah remaja ato ke tabloid kesayangan kamu.
10.Bagi novel, usahakan saat kamu rekomendasiin itu novel ke temen-temen kamu ceritanya belum kelar. Biar mereka penasaran. Setelah banyak temen yang udah baca dan nyuruh kamu ngelanjutin ceritanya, lanjutin tu cerita, tapi setelah selse, jangan kasih liat mereka. Melainkan langsung kirimkan ke penerbit. Kalo ceritanya bagus dan memenuhi kriteria, pasti deh novel kamu diterbitin. Setelah terbit suruh temen-temen kamu beli novel itu. So, novel kamu bakalan laku dong karena mereka udah penasaran banget menantikan ending ceritanya hehehe… Uhm, yummy banget.
11.Setelah semua selse kamu lakuin. Udah deh, tinggal tunggu gimana reaksi masyarakat tentang novel/cerpen kamu. Bisa aja ada produser baca, trus dibikin film/sinetron kayak pengalamannya Dyan Nuranindya—Dealova, Maria Ardelia—Me vs High Heels, Rachmania Arunita—Eiffel I’m In Love, Esti Kinasih—Fairish, Ken Terate—My Friends, My Dreams, Aditya Mulya—Jomblo, Alberthine Endah—Detik Terakhir/Jangan Beri Aku Narkoba, dan Moammar Emka—Jakarta Undercover. Hmm….. makin tebel deh kantong kita. Kan enak bisa menuhin kebutuhan sendiri. Apa sih yang gak mungkin selama kita mau berusaha. Tapi inget tetep berdoa pada Tuhan YME, bantu orang tua dan bantu orang yang gak mampu.
Nah, caranya gampang banget, kan? Kalo bingung mo kirim karya kamu ke mana, nih, kuberi beberapa perusahaan penerbit buku populer yang bisa bikin mimpimu jadi nyata:
A. Gramedia Pustaka Utama
B. Gagas media
C. Kata Kita
D. Terrant Books
E. Grasindo
Udah jangan berkhayal mulu. Bikin mimpimu jadi nyata!!!!

TIPS MENULIS ARTIKEL

Menulis sebuah artikel adalah menyatakan ide/ pemikiran yang ada dalam otak kita. Agar tulisan yang telah kita buat dapat dimengerti orang lain dan bisa bermanfaat maka kita harus memperhatikan dua kunci penting dalam membuat artikel, yaitu: (1)Presentasi Akal Pikiran dan (2)Ekspresi Bahasa yang Benar dan Komunikatif.
1.Presentasi Akal Pikiran
Ide / gagasan yang dituangkan dalam artikel merupakan hasil proses:
•Perenungan
•Pengamatan
•Penelitian
•Penyelidikan
•Pengumpulan data
Semua proses di atas dilakukan dengan serius dan mendalam untuk menghasilkan buah pemikiran yang obyektif dan bermutu.
Perlu dihindari emosi yang berlebihan untuk menjamin standar ‘ilmiah’, demokratis dan tidak memvonis.
Tulisan yang terlalu sarat emosi, akan cenderung anarkis, provokativ dan akhirnya menutup kemungkinan adanya dialog dan sharing pemikiran.
Sumber gagasan dan fakta:
•Pemikiran orisinil penulis
•Referensi yang ada
•Inspirasi (sumber alternatif) setelah menyimak dan mempelajari sumber yang ada.
2.Ekspresi Bahasa uang Benar dan Komunikatif
Untuk bisa diterima pembaca, struktur bahasa yang sudah tepat (sesuai konteks, EYD) perlu dilengkapi dengan pemahaman penulis terhadap latar belakang pembaca:
•Segmentasi pemikiran
•Kultural
Jika range pembaca sangat beragam maka diperlukan standarbahasa umum yang bisa dimengerti pembaca : bahasa jurnalistik (berisi, efisien dan komunikatif).
Karakteristik Bahasa Populer Jurnalistik
a)Bahasa yang Terbatasi
Dibatasi ruang dan waktu. Dibutuhkan komunikasi yag cepat, kata dibuat seringkasa mungkin (ekonomis, hemat) dengan kemampuan mengkomunikasikan ide secara jelas dan efisien.
Kemampuan menjahit dan menghubungkan antara beberapa item tersebut dengan logika yang tepat dan bahasa yang akrab dan tidak angkuh menjadi penting dilakukan.
b)Bahasa yang Hemat tapi jelas
Penghematan bisa dilakukan dengan:
•Penggunaan 5w+1h
•Kelengkapan pemahaman penulis terhadap masalah
•Faktual dan konkret
•Analisa yang dinamis
•Ungkapan populer, aktual, jenaka (kalau perlu)
c)Pembakuan dan konsistensi ilmiah
Penulisan kata dalam sebuah tulisan hendaknya tetap sama meskipun salah.
Hal ini dibenarkan apabila setiap redaksi memiliki panduan pembakuan bahasa menurut ‘ijtihad’nya sendiri-sendiri.

AKU INGIN MENULIS !

Menulis bukan sekedar menebar karya sebagai pembuktian adanya kemampuan yang kita miliki. Akan tetapi sadarkah kita, bahwa dengan menulis ternyata dapat kita tangkap sebagai proses pengembangan pribadi. Tulisan-tulisan yang telah kita karyakan tak hanya memberikan kepuasan saat dimuat di sebuah koran, majalah ataupun tabloid yang dibaca publik. Jika kita mau menilik kembali dan mencermati secara keseluruhan apa yang telah kita tulis, kita juga akan dapat melihat bagaimana diri kita berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Tak hanya tulisan propagandis, politis atau semacam essay saja yang dapat menguak pribadi secara tak sadar, bahkan coretan pena berupa puisi dan cerpen pun dapat membawa kita memahami diri kita sendiri. Apa yang kita tuliskan mencerminkan bagaimana kita berpikir dan menyikapi suatu keadaan. Segala pengalaman yang pernah kita alami akan terabadikan dalam tulisan kita. Melalui tulisan kita dapat melihat dan memahami perilaku manusia yang tidak tampak, yaitu berpikir. Perlu disadari bahwa yang menjadi sumber dari segala perilaku dan tindakan kita adalah proses berpikir itu sendiri. Dengan demikian kita dapat mengetahui sejauh mana perkembangan pola anil kita dan apa yang perlu kita tingkatkan untuk menuju suatu pribadi yang utuh.
Tulisan merupakan potret ingatan, pengalaman dan pengetahuan yang telah kita miliki. Seperti yang sempat dikutip dari buku Pengalaman Menulis Buku Nonfiksi, “Aku menulis buku agar gambaran pribadiku tak Cuma luluh lantak binasa ditelan Sungai Sang Kala Tergurit di atas ingatan sahabat – handai – tolan” (Widarso, 2005). Melihat apa yang terjadi dalam diri kita, memahaminya, menjelajah apa kelemahan dan kelebihan diri kita, hingga kita menyadari diri kita apa adanya dan menggugah semangat kita untuk senantiasa menjadi lebih baik lagi.
Paling tidak, kita bisa menulis untuk orang lain dan untuk diri kita sendiri. Segala kritik dan komentar berarti penilaian orang lain terhadap diri kita. Tak perlu kita takut akan cemoohan dan cercaan orang lain, itulah cambuk bagi kita untuk memperbaiki apa yang telah kita buat dan kita lakukan. Semakin kita berusaha memperbaiki tulisan yang telah kita buat, ide-ide yang kita miliki juga akan semakin mengalami pengembangan.
Menulis menjadi sesuatu yang sangat mengesankan dari pribadi-pribadi yang telah menorehkan tintanya di atas lembar putih yang mereka pilih. Ide-ide yang mengalir dengan bebas dan indahnya, sangat mengasyikkan! Ide-ide yang kemudian terangkum dalam kalimat-kalimat yang telah disusun sedemikian rupa agar tersampaikan kepada sesama untuk berbagi dan saling mengisi dalam perjalanan hidup.
Betapa berartinya hidup saat kita ani berbagi tentang apapun yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan. Keutuhan yang kita rasakan dalam diri kita sendiri dengan segala keberanian dan kejujuran yang kita miliki. Menulislah selama kau masih ani menggerakkan penamu dia atas lembaran putih yang siap menemanimu berpetualang dengan idemu. Tak perlu takut katakan pendapat lewat tulisan asal tahu batas!

SIMPLY BEING A WRITER !

Bab 1. Writing in Creative Way

Semua orang bisa menjadi penulis!
Coba lihat di Toko Buku Gramedia belakangan ini, terutama genre bacaan yang paling booming, teenlit
dan chicklit, apakah dari seluruh pengarang tersebut memiliki latar belakang pendidikan hanya dari
fakultas sastra? Tidak, kan. Bahkan sebagian besar dari para pengarang berbakat ini masih duduk di
bangku SMA, namun mereka justru dapat membuat sebentuk cerita yang real, fresh, dan terasa akrab
di kehidupan kita sehari-hari.
Apa yang membuat kita ingin menulis? Dan… mungkin nggak sih kita bisa menjadi penulis?
Well, those are common questions I heard many times—even from myself. But, don’t worry you’ll do
just fine. Tapi perlu kamu ketahui, bahwa menulis tidak hanya menyangkut BAKAT, tetapi juga
keinginan kuat, waktu yang diluangkan, serta ide-ide. Tetapi, sebelumnya kita akan melihat ke
belakang, apa yang membuat seseorang menjadi penulis kreatif :
• Saya ngin mempelajari lebih banyak lagi mengenai diri saya sendiri
• Saya ingin mempelajari lebih banyak lagi mengenai dunia
• Saya ingin mengobati luka lama
• Saya memiliki cerita yang sudah lama banget ingin saya share
• Saya memiliki informasi untuk di-share
• Saya ingin menghibur orang banyak dengan ‘the power of my pen’
• Saya ingin menciptakan dunia sebagai tempat yang lebih baik
• Saya ingin mencapai mimpi-mimpiku

“My goal as a writer isn’t to change the world. I’m content to brighten someone’s weekend.”
—Debbie Macomber

Kalau kamu menjawab at least 1 dari 8 pernyataan di atas, berarti kamu memang ingin menjadi
seorang creative-writer ?.

The problem is: how to start writing? How to create a story? And what is creative writing?
Dimulai dari belakang, menulis kreatif (creative writing) adalah suatu penulisan dengan menggunakan
bahasa yang imajinatif dan ‘berani’. Dalam hal ini, ‘berani’ adalah berani menggunakan bahasa yang
mendobrak norma baku. Contoh perbedaan antara tulisan kreatif dan yang bukan :
Creative writing sendiri terbagi menjadi 2 golongan besar, yaitu : fiksi dan non-fiksi.
Non-fiksi merupakan tipe penulisan mengenai orang serta kejadian yang sesungguhnya. Yang masuk
dalam kategori ini a.l. : essay, biografi, otobiografi, artikel, dan memoirs (cerita seseorang tentang
kehidupannya sendiri).

“I was a financial journalist and I did love to write. I used to read novels avidly on the train—and
one day I just decided to try and write one. As soon as I started, I knew I’d found the thing I
wanted to do.”
—Sophie Kinsella, author of Confessions of a Shoppaholic

Fiksi adalah penulisan yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ‘direkayasa’, lengkap
dengan karakternya. Kadangkala, fiksi dapat berupa kejadian imajinatif yang serupa dengan kejadian
nyata hari-hari, sehingga tidak 100% direkayasa. Fiksi sendiri terbagi menjadi 4 kategori utama :
• Cerpen
• Novel
• Skenario film dan TV
• Drama
Lebih lanjut lagi, kita akan membahas secara khusus mengenai cerpen dan novel.

“I want it to be the kind of book that will stick with them a bit, the way books I liked when I was
that age stuck with me”
—Ann Brashares, author of Sisterhood of The Traveling Pants

Bab 2. Novel & Cerpen
Novel dan cerpen merupakan 2 kategori yang akrab banget di telinga maupun ‘mata’ kita, apalagi
sekarang banyak sekali buku-buku teenlit—baik dalam maupun luar negeri—yang membuat kita
semakin betah berlama-lama di depan buku… ?
“Hampir tujuh tahun, saya ada di bidang kedokteran dan itu jadi selling point bahwa setiap
penulis punya style berbeda.”
—Nova Riyanti Yusuf, penulis Mahadewa Mahadewi
Novel
a. Adalah karya panjang dari sebuah fiksi
b. Elemen-elemennya (plot, karakterisasi, tema & setting) dibangun secara mendetail
c. Terdiri dari 1 plot utama dan beberapa sub-plot pendukung
d. Karya fiksi yang lebih pendek dari novel namun lebih panjang dari cerpen disebut novella

“It’s completely overwhelming, seeing the name of my book in print somewhere official. What a
dream came true!” — Lauren Weisberger, author of The Devil Wears Prada

Cerpen
a. Adalah karya singkat dari sebuah fiksi
b. Juga memiliki elemen plot, konflik, karakter, setting & dialog, namun biasanya hanya fokus
pada 1-2 karakter dan 1 kejadian
c. Cerpen cenderung ‘memperlihatkan’ karakter si tokoh pada 1 momen penting daripada
membangunnya melalui beberapa kejadian
d. Dengan membaca cerpen, pembaca dapat menarik kesimpulan & kesan secara menyeluruh,
walau hanya berdasarkan 1 momen/kejadian penting tersebut

Memilih Genre
Genre adalah kategori dari suatu penulisan. Secara umum—dan global—ada 5 genre utama dalam
industri penulisan novel, baik itu untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa. So, in this case, teenlit
also has those big 5 categories. 5 genre utama ini a.l. :
1) Romance — inilah genre yang paling banyak dibuat ceritanya! Sebuah buku dikatakan bergenre
romance hanya apabila bertemakan romance—nggak sekedar cewek & cowok jatuh
cinta, tetapi ide dasar & plot keseluruhan cerita harus mengenai romance… serta tentunya
harus terjadi ‘chemistry’ antara the hero dan the heroine.
2) Fantasy — genre yang menceritakan kejadian-kejadian yang tidak mungkin terjadi di dunia
nyata. Biasanya terdiri dari karakter, kejadian, serta setting yang imajinatif.
3) Science-Fiction — merupakan sub-genre dari fantasy, karena menyertakan isu science dan
teknologi. Biasanya sci-fi ber-setting di masa depan, planet yang jauh, maupun melibatkan
alien.
4) Mystery— genre ini memaparkan tema misteri—biasanya tentang pembunuhan. Ceritanya
bernuansa menegangkan, dan seringkali membutuhkan ‘otak’ untuk ikut mengurai serpihaserpihan
kejadian yang berlangsung.
5) Horor— pada dasarnya genre ini mirip sekali dengan misteri. Tetapi horor memiliki intensitas
ketegangan yang lebih mencekam karena melibatkan ghostly stuff.

Bagi penulis, pemilihan genre berguna untuk mengkomunikasikan apa yang ada di otaknya, ide
dasarnya. Let’s say… kamu ingin menceritakan sesuatu tentang cewek SMA yang menemukan rumah
tua yang katanya berhantu, dimana ia ingin menyelidiki kebenaran rumors tsb. In this case, you won’t
classify this as a romance, right? ?
Dan tidak tabu kok, kalau kalian ingin ‘mencampur-aduk’ genre satu dengan genre lain, misalnya:
membuat cerita horor yang berlatarkan romance, maupun cerita romance yang ber-setting-kan
science-fiction. Apapun itu, sebuah cerita akan menjadi enak untuk dinikmati apabila memiliki
backbone (struktur dasar) yang jelas, serta plot/alur mengalir.
How to make a great backbone?
OK, firstly it came down by getting and constructing the raw ideas…

Bab 3. Start from Scratch

Kalau kamu ingin menulis, berarti kamu harus mempunyai sesuatu untuk ditulis, kan?
Well, itulah yang dinamakan ide.

Unleash your inner creativity
Ide merupakan hasil olahan kreatif dari otak kita, atas sesuatu yang kita temukan, kita rasa, kita
gabungkan satu per satu, atau bahkan.. sesuatu yang benar-benar kita ciptakan sendiri. Apabila kita
tahu akan menulis apa, berarti kita sudah dapatkan ide tersebut. Tetapi kalau kita stuck melihat blank
paper di depan kita tsb, berarti ide tersebut masih harus kita temukan…… how?

“Much of what is in The Princess Diaries books is taken directly from my own diaries that I kept
when I was in high school…” — Meg Cabot

Berikut adalah beberapa cara ‘meng-ada-kan’ ide-ide tersebut:
1) Jadilah pendengar dan pemerhati
Kejadian yang menimpa kita maupun yang terjadi di sekitar kita—di sekolah, di rumah, di
ekskul, di mall, bisa jadi sumber inspirasi cerita kita, kalau kita mau benar-benar ‘membuka
mata dan telinga’. Contohnya, Ann Brashares penulis Sisterhood of The Traveling Pants
(Celana Persaudaraan) mendapat ide untuk teenlit tsb saat ia sedang mendengarkan
temannya curhat tentang saling berbagi celana panjang selama liburan, dimana celana tsb
akhirnya hilang di Kalimantan! As simple as that ?
“I find that reading is, for me, the best way to keep up with current and cutting-edge
technology…” — Michael Crichton, author of Jurassic Park
2) Write what ‘haunts’ you a lot
Pernah kan kamu merasa penasaran ½ mati, kepikiran melulu akan sesuatu? I did. Yaitu
mengenai: kenapa sih cowok selalu ‘berbeda pendapat’ ama cewek, kenapa sesuatu yang
Simply Being a Writer! by Sitta Karina 8
menurut cewek romantis, tapi menurut cowok tidak? Dari situlah, saya mencoba menilik lebih
jauh tentang karakter oposisi cewek-cowok hingga lahirlah “Diaz & Sisy”.
3) Elaborate things!
OK, ini adalah cara terakhir untuk memunculkan ide kalau 2 cara di atas belum berhasil. Coba
deh ‘mengkhayal & mencampur-adukan’ beberapa hal menjadi 1 kalimat utama. Misalnya, di
Starbucks, ex-kamu tiba-tiba nongol bersama cewek barunya… tetapi (di otakmu) ada cowok
lain yang datang bersamaan, yang ternyata temen kompleks kamu jaman SD, yang dulu jelek
banget, dan sekarang dia extremely gorgeous!
Intinya, lihat lalu khayalkan!

“Idenya pas bikin novel adalah pas dicurhatin oleh temen-teman…” — Fira Basuki, penulis trilogi Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap

Journaling
What is a journal?
Kebanyakan orang mengira jurnal hanyalah buku tempat kita menulis apa saja yang harus kita
lakukan tiap hari. OK, big mistake. Dan jurnal sama sekali berbeda dengan yg namanya diary.
Pikirkan jurnal sebagai…
Sebuah kotak deposit besar yang menampung sesuatu berharga: your thoughts

A sketchbook untuk gambar, karikatur, lukisan, maupun sekedar corat-coret
Tempat yg aman untukmu menyelesaikan masalah & mencurahkan pengakuanmu yang
terbesar

Foto album, lengkap dengan comment-nya

Kumpulan quotes yg (bisa) lucu, inspirational, maupun penuh penegasan
Jurnal merupakan buku ide, kumpulan pemikiran, emosi, serta refleksi diri kita.

“Carry a note-book as you never know when inspiration will strike!” — Cathy Hopkins, author of Mates, Dates series
On this blank piece of paper…

Berdasarkan pengalaman, apalagi sebagai pemula, hal tersulit (setelah mendapatkan ide) adalah
menuangkannya di atas kertas putih, atau mungkin di layar komputermu.

Here’s the step-by-steps you could try ?:
1. You are now a writer. Artinya kamu menjadi ‘orang lain’. Jadi jangan malu-malu, dan tulis
apapun itu yang bergumul di pikiranmu.
2. Buat OUTLINE cerita (cerita ini tentang apa? Alurnya dari awal-akhir—secara ‘kasar’ dan
singkat).
3. Selalu berpedoman pada prinsip: opening - persoalan inti - klimaks - antiklimaks - closing
4. Buat chapter pertama yang eye-catching! Pilih kata-kata yang tepat, persuasif, komunikatif,
dan membuat pembaca ingin membalik ke halaman berikutnya.
5. Untuk membantu karakterisasi tokoh, ingatlah tokoh cerita favoritmu dan jadikan dia ‘nyata’
dalam ceritamu—of course, sesuai versimu sendiri ?
6. Kembangkan outline (no.1) menjadi plot dan sub-plot per chapter-nya. Lalu kembangkan subplot
itu menjadi cerita nyata. Remember, chapter per chapter.

“Write what you like to read most; it is what you’ll write best.” —Susan Kyle aka Diana Palmer

Bab 4. Elements of Writing Novel

Ada 7 elemen utama yang penting banget dalam menulis sebuah cerita—terutama novel.

Tema
What is my story about?
What is the purpose of my story?
2 hal di atas adalah pertanyaan wajib yg harus kamu jawab sebelum mulai membuat cerita, barulah
setelah itu akan terbentuk TEMA cerita.
Tema adalah struktur dasar (backbone) cerita yang mendasar dan amat penting. Dengan tema, desain
keseluruhan ceritamu akan tepat, kata-kata akan mengalir, dan karaterisasi tokoh dapat terbentuk
lebih baik.
“Theme, theme, and theme. That’s the very first thing pop up in my mind when I’m ready to
create new story.” — Nicholas Sparks, author of A Walk to Remember and The Notebook

Plot
Plot adalah sesuatu yang terjadi atau dilakukan oleh si tokoh/karakter. Buatlah plot dalam point-point
penting, lalu pecah lagi dalam sub-plot (apabila perlu). Jangan lupa sertakan KONFLIK.
Konflik terjadi karena aksi-reaksi dari para karakter tsb. Dalam konflik ini, karakter akan ‘fight for a
goal’, ‘learn in the process’, serta ‘grow’.
Itulah hidup—dan begitu juga dengan cerita yg kalian buat… ?

“Having only imagination is not enough. You have to go through the core of the story and feel
every single breath of it.” — Stephen King

Setting
Merupakan latar belakang tempat, waktu, serta keadaan dari cerita tsb. Setting memiliki peran dalam
mempengaruhi mood/atmosphere cerita, serta membuat cerita kita lebih realistis.
“If you’re going to have a complicated story you must work to a map. Otherwise you can never
make a map of it afterwards.” — J.R.R. Tolkien, author of The Lord of The Rings and The Hobbit

Point of View
Point of View/sudut pandang adalah posisi yang digunakan penulis dalam menceritakan ceritanya. PoV
terdiri dari 3 macam:
1) Sudut pandang orang pertama
Menggunakan kata ‘aku,saya,-ku’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. membuat cerita lebih ‘personal’
b. Menyelami pemikiran 1 karakter saja
c. membuat seolah-olah penulis langsung berbicara dengan pembaca
2) Sudut pandang orang ketiga—terbatas
Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. menyediakan lebih banyak info tentang para karakter & kejadian-kejadian
b. memperlihatkan kejadian melalui mata dari 1 karakter
c. Encourage pembaca untuk mencari tahu tentang si karakter
Pada PoV ini, penulis tahu karakter seseorang seolah-olah atas apa yang dilakukan & dikatakan
karakter lainnya, sehingga pembaca dapat menilai keseluruhan cerita dengan lebih obyektif.
3) Sudut pandang orang ketiga—tak terbatas
Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. menciptakan full view tentang semua karakter & kejadian
b. memperlihatkan apa yang semua karakter rasakan dan pikirkan
c. menciptakan sudut yang luas terhadap keseluruhan cerita

Perbedaannya dgn no.2 adalah: si penulis di sini menjadi orang yang ‘tahu segalanya’.
Pembaca berkesempatan menilai cerita dari segala aspek, dan dapat lebih obyektif lagi
daripada PoV orang ke-3 terbatas.

Karakterisasi
Dalam cerita ada yg namanya tokoh utama (main character) dan tokoh pengganggu (obstacle
character).
• Tokoh utama : tokoh yang memiliki belief sesuai dengan filosofi/goal dari cerita. Ia juga tokoh
yang mendapat simpati & paling dicintai pembaca. Biasanya tokoh utama adalah si protagonis
(the good guy).
• Tokoh pengganggu : tokoh yang memiliki belief bertolak belakang dengan filosofi/goal cerita,
sehingga terjadi konflik dengan si tokoh utama. Ia disebut juga si antagonis (the bad guy).

“Every good book begins with good characters.” — Jasmine Creswell

Penulis dapat menciptakan karakter yang tak terlupakan melalui karakterisasi, yaitu beberapa cara lain
untuk mengatakan/memperlihatkan kepada si pembaca mengenai karakter dalam cerita, a.l. :
1.Sifat karakter. Contoh: ketus, ramah, suka bercanda
2.Aksi dari karakter.
3.Latar belakang karakter. Contoh: masa kecil, pengalaman masa lalu
4.Reaksi dari satu karakter terhadap sifat karakter lain
5.Dialog para karakter
6.Perasaan, pemikiran, serta keinginan si karakter
7.Komentar dari karakter lain tentang orang tsb
8.Perasaan, pemikiran, dan aksi dari karakter lain
9.Komentar langsung dari penulis mengenai sifat asli & kepribadian karakter tsb

Here’s some tips to bring characters to life:
o Cari nama yang (menurut kamu) sreg dan unusual!
o Beri si karakter sebuah history atau latar belakang (ia nggak tiba-tiba muncul, kan?
Keberadaannya di dalam cerita pasti memiliki suatu alasan)
o Beri dia sense of style tertentu (sesuai dengan setting & backbone ceritamu)
o Think about his/her taste. (what she like/dislike? Favorite things?)

“Don’t blab your story out to everyone. Only show it to those who will give constructive criticism.” — Sitta Karina, author of Lukisan Hujan

Description
Deskripsi merupakan penciptaan dari mental images yang membuat pembaca ‘melihat’ dan mengalami
suatu perasaan & kejadian seperti dirinya yang menjadi tokoh dalam cerita tsb.
Deskripsi yang ‘tepat’ menciptakan mood yang akan menggelitik emosi pembaca.
Coba bandingkan 2 bagian kalimat di bawah:

A
Hari ini langit cerah.
Alika dan Dimaz memutuskan untuk menghabiskan waktu di taman karena mereka memiliki waktu luang,
dimana pada minggu sebelumnya keduanya sibuk, hingga mereka hampir lupa akan tempat ini.
B
Di hari ini untung saja matahari membagi sinarnya yang tidak terlalu terik, serta semilir angin sejuk juga ikut
menambah cerah suasana yang sempat dingin menyelimuti Alika dan Dimaz.
Cerah dan damai. Bahkan lembutnya wangi bunga mawar pink itu ikut menggelitik hidung Dimaz.
Benar-benar kini waktu yang tepat untuk sekedar leha-leha di taman, setelah seminggu penuh keduanya
disibukkan dengan segala rutinitas yang membuat kian sesak bernapas. Kesibukan yang membuat keduanya
hampir tidak dapat menikmati keindahan tempat rahasia berdua ini lagi.
See the difference, right?
Dalam memaparkan deskripsi, penting sekali bagi penulis untuk memberikan detail.
Detail yang tepat, dimasukkan pada saat yang tepat, memberi kesempatan pembaca untuk menyelami
pemikiran inner karakter; ke dalam rasa takut, penasaran, stres, senang, benci.. yang kadang tidak
dapat dijelaskan hanya dengan kata-kata ‘ia senang’, ‘mereka nampak sedih’, dsb.
Deskripsi tidak dibuat begitu saja, mengalir saja. Deksripsi harus dipikirkan baik-baik, karena dari awal
cerita berjalan sampai cerita itu selesai, deskripsi menciptakan impression, sudut pandang, inti sari
cerita bagi si pembaca.
Seorang pembaca dapat menikmati cerita tsb—tergantung ketepatan dan relevansi deskripsi yang
dipaparkan penulis.
“saya senang banget kalau ternyata “buah keisengan” saya waktu SMP bisa terbit dan dibaca
teman-teman…” — Dyan Nuranindya, penulis Dealova
Quotes & Dialogue
Dialog bukan sekedar percakapan, karena dialoglah yang membuat cerita terus berjalan.
Ada 4 tujuan utama dari suatu dialog:
• Memaparkan informasi tentang latar belakang karakter atau backstory
• Menambah tensi/ketegangan dari suatu kejadian/adegan
• Membuat cerita terus bergulir (flowing)
• Memperlihatkan motivasi, emosi, perkembangan, dan perspektif dari si karakter
Hindari pengulangan informasi dalam suatu dialog, maupun percakapan basa-basi yang tidak memberi
info apapun. Contoh:
“Hai, Ga. Apa kabar?”
“Baik, Ko. Elo gimana?”
“Baik juga. Baru pulang lo? Tadi pergi ke mana?”
“Ke Blowfish. Elo dari mana?”
“Dari rumah temen. Ada acara apa di Blowfish?”
“Friendship Night SMA gue.”
“Oh. Ketemu Adis dong…”

Itu hanya sepenggal percakapan antara Aga dan Yuko. Bukan dialog.
Sebaiknya dialog yang terjadi antara Aga dan Yuko diubah menjadi seperti ini:
“Hey, Ga,” Yuko menyapa cowok di seberangnya, setengah terkejut, sampai suaranya turun seoktaf
lebih rendah,”apa kabar?”
“Baik, Ko,” respon Aga, sama kagetnya. “Elo sendiri… gimana?”
Mereka saling bertanya dari mana gerangan masing-masing selarut ini. Dan Yuko adalah orang yang
pertama kali terdiam ketika mendengar tempat tujuan sang sobat barusan. “Friendship Night SMA gue.”
Adis, batin Yuko, terasa miris di hatinya.
“Ada Adis di sana?” tanya Yuko, menjaga agar suaranya tidak bergetar.
“Yeah, ada.”
Yuko ingin berteriak marah. Kalah.
Setelah lama mereka bertiga mencoba mendinginkan kepala masing-masing, ternyata pada akhirnya
Adis memilih Aga. Bukan dirinya…

Jangan lupa untuk selalu menggabungkan dialog, dengan deskripsi, serta detail yang tepat, OK? ?
“Saya hanya menulis apa yang saya rasa. Kebetulan saya perempuan, saya menulis tentang
perempuan.” — Djenar Maesa Ayu, penulis Mereka Bilang, Saya Monyet
QUOTE (ucapan) seseorang yg langsung harus selalu menggunakan tanda petik (‘ dan “).
Berikut ini adalah pedoman penggunaan tanda petik tunggal (‘) dan ganda (“) yang baku pada direct
quotation:
o Shina berkata,”Tenang saja. Besok masih ada waktu.”
o “Jangan bergerak,” bisiknya dengan bengis, “atau kukubur benda ini selamanya.”
o Siapa yang bertanya “apakah besok libur?”
o Reno menjelaskan,”Tadi Bianca berkata,’Bajunya dibuang saja.’ ”
o Inez berseru dengan ceria,”Semalam aku dan Niki nonton ‘Alexander The Great’ di PIM.
Sumpah, Collin Farrell ganteng berat!”

Bab 5. Other Important Stuff

Riset
Sesimpel, sependek apapun cerita yang kamu buat, awali dengan sebuah riset, karena riset
mendukung kekuatan backbone cerita kita.
Apabila kita membuat cerita berlatar belakang modern life, urban and ‘wild’ people… sangat mungkin,
kita bertanya kanan-kiri, ataupun langsung mengunjungi on the spot, untuk melihat seperti apa
nightlife yang menjadi latar belakang para karakter ‘wild’ kita itu.

Judul Cerita
Never say “what’s a title good for, anyway?”
Selain karena cover buku, sinopsis cerita, seorang calon pembaca tertarik pada suatu buku karena
judulnya.
Judul cerita/buku memberikan ‘warna’ terhadap keseluruhan karya tersebut, serta menimbulkan
penilaian umum oleh pembaca terhadap: seperti apa setting cerita tsb, sense of style, serta kepada
jenis pembaca seperti apa buku ditujukan (segmentasi pembaca).
Contoh: coba bandingkan antara judul ‘Biola Tak Berdawai’ karya Seno Gumira Ajidarma dengan
‘Fairish’ karya Esti Kinasih.
“I would write for an hour each morning, then start to work—60 to 80 hours per week, as a State
Representative. My goal was simply to finish the first manuscript. It was only a hobby, a very
secret one.” — John Grisham, author of A Time to Kill and The Painted House

Timeline
Jangan paksakan semua hal kecil menyangkut cerita dalam memori kita. Percaya deh, kamu pasti
gampang lupa. Setiap kita menyelesaikan satu draft atau chapter dari cerita, luangkan waktu untuk
membuat timeline pada notes/komputer secara kronologis, agar akurasi dan relevansi cerita tetap
terjaga. Contoh:

CHAPTER 5

Week 1, Sunday: Adry menjemput Lilla di bandara lalu menitipkan di rumah Inez
Week 3, Monday: Lilla pergi dengan Chris ke festival film. Ini pertama kalinya Lilla naksir Chris
Week 4, Friday (night): Lilla dan Adry kembali ke Jerman

Fun with editing
Sebelum menyerahkan karya kita pada penerbit manapun, SELF-EDITING adalah hal yang amat
penting, dan harus dilakukan berkali-kali dengan sabar dan teliti. You might be surprised how many
mistakes you have made so far ?
Dengan meng-edit cerita kita yang telah selesai, maka kita melakukan:
Perbaikan terhadap huruf/kata/ejaan yang salah
Perbaikan terhadap tanda baca yang kurang tepat
REVISI terhadap kejanggalan-kejanggalan dalam pemaparan deskripsi, dialog, karakterisasi,
sampai pada plot yang melenceng dari tema cerita

Writer’s Block
Setiap penulis—terkenal maupun tidak—pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis atau
writer’s block. Hal ini manusiawi sekali, dan kalau dipaksakan malah akan menghasilkan karya yang
nggak bagus.
“I do have to be in the mood to write. No point sitting down every day and just writing. If I’m
bored my readers will be bored, so I always wait for inspiration to strike.”
—Jane Green, author of Jemima J and Mr. Maybe

Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi writer’s block:

a. Do your favorite things
Kamu suka hang out di coffee shop? Suka dance? Suka berdandan gothic lalu teteriakan di
depan cermin? ? Well, apapun itu—dan senorak apapun—lakukan sesuatu yang membuatmu
hati kamu senang, and let the feeling knock your imagination.

b. Listening inspiring music
Saya baru menemukan belakangan ini, bahwa dengerin instrumental piano—terutama dari CDCD
OST drama/kartun Jepang adalah sesuatu yang amat inspirational, serta dapat membentuk
mood tertentu untuk membuat cerita! Coba cari apa musik favoritmu, dan jadikan itu BGM
(background music) tiap kamu menulis.

c. Going to unusual places
Bosen dengan rutinitas nonton di bioskop? Coba sekali-sekali dateng ke acara diskusi film
independent temanmu di kampusnya, dan lihatlah bagaimana suasana—serta orang-orang—
baru menimbulkan ‘spark of idea’ di otakmu.

d. Messing up in your sketch/notebook
Corat-coret… gambar-gambar… atau sekedar bikin sepenggal kalimat yang benar-benar ‘suara
hati’. Jangan sungkan. Toh orang lain nggak perlu lihat, kan?

e. Create new and different story
Ini yg paling seru. Saat kamu stuck dengan satu cerita yg sudah terasa monoton, biasanya
otak kamu (tanpa disadari) menghasilkan ide lain yang bisa kamu jadikan cerita baru. Go write
them down, girls. Siapa tau cerita ini bisa menjadi the next big thing kan?

Writing as theraphy
Pernah dengar cerita, bahwa dulu di Virginia, USA, ada seorang cewek high-school yang tidak jadi
bunuh diri, setelah ia menulis surat selamat tinggal karena dirinya akan bunuh diri?
Menulis bisa menjadi terapi untuk diri dan hati kita yang terluka. Karena kadang kita sulit untuk
menceritakan kepada orang di sekitar kita, maka dengan menulis kita dapat mengekspresikan
perasaan kita yang paling private sekalipun, mengubah rasa takut dan tertekan tersebut menjadi
determinasi dan keberanian, sampai akhirnya menjadi sekumpulan ide dan pemikiran yang… who
knows, bisa menjadi best-selling book ?
Dengan menulis, kita dapat menjadi lebih bijak dalam menilai masalah, karena perasaan kita terus
diolah sampai akhirnya mencoba untuk ‘terbuka’ dan ‘menerima’.

Bab 6. Some Useful Tips
a. Read, read, read
Kalau kamu melahap segala macam buku, kamu pasti tahu jenis cerita apa yang paling ingin
kamu tulis… dan seperti apa writing style kamu.
b. Don’t take rejection personally and never give up
Sebelum menjadi novel seperti ini, Lukisan Hujan pernah 4 kali ditolak! Mungkin penulis lain
ada yang kurang, ada juga yang lebih sering. Apapun itu, teruslah berkarya dan mengirim!
c. Write all the time
Kalau kamu memang suka—dan ingin—menjadi penulis, maka writing secara alami akan
menjadi bagian dari daily life kamu.
d. Always bring your ‘lil journal
Kamu lagi di eskalator dan melihat ekspresi dua orang di depan kamu lagi saling ngambek dan
kamu amazed dengan ekspresi wajah mereka. Although it sounds crazy, go write it down.
NOW. ?
e. Create a sympathetic character that readers will like
Pikirkan tentang apa yang sangat ingin ia capai di dunia ini—lebih dari apapun, serta apa saja
rintangannya.
f. Use 5 senses when writing a SCENE
How does it look, how it sounds, how it tastes, how it smells… and finally, how it feels?

TIPS MENULIS BAGI PEMULA

Bagi Anda yang ingin memulai menulis sebagai karir utama atau sekedar hobi untuk mengisi waktu luang, berikut ini beberapa tips yang mungkin akan membantu Anda. Tulisan ini dibuat bukan untuk maksud sok menggurui, tapi dibuat sekedar untuk berbagi pengalaman dengan para pembaca yang berkeinginan untuk menekuni dunia tulis menulis. Penulis artikel ini yakin bahwa banyak di antara pembaca yang mungkin membaca artikel ini jauh lebih mahir dan lebih mumpuni pengetahuan dan keahliannya dalam bidang tulis menulis. Baiklah berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dan bisa dijadikan pedoman untuk memulai sebuah tulisan.

1. Tetapkanlah suatu ide dasar / tema dari tulisan Anda. Kembangkan ide tersebut dalam suatu kerangka pemikiran / kerangka tulisan, yaitu buatlah semacam skema / bagan alur mengenai tulisan yang hendak dibuat. Banyak orang yang menyebut skema ini dengan “PARADIGMA TULISAN”.
2. Setelah membuat skema / paradigma tulisan, mulailah lakukan sedikit riset (banyak juga akan semakin bagus). Riset bisa berawal dari tulisan di buku-buku, berita di televisi, artikel-artikel yang menunjang baik di koran maupun dari internet. Riset juga bisa pula didukung dengan informasi dari narasumber, yaitu orang yang berkompeten di bidang kajian yang akan menjadi bahan penulisan kita. Pengambilan data dari narasumber bisa dengan metode random sampling (metode pemilihan narasumber/responden secara acak), snowball sampling (metode pemilihan narasumber/responden dari mulut ke mulut, dimana jumlah responden akan bertambah banyak ; misal kita datangi si A, lalu kita wawancara, kita mintai pendapatnya tentang topik yang akan menjadi bahan tulisan kita, lalu kita tanyai si A, siapa lagi yang bisa kita datangi untuk kita mintai informasi. Misalnya si A menyebutkan nama teman-temannya yang juga ahli di bidang itu, misalnya si B, si C dan si D. Maka selanjutnya kita datangi si B, si C dan si D untuk mengorek keterangan lebih lanjut, demikian seterusnya hingga jumlah responden semakin lama semakin banyak dan data/keterangan serta informasi yang kita butuhkan semakin valid dan teruji kebenarannya). Bisa juga kita melakukan survei, seluruh responden/narasumber yang berkompeten dalam bidang tersebut (100% semuanya kita wawancarai) kita minta keterangan tentang topik yang akan menjadi bahan tulisan kita. Metode survei ini meskipun bisa menghasilkan data awal yang cukup valid, namun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dari ketiga metode pengumpulan data di atas, terserah kepada pembaca untuk memilih mana yang terbaik.
3. Dari hasil riset dan wawancara dengan nara sumber, mulailah untuk memilah-milah dan melakukan penggolongan informasi tersebut dalam beberapa kategori. Tiap versi yang berbeda dari hasil riset belum tentu salah 100%, namun perlu kita telaah lebih jauh dan kita lakukan analisa berdasarkan cara berpikir secara sistematis dan logis. Mungkin saja potongan-potongan informasi tersebut merupakan secuil saja dari sejumlah besar informasi yang bila kita gabung-gabungkan dan kita analisa secara mendalam akan menghasilkan suatu gambaran global (the big picture) dari suatu masalah / topik yang akan kita bahas. Bahasa sederhananya, yaitu kita ibaratnya mencari potongan-potongan informasi seperti halnya kalau kita mengumpulkan potongan kepingan gambar dalam permainan puzzle, lalu kita akan satukan potongan-potongan kecil itu pelan-pelan (gak usah terburu-buru, karena hasilnya tentu kurang bagus dan bisa saja analisa kita menjadi salah dan tulisan kita tidak valid), hingga akhirnya kita akan memperoleh hasil akhir yaitu gambar utuh yang bisa kita pahami. Ooo ternyata ini gambar sapi toh ? Kalau kita melihat sesuatu hanya sepotong sepotong lalu buru-buru kita lakukan analisa tentu analisa kita bisa saja salah bukan ?
4. Dalam melakukan pembahasan dalam tulisan kita (memulai menulis), bisa saja kita membahas mulai dari hal-hal yang global dulu, baru kemudian sampai ke hal-hal yang kecil/detil. Namun bisa juga kita mulai dari hal-hal yang kecil (potongan-potongan informasi yang berhasil kita kumpulkan) baru kita satukan dan kita bahas hingga kita bisa menyimpulkan gambaran global / keseluruhan pandangan dari suatu masalah (misalnya, dari pembahasan mengenai, buntut, kaki, perut, kepala, telinga, mulut, mata dan hidung, akhirnya kita sampai pada pembahasan mengenai makhluk apa yang kita bahas tadi. Ooo ternyata ini sapi !). Metode pembahasan dan penulisan mulai dari hal-hal kecil / potongan-potongan informasi yang kemudian disatukan dalam suatu kesimpulan akhir tentang sesuatu itu, biasa kita temui dalam tulisan-tulisan novel atau bahkan film misteri yang kita tontong di bioskop atau televisi.
5. Mengenai alur waktu kita bercerita (misal dalam penulisan cerpen atau novel), bisa kita menggunakan alur runtut (dari awal sampai akhir waktunya urut dan runtut/berkesinambungan), flash back (penceritaan dimulai dari bagian akhir dulu, kemudian baru diceritakan dari awal asal mula kok bisa terjadi seperti yang di bagian akhir itu), atau bahkan alur cerita gabungan antara alur cerita yang urut dengan alur cerita yang flash back. Namun alur cerita gabungan, bila kita tidak pandai-pandai mengolah kata dalam tulisan kita, bisa-bisa kita malah membingungkan para pembaca (ingat tidak semua pembaca yang membaca tulisan yang kita buat adalah orang dengan kecerdasan yang mencukupi, karena mungkin saja ada beberapa dari mereka yang agak telmi/telat mikir. Oleh sebab itu lebih baik tulisan dan gaya bercerita atau penyajian tulisan kita seharusnya dibuat sesederhana mungkin dan bisa dimengerti oleh semua orang. Hindari bahasa-bahasa para pejabat yang pakai istilah-istilah adaptasi dari bahasa asing yang sok keren, pakailah istilah dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti).
6. Mengenai gaya bercerita, sebaiknya kita memakai gaya bercerita kita sendiri, dengan kata-kata yang sederhana, mudah dimengerti, pembahasan jangan terlalu berbelit-belit, pakailah perumpamaan-perumpamaan yang mudah untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin sedikit rumit, sehingga dengan adanya perumpamaan itu para pembaca bisa terbantu untuk memahami apa yang kita maksud. Dalam menulis, sebaiknya kita tidak perlu terlalu kaku dalam hal pemilihan diksi (pemilihan kosa kata), bisa saja kita pakai bahasa gado-gado (Indonesia-Jawa), walaupun tidak selalu disarankan. Pendek kata, kita menjadi diri sendiri saat kita menulis sesuatu. Jangan pernah berusaha meniru gaya bercerita orang lain dari tulisan tertentu yang pernah kita baca. Tiap orang adalah pribadi yang unik, yang memiliki ciri khas dan tentu saja cara bercerita dan cara penyampaian isi pikirannya tentu akan berbeda-beda. Justru dengan ciri khas gaya penulisan dan cara bercerita kita yang unik itulah, maka akan menjadi semacam kekhasan kita (bahasa kerennya “trade mark kita”). Seperti halnya dalam dunia musik, setiap penyanyi tentu punya style/gaya dan penampilan serta genre (tema musik) yang tersendiri.
7. Tema apa yang bisa kita sajikan dalam tulisan kita ? Mulai saja dengan menulis sesuatu yang sederhana yang ada di sekeliling kita. Para penulis bisa saja mengambil topik mengenai pengetahuan ilmiah, pengetahuan umum, hobi dan ketrampilan, tutorial perbengkelan/otomotif, keagamaan, pengalaman hidup yang membawa hikmah, tutorial memasak, tutorial komputer, tutorial HP, tutorial bercocok tanam/tanaman hias, tutorial desain atau bahkan tentang tips dan tutorial mengenai tata rias kecantikan, berbagai macam humor seputar dunia sekolah, kekonyolan teman, kehidupan di rumah, diri kita sendiri, atau bahkan obyek benda mati yang paling remeh sekalipun (sebagai obyek penderita yang kemudian dianggap seakan-akan sebagai makhluk hidup yang mempunyai perasaan dan emosi. Di situlah kemampuan kita untuk menceritakan segala hal maupun kejadian yang terjadi di sekitar obyek benda mati tersebut, sehingga seakan-akan obyek benda mati tersebut sebagai saksi hidup yang bisa menceritakan segala hal yang terjadi dari sudut pandang si benda mati itu. Dengan kata-kata dan diksi yang tepat dan berkesan lugu dan polos, untuk menggambarkan setiap kejadian dan berbagai hal yang terjadi maka semua gambaran ilustrasi dalam bentuk cerita itu sudah bisa disebut sebuah karya cerita pendek yang cukup unik). Baiklah, misalnya saja kita tetapkan saja kertas tissue toilet sebagai obyek yang akan kita bahas. Kita pura-puranya memposisikan diri kita sebagai kertas tissue toilet tersebut, lalu kita bisa berangan-angan/membayangkan dan tentu saja berimajinasi apa saja yang akan dilakukan orang dengan kertas tissue toilet tersebut. Tentu saja akan muncul berbagai “versi” cara orang menggunakan kertas tissue toilet tersebut, dan bahkan mungkin ada orang yang tidak menggunakan kertas tissue toilet itu sebagaimana fungsinya. Kita bisa juga membayangkan dan membahas tentang berbagai tipe orang yang masuk ke kamar kecil / toilet (tempat kertas tissue itu berada), mulai dari orang yang lemah lembut, grusa-grusu, sampai orang yang jorok sekalipun. Semakin unik dan semakin polos kita menggambarkan sesuatu yang berhubungan dengan kertas tissue dengan orang-orang yang menjadi pengunjung toilet, serta semakin kita bisa membawa pembaca untuk lebih “menghayati” akan “penderitaan” si kertas tissue, berarti tulisan kita sudah cukup komunikatif dengan para pembaca.
8. Bagi penulis yang tema tulisannya lebih banyak ke masalah teknis atau tutorial mengenai suatu topik tertentu, misalnya tentang Hand Phone atau komputer, tulisan tentang resep masakan, atau yang lainnya, sangat disarankan agar tulisan sebaiknya diberi ilustrasi/gambar pendukung baik gambar buatan tangan ataupun mungkin foto-foto pendukung yang “bisa memberikan gambaran” kepada para pembaca agar tulisan kita lebih komunikatif dan interaktif dengan para pembaca yang mungkin masih awam.
9. Jangan terlalu tegang dan takut salah, santai saja saat kita akan memulai menulis tentang sesuatu. Biasakan membawa buku/notes kecil atau bahkan beberapa helai potongan kertas dan bolpoin kemanapun kita pergi. Atau bahkan mungkin flash disk bagi yang mampu membelinya, Siapa tahu kita bertemu dengan hal-hal yang bisa menjadi ide untuk bahan tulisan kita, maka kita akan dengan mudah membuat poin-poin penting yang bisa dicatat di selembar kertas yang kita bawa tadi. Atau bahkan orang / kenalan yang membawa laptop yang berisi data-data/bahan-bahan yang bisa mendukung isi tulisan kita, jadi kalau kita membawa flash disk, kita bisa meminta ijin untuk mengcopy file-file data pendukung yang mungkin dimiliki orang/teman kita di komputer laptopnya. Saat menulis jangan pernah membatasi sampai berapa halaman isi tulisan kita, karena biasanya para editor di koran, majalah atau penerbit pasti akan selalu mengedit tulisan kita. Dalam banyak kasus, tulisan kita yang semula pendek bisa disulap oleh penerbit menjadi tulisan yang sangat panjang dan detil, atau bahkan sebaliknya. Ini sesuai dengan pengalaman penulis artikel ini yang pernah mengirimkan naskah tulisan ke majalah HAI dan majalah INFO KOMPUTER. Di majalah HAI, artikel humor penulis yang saat itu panjangnya satu setengah halaman, bisa disulap oleh editor majalah HAI menjadi cukup dua alinea saja tanpa mengurangi makna isinya. Di majalah INFO KOMPUTER, naskah artikel penulis yang semula hanya tiga perempat halaman bisa disulap oleh redaksi/editor majalah INFO KOMPUTER menjadi dua halaman penuh yang dilengkapi pula dengan ilustrasi foto capture dari layar desktop komputer. Di tabloid PC Plus, tulisan penulis yang semula bernaskah mentah sebanyak 10 halaman plus ilustrasi, bisa disulap oleh editor tabloid tersebut menjadi dua halaman saja (karena tulisan dipersingkat, dan gambar ilustrasinya diperkecil ukurannya sehingga muat hanya dalam dua halaman saja).
10. Jangan pernah memperkirakan atau mematok harga mati berapa honor yang seharusnya kita terima, karena tiap media cetak atau penerbit memiliki patokan harga yang berbeda-beda. Ada yang memberikan patokan honor berdasarkan jumlah artikel / topik artikel yang dimuat (dimana per artikel dihargai mulai dari Rp 80.000,- s/d Rp 300.000,- ; ini untuk media dalam negeri/Indonesia. Media asing seperti beberapa majalah di Australia dan Amerika bahkan bisa memberikan honor yang lebih tinggi yaitu antara Rp 500.000,- hingga Rp 1.000.000,- per artikel yang dimuat ; nominal mata uang sebenarnya dalam dolar dan tentu saja setelah ditransfer ke rekening kita akan berubah menjadi rupiah). Ada pula beberapa media majalah yang memberikan patokan honor berdasarkan jumlah halaman cetak jadi yang dimuat di majalah tersebut dimana per halaman untuk tulisan yang dimuat dihargai antara Rp 70.000,- s/d Rp 100.000,-. Bahkan ada pula yang patokan honornya didasarkan dari jumlah karakter tulisan jadi yang dimuat di media tersebut. Tiap berapa puluh atau berapa ratus karakter dihargai Rp 50.000,- . Untuk yang ini honor yang diterima lebih lumayan, karena semakin banyak jumlah karakter tulisan kita, semakin besar honor yang kita terima, namun perhitungannya didasarkan pada hasil akhir yang dimuat (setelah diedit oleh tim editor media majalah atau koran) bukan dihitung dari naskah mentah yang kita kirim. Jadi penjelasannya begini, kalau tulisan artikel kita yang tadinya pendek karena diketik dalam 1 spasi atau satu setengah spasi dengan total halaman 2 lembar misalnya, bisa jadi setelah diedit dan dilayout oleh tim redaksi majalah, tulisan kita bisa disulap menjadi 4 hingga 6 halaman atau bahkan mungkin dipersingkat menjadi kurang dari naskah aslinya. Jadi semuanya tergantung dari kebijakan tim redaksi majalah yang kita kirimi naskah artikel kita. Biasanya, bila naskah artikel kita dimuat di suatu majalah kita akan diberikan edisi majalah yang memuat tentang tulisan kita secara gratis (disamping honor yang kita terima). Namun jangan terlalu banyak berharap karena tidak semua media cetak mempunyai kebijakan seperti itu. Bila tujuan kita menulis bukan untuk dimuat di majalah atau koran, melainkan untuk diterbitkan dalam bentuk buku, dari hasil obrolan dengan para penerbit, biasanya para penerbit memberikan royalti (hak cipta) yang dinilai dalam bentuk uang yang nominalnya biasanya sebesar 6% - 10% dari total penjualan / cetakan yang biasa dibayarkan setiap penerbit mencetak dan menerbitkan buku tulisan kita. Ada penerbit yang sekali cetak bisa berani mencetak ratusan buku atau bahkan ada yang sekali cetak bisa sampai 1000 buku atau bahkan lebih. Ada pula yang memakai sistem pembelian royalti “beli putus”, artinya setelah disepakati bersama, maka suatu naskah yang akan diterbitkan menjadi sebuah buku, dibeli “hak cipta”-nya dengan pembayaran di muka. Penulis tidak lagi berhak meminta royalti tiap kali penerbit mencetak ulang buku itu, walaupun ternyata menjadi best seller. Hal ini karena seluruh hak cipta sudah dipegang oleh penerbit, dan penulis tidak lagi berhak mengklaim royalti yang biasanya dibayarkan tiap tiga hingga enam bulan sekali. Keuntungan sistem “beli putus” adalah bila ternyata buku itu setelah diterbitkan tidak laku, penulis tidak rugi, karena ia sudah mendapatkan pembayarannya yang dibayarkan dimuka, sementara kerugian ditanggung sepenuhnya oleh penerbit. Namun bisa jadi kerugian besar bagi penulis bila ternyata buku yang sudah terlanjur dibeli hak ciptanya dengan sistem “beli putus” itu kemudian ternyata meledak menjadi best seller, penulis tidak bisa menikmati royalti yang biasa dibayarkan setiap 3-6 bulan atau saat cetak ulang. Semua tergantung ke masing-masing penerbit, dan juga kesepakatan kita saat penandatanganan perjanjian kontrak dengan penerbit. Maka berhati-hatilah dan pikirkan masak-masak mana yang dirasa paling baik untuk diri Anda sebagai penulis. Dalam komunikasi dengan penerbit, kita bisa berkomunikasi dengan telepon (untuk penerbit luar kota) atau mendatangi langsung ke alamat penerbit. Sedangkan untuk pengiriman naskah karya tulis kita bisa lewat pos, lewat e-mail atau bahkan diserahkan langsung dengan dibawa sendiri ke penerbit. Ada penerbit yang hanya meminta versi digital tulisan kita ; ini biasa disebut dengan soft copy (dalam bentuk file Ms-Word atau RTF) yang disimpan di disket atau CD atau dikirim lewat e-mail, dan ada pula yang bahkan meminta baik versi digital tulisan kita (dalam bentuk file Ms-Word atau RTF yang disimpan di disket atau CD) maupun versi cetaknya atau biasa disebut dengan print out (yang dicetak/di-print di kertas folio atau A4). Semuanya tergantung dari kebijakan masing-masing penerbit. Untuk itulah sebaiknya kita melakukan konfirmasi dan negosiasi dulu dengan penerbit tentang bentuk dan format naskah tulisan kita serta cara pengirimannya.

CARA JITU MENULIS CERPEN

Kenapa Kita Menulis?
Pertanyaan ini merupakan kunci motivasi seorang penulis. Untuk apakah kita menulis? Mari kita simak jawabannya melalui sebuah kisah nyata di bawah ini:
Usianya masih sangat muda, 13 tahun. Kala itu bulan Juni 1942, pertama kalinya ia menulis dalam buku diarinya. Beberapa bulan kemudian, bersama orangtuanya, ia bersembunyi di sebuah loteng gelap karena sedang diburu oleh rasisme Nazi yang sedang ganas-ganasnya. Seringkali ia mendengar suara deru pesawat tempur dan rentetan senjata api yang mengawang di atas Secret Annex itu.
Untuk mengisi hari-hari panjangnya di tempat persembunyian tersebut dan untuk mengatasi rasa takutnya, ia mencurahkan segala perasaannya dalam sebuah buku diari, catatan harian, yang dikemudian hari mengatarkannya menjadi seorang ‘pengisah sejati’ yang terkenal di seluruh dunia. Gadis itu bernama Anne Frank.
Aku berharap, demikian ia mengawali tulisannya pada diarinya yang diberinya nama Kitty, aku bisa mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan pada siapapun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.
Berbulan-bulan ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui dunia luar. Namun ia terus saja menulis, “…aku suka menulis, banyak hal yang terlampau menIk dan luar biasa dalam hatiku, akan aku tumpahkan lewat tulisan. Kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia.”
Pada bulan April 1944 ia curhat pada diarinya bahwa ia rindu ingin sekolah lagi, Andai perang tidak juga berakhir bulan September, aku tidak akan kembali ke sekolah… Memang Anne Frank tidak pernah lagi melanjutkan sekolahnya hingga akhir hayatnya.
Karena pada tanggal 4 agustus pagi, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex, termasuk Anne Frank, disergap oleh intelejen bayaran Nazi lalu digiring ke Penjara, lalu ke kamp pembuangan sampai akhirnya dicampakkan ke sebuah kamp mengerikan di dekat Hannover (Jerman) tahun 1945. Bersama dengan impian remaja dan cita-citanya, akhirnya Anne Frank meninggal dunia karena terlalu lelah, sakit dan lapar. Mayatnya dibuang ke sebuah pemakaman umum Bergen-Belsen. Ia mati dalam usia belasan tahun tanpa sempat tahu bahwa beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, diari-nya ditemukan oleh petugas berceceran di lantai Secret Annex yang akhirnya menjadi sebuah dokumen sejarah yang dipublikasikan di seluruh dunia.
Nah, dari kisah di atas kita dapat memetik pelajaran penting bahwa menulis adalah sebuah cara untuk mendokumentasikan segala pikiran, pengalaman dan imajinasi kita ke dalam bentuk tulisan. Untuk melengkapi jawaban ini, saya masih ingin mengutip penggalan-penggalan bagus dari diari Anne, Saat aku menulis, aku dapat meluruhkan seluruh deritaku. Ketakutanku lenyap, gairah hidupku bangkit kembali! ….. aku berharap, semoga bisa, oh, aku sangat berharap, hanya dengan menulis aku dapat merekam segalanya, seluruh pikiran, ide dan fantasiku. Pada awalnya, si Anne tidak berpikir kalau buku diarinya akan dipublikasikan secara luas. Ia menulis untuk dibaca sendiri dan berdasarkan motivasi seperti yang diuraikannya di atas.
Sebetulnya, dipelajari atau tidak, menulis itu tetap mengiringi hidup kita sehari-hari karena memang sudah menjadi kebutuhan. Baik untuk kepentingan resmi seperti mengerjakan tugas sekolah/kuliah/kantor, maupun untuk keperluan yang lebih bersifat privasi seperti menulis surat cinta, sms atau menulis curahan hati di buku diari.
Sesuai dengan jenis tulisannya, aktifitas menulis memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Menulis laporan penelitian tentu tidak sama dengan menulis novel. Demikian juga dengan menulis artikel yang berbeda dengan menulis cerpen. Oleh karena itu menulis amat penting untuk dipelajari dan dipraktekkan.
“Kalau berbulan-bulan anda pelajari teori ‘berenang’ tanpa pernah menyentuh air, maka percayalah anda tidak akan pernah bisa berenang. Sebaliknya kalau anda dilempar ke dalam kolam renang dua atau tiga kali, besar kemungkinan anda akan otomatis menguasai teknik keseimbangan tubuh yang merupakan kunci utama ilmu renang. Demikian juga dengan ilmu mengarang. Anda harus akrab dengan buku dan alat tulis yang memang dikhususkan untuk mengarang”.
Kegiatan menulis sangat berguna, terutama dalam mendokumentasikan sesuatu, entah kisah hidup kita, kisah ‘special’ yang kita anggap perlu dikenang selamanya hingga peristiwa sejarah. Tradisi lisan mudah hilang dalam ingatan, sebaliknya tulisan akan selalu abadi sepanjang masa (begitu kata orang).
Berikut ini beberapa tips yang akan memudahkan anda dalam menulis, terutama menulis cerita pendek.

Menulis Harus Ada Minat.
Langkah pertama untuk menjadi seorang penulis adalah: ada keinginan yang kuat untuk menjadi seorang penulis. Ada gairah yang menggebu-gebu untuk menulis. Gairah ini akan mengantarkan kita pada semangat ‘saya pasti bisa’. Tanpa itu, hanya akan melahirkan seorang penulis iseng yang se-ala kadarnya saja.

Rajinlah Membaca.
Seringkali kita membaca buku hanya pada saat menjelang ujian (sekedar untuk kepentingan merebut nilai tinggi). Membaca, hanya sekedar menghafal. Membaca yang dimaksud di sini adalah benar-benar untuk mengerti, memahami dan menikmati isi buku. Jika anda ingin menjadi seorang kolomnis maka banyaklah membaca opini di media massa. Jika anda ingin menjadi seorang novelis atau cerpenis maka banyaklah membaca novel dan cerpen yang memungkinkan anda ani mencerna, menikmati dan meniru isinya. Agar bisa menulis, usahakanlah banyak membaca. Hanya perlu dicatat, mulailah dengan membaca sesuatu yang mudah dimengerti dan sesuaikan dengan jenis tulisan apa yang ingin anda tekuni.

Misalnya anda ingin menjadi seorang cerpenis remaja. Maka banyaklah membaca cerpen-cerpen remaja di majalah remaja maupun di dalam buku kumpulan cerpen. Perhatikan bagaimana cara penulisannya dari awal hingga akhir dan bagaimana penulisnya mengelola konflik remaja dalam bentuk cerita menarik. Karya orang lain penting untuk dijadikan referensi bagi seorang pemula.

Mulailah Dengan menulis Cerpen Singkat.
Banyak orang yang mengeluh, bahwa ia sudah banyak membaca novel dan cerpen tetapi tidak juga bisa menulis sebuah cerpenpun. Ada juga yang mengatakan apabila ia paling pandai bercerita lisan kepada temannya namun amat sulit menuangkan ke dalam bentuk tulisan.
Mulailah dengan menulis cerpen yang singkat dan semanpu ada menulisnya. Sebaiknya tidak usah dulu mengacu pada standar penulisan cerpen di majalah atau ketentuan dalan lomba. Semakin sering mencoba menulis cerpen, dengan gaya seperti apapun, kita akan semakin terbiasa dan menguasai teknik menulis cerpen. Apalagi diringi dengan membaca dan meminta bimbingan khusus dari seseorang yang sudah mahir menulis.

Latihan dengan metode “plagiat”
Cara ini adalah dengan Menulis Ulang Karya Orang Lain. Ingat, ini hanya untuk latihan sebaiknya tidak dipraktekkan untuk keperluan yang lain.
Pertama-tama kita pilih dulu tulisan orang lain yang kita anggap menarik. Misalnya sebuah cerpen yang berjudul Aku Lemah Karena Cinta. Kemudian kita menulis ulang karya itu dengan ketentuan sebagai berikut: anda bebas mengedit dan ‘memodifikasi’ naskah itu sesuai dengan kehendak anda, silahkan ganti juga nama tokohnya dan ubahlah judulnya, misalnya menjadi Jangan Berikan Aku Cinta. Atau kalau anda bisa, balikkanlah cerita itu sehingga judulnya menjadi Ku Tegar Karena Cinta.
Cerita asli yang seharusnya sedih cobalah diputarbalikkan sehingga menjadi cerita gembira (happy ending). Banyak orang yang latihan dengan cara ini dan lama kelamaan berhasil menulis cerpen secara mandiri.
Metode ini akan membuat kita menguasai anatomi (bagian-bagian) cerita, cara menempatkan penanda, cara memulai, cara menggunakan kalimat sambung, variasi kata dan juga bagaimana sih cara ‘mengganggu’ pembaca dengan kejutan-kejutan. Saya sendiri, pertama kali menulis sebuah artikel di sebuah media massa dengan metode ini. Waktu itu temanya sudah diatur oleh media yang bersangkutan yaitu tentang konsep ideal tentang gerakan mahasiswa. Saya menemukan sebuah artikel bagus dan langsung saya modifikasi. Judul artikel itu saya ubah, kemudian paragrafnya saya ubah dengan bahasa saya sendiri dengan tema yang masih seperti aslinya dan, artikel itu dimuat oleh media massa setelah menyisihkan banyak saingan mahasiswa. Waktu itu saya memang tidak tahu bahwa metode seperti ini tidak bagus untuk praktek langsung untuk di media. Tetapi sebenarnya cara ini boleh saja asalkan hasil ‘modifikasinya’ tidak mirip-mirip banget.

Menulis Kilat Dengan Metode Merekam.
Banyak penulis (termasuk saya) awalnya merupakan seorang yang sangat merasa kesulitan menulis artikel apalagi yang temanya sudah di atur-atur. Pernah suatu kali ada kompetisi menulis artikel di media massa yang melibatkan ribuan mahasiswa. Artikel itu hanya akan memuat dua artikel setiap hari dengan tema yang sebelumnya sudah ditentukan, waktu itu temanya pendidikan. Dua kali saya kirim artikel itu tidak dimuat alias di tolak. Segera saya temukan kelemahan saya, ternyata saya tidak memiliki argument yang lebih baik untuk mendukung naskah artikel tersebut.
Kemudian saya mencari akal, saya menemui seorang senior yang paling jago dalam hal diskusi dan saya mengajaknya berbincang-bincang tentang pendidikan. Harus saya akui ia amat menarik bicaranya dan kosakatanya luas. Sejam kemudian saya membaca ulang catatan kecil hasil diskusi sambil mengingat perkataannya yang masih terekam dalam ingatan saya. Sebentar kemudian jadilah dua artikel. Kemudian saya kirim dua-duanya, satu pake nama teman. Dua-duanya dimuat. Dari itulah saya menemukan satu metode bagus untuk belajar menulis.

“Bertahun-tahun saya belajar menulis tapi nggak bisa-bisa. Emang gimana sih caranya menulis itu?” tanya seseorang pada saya sesaat setelah mengisi sebuah diskusi tentang menulis. Saya jelaskan banyak hal dan dia terlihat tidak percaya dan berkata bahwa menulis hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berbakat saja. Di ujung kalimatnya ia menyindir bahwa saya tak jauh beda dengan gurunya di kelas yang hanya bisa teori dan teori.
“Kamu serius ingin menjadi penulis?” tantang saya dengan sedikit kalap.
“Iya,” sambutnya ketus sekali, “tapi, sekarang kayaknya udah putus asa.”
“Boleh tau apa yang ingin kamu tulis?”
“Cerpen. Saya punya satu kisah yang menurut saya paling menarik. Saya ingin membagi cerita ini pada orang lain.”
Dari cara ngomongmu, kamu punya bakat besar menjadi penulis, bego!, “Tentang apa?”
“Kisah cinta.” Jawabnya. Dasar AbG!
Saya ajak dia ke sudut, “Boleh saya mendengar sedikit ceritamu?” Jangan tanya kenapa!

Dia lalu bercerita dengan singkat tentang kisahnya dan memang seru. Setelah itu saya memberitahukannya bahwa saya merekam semua ceritanya dengan ponsel dan saya meminta waktu sebentar untuk menuliskannya ke dalam kertas.

Setelah itu saya edit, ditambah dan dikurangi serta didramatisir sehingga jadilah sebuah cerpen yang menarik. Metode ini bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk menulis cerpen. Jangan dulu berpikir bahwa cerpen kita tidak bagus atau tidak menarik. Semua kisah masing-masing memiliki keunikan dan daya tarik yang berbeda. Jadi, kalau ada orang yang mengeluh susahnya menulis padahal ia bisa mengarang cerita, maka latihlah dengan metode ini. Nanti kalau sudah terbiasa, anda cukup mendengarkan temanmu bercerita dan anda akan segera bisa menyulapnya menjadi cerpen atau artikel. Kalau masih belum puas hasilnya, diskusikan dengan orang yang udah lebih dulu pandai mengarang. Yang pasti jangan berhenti mencoba, kan sayang kalo kisah indahmu tidak pernah ditulis sama sekali.

Teori Dalam Pelajaran Bahasa Tetap Penting.
Bagaimanapun juga pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dan kampus tetap penting untuk membantu kita menjadi penulis. Dalam menulis biasakanlah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar terutama untuk penulisan artikel. Waktu menjadi juri lomba cerpen pelajar, banyak sekali saya temui naskah cerpen yang salah menempatkan tanda (titik, koma, tanda petik dst). Ada juga cerpen yang menggunakan bahasa singkatan yang tidak dimengerti. Minatilah pelajaran bahasa sehingga anda benar-benar menguasainya.

Segera Catat Inspirasi Yang terlintas.
Seringkali ide dan inspirasi itu datang pada waktu yang tidak terduga dan kalau kita tidak mencatatnya bisa jadi kita akan lupa dan hal itu belum tentu akan datang lagi. Saya menyarankan biasakan membawa buku kecil ke manapun anda pergi. Atau bisa juga ide yang datang tiba-tiba itu dicatat melalui ponsel dan direkap ulang di dalam buku pada saat anda sempat.

Pastikan pada saat yang tepat anda akan menulis ide itu ke dalam bentuk tulisan yang utuh. Usahakan juga, kalau anda mendengar sesuatu (kosa kata menarik, tema, judul, kalimat indah, kata mutiara dll) dari orang lain, segera catat sebab itu akan membantu perbendaharaan kata anda di dalam menulis. Saya sendiri mendapatkan banyak manfaat dari cara seperti itu. Usahakanlah punya satu buku khusus untuk mencatat hal-hal singkat yang mengingatkan anda pada tema tulisaan (kamus pribadi), misalnya ide tulisan yang hendak dijadikan cerpen, inspirasi yang kemarin malam muncul sebelum tidur, daftar novel yang ingin ditulis, daftar nama tokoh dalam cerpen yang menarik, cuplikan deskripsi dalam sebuah novel yang ingin anda baca berulang-ulang saking bagusnya, dan seterusnya.
Pelajari Karakter Teman Di Sekitarmu
Ada banyak karakter manusia yang diulas dalam satu cerita. Kita tahu bahwa manusia memiliki karakter yang berbeda. Hal ini memberi kita pelajaran penting dalam menulis. Menulis cerpen akan lebih mudah (terutama dalam mendiskripsikan tokoh dan membuat adegan dialog) jika kita menjadikan orang yang kita kenal sebagai referensi. Misalnya begini, dalam cerpen kita ada tokoh antagonis yang cerewet, pemuja penampiran dan suka anill. Carilah diantara teman di pergaulanmu yang iker iki sikap demikian dan perhatikan bagaimana gaya bicarannya, pilihan kalimatnya dan intonasinya. Contoh lain, dalam cerpen ada tokoh baik, penyabar dan jujur. Perhatikan di sekeliling adakah temanmu yang memiliki sifat demikian? Jika ada perhatikan cara bicaranya, sikapnya, kesukaannya.

Sehingga ketika ingin menggambarkan kepada pembaca bagaimana sih sosok tokoh baik itu, maka anda akan dimudahkan oleh teman yang baik tadi sebagai referensi. Hal ini akan membantu untuk mendiskripsikan karakter orang. Sebab, dalam sebuah cerita, pasti akan mengulas sifat. Ada yang baik, jahat, nakal, penyabar, curang, gagah, centil, penggoda, penggombal, pembohong dan seterusnya. Karakter seperti itu ada di sekeliling kita. Tinggal comot saja mereka sebagai tokoh dalam cerita.

Buatlah Kerangka Cerita
Dalam pelajaran bahasa sering kita dianjurkan untuk membuat kerangka karangan. Hanya saja metodenya cukup formal dan sulit dijadikan acuan dalam mengarang. Menurut saya, bikinlah kerangka cerita itu sesuai dengan kebiasaan dan gaya anda sendiri misalnya, ingin menulis sebuah cerpen tentang persahabatan dengan seseorang. Anda harus mencatat dulu apa aja sih yang ingin anda ceritakan? Kisah persahabatan itu dengan siapa? Sisi menarik apa dalam kisah itu? Apa saja kesan anda terhadap dia? Kenyataan persahabatan apa yang terjadi dengannya? Bagaimana akhir dari kisah itu dan apa harapan anda dalam persahabatan dengannya.
Contoh kerangka sederhana untuk membuat cerpen, katakanlah temanya ‘berpisah’ dengan seorang sahabat:
Kisah persahabatan dengan si A
Awalnya bertemu dalam sebuah acara
Pernah bertengkar hebat karena beda pendapat
Dia sebenarnya sahabat yang penuh pengertian
Dia jadi teman special.
Akhirnya berpisah untuk selamanya karena satu sebab.
Kemungkinan judulnya: Selamat Jalan Sahabatku atau Rinduku Tak Pernah Berakhir atau sepucuk surat untuk sahabat atau Entah Kapan Engkau Kembali dan seterusnya. Biasakan membuat beberapa alternatif judul untuk cerpenmu. Semakin menarik judulnya, semakin memancing orang untuk membaca ceritamu. Judul ibarat wajah, kalo cakep orang mudah jatuh hati.
Dari kerangka sederhana dan acak di atas tinggal anda susun dalam bentuk cerita. Untuk tahap permulaan, tuliskan saja cerita tersebut berdasarkan ingatan yang ada dalam pikiran dan mengacu pada kerangka karangan. Nanti setelah selesai baru di edit lagi agar lebih menarik.

Latihan Menulis Dialog
Cerita pendek seringkali dibuka dengan narasi atau deskripsi tempat atau orang. Dalam latihan menulis kita harus membiasakan diri diselingi dengan dialog antar tokoh. Kalimat dialog itu juga harus disesuaikan dengan karakter usia dan topik pembicaraan si tokoh. Kalo tokohnya seorang guru fisika yang sedang ngajar nggak mungkin pake bahasa gaul ala sinetron yang serba abu-abu, kalau tokohnya seorang galak kemungkinan bahasanya ketus dan kasar. Selain itu perhatikan juga variasi keterangan dialog, misalnya:
“Aku sayang sama kamu.” Bisik cowok itu yang membuat jantung Diva seakan berhenti berdetak.
Anda bisa merubahnya menjadi:
“Aku,” Cowok itu berbisik pelan di dekat telinga Diva, “sayang sama kamu.”
Bisa juga diubah menjadi:
Cowok itu merangkul Diva dan berbisik pelan di antara gemerisik flamboyan yang diterpa angin malam, “Aku sayang sama kamu.”
Itu adalah contoh variasi dialog. Masih ada lagi jenis keterangan dialog yang perlu diperhatikan yang harus disesuaikan dengan adegan, misalnya:
“Jangan tinggalkan aku.” Pinta Ratu lirih. Atau bisa juga dengan: Ratu memohon pada cowok itu agar tidak meninggalkannya sendirian.
“Jangan coba-coba dekati aku lagi!” hardik Diva dengan muka merah padam. Atau bisa juga dengan: Dengan muka yang merah padam Diva menghardik cowok itu agar tidak berusaha lagi mendekatinya.
“Aku berharap kita akan selalu bersama selamanya.” Ucap perempuan itu. Atau juga bisa, “Aku berharap kita akan selalu bersama, selamanya.” Desis perempuan itu memecah keheningan malam.
Ada juga variasi seperti ini: “Kalau saja aku mau jujur, “ kata lelaki itu pada kekasihnya tanpa ada kesan bercanda, “sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu,” sejenak ia terdiam, “sehebat saat ini” Kita harus bisa mengganggu pembaca dengan berbagai variasi yang seolah-olah aneh padahal pesan kita pada pembaca biasa-biasa saja.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan:
-Pandai Mendramatisir cerita.
-Banyak menguasai kosa kata.
-Memasukkan unsur-unsur baru yang lain dari yang lain.
-Jangan terikat oleh ketentuan bahwa panjang cerpen harus sekian halaman (ada cerpen yang Cuma 3 halaman dan ada yang sampai 25 halaman).
-Bimbingan Langsung Pada Penulis
Hal ini yang paling cepat membuat anda mahir menulis. Anda bisa menulis dulu satu naskah cerpen kemudian anda konsultasikan dengan penulis yang anda kenal, dan mintalah agar naskahmu di edit dan dikemas dengan lebih baik. Dengan begitu kamu bisa langsung mengetahui kelebihan serta kelemahan tulisannya. Saya sendiri sering membantu memperbaiki naskah cerpen para pemula dan akhirnya mereka berhasil menembus media massa dan memenangkan berbagai lomba cerpen. Untuk kebutuhan pelajaran menulis, pembaca (khusus pemula) bisa mengirimkan naskahnya (cerpen singkat) ke e-mail penulis dan penulis akan berusaha mengirimkannnya kembali sesuai permintaan pemilik cerpen.

Demikian sedikit tips dalam menulis. Yang pasti jangan berhenti untuk belajar dan mencoba. Kalau di negeri ini ada ribuan penulis sukses yang benar-benar mulai dari nol, kenapa kita tidak segera menyusul mereka?

Jurus-jurus praktis memulai bisnis Muslimah

Jurus-jurus praktis memulai bisnis Muslimah

Akhir-akhir ini, biaya kehidupan sehari-hari makin terasa memberatkan. Listrik, bensin, transportasi; berbagai kebutuhan pokok tersebut telah naik berkali-kali. Kenaikannya tersebut kemudian biasanya diikuti dengan kenaikan berbagai komoditas yang tergantung pada hal-hal tersebut juga. Sehingga kini kenaikannya menjadi cukup merata di segala hal.
Banyak orang yang kemudian tergoda untuk berusaha sendiri. Tapi kemudian banyak juga yang kita lihat mengalami kegagalan dalam usahanya tersebut.

Bagaimana dengan kita? Tentu menarik sekali ya jika kita juga bisa memiliki usaha kita sendiri. Apakah itu niatnya sekadar mengisi waktu, apalagi ketika anak-anak kita sudah mandiri. Atau niat membantu suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mungkin malah untuk mengikuti sunnah Nabi saw sebagai seorang pedagang dulunya, dimana Nabi saw juga telah bersabda bahwa, “Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki” (HR Ahmad)

Pertanyaannya sekarang; how? Bagaimana caranya kita memulai usaha kita sendiri?

Selama bertahun-tahun, saya mengamati berbagai usaha muslimah; bagaimana awalnya, suksesnya, dan ada juga yang kemudian menurun. Dari situ, banyak sekali yang bisa kita jadikan pelajaran.

1. Temukan peluang, yang cocok, bagi Anda.

Pertama sekali, Anda harus menentukan dulu, bisnis apa yang ingin dan bisa Anda lakukan.

“Ingin” - usaha tersebut harus sesuai dengan bakat dan minat Anda. Jika usaha tersebut berpotensi bagus, namun tidak menarik bagi Anda, maka akan bermasalah di tengah jalannya kelak. Ini kadang terjadi, dan akibatnya biasanya cukup fatal.
“Bisa” - usaha tersebut memang adalah usaha yang mampu Anda lakukan; Anda punya cukup modalnya, ada waktunya, dan seterusnya.

Ada berbagai jenis usaha, yaitu produksi, jual-beli, jasa, atau kombinasinya. Contoh usaha produksi misalnya usaha konfeksi busana muslim, kerajinan tangan, bakery, dan lain-lain. Contoh usaha jual-beli misalnya warung, MLM, toko, dan seterusnya. Sedangkan contoh usaha jasa seperti konsultan komputer / arsitektur / pembukuan / landscape / dan lain-lainnya.
Yang kombinasi misalnya usaha konfeksi busana muslim, yang juga ada outletnya; sehingga, usaha tersebut mencakup produksi dan jual-beli.

Sebagai muslimah, memang kita ada memiliki beberapa keterbatasan. Biasanya dari segi waktu, karena memang tanggung jawab pertama adalah mengurus keluarga kita. Jadi kita perlu memilih jenis usaha yang bisa kita jalankan, walaupun dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.
Tapi jangan menganggap bahwa ini akan membuat kita tidak bisa menjadi maju - justru beberapa usaha muslimah bisa lebih maju daripada usaha suaminya. Biasanya ini terjadi ketika muslimah tersebut menganggap keterbatasan tersebut sebagai bagian dari tantangan, bukan halangan. Sehingga tidak menjatuhkan semangat, tetapi justru memicu kreatifitasnya.

Untuk pemula seperti kita, sebaiknya kita melakukan usaha yang belum banyak saingannya. Atau kalaupun sudah ada saingannya, kita bisa menawarkan kelebihan, sehingga ada alasan bagi customer untuk memilih kita.
Jangan cuma menjadi peniru tanpa ada kelebihan apa pun — ini yang sangat sering terjadi. Katanya, inilah orang Indonesia, satu orang buka usaha kios ponsel, maka semuanya ikut-ikutan membuat itu juga. Hasilnya? Biasanya cuma terbuangnya waktu, tenaga, dan uang Anda.

“Find your niche”, kata seorang pakar - temukan celah yang cocok bagi Anda. Ada yang membuat kerajinan tangan, sampai bisa diekspor. Ada yang memulai usahanya dari sekolah anaknya, sambil menunggui anaknya sekolah dia berdagang dengan ibu-ibu lainnya. Ada yang malah bekerja dari rumah - dengan modal bahasa Inggris dan bakat desain, kemudian menjadi freelance desainer situs Internet. Dan lain-lainnya.

Seperti yang Anda telah lihat, ini adalah hal yang penting. Karena itu, yakinkan dulu bahwa usaha tersebut memang adalah sesuatu yang cocok untuk Anda. Jika Anda telah merasa cocok, maka berikutnya kita perlu meneliti, apakah usaha tersebut memang bisa menguntungkan.

2. Proposal bisnis

Percaya atau tidak, cukup banyak orang melakukan usaha tanpa terlebih dahulu meneliti, apakah memang usaha tersebut bisa menguntungkan. Banyak orang yang memulai bisnisnya hanya dengan berdasarkan angan-angan, tanpa perhitungan.
Walaupun Anda sudah sangat ingin dan sangat perlu untuk memulai bisnis, tahan dulu sebentar. Waktu yang Anda luangkan untuk membuat proposal bisnis ini bisa menyelamatkan Anda dari kesulitan di masa depan.

“Saya mau buka usaha dengan uang saya sendiri, enggak pakai investor kok. Ngapain musti buat proposal juga ?”. Sebetulnya tetap ada investor disini - yaitu Anda sendiri. Tentunya Anda perlu tahu, apakah usaha yang akan dimodali ini memang akan bisa menguntungkan, atau justru cuma akan melenyapkan uang Anda tanpa bekas.

Minimal, berikut ini adalah hal-hal yang perlu tercantum di suatu proposal bisnis:

  • Kebutuhan modal awal
  • Ongkos rutin
  • Estimasi pemasukan
  • Strategi bisnis

Contoh proposal bisnis bisa kita lihat berikut ini :

Proposal usaha kedai sandwich (roti isi)

  1. Strategi bisnis:
    • Banyak pegawai yang tidak sempat sarapan, karena keterbatasan waktu. Sandwich harganya murah, mengenyangkan, rasanya enak, dan praktis - bisa dimakan sambil duduk di bis sekalipun.
    • Penjualan: sistim bagi hasil laba bersih, penjual: 30%, pemilik: 70%. Berupa kios sederhana, di lokasi-lokasi yang banyak dilewati orang-orang yang akan pergi berangkat kerja.
    • Estimasi modal per sandwich: Rp 3000, Harga jual: Rp 5000
    • Estimasi laba per bulan : (pemasukan - pengeluaran) =
      (laba kotor - ongkos) =
      ( 4.000.000 - 660.000) = Rp 3.340.000
  2. Kebutuhan modal awal:
    • Oven untuk membuat baguette (roti lonjong ala Perancis) : Rp 5.000.000
    • 2 buah kios @ Rp 3.000.000 = Rp 6.000.000
    • Persediaan filling (isi) sandwich untuk 2000 sandwich = Rp 4.000.000
    • Promosi : spanduk, pamflet, kartu nama: Rp 1.000.000
    • Total : Rp 16.000.000
  3. Ongkos rutin bulanan:
    • Gas Elpiji @ Rp 55.000 x 4 = Rp 110.000
    • Kemasan sandwich = Rp 300.000
    • Saus tomat, cabai, mayonnaise, mentega = Rp 250.000 (dimasukkan menjadi ongkos bulanan karena sulit diperhitungkan nilainya untuk setiap sandwich)
    • Total : Rp 660.000,-
  4. Estimasi pemasukan:
    Setiap kios diperkirakan bisa menjual 50 sandwich per hari. Jika target pasar adalah pegawai kantor, maka ada 20 hari kerja dalam sebulan.

    Berarti penjualan per bulan per kios adalah 1000 buah sandwich, total 2 kios = 2000 sandwich per bulan.

    Laba kotor:
    Laba per sandwich = Rp 2000
    Laba kotor per bulan = Rp 2000 x 2000 sandwich = Rp 4.000.000

Keterangan:

Kunci dalam pembuatan proposal bisnis adalah jujur dengan diri Anda sendiri. Terutama pada bagian estimasi pemasukan; sangat mudah untuk tergoda menaikkan angka-angka di bagian ini. Tapi jangan lakukan itu, karena hanya akan menyulitkan Anda sendiri di masa depan; proposal bisnisnya bagus dengan angka keuntungan yang fantastis, namun pada kenyataannya ternyata merugi besar-besaran.

Kunci berikutnya adalah informasi.
Dengan informasi yang mencukupi, maka Anda dapat membuat proposal bisnis yang realistis. Sehingga, pada pelaksanaannya nanti tidak akan meleset terlalu jauh dari apa yang telah kita perkirakan disini.
Untuk setiap bisnis, berbeda lagi cara mengumpulkan informasinya. Pada contoh usaha sandwich ini, mengenai estimasi pemasukan; misalnya kita bisa memperhatikan bakal lokasi usaha, dan menghitung kira-kira ada berapa orang pegawai yang lalu-lalang di daerah itu.
Misalkan ada 1000 orang, maka kemudian kita ambil persentase konservatif bahwa akan ada 5% yang tertarik dengan sandwich kita. Maka, didapatlah estimasi omset 50 buah sandwich per hari.

Bagian modal awal dan ongkos rutin tidak terlalu sulit, terutama memerlukan ketelitian. Jangan sampai ada hal yang terlewat, sehingga menjadi kejutan yang tidak menyenangkan setelah usaha berjalan.

Nah, setelah kita menuliskan semuanya dalam suatu proposal bisnis, maka kini kita telah mempunyai gambaran yang lebih jelas mengenai bisnis tersebut. Jika kita kemudian yakin bahwa bisnis ini memang bisa menguntungkan, maka selanjutnya kita perlu mencari lokasi untuk usaha tersebut.

3. Lokasi

Ketika dimintai tips-tips untuk membuka usaha, seorang kawan pernah menjawab, “1. Lokasi. 2. Lokasi. 3. Lokasi.”

Bagi sebagian besar bisnis, lokasi memang adalah kunci yang terpenting.
Pada usaha produksi, lokasi yang banyak sumber daya manusia dan dekat dengan sumber bahan produksi akan membantu meningkatkan efisiensi. Pada usaha dagang, lokasi yang yang tepat bisa membedakan antara keberhasilan dengan kegagalan. Pada usaha jasa, lokasi yang mudah dijangkau oleh customer bisa meningkatkan penghasilan Anda.
Demikianlah pentingnya lokasi.

Mencari lokasi ini bisa sulit sekali, karena daerah-daerah strategis biasanya sudah ditempati. Atau menjadi mall / ITC, yang biaya sewanya juga sangat mahal.
Tapi bisa juga menjadi mudah sekali, seperti misalnya jika silaturahmi kita bagus dan luas. Maka bisa saja tiba-tiba justru ada orang yang menawarkan tempatnya kepada Anda, tanpa perlu mencari-cari.

Jika Anda menemukan bahwa usaha Anda memang membutuhkan lokasi yang bagus, maka jangan sekali-kali tergoda untuk memulai usaha sebelum menemukannya.
Gencarkanlah usaha Anda untuk menemukan lokasi idaman tersebut. Silaturahmi juga dapat sangat membantu disini.

Tips: seringkali kita bisa menumpang lokasi. Seperti pada contoh usaha sandwich ini, karena kiosnya kecil, maka kita bisa menumpang di halaman minimarket Indomaret / Alfamaret, dengan membayar biaya sewa bulanan. Ini cenderung lebih murah daripada kita menyewa khusus untuk usaha kita sendiri.

4. Modal

Idealnya memang modal bisa 100% dari Anda sendiri. Tapi ini mungkin tidak selalu demikian halnya. Seringkali kita memerlukan tambahan dana dari investor lainnya.

Untuk memulai bisnis, saya sarankan untuk menghindari pinjaman bank, walaupun bank syariah.
Kalaupun proposal bisnis kita bagus, tetap usahakan menghindarinya; karena jika ternyata gagal, maka akan sangat sulit untuk mengembalikannya.

Lagipula pinjaman bank ini sering mengecoh. Kadang kita lupa, apalagi jika tidak ada pembukuan yang rapi, sehingga mengira uang bank sebagai uang kita sendiri. Walhasil, banyak orang yang kemudian justru memakai uang bank untuk membeli rumah, mobil, dan benda-benda yang lebih bersifat konsumtif lagi.

Selain terkecoh seperti itu, kadang juga kita lupa memperhitungkan beban bunga bank dan cicilan bank. Contoh; pada usaha warung, persentase labanya sangat tipis - seperti susu, labanya hanya sekitar 1% - 2%. Padahal harganya mahal sekali ya, siapa sangka ternyata labanya luar biasa tipis seperti itu.
Jika tidak hati-hati dalam memanfaatkan pinjaman bank, maka kita bisa kesulitan bahkan sekedar untuk membayar bunga setiap bulannya.

Alternatif lainnya adalah investor luar. Biasanya kemudian dibuat perjanjian / akadnya.
Jika kita telah membuat proposal bisnis seperti yang dibahas sebelumnya, ini bisa membantu kita untuk menjaring investor yang cocok dengan kita.
Kuncinya disini adalah pada akadnya; buat perjanjian yang tertulis, dan jelas. Bahkan (terutama) dengan investor yang dari keluarga sendiri. Karena seringkali kasus penzaliman itu dilakukan oleh keluarga.
Tapi kita sering lengah, ya maklumlah, apa iya keluarga sendiri mau menzalimi saudaranya sendiri - eh, ternyata, bisa saja lho. Dan sudah banyak kasusnya.

Jadi, berhati-hatilah. Pastikan bahwa akadnya akan mendorong terciptanya keadilan untuk kedua belah pihak.

5. Eksekusi

Ketika semuanya telah siap - maka kini adalah waktu untuk melaksanakannya. Anda kini berada di posisi eksekutif, sebagai eksekutor dari bisnis ini.
Inilah saatnya Anda melakukan semua yang telah Anda rencanakan selama ini.

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan :

  1. Promosi : Tidak ada gunanya Anda menjual barang/jasa yang sangat berguna, dengan harga yang murah, jika orang tidak tahu bahwa Anda ada.

    Promosi adalah suatu keharusan bagi setiap usaha. Namun, promosi yang ngawur juga justru bisa menghabisi suatu usaha.

    Untuk usaha yang tergantung pada lokasi, Anda perlu menyisihkan dana untuk membuat papan nama yang besar dan jelas.
    Sisihkan waktu/dana tambahan untuk membuat desain yang menarik pandangan mata orang yang tadinya hanya lewat. Tidak ada gunanya membuat papan nama besar jika bahkan sekedar dilirik pun tidak.

  2. The only constant is change - satu-satunya hal yang pasti adalah perubahan.

    Dalam melakukan usaha, sulit untuk bisa duduk tenang berpangku tangan. Akan selalu muncul hal-hal baru; pesaing baru, kenaikan ongkos, perubahan pasar, dan lain-lainnya.

    Tidak semuanya bisa Anda perkirakan di dalam proposal bisnis. Karena itu, Anda harus selalu siap untuk menghadapi masalah yang baru.

    Pertama-tama, Anda harus bisa menyadari dulu bahwa ada masalah. Karena, Anda tidak bisa menyelesaikan masalah yang setahu Anda tidak ada.
    Tapi kadang memang kita tidak menyadari akan adanya suatu masalah, karena kita telah sibuk (terjebak) dalam rutinitas.

    Disinilah pentingnya masukan dari pihak ketiga. Secara rutin, undanglah kawan atau saudara untuk menilik usaha Anda tersebut. Dan jangan lupa berterimakasih atas masukan-masukan yang mereka berikan.
    Tanpa informasi dari mereka, maka bisa saja tahu-tahu bisnis Anda telah berada di ambang kebangkrutan, dan Anda hanya bisa kebingungan, mengapa hal ini bisa terjadi.

    Kedua, Anda harus segera menyelesaikan masalah tersebut. Menunda masalah adalah menambah masalah. Masalah tidak akan selesai dengan menundanya.

    Ketiga, anggap saja masalah ini sebagai selingan yang menarik, di tengah-tengah rutinitas bisnis. Maka masalah yang muncul tidak akan membuat Anda patah semangat, malah justru akan mendorong munculnya ide-ide dan semangat baru.

  3. Customer service : Pembeli adalah raja, demikian pepatah yang sering kita dengar. Setelah melayani mereka dengan ramah, baik, dan sabar; maka biasanya beberapa customer akan merasa nyaman untuk berterus terang kepada Anda.

    Dari mereka Anda akan mendapatkan informasi-informasi paling berharga untuk usaha Anda tersebut — apa saja kekurangan Anda, apa kelebihan, apa potensi yang masih bisa digarap / dikembangkan.

    Customer service juga bisa menjadi kelebihan Anda dari para pesaing Anda, ketika usaha Anda sama dengan mereka.
    Berikan layanan yang lebih - layan antar, barang yang bisa dibuat sesuai pesanan, dan seterusnya.

  4. Hemat : Salah satu godaan dalam berbisnis adalah untuk berfoya-foya ketika memegang uang agak banyak.

    Semua pengusaha sukses yang saya kenal adalah orang yang hemat.
    Bahkan walaupun mereka kelihatan kaya / boros; namun ternyata sebetulnya masih termasuk hemat jika dibandingkan dengan income / pemasukan mereka.

    Ingatlah bahwa Anda baru memulai usaha Anda. Jalan Anda masih panjang. Pepatah “bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian” harus Anda camkan di benak Anda.

Berbisnis itu sulit ? Mudah ? Semuanya kembali kepada Anda. Namun, dengan perencanaan yang baik, maka segala hal bisa menjadi lebih mudah.

Selamat memulai usaha Anda.

Menentukan Harga Sebuah Karya Desain

View Full Version : Menentukan Harga Sebuah Karya Desain

Dalam dunia desain (khususnya dunia webdesign) banyak sekali cara menentukan harga sebuah desain yang diterapkan oleh perusahaan jasa desain ataupun freelance desainer. Ada yang memberikan harga per-paket, ada yang berdasarkan jumlah halaman, ada yang menentukan flat-price, ada pula yang menetukan berdasarkan rate per-jam atau per-hari.

Bagaimana sebuah kerja kreativitas dihargai? Sedemikian sulit-kah menentukan harga sebuah desain? Argumen apakah yang bisa diberikan seorang desainer dalam menentukan harga sebuah desain? Ini adalah masalah klasik dalam dunia desain, khususnya bagi para freelance desainer.

Berdasarkan obrolan dengan sesama freelance desainer dan juga dari pengalaman, saya mencoba merumuskan bagaimana memberi harga pada sebuah hasil karya kreatif. Sebenarnya ini bukan rumus mutlak. Setiap desainer pasti punya cara sendiri-sendiri untuk menentukan harga sebuah pekerjaan desain. Tapi paling tidak ini merupakan satu cara menentukan harga desain yang kira2 mungkin bisa diterapkan dan mungkin “cukup fair”.

Caranya adalah dengan memakai formula:

HP = HT – (d x HT)

dimana: HT = [ R x W ] + K + M

HP = Harga penawaran sebuah desain atau project desain
HT = Harga total pekerjaan desain
R = Rate per-hari atau per-jam dari seorang desainer dimana 1 hari = 8 jam kerja
W = Estimasi waktu lamanya pengerjaan desain/proyek
K = Harga konsep desain
M = Harga material desain.
d = prosentase potongan harga (discount) yang diberikan

Mengapa saya bilang “cukup fair”? Ini disebabkan karena dengan formula ini seorang desainer dituntut untuk bisa memberikan estimasi yang masuk akal dan cukup objektif akan hal2 seperti: seberapa objektif seorang desainer menilai skill desain dan pengalamannya, berapa lama sebuah pekerjaan bisa diselesaikan, berapa harga sebuah konsep desain atau perlu/tidaknya memberikan potongan harga kepada klien, dsb. Juga dikatakan "cukup fair" karena dengan menerapkan perhitungan ini, kedua belah pihak (desainer dan klien) diharapkan bisa melihat sisi objektif dari sebuah pekerjaan desain. Calon klien tidak merasa dibohongi dan di sisi lain desainer juga tidak merasa bekerja rodi.

Menentukan Variabel2 Formula.

1. Rate ®
Rate adalah harga perhari atau perjam yang ditentukan pada kemampuan seorang desainer dalam mengerjakan pekerjaan2 desain. Besarnya bergantung pada skill yang dikuasai, pemahaman konsep desain, pengalaman, portfolio, kredibilitas klien yang pernah ditangani, dsb. Singkatnya R bergantung pada pengalaman dan jam terbang seorang desainer.

Sebagai contoh seorang desainer yang menguasai seabrek software desain mulai dari Photoshop sampai program 3D tercanggih, memiliki pemahaman konsep desain yang dibuktikan dengan portfolio yang ditunjukkan, pernah bekerja di perusahaan desain terkemuka, berpengalaman menangani klien2 “wah” seperti Nokia, BMW, dsb, bisa dikategorikan sebagai highly priced desainer dengan rate misalnya Rp. 2.000.000/hari. Sementara seorang lulusan sekolah desain yang baru memiliki 2-3 portfolio dari perusahaan2 kecil bisa dikategorikan sebagai pemula dengan rate sekitar Rp. 100.000/hari. Disini, seorang desainer dituntut untuk mampu mengestimasi “nilai jual” dirinya berdasarkan faktor2 tersebut.

R bisa dihitung perhari ataupun perjam. Mengapa? Beberapa desainer menentukan rate/hari dengan alasan kemudahan perhitungan. Desainer lain menerapkan rate/jam dengan alasan agar lebih gampang menghitung waktu untuk revisi. Sebenarnya ini sama saja. Seperti disebutkan di atas, 1 hari = 8 jam. Sekarang kembali kepada sang desainer untuk menghitung lamanya pengerjaan sebuah proyek desain dalam hitungan hari (agar lebih sederhana) atau dalam hitungan jam agar lebih detail.

Tetapi ada satu hal lain yang harus dipertimbangkan. Ada kalanya rate/jam sangat sulit diterima oleh klien di Indonesia. Di negara2 maju dimana pekerjaan desain sudah dihargai dengan baik, rate/jam mungkin bisa diterapkan dan diterima oleh calon klien. Ini karena profesi desainer sudah dianggap sejajarkan dengan pekerjaan jasa profesional lain seperti pengacara, dokter, dsb. Akan tetapi bila kita berbicara dalam konteks lokal, berdasarkan pengalaman saya, rate/jam sangat sulit untuk diterima oleh umumnya klien di Indonesia. Tapi bila seorang desainer merasa confident untuk menerapkan rate/jam untuk klien di Indonesia, well.. why not?

2. Estimasi Lamanya Pengerjaan (W)
Estimasi lamanya waktu pengerjaan adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah desain/proyek desain. Berkaitan dengan rate ®, waktu bisa dihitung dalam satuan hari ataupun jam. Sebagai gambaran, jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) halaman HTML tanpa programming tentu akan berbeda dengan jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) halaman website full-flash.

Dalam menentukan jumlah hari ini desainer dituntut untuk reasonable dalam arti tidak mengada-ada dan masuk diakal. Sebagai contoh mengerjakan sebuah halaman HTML simpel tentu tidak akan memakan waktu sampai 7 hari (56 jam), bukan? Bila desainer menetapkan variabel Rate ® dalam satuan hari, variabel H tidak harus bulat, ia bisa bernilai 0.5 (setengah hari = 4 jam) hari atau 0.25 (seperempat hari = 2 jam).

3. Harga Konsep Desain (K)
Yang agak rumit mungkin menentukan harga konsep desain. Akan tetapi kita bisa mengira2 seberapa original dan brilyan-nya sebuah konsep desain. Disinilah seorang desainer dituntut untuk bisa menguraikan konsep desain yang ia tawarkan. Bukan hanya terbatas pada ide dan tampilan visual semata, tapi juga mencakup hal2 lain seperti ‘look and feel’, tata letak (lay-out) yang baik, flow navigasi dan penempatan menu sebuah website, sitemap, pemilihan tagline, dsb.

Seorang teman desainer mengatakan bahwa ia juga menerapkan semacam perhitungan untuk menentukan harga K. Dalam kasus ini, harga K ditentukan dari berapa lama ia melakukan eksplorasi untuk mendapatkan ide dan menguraikannya menjadi sebuah konsep desain. Dengan kata lain, K=Rk x Wk (rate desainer dikalikan jumlah waktu eksplorasi). Rumit? Mungkin terlihat rumit, tapi sekali lagi, di negara2 maju (kebetulan teman saya tersebut pernah bekerja di luar negeri dan baru kembali ke Indonesia), ini merupakan hal yang wajar dan bisa diterima oleh klien.

4. Prosentase Potongan Harga (d)
Mungkin terkesan aneh bila diterapkan potongan harga untuk sebuah desain/proyek desain. Akan tetapi hal ini perlu dipertimbangkan bila seorang desainer menghadapi kasus dimana calon klien merupakan sebuah perusahaan besar dan menurut perkiraan memungkinkan terbentuknya long term relationship dan kontinuitas proyek. Dengan menerapkan discount, desainer bisa memberi alasan “proyek perkenalan” dimana sebagai awal long term relationship, sebuah desain yang bagus diberi harga yang relatif murah. Bila memang tidak mau, desainer bisa memberi harga 0 (nol) untuk variabel ini.

5. Harga Material Desain (M)
Harga material desain adalah total harga pengadaan material untuk pekerjaan desain yang mencakup harga session fotografi, pembelian stock image, pembelian lisensi additional software, fee copywriting. dan lain2

Sekarang mari kita lihat variabel mana yang nilainya bersifat fleksibel dan variabel mana yang bernilai tetap. Harga W yang pasti nilainya bersifat fleksibel karena bergantung dari skala proyek desain yang dikerjakan. Harga M juga bersifat fleksibel karena bergantung dari harga pihak ketiga yang menyediakan material desain (copywriter, fotografer, harga stock image, dsb). Harga d juga bersifat fleksibel seperti telah diuraikan di atas.

Harga konsep (K) pun bersifat fleksibel. Perbedaan ada pada cara menentukan harga tersebut. Seperti telah diuraikan di atas, ada beberapa desainer yang menetapkan nilai K dengan rumus K=Rk x Wk. Tapi ada juga desainer yang menetapkan nilai K tanpa menguraikannya seperti itu. K adalah sebuah nilai yang mencakup seluruh hal mulai dari eksplorasi, ide, konsep, dsb. Semata-mata karena pertimbangan kemudahan. Sebenarnya keduanya sama saja, itu hanyalah cara desainer untuk memberikan argumen yang tepat untuk harga sebuah kreativitas.

Bagaimana dengan variabel R?

Ada dua fenomena menarik. Beberapa freelance desainer (dan juga umumnya agensi desain) mematok harga R tetap (fixed) dengan alasan bahwa harga tersebut adalah standar profesionalisme mereka. Desainer dengan harga R tinggi harus bisa bekerja dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan desainer dengan harga R yang lebih rendah untuk sebuah hasil yang kualitasnya sama. Artinya klien yang menyewa desainer dengan R tinggi akan diuntungkan dengan waktu pengerjaan (W) yang lebih singkat/cepat bila dibandingkan dengan mempekerjakan desainer dengan harga R yang lebih rendah.

Di sisi lain ada desainer yang lebih fleksibel dengan harga R yaitu dengan menentukan nilai R sesuai dengan kredibilitas ataupun skala perusahaan klien. Sebagai ilustrasi, desainer seperti ini memberikan nilai R yang tinggi kepada sebuah perusahaan multi-nasional yang memiliki aset milyaran dan memberi rate yang lebih rendah kepada perusahaan kecil berbudget rendah, misalnya.

Contoh berikut mungkin bisa lebih memperjelas:

Seorang desainer level menengah memberikan rate perhari sebesar Rp. 700.000/hari sesuai dengan skill, portfolio, pemahaman konsep dan pengalamannya kepada firma-hukum mid-size untuk mengerjakan website company profile. Struktur website tersebut adalah sebagai berikut:
http://home.graffiti.net/kamdih/sitemap.jpg
Struktur tersebut akan diterapkan dalam halaman2 berbasis HTML dengan tambahan features animasi flash di frontpage-nya dan aplikasi backoffice untuk news update. Estimasi pengerjaannya adalah 10 hari. Tampilan visual, look and feel serta alur navigasi dari website yang akan dibuat sangat sesuai dengan corporate image dari firma-hukum tersebut yang dibuktikan dengan mock-up yang telah dibuat. Untuk itu si desainer memberikan harga Rp. 3.000.000. Stok foto dan text untuk website disediakan oleh client, sehingga harga material = 0 (nol). Desainer tersebut memutuskan memberikan discount sebesar 10% dari harga total dengan pertimbangan akan terjalin long term relationship dimana firma hukum tersebut nantinya mungkin juga akan membuat aplikasi intranet, dsb.

Dalam kasus ini, harga penawaran adalah sebesar:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000

HP= 10.000.000 – (10% x 10.000.000) = 9.000.000

Jadi, harga penawaran yang diajukan adalah sebesar Rp. 9.000.000. Bila ternyata calon klien melakukan bargaining, desainer bisa bertahan dengan memberikan argumen bahwa secara konsep, desain tersebut sangat cocok dengan corporate image perusahaan atau effort yang dikeluarkan untuk pengerjaan proyek memang cukup besar.

Kemungkinan besar, calon klien akan bersikeras melakukan bargaining terhadap harga2 variabel2 tersebut. Disini, desainer bisa memperkecil harga penawaran dengan menurunkan harga rate per-hari menjadi Rp. 650.000 misalnya, sehingga manjadi:

HT= (650.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 9.500.000

HP= 9.500.000 – (10% x 9.500.000) = 8.550.000

atau memperbesar prosentase discount menjadi 15%:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000

HP= 10.000.000 – (15% x 10.000.000) = 8.500.000

Dalam contoh tersebut bisa dilihat bahwa sang desainer melakukan bargaining dengan menerapkan harga R yang fleksibel dengan tidak mengurangi waktu pengerjaan (W) berdasarkan pertimbangan2 tertentu misalnya load pekerjaan yang tinggi, dsb. Sementara desainer yang menetapkan fix rate R, bargaining mungkin bisa dilakukan dengan memberikan discount atau mengurangi waktu kerja (W)

Formula tersebut saya rasa cukup general dan bisa dipakai untuk menentukan harga pekerjaan desain lainnya dan tidak terbatas hanya pekerjaan webdesign. Ia bisa juga diterapkan untuk pekerjaan desain grafis misalnya. Sebagai contoh, katakanlah desain poster seperti Matrix Revolution di bawah.
http://home.graffiti.net/kamdih/revolutions.jpg
Secara teknis pengerjaan poster tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai mudah dan dapat diselesaikan dalam 1 hari saja. Akan tetapi dengan klien sekelas Warnerbros, desainer bisa menetapkan rate per-hari ® yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan konsep desain yang original dan brilyan yang dilengkapi dengan tagline "Everything That Has a Beginning Has an End" mungkin variabel K bisa dihargai jutaan dollar.

Satu hal lagi, contoh diatas adalah dalam kasus programming atau actionscripting dilakukan oleh satu orang desainer yang sama. Namun formula ini juga bisa diterapkan untuk pekerjaan dimana programming atau flash actionscripting dilakukan oleh orang2 yang berbeda. Jadi bila sebuah desain website misalnya menyangkut juga pembuatan basis-data, programming dan actionscripting, harga penawaran adalah akumulasi dari harga yang diajukan tiap2 team member yang terlibat di dalam pekerjaan tersebut.

Sekali lagi, cara di atas bukanlah sebuah hal mutlak. Ini hanyalah salah satu cara dan penerapannya juga kembali kepada desainer yang bersangkutan. Satu hal yang pasti, formula ini juga tidak akan menjamin diperolehnya sebuah pekerjaan/proyek desain? Harus dibedakan disini antara menentukan harga desain dengan mendapatkan proyek desain. Deal sebuah pekerjaan desain bergantung dari banyak faktor lain seperti relasi, jenis klien, budget, kualitas desain, dsb. Tidak ada jaminan bahwa dengan menerapkan formula ini sebuah proyek desain pasti akan diperoleh. Akan tetapi, minimal seorang desainer memiliki dasar untuk menentukan harga sebuah desain dan tidak hanya bisa bergumam sambil berkeringat dingin bila sang klien mempertanyakan dasar penentuan harga desain yang ia tawarkan.

MENENTUKAN HARGA

Dalam dunia IT (khususnya dunia sistem informasi) banyak sekali cara menentukan harga sebuah aplikasi yang diterapkan oleh perusahaan jasa aplikasi ataupun freelance programmer. Ada yang memberikan harga per-paket, ada yang berdasarkan jumlah form, ada yang menentukan flat-price, ada pula yang menetukan berdasarkan rate per-jam atau per-hari.
Bagaimana sebuah kerja skill dihargai? Sedemikian sulit-kah menentukan harga sebuah aplikasi? Argumen apakah yang bisa diberikan seorang programmer dalam menentukan harga sebuah aplikasi? Ini adalah masalah klasik dalam dunia sistem informasi, khususnya bagi para freelance programmer.

Perhitungan Harga Penawaran
Berdasarkan obrolan dengan sesama freelance programmer dan juga dari pengalaman, saya mencoba merumuskan bagaimana memberi harga pada sebuah hasil karya skill. Sebenarnya ini bukan rumus mutlak. Tapi paling tidak merupakan satu cara menentukan harga aplikasi yang kira2 mungkin bisa diterapkan dan “cukup fair” yaitu dengan memakai formula:

HP = HT – (d x HT)

dimana: HT = [ R x W ] + K + M

HP = Harga penawaran sebuah aplikasi atau project aplikasi
HT = Harga total pekerjaan aplikasi
R = Rate per-hari atau per-jam dari seorang programmer dimana 1 hari = 8 jam kerja
W = Estimasi waktu amanya pengerjaan aplikasi/proyek
K = Harga konsep aplikasi
M = Harga material aplikasi.
d = prosentase potongan harga (discount) yang diberikan

Mengapa saya bilang “cukup fair”? Ini disebabkan karena dengan formula ini seorang programmer dituntut untuk bisa memberikan estimasi yang masuk akal dan cukup objektif akan hal2 seperti: seberapa objektif seorang programmer menilai skill aplikasi dan pengalamannya, berapa lama sebuah pekerjaan bisa diselesaikan, berapa harga sebuah konsep aplikasi atau perlu/tidaknya memberikan potongan harga kepada klien, dsb. Juga dikatakan “cukup fair” karena dengan menerapkan perhitungan ini, kedua belah pihak (programmer dan klien) diharapkan bisa melihat sisi objektif dari sebuah pekerjaan aplikasi. Calon klien tidak merasa dibohongi dan di sisi lain programmer juga tidak merasa bekerja rodi. Very Happy

Menentukan Variabel2 Formula.
1. Rate (R)
Rate adalah harga perhari atau perjam yang ditentukan pada kemampuan seorang programmer dalam mengerjakan pekerjaan2 aplikasi. Besarnya bergantung pada skill yang dikuasai, pemahaman konsep aplikasi, pengalaman, portfolio, kredibilitas klien yang pernah ditangani, dsb.

Singkatnya R bergantung pada pengalaman dan jam terbang seorang programmer. Sebagai contoh seorang programmer yang menguasai seabrek software aplikasi mulai dari Delphi sampai program .Net, memiliki pemahaman konsep aplikasi yang dibuktikan dengan portfolio yang ditunjukkan, pernah bekerja di perusahaan sistem informasi terkemuka, berpengalaman menangani klien2 “wah” seperti Nokia, BMW, dsb, bisa dikategorikan sebagai highly priced programmer dengan rate misalnya Rp. 2.000.000/hari. Sementara seorang lulusan sekolah IT yang baru memiliki 2-3 portfolio dari perusahaan2 kecil bisa dikategorikan sebagai pemula dengan rate sekitar Rp. 100.000/hari. Disini, seorang programmer dituntut untuk mampu mengestimasi “nilai jual” dirinya berdasarkan faktor2 tersebut.

R bisa dihitung perhari ataupun perjam. Mengapa? Beberapa programmer menentukan rate/hari dengan alasan kemudahan perhitungan. programmer lain menerapkan rate/jam dengan alasan agar lebih gampang menghitung waktu untuk revisi. Sebenarnya ini sama saja. Seperti disebutkan di atas, 1 hari = 8 jam. Sekarang kembali kepada sang programmer untuk menghitung lamanya pengerjaan sebuah proyek aplikasi dalam hitungan hari (agar lebih sederhana) atau dalam hitungan jam agar lebih detail.
Tetapi ada satu hal lain yang harus dipertimbangkan. Ada kalanya rate/jam sangat sulit diterima oleh klien di Indonesia. Di negara2 maju dimana pekerjaan aplikasi sudah dihargai dengan baik, rate/jam mungkin bisa diterapkan dan diterima oleh calon klien. Ini karena profesi programmer sudah dianggap sejajarkan dengan pekerjaan jasa profesional lain seperti pengacara, dokter, dsb. Akan tetapi bila kita berbicara dalam ruang lingkup lokal, berdasarkan pengalaman saya, rate/jam sangat sulit untuk diterima oleh umumnya klien di Indonesia. Tapi bila seorang programmer merasa confident untuk menerapkan rate/jam untuk klien di Indonesia, well.. why not? Wink

2. Estimasi Lamanya Pengerjaan (W)
Estimasi lamanya waktu pengerjaan adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah aplikasi/proyek aplikasi. Berkaitan dengan rate (R), waktu bisa dihitung dalam satuan hari ataupun jam. Sebagai gambaran, jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) form tanpa konsep OOP (Obyek) tentu akan berbeda dengan jumlah waktu pengerjaan 1 (satu) form full OOP maupun ODMS.

Dalam menentukan jumlah hari ini programmer dituntut untuk reasonable dalam arti tidak mengada-ada dan masuk diakal. Sebagai contoh mengerjakan sebuah form simpel tentu tidak akan memakan waktu sampai 7 hari (56 jam), bukan? Bila programmer menetapkan variabel Rate (R) dalam satuan hari, variabel H tidak harus bulat, ia bisa bernilai 0.5 (setengah hari = 4 jam) hari atau 0.25 (seperempat hari = 2 jam).

3. Harga Konsep Aplikasi (K)
Yang agak rumit mungkin menentukan harga konsep aplikasi. Akan tetapi kita bisa mengira2 seberapa original dan brilyan-nya sebuah konsep aplikasi. Disinilah seorang programmer dituntut untuk bisa menguraikan konsep aplikasi yang ia tawarkan. Bukan hanya terbatas pada ide dan tampilan visual semata, tapi juga mencakup hal2 lain seperti ‘kredibilitas’, kestabilan aplikasi, sistem update dan backup database, bug report, pemilihan komponen, dsb.

Seorang teman programmer mengatakan bahwa ia juga menerapkan semacam perhitungan untuk menentukan harga K. Dalam kasus ini, harga K ditentukan dari berapa lama ia melakukan eksplorasi untuk mendapatkan ide dan menguraikannya menjadi sebuah konsep aplikasi dengan kata lain K=Rk x Wk (rate programmer dikalikan jumlah waktu eksplorasi). Rumit? Mungkin terlihat rumit, tapi sekali lagi, di negara2 maju (kebetulan teman saya tersebut pernah bekerja di luar negeri dan baru kembali ke Indonesia), ini merupakan hal yang wajar dan bisa diterima oleh klien.

4. Prosentase Potongan Harga (d)
Mungkin terkesan aneh bila diterapkan potongan harga untuk sebuah aplikasi/proyek aplikasi. Akan tetapi hal ini perlu dipertimbangkan bila seorang programmer menghadapi kasus dimana calon klien merupakan sebuah perusahaan besar dan menurut perkiraan memungkinkan terbentuknya long term relationship dan kontinuitas proyek. Dengan menerapkan discount, programmer bisa memberi alasan “proyek perkenalan” dimana sebagai awal long term relationship, sebuah aplikasi yang bagus diberi harga yang relatif murah. Bila memang tidak mau, programmer bisa memberi harga 0 (nol) untuk variabel ini.

5. Harga Material Aplikasi (M)
Harga material aplikasi adalah total harga pengadaan material untuk pekerjaan aplikasi yang mencakup harga Komputer server, perangkat external, pembelian lisensi additional software, fee copywriting. dan lain2
Sekarang mari kita lihat variabel mana yang nilainya bersifat fleksibel dan variabel mana yang bernilai tetap. Harga W yang pasti nilainya bersifat fleksibel karena bergantung dari skala proyek aplikasi yang dikerjakan. Harga M juga bersifat fleksibel karena bergantung dari harga pihak ketiga yang menyediakan material aplikasi (copywriter, komputer sever, perangkat external, dsb). Harga d juga bersifat fleksibel seperti telah diuraikan di atas.

Harga konsep (K) juga bersifat fleksibel. Masalahnya sekarang adalah cara menentukan harga tersebut. Seperti telah diuraikan di atas, ada beberapa programmer yang menetapkan nilai K dengan rumus K=Rk x Wk. Tapi ada juga programmer yang menetapkan nilai K tanpa menguraikannya seperti itu. K adalah sebuah nilai yang mencakup seluruh hal mulai dari eksplorasi, ide, konsep, dsb. Semata-mata karena pertimbangan kemudahan. Sebenarnya keduanya sama saja, itu hanyalah cara programmer untuk memberikan argumen yang tepat untuk harga sebuah kreativitas.

Bagaimana dengan variabel R?

Ada dua fenomena menarik. Beberapa programmer (dan juga agensi aplikasi) mematok harga R tetap dengan alasan bahwa harga tersebut adalah standar profesionalisme mereka. programmer dengan harga R tinggi harus bisa bekerja dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan programmer dengan harga R yang lebih rendah untuk sebuah hasil yang kualitasnya sama. Artinya klien yang menyewa programmer dengan R tinggi akan diuntungkan dengan waktu pengerjaan (W) yang lebih singkat/cepat bila dibandingkan dengan mempekerjakan programmer dengan harga R yang lebih rendah.

Disisi lain ada programmer yang lebih fleksibel dengan harga R yaitu dengan menentukan nilai R sesuai dengan kredibilitas ataupun skala perusahaan klien. Sebagai ilustrasi, programmer seperti ini memberikan nilai R yang tinggi kepada sebuah perusahaan multi-nasional yang memiliki aset milyaran dan memberi rate yang lebih rendah kepada perusahaan kecil berbudget rendah, misalnya.

Contoh berikut mungkin bisa lebih memperjelas:
Seorang programmer level menengah memberikan rate perhari sebesar Rp. 700.000/hari sesuai dengan skill, portfolio, pemahaman konsep dan pengalamannya kepada firma-hukum mid-size untuk mengerjakan Sistem ERP. Struktur website tersebut adalah sebagai berikut:

Struktur tersebut akan diterapkan dalam halaman2 berbasis Client-Server dengan tambahan features backup, Checking Machine and Porchase or Request Order di frontpage-nya dan aplikasi send data via xml untuk update. Estimasi pengerjaannya adalah 10 hari. Tampilan user friendly, look and feel serta alur sistem aplikasi dari sebuah aplikasi yang akan dibuat sangat sesuai dengan corporate image dari firma-hukum tersebut yang dibuktikan dengan mock-up yang telah dibuat. Untuk itu si programmer memberikan harga Rp. 3.000.000. Entry data untuk aplikasi disediakan oleh client, sehingga harga material = 0 (nol). programmer tersebut memutuskan memberikan discount sebesar 10% dari harga total dengan pertimbangan akan terjalin long term relationship dimana firma hukum tersebut nantinya mungkin juga akan membuat aplikasi custommer service message, dsb.

Dalam kasus ini, harga penawaran adalah sebesar:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0= 10.000.000
HP= 10.000.000 – (10% x 10.000.000)= 9.000.000

Jadi, harga penawaran yang diajukan adalah sebesar Rp. 9.000.000. Bila ternyata calon klien melakukan bargaining, programmer bisa bertahan dengan memberikan argumen bahwa secara konsep, aplikasi tersebut sangat cocok dengan corporate image perusahaan atau effort yang dikeluarkan untuk pengerjaan proyek memang cukup besar.

Kemungkinan besar, calon klien akan bersikeras melakukan bargaining terhadap harga2 variabel2 tersebut. Disini, programmer bisa memperkecil harga penawaran dengan menurunkan harga rate per-hari menjadi Rp. 650.000 misalnya, sehingga manjadi:

HT= (650.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 9.500.000
HP= 9.500.000 – (10% x 9.500.000) = 8.550.000

atau memperbesar prosentase discount menjadi 15%:

HT= (700.000 x 10) + 3.000.000 + 0 = 10.000.000
HP= = 10.000.000 – (15% x 10.000.000) = 8.500.000

Dalam contoh tersebut bisa dilihat bahwa sang programmer melakukan bargaining dengan menerapkan harga R yang fleksibel dengan tidak mengurangi waktu pengerjaan (W) berdasarkan pertimbangan2 tertentu misalnya load pekerjaan yang tinggi, dsb. Sementara programmer yang menetapkan fix rate R bargaining mungkin bisa dilakukan dengan memberikan discount atau mengurangi waktu kerja (W)

Formula tersebut saya rasa cukup general dan bisa dipakai untuk menentukan harga pekerjaan aplikasi lainnya dan tidak terbatas hanya pekerjaan sistem aplikasi. Sebagai contoh misalnya adalah sistem informasi monitoring kegiatan dosen. Secara teknis pengerjaan poster tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai mudah dan dapat diselesaikan dalam 1 minggu saja. Akan tetapi dengan client sekelas Code Gear, programmer bisa menetapkan rate per-hari (R) yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan konsep aplikasi yang original dan brilyan yang dilengkapi dengan plugin “Everything That Has a Beginning Has an End” mungkin variabel K bisa dihargai jutaan dollar.

Formula tersebut saya rasa cukup general dan bisa dipakai untuk menentukan harga pekerjaan aplikasi lainnya dan tidak terbatas hanya pekerjaan sistem informasi. Sebagai contoh misalnya adalah sistem informasi monitoring kegiatan dosen di atas.

Secara teknis pengerjaan sistem informasi tersebut mungkin bisa dikategorikan sebagai mudah dan dapat diselesaikan dalam 1 minggu saja. Akan tetapi dengan client sekelas Code Gear, programmer bisa menetapkan rate per-hari (R) yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan konsep aplikasi yang original dan brilyan yang dilengkapi dengan plugin “Everything That Has a Beginning Has an End” mungkin variabel K bisa dihargai jutaan dollar.

Contoh diatas adalah dalam kasus programming atau design database dilakukan oleh satu orang programmer yang sama. Namun formula ini juga bisa diterapkan untuk pekerjaan dimana programming atau design database dilakukan oleh orang2 yang berbeda. Jadi bila sebuah sistem informasi misalnya menyangkut juga pembuatan basis-data, programming dan microsystem, harga penawaran adalah akumulasi dari harga yang diajukan tiap2 team member yang terlibat di dalam pekerjaan tersebut.

Formula di atas bukanlah sebuah hal mutlak. Mungkin ada beragam cara penentuan harga aplikasi yang lain. Ini hanyalah salah satu cara dan penerapannya juga kembali kepada programmer yang besangkutan. Satu hal yang pasti, formula ini juga tidak akan menjamin diperolehnya sebuah pekerjaan/proyek aplikasi? Smile Harus dibedakan disini antara menentukan harga aplikasi dengan mendapatkan proyek aplikasi. Deal akan sebuah pekerjaan aplikasi bergantung dari banyak faktor lain seperti relasi, tipe client, budget, kualitas aplikasi, dsb. Tidak ada jaminan bahwa dengan menerapkan formula ini sebuah proyek aplikasi pasti akan diperoleh. Akan tetapi, minimal seorang programmer memiliki dasar untuk menentukan harga sebuah aplikasi dan tidak hanya bisa bergumam sambil berkeringat dingin bila sang klien mempertanyakan dasar penentuan harga aplikasi yang ia tawarkan. Smile

Frequently Ask and QuestionFrequently Ask and Question

Frequently Ask and Question
Kumpulan beberapa Pertanyaan yang sering di tanyakan kepada kami

Tanya. Apakah ZONEORDERING itu?
Jawab. ZONEORDERING adalah agen yang dapat membantu anda memesan, membeli dan mengimport barang yang anda perlu dari luar negeri, dan kami juga dapat membantu anda memasarkan dan mencari pembeli dari luar negeri.

Tanya. Apakah ZoneOrdering dapat lakukan orderan selain dari Ebay?

Jawab. ZoneOrdering dapat lakukan orderan dari site mana saja sepanjang item yang diorder tidak melanggar hukum atau illegal dan seller dapat menerima transaksi dari ZoneOrdering dan mengirimkan ke Indonesia.

Tanya. Berapa total harga dari item bila dipesan melalui ZoneOrdering?

Jawab. Total harga item setelah dipesan terdiri dari harga item + ongkos kirim item + payment fee ke seller + pajak bea masuk + fee order. Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan klik ke bagian PESAN ITEM atau EBAY ORDER.

Tanya. Berapa fee order pemesanan atau ongkos jasa ZoneOrdering?

Jawab. Fee order atau ongkos jasa hanya sebesar 10% dari (harga item + ongkos kirim item) atau minimal USD 7.50 (atau equivalentnya). Cukup rendah karena kami menanggung resiko pemesanan dan segala pengurusan sampai tiba item ke anda dilakukan oleh kami.

Tanya. Apakah yang dimaksud dengan REMITTANCE FEE atau PAYMENT FEE?

Jawab. Biaya yang timbul sewaktu melakukan pembayaran kepada seller contoh biaya perbankan (bila transfer via bank transfer atau westernunion), kartu kredit charge dll.

Tanya. Apakah total harga yang diperincikan masih dapat ditawar atau dinegokan?

Jawab. Total harga yang diperincikan adalah FIX dikarenakan point-point harga tersebut bukanlah penetapan dari ZoneOrdering. Kami hanya mendapat keuntungan dari point fee order yang telah relatif kecil dan belum dipotong dengan biaya lain-lainnya misalkan biaya kirim paket dari ZoneOrdering ke pemesan dan biaya packing ulang dll.

Tanya. Bagaimana cara bertransaksi dengan ZoneOrdering? karena saya tidak mempunyai kartu kredit atau paypal.

Jawab. Transaksi dilakukan via transfer bank BCA dan bank Niaga. Atau dipersilahkan dengan tangan terbuka untuk berkunjung ke office ZoneOrdering.

Tanya. Apakah semua item pesanan dijamin tiba?

Jawab. Salah satu keunggulan layanan ZoneOrdering adalah memastikan semua pesanan klien tiba. Jaminan uang panjar dikembalikan 100% tanpa potongan apapun bila item yang dipesan tidak tiba.

Tanya. Bagaimana bila item yang tiba tidak sesuai dengan orderan saya?

Jawab. Pemesan selalu menerima INVOICE PEMESANAN yang berisi detail nama item, link site item yang dimaksud, besaran total harga, besaran down payment (panjar) dan detail rekening bank ZoneOrdering. Pemesan diharapkan untuk mengunjungi kembali link site item yang dimaksud untuk mencegah pemesanan item yang salah. Bila ternyata item yang tiba memang sangat tidak sesuai dengan deskripsi item yang di link site yang tertera di invoice pemesanan, pemesan akan menerima uang panjar kembali 100%.

Tanya. Bagaimana kalau item yang tiba rusak?

Jawab. Semua item yang tiba tetap diperiksa secara kosmetikal (bentuk fisik atau luar). Paket akan tidak akan diterima ZoneOrdering bila ada kerusakan fisik yang fatal (mis. patah, pecah dll). Panjar pemesan akan dikembalikan. Bila kasus yang terjadi adalah kerusakan internal (mis. peralatan tidak berfungsi dll). Mohon sebelumnya diperhatikan masalah warranty (garansi) dari item tsb. ZoneOrdering akan membantu memproses klaim warranty item tsb bila memang ada warranty dari seller. Hanya segala biaya yang timbul akibat klaim (mis. ongkos kirim item ke seller, ongkos kirim item dari seller ke Indonesia kembali dll) merupakan tanggungan dari pemesan. ZoneOrdering hanya membantu saja.

Tanya. Untuk memperkecil pajak bea masuk, apakah item dapat diakui sebagai GIFT saja atau membuat harga invoice fiktif yang lebih rendah?

Jawab. Setiap item yang masuk ke Indonesia akan dilakukan pemeriksaan fisik dengan membuka kotak paket. Setelah itu ditetapkan jenis item (code HS) dan besaran pajak bea masuknya. Pertama pihak Bea Cukai (BC) akan memperhitungan bea masuk berdasarkan harga yang tertera di invoice. Bila tidak ada invoice (karena dianggap GIFT /hadiah) maka pihak BC berhak menetapkan besaran harga untuk item tersebut. Pihak BC juga berhak menetapkan besaran harga item bila tidak mempercayai harga yang tertera di invoice kecuali kita dapat membuktikan harga invoice tersebut. Dalam hal ini ZoneOrdering membuktikan dengan bukti pembayaran kepada seller. Jadi maaf bahwa setiap item yang dipesan tidak dapat dibuatkan invoice dengan harga fiktif atau gift.

Tanya. Berapa lama estimasi tiba item pesanan?

Jawab. Delivery time atau waktu tiba item sangatlah bergantung kepada sistem pengiriman yang dipakai. Semakin cepat waktu tiba sistem pengiriman yang dipakai maka semakin mahal ongkos kirim item. Pada umumnya item-item ditawarkan dengan sistem pengiriman via AIRMAIL (USPS priority) yang waktu tiba 2-3 minggu. Untuk beberapa item yang bernilai ekonomis tinggi (handphone, jam-tangan dll) ditawarkan dengan sistem pengiriman via EMS (USPS express) yang waktu tiba 1-2 minggu. Selain itu dapat juga via Fedex, UPS, DHL atau TNT yang relatif lebih cepat (5-10 hari) yang dengan ongkos kirim yang tinggi. Perhitungan ongkos kirim dilakukan pihak seller bukan dari ZoneOrdering.

Tanya. Saya telah membeli sesuatu item dari Ebay atau dari suatu website. Dapatkan ZoneOrdering menguruskan pembayarannya atau pengurusan item tersebut ke Indonesia?

Jawab. Pemesan tidak perlu repot untuk melakukan pemesanan sendiri. ZoneOrdering juga yang akan melakukan transaksi tersebut sejak dari tahap pembelian, pembayaran sampai tiba item di Indonesia. Maaf bahwa ZoneOrdering tidak dapat menerukan sesuatu transaksi yang telah dilakukan oleh pihak pemesan atau hanya melakukan pembayaran.

Tanya. Untuk menghemat biaya, bolehkan item yang diorderkan langsung dikirimkan ke alamat saya atau alamat rekan saya yang di US?

Jawab. Setiap item yang dipesan tidak lagi melalui pihak ketiga. Semua item langsung dikirim pihak seller ke alamat ZoneOrdering. Hampir semua seller hanya dapat mengirimkan item orderan langung ke alamat pemegang kartu kredit atau alamat yang telah diverifikasi Ebay dan Paypal (alamat ZoneOrdering). Bila permintaan pengiriman dilakukan ke alamat yang diluar alamat ZoneOrdering, dikhawatirkan akan menimbulkan perasaan curiga seller dan akhirnya tidak setuju untuk deal dengan ZoneOrdering.

Tanya. Saya tidak berminat lagi dengan item yang telah terlanjur saya pesankan. Apakah saya dapat melakukan pembatalan?

Jawab. Maaf bahwa orderan yang telah disetujui yang ditandai dengan pembayaran down payment atau panjar tidak dapat lagi dibatalkan. Panjar yang telah dibayarkan tidak dapat dikembalikan bila orderan telah dibatalkan.

Tanya. Apakah ZoneOrdering dapat menerima orderan item yang harganya hanya USD 2.oo?

Jawab. Tidak ada batasan harga minimum atau harga maksimum dari item yang hendak diorderkan. Sepanjang item yang diorderkan bukan merupakan item yang illegal atau dilarang oleh pemerintah. Dan pada saat ini ZoneOrdering tidak dapat melayani pemesanan item farmasi (obat-obatan), military, item sexual (atau yang berhubungan dengan itu), makhluk hidup (termasuk tanaman dan benihnya) dan komputer laptop.

Tanya. Apakah pemesanan dari seller Singapore atau Australia dapat menekan ongkos kirim?

Jawab. Pada umumnya ongkos kirim item dari Singapore dan Australia lebih murah daripada dari US atau Eropa. Sekali lagi, bahwa penetapan ongkos kirim merupakan hak seller dan bukan perhitungan dari ZoneOrdering.


Tanya. Barang apakah yang dapat di pesan?
Jawab. Segala tipe dan jenis barang dapat di pesan, kecuali barang/item yang melanggar hukum (illegal) seperti barang jenis MILITERI, OBAT-OBATAN/MAKANAN, MAKHLUK HIDUP dan TUMBUHAN, ALAT SEKS dan BUKU POLITIK atau sejenisnya.

Tanya. Betulkah harga barang di luarnegeri sangat murah?
Jawab. Ada yang sangat murah ada yang hanya murah (tergantung jenis barang). Setiap barang yang dipesan tetap dikenakan biaya-biaya dan membuat total harga KADANG lebih mahal daripada harga barang yg sama yg telah tersedia di dalam negeri.

Tanya. Dapatkah saya memesan barang BM (black market)?
Jawab. Bilamana yang dimaksud BM adalah tanpa melalui jalur pajak, ditegaskan semua item yang dipesan melalui kami tetap harus melewati pemeriksaan BEA CUKAI dan perhitungan PAJAK IMPORT.
Jawab. Bilamana yang dimaksud BM adalah sistem CARDING, ditegaskan kami memesan barang klien dengan sistem yang 100% LEGAL dan bukan CARDING, ini berarti setiap barang yg dipesan adalah TETAP DIBAYAR DENGAN UANG BUKAN SISTEM PENIPUAN kepada pihak penjual.

Tanya. Apakah saya dapat memesan handphone? laptop? baju?
Jawab. Bisa, karena barang tersebut bukan barang illegal. Hanya kurang ekonomis kalau dipesankan barang yang telah banyak beredar di dalam negeri dikarenakan ongkos kirim dan pajak import dan biaya lainnya (klik ke ORDERING ITEM). Pengalaman kami, total harga bisa mencapai 2x lipat untuk pesanan barang yg berharga di bawah US$100.

Tanya. Bagaimana cara ZoneOrdering melakukan pembayaran kepada pihak penjual?

Jawab. Metode pembayaran untuk transaksi online ada beberapa, yang utama adalah,

1. PAYPAL, sistem pembayaran umum pada website EBAY

2. Wire transfer, transfer bank. Saya tidak melakukan pembayaran melalui transfer bank dikarenakan:

- Waktu tiba pembayaran yang tidak tentu, paling cepat 3 hari kadang beberapa kasus mingguan juga belum sampai.

- Memang kita hanya di kenakan biaya transfer sebesar Rp.50.000,- / transaksi tetapi ada pemotongan biaya-biaya di bank-bank transit sebelum tiba di bank tujuan yang besarnya tidak dapat diperkirakan (umumnya USD 25), yang akhirnya bila dijumlah biayanya melebihi biaya westernunion.

- pihak penjual enggan berbagi data bank mereka dengan negara yang dikategorikan terlalu banyak kejahatan internetnya (Indonesia rank 2 sesudah Kroasia)

3. WesternUnion, saya memakai sistem ini dikarenakan pihak penjual menerima jumlah yang sama dengan yang saya kirimkan dan bila saya kirimkan pada pagi-siang hari maka mereka telah dapat menguangkannya pada malam hari.

4. Kartu Kredit, terkadang penjual menerima transaksi dgn kartu kredit via Paypal.

5. Pembayaran online lainnya seperti e-gold, moneybooker, ibill dll dll, sistem terlalu rumit dan belum semua seller setuju melakukan pembayaran via sistem ini atau mempunyai account.

Tanya. Bagaimana proses memesan barang kepada ZONEORDERING?
Jawab. Anda infokan tipe, jenis, merek dan model barang yg anda perlu (alamat website akan sangat membantu). kami akan cari barang yang dimaksud, menghitung total harganya dan mengirim penawaran harga ke anda. Bila disetujui, kami memerlukan JAMINAN PANJAR 20% dari total harga sebagai tanda persetujuan sebelum proses pemesanan. Setelah barang tiba, anda dikonfirmasi dgn photo barang yang dimaksud. Anda melunasi sisa pembayaran dan barang di kirim ke alamat anda (utk detailnya klik ke ATURAN ORDER)

Tanya. Bagaimana kami dapat PERCAYA KEPADA ZONEORDERING?
Jawab. Alamat, no.telepon dan nomor handphone yang tertera di website adalah BENAR dan dapat di VERIFIKASIKAN. No.telepon dan nomor handphone (Indosat Matrix bukan isi ulang) terdaftar atas nama SUYATMO HUGENG bisa di cek di bagian penerangan Telkom atau Indosat. Dan kami dapat mengirimkan gambar dokumen westernunion, transfer bank ataupun dokumen pengiriman barang dari transaksi kami sebelumnya. Saya mempunyai account EBAY yang ber-positif feedback. Dengan terbuka dan senang hati kami dapat menjawab segala keraguan anda beserta bukti-buktinya.

Tanya. Apakah barang yg dipesan ada garansi atau warranty?
Jawab. Pada umumnya barang merek-merek terkenal (seperti Compaq, HP, Sony, Toshiba dll) mempunyai fasilitas worldwide warranty dan garansi dapat di klaim di dealer yang ada di kota anda. Tetapi ada juga barang yang tidak ada garansinya, mohon menanyakan hal tersebut kepada kami bila garansi/warranty merupakan perhatian anda. Karena KAMI TIDAK BERKEWAJIBAN MENGURUS PROSES WARRANTY BARANG YANG TELAH DI TERIMA KLIEN tetapi KAMI DAPAT MEMBANTU DALAM MEMPROSESNYA dan segala biaya yang timbul akibat proses tersebut seperti ongkos kirim dan kepabean merupakan tanggungan klien.

Tanya. Bagaimana perhitungan pajak bea masuk dari item?

Jawab. Pajak bea masuk terdiri dari BM (bea masuk) + PPn (pajak pendapatan negara) + PPn BM (pajak barang mewah) + PPh (pajak penghasilan). Besaran pajak bervariasi menurut jenis item dan mengacu ke BTBMI (buku tarif bea masuk indonesia). Sebagian kecil contoh besaran pajak bea masuk dapat dilihat di http://ems.posindonesia.co.id/custom.html.

BTBMI dapat didownload pada site http://www.beacukai.go.id/library/data/entry_download/BTBMI%202007.pdf

ORDER KAOS

Berhubung informasi ini banyak yang butuh jadi tutorial ini gw repost di sini yang originaly gwa post disini karena berhubung tittlenya agak melenceng dari tingkat kesadaran umum hahahaha (*taking back the keyword)

Kondisi untuk memulai kamu untuk membaca How To ini adalah :

  1. Pengangguran
  2. Bukan tipe pemalas
  3. Modal pas-pasan (kiriman ortu macet)
  4. Bisa design atau punya temen yang bisa design (sebaiknya bisa Corel Draw)
  5. Berdomisili di Jogjakarta
  6. Belum pernah usaha/bekerja di bidang clothing.
  7. Kamu berada di tahun 2003-2005 (where ROCK’N'ROLL is ROCK’N'ROLL)

Kebutuhan yang harus kamu punya untuk bisa menjual produk clothing kamu nanti

  1. Label
  2. tag & tag gun
  3. kain
  4. sablon & perlengkapannya

LabelKaga ngerti label? Coba buka kaos kamu liat dibagian leher dalam belakang disitu ada tulisan merknya nah itu namanya label. Bisa juga ditempatkan di bagian sisi samping luar kaos atau bisa dikatakan sebagai identitas produck kamu.

  • harga sekitar Rp 1500 per lusin, minimal pemesanan 100 lusin
  • yang dimuat di label bisa berupa logo atau tulisan dan size t shirt
  • harga menyesuaikan ukuran dan design
  • label bisa dijait di belakang leher t-shirt dan atau di samping bawah t-shirt atau di tempat lain sesuai kebutuhan dan selera
  • Pemesanan label di jogja di daerah Sleman melalui marketing2 pabriknya

TAG

  1. tag dipake untuk asesoris brand t-shirt buat nyampein info produk kaya harga, kode, ukuran, ma identitas produk atau contact person produsen
  2. Design tag disesuaiin ama tema & identitas produk, bagusnya sih simple & gak useless buat konsumen.
  3. Kalau biaya cetak mahal coba kenalan dengan orang-orang percetakan trus sok akrab deh. Ketika mereka ada order cetak cover buku, atau apalah yang sdikit tebal kamu titip di space yang kosong buat tag kamu, syukur-syukur dapat space yang agak gedean. Nah dengan begitu kamu bisa dapat tag yang full colour, tebal atau mungkin di dof dengan harga murah tapi jumlahnya banyak.
  4. Kalau masih ada space cetak bikin kartunama sekalian.
  5. Tag dipasang pake tag gun bersama dengan tag pinnya. Bisa dibeli di toko2x buku, harganya sekitar 50 ribu trus tag pinnya 20 ribu udah dapet 1 kardus

Kain

  • Kain untuk bahan t-shirt ada banyak macemnya, ada yang katun 100 %: combat, cardet, Double Nit, *ingle Nit klo yang dah campur polyester TC, PE,ada lagi kain yag kaya bahan t-shirt polo namanya lacoste, ada yg katun ada juga yang PE, dll. Buat T-shirt standar distro biasanya pake combat (kualitas terbaik)
  • Kain katun combat ma cardet ga jauh beda, cuman di bagian dalem buat cardet tu agak lebih kasar
  • Klo kain PE biasanya dipake buat kaos partai
  • Toko kain kaos di Jogja :


  1. Morisland Clothing (Jl. Ringroad Timur)
  2. Ngasem Baru (Jl. Mayjend Sutoyo)
  3. Sami Makmur (Jl. Mayjend Sutoyo)
  4. Timoho Kain kaos (Puri Timoho Asri)
  5. Rajut Mas (Jl Magelang)
  • Harga di tiap toko bersaing, buat tau bedanya gimana mendingan coba jalan en tanya2 aja kesana, ada yang produknya lokal, ada juga yang import dari Bandung
  • Harga kain combat berkisar antara 49 – 51 ribu per kilonya untuk warna muda, trus untuk warna tau sekitar 51- 57 ribu. Itu untuk harga ecer. Karena hitungan kain kan pake rol, klo bisa beli per rol harganya emang beda, bisa lebih murah dan hemat.
  • 1 kilo kain bisa jadi 3,5 kaos ukuran cowok (male): M, L, XL ato all size atau jadi 5 kaos untuk ukuran cewek (female), yang ukurannya press body lho. Tapi klo belinya rol bisa lebih hemat lagi, trus klo untuk ukuran XXL itu boros banget soalnya 2 kilo cuman jadi 3
  • Untuk bahan lehernya namanya bahan rib, disesuaiin ma bahan bodynya juga, klo combat ya ribnya combat, PE ya ribnya PE. Warnanya bisa sama or beda2x sesuai selera en bagusnya gimana nge match in nya
  • Pembelian rib itungannya per cm aja, soalnya 7 cm rib itu bisa untuk 4 t-shirt, klo ga bilang aja ma penjual kainnya rib menyesuaikan kain body yang dibeli
  • Klo kain lacoste itu gambarannya kaya kain POLO t-shirt, jadi ada teksturnya gitu. Kain lacoste ada yang katun ada juga yang lacoste PE.
  • Untuk t-shirt berkrah juga butuh beli krahnya, krahnya juga tersedia untuk yang bahan katun ma bahan PE, krah yang bahan PE lebih lemes dari yang katun, klo yang katunnya kesannya lebih kaku. Krah bisa juga dibuat sama dengan bahan bodynya.
  • Harga untuk krah katun sekitar 2500 per pcs, untuk yang PE sekitar 1500 per pcs

DesignYang membedakan satu clothing dengan yang lainnya selain bahan adalah desain. Masa kamu mo jual desain gambar partai di distro hihihihi. Sebaiknya tema desain selalu dinamis dan mempunyai ciri tersendiri kalaupun belum nemu karakter sendiri entar lama-lama pasti ketemu sambil melihat selera pasar. Usahakan desain2x vektor bukan images komplek seperti photo karena kamu akan susah nyablonnya nanti. Vektor itu…nek boso jowone gambar seng ra ribet.


Ingat desain kaos bukan untuk dirimu sendiri tapi untuk yang bakalan beli kaos kamu, ini mo cari makan bukan buat mengagung-agungkan idealismemu hihihi. Ahk bosok….! Internet adalah sumber inspirasi yang bagus, coba buka website-website grapis trendy masa kini.

Adik : “Kak kalau saya jiplak desain orang gimana?”

Kakak : “Hey dosanya kamu yang nanggung tho! bukan saya.”

Sebaiknya kamu mendesain gambar sablon di Corel saja, sebab corel bagus hasilnya ketika dicetak nantinya. Sebaiknya kamu setting desain kamu sendiri untuk pembuatan film sablon, kalau kamu kaga bisa nyetting bisa di orderkan ke tempat setting cuma harganya mahal (extra cost).

Tutorial setting sederhana menggunakan corel :

  1. Gabungkan semua object, klik satu object kemudian Shift + Select object yang lain atau select all kemudian tekan icon “Weld” yang muncul di bar atas.
  2. Pisakan bentuk-bentuk yang memiliki warna berbeda pada design, print hitam tebal diatas kertas 60 Gram (kalau lagi kaya print di kertas kalkir).

Sablon

  1. Sebaiknya sablon dikerjain sebelom kain dijahit or sebelom kaos jadi, soalnya ada beberapa tempat sablon yang emang ga bisa nyablon kaos yang udah jadi, klo bisa nyablon sendiri sih oke banget
  2. So dari kain potongan aja dulu, soalnya ntar screen nya kan butuh yang lebih gede klo buat kaos jadi.

BordirSelain sablon juga ada alternatif desain kaos dengan bordir. Ada yang dibordir langsung di kain kaosnya, ada juga yang dibordir dulu di kain lain baru dijahit di t-shirt. Tapi kebanyakan yang pakai bordir untuk kaos yang berkrah

Jahit

  • Abis selesai disablon, kain dijahit. Jahit kaos sebenernya lebih gampang ketimbang jait baju ma busana lainnya, tapi kadang susah juga cari ahlinya
  • Model2 kaos macem tergantung selera, klo buat cowok biasanya ga terlalu banyak modelnya, pengennya yang simple aja, paling maen di warna rib aja, ma beda warna lengan gitu
  • Bagian2 kaos ada bodi depan, bodi belakang, lengan, ma bagian lehernya yang disebut rib
  • Mesin jait untuk t-shirt ada 3 :
  1. Mesin jait biasa untuk jait pundak ma leher
  2. Mesin jait obras untuk bagian samping body dan sambungan2 lain
  3. Mesin jait overdeck untuk bagian lengan ma body bagian bawah
  • Untuk modifikasi model t-shirt cewek macem2, tergantung selera
  • Untuk kaos berkrah stepnya lebih lama karena butuh jahit krah dan tempat kancingnya



DIMENSI KUALITAS MANUFAKTUR DAN JASA

DIMENSI KUALITAS MANUFAKTUR DAN JASA

DIMENSI KUALITAS MANUFAKTUR DAN JASA

Dalam bahasa iklan setiap produk mengklaim bahwa produk tersebut paling berkualitas dengan berbagai keunggulannya. Pernyataan “kualitas” menjadi senjata utama para produsen untuk menarik hati konsumen agar membeli produknya. Konsumen pun akan merasa bangga, puas dan menjadi pelanggan setia terhadap sebuah produk yang memiliki kualitas yang unggul. Apalagi jika produk tersebut mampu mengangkat image (citra) bagi konsumennya. Bahkan konsumen dapat berfungsi menjadi tenaga pemasaran produk yang efektif. Sedemikian pentingnya kebutuhan akan kualitas baik oleh produsen maupun konsumen sehingga memiliki arti yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup kegiatan bisnis di bidang jasa maupun manufaktur. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai pihak melakukan upaya peningkatan kualitas, baik kualitas SDM, kualitas produk, kualitas air, kualitas otak, kualitas hidup, kualitas pelayanan dan sebagainya. Kualitas telah menjadi suatu tuntutan masyarakat di era persaingan global. Tuntutan masyarakat (konsumen) terhadap kualitas sangat beragam tergantung kebutuhan, daya beli, selera, hobi, dan lain sebagainya. Beberapa ahli mutu mendefinisikan kualitas sebagai berikut:

a. Sesuai dengan kegunaan (Fitness For Use – J.M Juran)

b. Memenuhi persyaratan pelanggan (Conform to Customer requirement – Philip B. Crosby),

c. Memenuhi harapan pelanggan (meeting Customer Expectations – A. V Fegenbaum),

d. Kepuasan pelanggan (Customer satisfaction- K. Ishikawa)

e. Gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat (ISO 9000)

Berdasar definisi di atas, dimensi kualitas (mutu) sangat relatif tergantung target marketnya (pelanggan). Kualitas dapat dinilai secara obyektif maupun subyektif. Kualitas dinilai secara obyektif jika ada standar kualitasnya (spesifikasi) atau dilakukan bencmarking dengan produk lain yang sejenis sedangkan kualitas dinilai secara subyektif jika ditinjau dari kepuasan pelanggan, karena setiap pelanggan akan memiliki persepsi sendiri terhadap sebuah produk tergantung selera, kebutuhan, daya beli dan lain-lainnya. Penilaian kualitas dari aspek pelanggan (subyektif) inilah yang menjadi tantangan dunia industri untuk memenangkan persaingan global. Pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan (segmentasi pasar) menjadi satu faktor penting untuk selalu meningkatkan kualitas dan inovasi dalam menghasilkan produk baru guna mengikuti perubahan pasar. Namun yang perlu diingat untuk memenuhi kepuasan pelanggan (memperoleh penilaian subyektif yang tinggi dari pelanggan) tetap tidak akan lepas dari beberapa dimensi kualitas secara obyektif dengan standar-standar kualitas sebagai berikut.

Tabel 1. Dimensi kualitas

INPUT

PROSES

OUT PUT

Sumber Daya

Cara Kerja

(Metode)

Produk

Jasa

1. Manusia

Kecerdasan, Pendidikan, etos kerja, produktivitas, loyalitas, kepribadian, motivasi dll

2. Mesin

Canggih, otomatis, ,otonom, efisiensi tinggi, cepat, multi fungsi, daya tahan tinggi, purna jual baik, dll

3. Material

Baik, unggul, sesuai spesifikasi, kualitas pertama, tanpa cacat

4. Keuangan

Banyak, Kuat

5. Markets

Segmentasi pasar, tanpa/belum ada pesaing, target market yang tepat, promosi, lokasi

6. Minute

Cepat, Just In time, time to market

Cepat

Tepat

Hemat

Efisien

sederhana

Murah

Aman

Optimal

Teknologi tinggi

Ramah lingkungan

Lay out

Tidak melanggar HAM

Sinergis

Networking

Nyaman

dll

Performance

Feature

Realibility

Conformance

Durability

Serviceabilitty

Estetika

Perceved Quality

Harga

Brand Image

Purna Jual

Zero deffect

dll

Keramahan

Keamanan

Kenyamanan

Empati

Kepercayaan

Keterampilan

Kecepatan

Ketepatan

Brand image

Penampilan

Kejujuran

Aksesibilitas

Komunikatif

Daya tanggap

Garansi

dll

(diolah dari berbagai sumber)

Disamping dimensi kualitas di atas perlu pula diperhatikan tuntutan- tuntutan akan kualitas produk di pasar global baik lokal, nasional dan internasional diantaranya adalah:

  1. Memenuhi standar kualitas di masing-masing perusahaan, negara maupun internasional :SII/SNI (Standar Nasional Indonesia), JIS (Japanes Industrial Standard), ASTM ( The American Society For Testing And Material), ISO (Internasional Organization For Standardization), BS (British Standart) dan lain-lainnya
  2. Menerapkan sistem manajemen mutu seperti ISO 9000, ISO 14000 dan lainnya
  3. Memperoleh sertifikasi (award) seperti sertifikasi halal, ICSA, Superbrand dan lain-lainnya
  4. Menjunjung tinggi HAM (isu gender, UMR, SARA dll)

Jika industri baik manufaktur maupun jasa semakin banyak memiliki keunggulan dimensi kualitas dan memenuhi tuntutan-tuntutan kualitas seperti yang telah diuraikan di atas maka dapat dikatakan daya saingnya tinggi. Daya saing sebuah produk akan sangat ditentukan oleh pengelolaan sumberdaya perusahaan/industri hingga mampu memenuhi standar-standar kualitas untuk memuaskan konsumennya dan mengangkat citra konsumen dalam berkehidupan. Untuk mencapai standar kualitas dibutuhkan pengendalian kualitas dari proses input, produksi hingga output serta pemberian jaminan kualitas. Konsep pengendalian mutu terpadu (TQM) dan pelayanan prima menjadi sangat penting untuk diimplementasikan. Implementasi pengendalian mutu terpadu dan pelayanan prima perlu didasari pengembangan budaya kerja (budaya perusahaan).

QUALITY CONTROL di INDUSTRI GARMEN

QUALITY CONTROL di INDUSTRI GARMEN

QUALITY CONTROL GARMEN
Oleh: Noor Fitrihana

QUALITY CONTROL

Definisi Quality Control (pengendalian mutu) adalah semua usaha untuk menjamin (assurance) agar hasil dari pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan memuaskan konsumen (pelanggan).

Tujuan quality control adalah agar tidak terjadi barang yang tidak sesuai dengan standar mutu yang diinginkan (second quality) terus-menerus dan bisa mengendalikan, menyeleksi, menilai kualitas, sehingga konsumen merasa puas dan perusahaan tidak rugi.

Tujuan Pengusaha menjalankan QC adalah untuk menperoleh keuntungan dengan cara yang fleksibel dan untuk menjamin agar pelanggan merasa puas, investasi bisa kembali, serta perusahaan mendapat keuntungan untuk jangka panjang.

Bagian pemasaran dan bagian produksi tidak perlu melaksanakan, tetapi perlu kelancaran dengan memanfaatkan data, penelitian dan testing dengan analisa statistik dari bagian QC yang disampaikan kepada pihak produksi untuk mengetahui bagaimana hasil kerjanya sebagai langkah untuk perbaikan.

Saat pelaksanaan pengujian QC dan testing bila ditemukan beberapa masalah khusus, perlu dibuat suatu study agar dapat digunakan untuk mengatasi masalah di bagian produksi tersebut.

Di samping tersebut di atas tugas bagian QC yaitu jika terjadi komplain, mengadakan cek ulang dan menyatakan kebenaran untuk bisa diterima secara terpisah lalu dilaporkan kepada departemen terkait untuk perbaikan proses selanjutnya.

Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pengendalian biaya (Cost Control)

Tujuannya adalah agar produk yang dihasilkan memberikan harga yang bersaing (Competitive price)

2. Pengendalian Produksi (Production Control)

Tujuanya adalah agar proses produksi (proses pelaksanaan ban berjalan) bisa lancar, cepat dan jumlahnya sesuai dengan rencana pencapaian target.

3. Pengendalian Standar Spesifikasi produk

Meliputi aspek kesesuaian, keindahan, kenyamanan dipakai dsb, yaitu aspek-aspek fisik dari produk.

4. Pengendalian waktu penyerahan produk (delivery control)

Penyerahan barang terkait dengan pengaturan untuk menghasilkan jumlah produk yang tepat waktu pengiriman, sehingga dapat tepat waktu diterima oleh pembeli.

JENIS JENIS QUALITY CONTROL DI GARMEN

    1. Piece Goods quality control/pemeriksaan bahan baku.
      • Adanya inspector pada saat staffing ( bongkar muat )
      • Melakukan pengecekan sejumlah 10% kain dari total kain yang diterima
      • Melakukan dan mengevaluasi adanya fabric defect/ cacat kain
      • Melakukan perbaikan apabila diperlukan
    2. Cutting Departemen Quality Control

· Melakukan persiapan terhadap kebutuhan manpower

· Mempunyai sistim pengecekan pada setiap step proses cutting ( Misalnya pada proses : marker, spreading, cutting dan cutting pieces/ komponen )

· Mempunyai sistim perbaikan apabila diperlukan.

    1. In process Quality Control

· Melakukan persiapan terhadap manpower, alat yang diperlukan mempunyai tempat dengan penerangan yang baik sebagai tempat pengecekan.

· Mempunyai sistim sampling plan

· Mempunyai prosedur dalam menangani masalah rejection dalam bundeling sistim

· Mempunyai sistim audit minimum per hari untuk setiap operator. Untuk operator baru pengecekan minimum 3 x per hari

· Mempunyai sistim audit untuk setiap tahapan proses

· Mempunyai sistim inspect untuk setiap bundle, dengan cara diambil 7 pcs per bundle dan akan dinyatakan reject apabila ditemukan 1 pcs.

· Mempunyai sistim kontinyu audit untuk operator yang mempunyai masalah.

· Mempunyai sistim menyimpanan record untuk operator bermasalah.

    1. Final Statistical Audit

· Menentukan pada step mana kita melakukan sistim audit , dengan menentukan dari status produksi.

· Menentukan berapa colour/warna atau berapa model/style yang akan di audit.

· Mempersiapkan manpower, alat dan tempat

· Melakukan pemilihan pada garmen sesuai dengan statistical

sampling plan

· Melakukan pemeriksaan terhadap jumlah contract dan melakukan periksaan terhadap akurasi labelling dan model/style.

· Melakukan pemeriksaan secara visual untuk setiap jenis quality defect

· Melakukan pemeriksaan terhadap jumlah garmen yang bermasalah

·

SISTEM PEMERIKSAAN DALAM PROSES PRODUKSI

Pemeriksaan Sample (Sample Inspection)

Sample adalah contoh bahan atau material, contoh model atau style, atau contoh garmen. Sample ini dapat berupa sample dari pihak pembeli atau pun yang dibuat oleh pihak pabrik.

Sample yang dimaksud di sini adalah sample yang dibuat oleh pihak pabrik berdasarkan contoh dari pihak pembeli.

Tujuan pemeriksaan adalah agar seluruh sample yang dibuat oleh pihak pabrik (bagian sample) bebas dari cacat, kerusakan, penyimpangan/ ketidaksesuain baik model, mutu jahitan/finishing, ukuran, warna, dan lain sebagainya.

Mutu produk adalah kesesuaian ciri dan karakter produk yang dibuat, dengan ciri dan karakter produk yang diminta, dan kemampuan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam kondisi tertentu.

Setelah menerima sample, selanjutnya sample di-copy komplit size, cek style dan ukuran, kemudian dilanjutkan dengan membuat top sample pre production sebanyak 4 pcs atau lebih per style dan size.

Urutan/Prosedur Pemeriksaan Sampel (QC Sampel):

a. Petugas bagian quality control (QC) akan menerima sample dan lembar pemeriksaan sample dari petugas bagian sample.

b. Lembar rencana kerja (work-sheet) dan contoh produk garmen yang akan diproduksi dibuat oleh petugas bagian sample & Merchandiser diserahkan ke bagian QC.

c. Petugas QC akan memeriksa dan memberi komentar/koreksi terhadap sample pada lembar pemeriksaan (work-sheet) dan menyerahkan kembali kepada merchandiser.

d. Merchandiser mempelajari catatan QC dan memutuskan untuk dikirim ke bagian produksi atau ditolak dan dikembalikan kepada bagian pembuatan sample untuk dibuat ulang contoh atau sample.

e. Jika sample ditolak oleh merchandiser maka sample akan dikembalikan kepada bagian pembuatan sample untuk diperbaiki atau dibuat ulang sesuai dengan mutu sample yang dikehendaki oleh pembeli.

f. Jika sample diterima atau disetujui oleh merchandiser maka sample tersebut akan dikirim oleh merchandiser ke pihak pembeli guna mendapatkan persetujuan, sesuai permintaan atau tidak (approval sample)

g. Petugas QC akan menerima salinan atau copy laporan pemeriksaan sample dari merchandiser.

h. Sampel yang telah disetujui pihak pembeli (approval sample) dikembalikan ke bagian produksi untuk diproduksi secara massal.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN POTONG/CUTTING

Cutting adalah proses pemotongan kain sesuai pola marker yang ada dan sudah dicek kebenarannya oleh bagian marker dan QC cutting.

Secara singkat yang dilakukan oleh bagian QC cutting adalah mengecek gelaran kain, kain tidak gelombang, tidak melipat, kain bawah sampai atas harus sama, dan penyusutan kain. Kemudian mengecek hasil potongan, potongan harus sesuai dengan sample dan toleransi ukuran.

Urutan/prosedur pemeriksaan pada cutting (QC Cutting):

a. Periksa lembar kain bagian atas sampai pada lembar kain bagian bawah dengan posisi kertas marker.

b. Periksa dan cocokkan komponen pola dengan komponen pola yang terdapat pada kertas marker apakah komponen pola sudah lengkap atau belum. Petugas QC harus mencatat semua temuan pada lembar laporan pemeriksaan.

c. Periksa apakah terdapat kesalahan potong pada setiap garis komponen pola ataukah tidak.

d. Cek interlining dengan pola (bila komponen garmen menggunakan interlining dan bordir)

e. Kesalahan potong pada bagian yang seharusnya dipotong ulang pada kain cadangan, dilakukan pencatatan dan pemotongan ulang

Lebih detailnya adalah sebagai berikut

· Melakukan pemeriksaan terhadap kontruksi kain, warna kain, design kain, bagian luar dalam kain, dan bagian centre line kain. Juga melakukan pemeriksaan terhadap kualitas kain.

· Melakukan pemeriksaan pada marker, apakah rasio size/ukuran sudah memenuhi seluruh size/ukuran yang dipesan

· Melakukan pemeriksaan terhadap hasil spreading/ampar apakah kain yang diampar sudah benar benar rata tidak bergelombang dan lurus.

· Melakukan pemeriksaan terhadap metode cutting

· Pemeriksaan terhadap hasil potong, apakah seluruh hasil potong sudah benar benar sesuai dengan original pattern/pola yang diberikan oleh buyer/pemesan.

· Pemeriksaan pada hasil potong, apakah stripe atau kotak dari potongan komponen benar benar matching dan balance.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN FUSING

· Melakukan pemeriksaan terhadap hasil fusing sebelum dan sesudah pencucian. Apakah mengalami perubahan warna dan ukuran.

· Melakukan pemeriksaan terhadap kualitas fusing yang dihasilkan, terdapat delamination dan strike trough atau tidak. Apakah bond strength sudah memenuhi standar atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan khusus untuk kain stripe/kotak hasil fuse benar benar lurus dan balance.

· Melakukan pemeriksaan apakah interlining yang digunakan sudah sesuai dengan yang ditentukan oleh buyer atau tidak.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN JAHIT.

Urutan/prosedur pemeriksaan pada proses Sewing:

a. Bekerja sesuai dengan pedoman produksi atau work sheet.

b. Mengikuti proses sesuai dengan layout sampai baju jadi

c. Periksa hasil cutting per komponen sesuai dengan sample dan toleransi

d. Memeriksa jumlah stikan dalam 1 inch (stitch/inch)

e. Periksa hasil jahitan dan ukuran tiap tahapan proses, jahitan harus baik, rapi, tidak loncat.

f. Periksa hasil jadi sesuai dengan work sheet

g. Periksa hasil jadi setelah dilakukan trimming

h. Semua data dicatat pada blangko yang sudah disediakan

Lebih detailnya adalah sebagai berikut

· Melakukan pemeriksaan terhadap model/style yang akan digunakan.

· Melakukan pemeriksaan terhadap material penunjang yang akan digunakan, nisalnya : Label, Button, benang

· Melakukan pemeriksaan terhadap hasil komponen jadi, spi, ukuran, model/style, handling/penanganan

· Melakukan pengukuran terhadap garmen jadi

· Melakukan tes cuci pada garmen jadi untuk mengetahui apakah ada perubahan warna, dan ukuran setelah pencucian.

PEMERIKSAAN PADA BAGIAN GOSOK-LIPAT – PENGEPAKAN

· Melakukan pemeriksaan secara tekhnis apakah temperature/suhu yang digunakan sudah sesuai dengan jenis kain yang akan digosok atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan dari hasil gosok, apakah ada perubahan warna, bentuk dan ukuran setelah penggosokan.

· Melakukan pemeriksaan dari hasil gosokan apakah sudah halus sesuai dengan yang diinginkan atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan apakah folding method/cara lipat sudah seusesuai dengan permintaan buyer atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan terhadap material penunjang( card board, paper collar stripe, plastic collar support, tissue paper, hang tag, price ticket ) apakah sudah sesuai yang dengan permintaan dari buyer atau tidak.

· Melakukan pemeriksaan terhadap kualitas, ukuran dari export carton.

· Melakukan pemeriksaan terhadap total jumlah per carton, dan methode packing.

FINAL AUDIT PROCEDURE/ PROSEDUR FINAL AUDIT

Final audit akan dilakukan pada posisi garmen dengan status produksi tertentu.

· Melakukan pemeriksaan kesesuain pada jumlah pemesanan, warna dan model.

· Melakukan pemilihan/pengambilan garmen secara random sesuai dengan statistical sample plan.

· Melakukan pemeriksaan secara visual dari hasil operasi sewing/ jahit apakah kualitas jahit sudah sesuai atau tidak dengan standar

· Melakukan pemeriksaan terhadap ukuran, apakah sudah sesuai dengan pemesanan atau tidak. Minimum pengukuran 5 pieces untuk setiap warna dan ukuran.

· Melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap: model, kain, warna, jahitan, material penunjang, konstruksi material, price ticket, folding method/cara lipat, carton marking. Dan carton labeling.

KLASIFIKASI DEFECT

1. Defect akan diklasifikasikan menjadi dua yaitu, defect major dan defect minor.

2. Major defect adalah sebuah kondisi garmen yang diindikasikan akan menjadi second quality atau tidak memenuhi standar karena beberapa alasan berikut :

  • Defect tersebut akan mempengaruhi integrity/keutuhan dari product
  • Defect tersebut akan mempengruhi terhadap daya jual dari product
  • Defect tersebut akan mempengaruhu kepercayaan dan kepuasan konsumen terhadap product
  • Defect tersebut menjadikan ketidak sesuaian pada style

3. Minor defect adalah sebuah kondisi dimana defect tersebut tidak akan menimbulkan complain dari konsumen.

DEFINISI DEFECT PADA BAGIAN SEWING/JAHIT

  1. Crooked label/ label tidak di tengah +/- 1/16” dari tengah masih diperbolehkan
  2. Label seam ends on yoke/ jahitan label tembus satu jarum pada bahu. Diperbolehkan tidak melebihi 1/8”
  3. Label stitching over run/ jahitan label keluar. Diperbolehkan tidak melebihi satu jarum
  4. Poor banding/ lapisan kaki kerah melintir. Tidak diperbolehkan
  5. Nose on band extension/pemasangan kaki kerah nonjol. Diperbolehkan tidak melebihi 1/16”.
  6. Uneven collar point length/Lebar dari pucuk kerah tidak sama kiri dan kanan. Tidak ada toleransi , ukuran harus benar benar akurat.
  7. Untidy joint stitching at collar/jahitan sambungan pada kerah. Tidak diperbolehkan ada jahitan sambung pada bagian kerah.
  8. Mismatched collar/kerah tidak matching. Diharuskan matching pada bagian ini.
  9. Skip stitch collar/stik kerah loncat. Tidak diperbolehkan
  10. Open seam collar closing/pasang tutup kerah jebol. Tidak ada toleransi.
  11. Beading collar point/pucuk kerah tidak lancip. Tidak ada toleransi.
  12. Fractured Collar point/pucuk kerah jebol. Tidak ada toleransi.
  13. One front longer than other/bagian depan kiri kanan tidak sama. Tidak diperbolehkan melebihi ¼”
  14. Skip stitch top centre/jahitan loncat pada bagian tengah. Tidak ada toleransi.
  15. Missing or faulty button/kurang atau rusak kancing. Tidak ada toleransi.
  16. Open seam joining/jebol pada penggabungan. Tidak ada toleransi
  17. Faulty pocket blocking/Block saku kurang baik. Tidak ada toleransi.
  18. Incorrect pocket location/penempatan saku yang tidak sesuai. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
  19. Hi Low Pocket/Pocket kiri dan kanan tidak sama posisinya. Diperbolehkan tidak melebihi 1/4”
  20. Sleeve not even at armhole/ tangan tidak sama pada bagian ketiak. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
  21. One sleeve longer than other/panjang tangan kiri dan kanan tidak sama. Diperbolehkan tidak melebihi ¼”
  22. Puckering/Kerut. Tidak diperbolehkan.
  23. Sleeve placket faulty blocking/Blocking tangan tidak bagus. Harus diperbaiki.
  24. Fullness in Cuff/Gelembung pada manset. Harus diperbaiki.
  25. Nose on Cuff/pemasangan manset menonjol ke luar.Harus diperbaiki.
  26. Beading Cuff attached/Pasang manset menonjol ke atas. Harus diperbaiki.
  27. Needle pulls, needle chew/Terdapat bekas karena jarum tumpul. Tidak diperbolehkan.
  28. Brooken stitch/Jahitan putus. Tidak diperbolehkan.
  29. Half sewn button/jahitan kancing hanya separuh.

DEFINISI DEFFECT PADA BAGIAN FOLDING DAN PACKING

1. Crushed or no collar support/Rusak atau sobek kertas penahan kerah. Harus diperbaiki.

2. Tie space too big/overlap/Jarak pemasangan dasi terlalu lebar atau bertumpang tindih.

3. Crooked Collar/Kerah tidak pas pada bagian tengah lipatan.

4. Mismatched front stripe/plaid/Bagian kiri dan kanan tidak matching untuk stripe atau kotak.

5. Mismatched pocket/Pemasangan saku tidak matching.

6. Mismatched collar/Kerah tidak matching

7. Collar not rolled properly/Kerah tidak bulat secara sempurna.

8. Torn/misprinted poly bag/ Plastik robek dan ada kesalahan print.

9. Dry wrinkles/ Gosokan tidak rapi.

10. Poor Pinning/Pemasangan jarum pentul tidak baik.

11. Crooked front folding/Bagian lipatan kiri kanan tidak seimbang.

12. Flaps not covering to pocket/Tutup saku tidak menutupi secara sempurna.

13. Puckering collar closing/kerut pada bagian pemasangan kerah.

14. Fullnes in band/gelembung pada bagian dalam kaki kerah

15. Hi Low Button Down/Kancing kerah kiri kanan tinggi rendah.

16. Misaligned neck button to front button/Kancing leher tidak lurus terhadap kancing depan.

17. Fullness around collar/Gelembung sekitar kerah

18. Fullness between 1st and 2nd front button/Gelembung antara kancing pertama dan kedua pada bagian depan.

19. Wrong size in box/Salah memasukan ukuran pada box

20. Wrong assortment/ Salah assortment

21. Wrong style in box/ Salah style yang masuk pada box

22. Wrong poly bag/ Salah plastic

23. Wrong Carton Marking/ Salah print pada karton box

Sumber bacaan

Aas Asmawati, Pelatihan QA Garmen di PTBB UNY

GRIPAC, Modul QC.

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL By:noor fitrihana

Menurut sumber diperolehnya zat warna tekstil digolongkan menjadi 2 yaitu: pertama, Zat Pewarna Alam (ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil ekstrak tumbuhan atau hewan. Kedua, Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena. (Isminingsih, 1978).

Pada awalnya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Keunggulan zat warna sintetis adalah lebih mudah diperoleh , ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya Meskipun dewasa ini penggunaan zat warna alam telah tergeser oleh keberadaan zat warna sintesis namun penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan budaya warisan nenek moyang masih tetap dijaga keberadaannya khususnya pada proses pembatikan dan perancangan busana. Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif. Dalam tulisan ini akan dijelaskan teknik eksplorasi zat warna alam dari tanaman di sekitar kita sebagai upaya pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah sebagai salah satu upaya pelestarian budaya.

A. Zat Warna Alam untuk Bahan Tekstil

Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (The), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973).

Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun). Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas atau daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.

Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya. Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber- sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui secara kualitatif warna yang dihasilkan oleh berbagai tanaman di sekitar kita untuk pencelupan tekstil. Dengan demikian hasilnya dapat semakin memperkaya jenis –jenis tanaman sumber pewarna alam sehingga ketersediaan zat warna alam selalu terjaga dan variasi warna yang dihasilkan semakin beragam. Eksplorasi zat warna alam ini bisa diawali dari memilih berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar kita baik dari bagian daun, bunga, batang, kulit ataupun akar . Sebagai indikasi awal, tanaman yang kita pilih sebagai bahan pembuat zat pewarna alam adalah bagian tanaman –tanaman yang berwarna atau jika bagian tanaman itu digoreskan ke permukaan putih meninggalkan bekas/goresan berwarna. Pembuatan zat warna alam untuk pewarnaan bahan tekstil dapat dilakukan menggunakan teknologi dan peralatan sederhana.

B. Eksplorasi Zat Warna Alam dan Teknik Pencelupannya

Menurut R.H.MJ. Lemmens dan N Wulijarni-Soetjipto (1999) sebagian besar warna dapat diperoleh dari produk tumbuhan, pada jaringan tumbuhan terdapat pigmen tumbuhan penimbul warna yang berbeda tergantung menurut struktur kimianya. Golongan pigmen tumbuhan dapat berbentuk klorofil, karotenoid, flovonoid dan kuinon. Untuk itu pigmen – pigmen alam tersebut perlu dieksplorasi dari jaringan atau organ tumbuhan dan dijadikan larutan zat warna alam untuk pencelupan bahan tekstil. Proses eksplorasi dilakukan dengan teknik ekstraksi dengan pelarut air.

Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen – pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji ataupun akar. Proses eksplorasi pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ekstraksi. Proses ektraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air. Bagian tumbuhan yang di ekstrak adalah bagian yang diindikasikan paling kuat/banyak memiliki pigmen warna misalnya bagian daun, batang, akar, kulit buah, biji ataupun buahnya. Untuk proses ekplorasi ini dibutuhkan bahan – sebagai berikut: 1). Kain katun (birkolin) dan sutera, 2) Ekstrak adalah bahan yang diambil dari bagian tanaman di sekitar kita yang ingin kita jadikan sumber pewarna alam seperti : daun pepaya, bunga sepatu, daun alpokat, kulit buah manggis, daun jati, kayu secang, biji makutodewo, daun ketela pohon, daun jambu biji ataupun jenis tanaman lainnya yang ingin kita eksplorasi 3) Bahan kimia yang digunakan adalah tunjung (FeSO4) , tawas, natrium karbonat/soda abu (Na2CO3) , kapur tohor (CaCO3), bahan ini dapat di dapatkan di toko-toko bahan kimia. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, ember, panci, kompor, thermometer , pisau dan gunting. Proses ekplorasi dan pencelupan zat warna alam adalah sebagai berikut:

C. Proses Ekstraksi Zat Warna Alam

Dalam melakukan proses ekstraksi/pembuatan larutan zat warna alam perlu disesuaikan dengan berat bahan yang hendak diproses sehingga jumlah larutan zat warna alam yang dihasilkan dapat mencukupi untuk mencelup bahan tekstil. Banyaknya larutan zat warna alam yang diperlukan tergantung pada jumlah bahan tekstil yang akan diproses. Perbandingan larutan zat warna dengan bahan tekstil yang biasa digunakan adalah 1: 30. Misalnya berat bahan tekstil yang diproses 100 gram maka kebutuhan larutan zat warna alam adalah 3 liter. Beikut iniadalah langkah-langkah proses ekstraksi untuk mengeksplorasi zat pewarna alam dalam skala laboratorium:

1. Potong menjadi ukuran kecil – kecil bagian tanaman yang diinginkan misalnya: daun, batang , kulit atau buah. Bahan dapat dikeringkan dulu maupun langsung diekstrak. Ambil potongan tersebut seberat 500 gr.

2. Masukkan potongan-potongan tersebut ke dalam panci. Tambahkan air dengan perbandingan 1:10. Contohnya jika berat bahan yang diekstrak 500gr maka airnya 5 liter.

3. Rebus bahan hingga volume air menjadi setengahnya (2,5liter). Jika menghendaki larutan zat warna jadi lebih kental volume sisa perebusan bisa diperkecil misalnya menjadi sepertiganya. Sebagai indikasi bahwa pigmen warna yang ada dalam tumbuhan telah keluar ditunjukkan dengan air setelah perebusan menjadi berwarna. Jika larutan tetap bening berarti tanaman tersebut hampir dipastikan tidak mengandung pigmen warna.

4. Saring dengan kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi tersebut untuk memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu). Larutan ekstrak hasil penyaringan ini disebut larutan zat warna alam. Setelah dingin larutan siap digunakan.

D. Persiapan Pencelupan Dengan Zat Warna Alam.

Sebelum dilakukan pencelupan dengan larutan zat warna alam pada kain katun dan sutera perlu dilakukan beberapa proses persiapan sebagai berikut:

1. Proses mordanting

Bahan tekstil yang hendak diwarna harus diproses mordanting terlebih dahulu. Proses mordanting ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik zat warna alam terhadap bahan tekstil serta berguna untuk menghasilkan kerataan dan ketajaman warna yang baik. Proses mordanting dilakukan sebagai berikut:

a. Potong bahan tekstil sebagai sample untuk diwarna dengan ukuran 10 X 10 Cm atau sesuai keinginan sebanyak tiga lembar.

b Rendam bahan tekstil yang akan diwarnai dalam larutan 2gr/liter sabun netral (sabun sunlight batangan) atau TRO (Turkey Red Oil). Artinya setiap 1 liter air yang digunakan ditambahkan 2 gram sabun netral atau TRO. Perendaman dilakukan selama 2 jam. Bisa juga direndam selama semalam. Setelah itu bahan dicuci dan dianginkan.

c. Untuk bahan kain kapas : Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dan 2 gram soda abu (Na2CO3) dalam setiap 1 liter air yang digunakan. Aduk hingga larut. Rebus larutan hingga mendidih kemudian masukkan bahan kapas dan direbus selama 1jam. Setelah itu matikan api dan kain kapas dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain kapas tersebut siap dicelup

d. Untuk bahan sutera at: Buat larutan yang mengandung 8 gram tawas dalam setiap 1 liter air yang digunakan, aduk hingga larut. Panaskan larutan hingga 60ºC kemudian masukkan bahan sutera atau wol dan proses selama 1 jam dengan suhu larutan dijaga konstan (40 - 60ºC ). Setelah itu hentikan pemanasan dan kain dibiarkan terendam dalam larutan selama semalam. Setelah direndam semalaman dalam larutan tersebut, kain diangkat dan dibilas (jangan diperas) lalu dikeringkan dan disetrika. Kain sutera yang telah dimordanting tersebut siap dicelup dengan larutan zat warna alam.

2. Pembuatan larutan fixer (pengunci warna)

Pada proses pencelupan bahan tekstil dengan zat warna alam dibutuhkan proses fiksasi (fixer) yaitu proses penguncian warna setelah bahan dicelup dengan zat warna alam agar warna memiliki ketahanan luntur yang baik. Ada 3 jenis larutan fixer yang biasa digunakan yaitu tunjung (FeSO4), tawas, atau kapur tohor (CaCO3).. Untuk itu sebelum melakukan pencelupan kita perlu menyiapkan larutan fixer terlebih dengan dengan cara :

a. Larutan fixer tunjung : Larutkan 50 gram tunjung dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

b. Larutan fixer Tawas : Larutkan 50 gram tawas dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

c. Larutan fixer Kapur tohor : Larutkan 50 gram kapur tohor dalam tiap liter air yang digunakan. Biarkan mengendap dan ambil larutan beningnya.

3. Proses Pencelupan Dengan Zat Warna Alam

Setelah bahan dimordanting dan larutan fixer siap maka proses pencelupan bahan tekstil dapat segera dilakukan dengan jalan sebagai berikut:

1. Siapkan larutan zat warna alam hasil proses ekstraksi dalam tempat pencelupan .

2. Masukkan bahan tekstil yang telah dimordanting kedalam larutan zat warna alam dan diproses pencelupan selama 15 – 30 menit.

3. Masukkan bahan kedalam larutan fixer bisa dipilih salah satu antara tunjung , tawas atau kapur tohor. Bahan diproses dalam larutan fixer selama 10 menit. Untuk mengetahui perbedaan warna yang dihasilkan oleh masing – masing larutan fixer maka proses 3 lembar kain pada larutan zat warna alam setelah itu ambil 1 lembar difixer pada larutan tunjung, 1 lembar pada larutan tawas dan satunya lagi pada larutan kapur tohor.

4. Bilas dan cuci bahan lalu keringkan. Bahan telah selesai diwarnai dengan larutan zat warna alam.

5. Amati warna yang dihasilkan dan perbedaan warna pada bahan tekstil setelah difixer dengan masing-masing larutan fixer. Pada umumnya hampir semua jenis zat warna alam mampu mewarnai bahan dari sutera dengan baik , namun tidak demikian dengan bahan dari kapas katun. (berdasar beberapa eksperimen yang telah dilakukan penulis).

6. Lakukan pengujian-pengujian kualitas yang diperlukan (ketahanan luntur warna dan lainnya

7. Simpulkan potensi tanaman yang diproses (diekstrak) sebagai sumber zat pewarna alam untuk mewarnai bahan tekstil.

Dengan banyak melakukan eksperimentasi untuk mengeksplorasi kandungan pigmen warna dalam tanaman maka akan sangat memperkaya jenis zat warna alam yang kita miliki. Eksperimen dapat dimulai dari memilih jenis tanaman di lingkungan sekitar anda yang sekiranya belum dimanfaatkan untuk kepentingan lain (untuk obat,tanman hias dan lainnya). Potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah merupakan faktor pendukung yang dapat dimanfaatkan. Produk tekstil dengan zat pewarna alam ini banyak disukai karena keunggulannya selain ramah lingkungan juga warna – warna yang dihasilkan sangat khas dan etnik sehingga memiliki nilai jual yang tinggi . Produk tekstil dengan zat warna alam dapat dijadikan potensi unggulan produk daerah di pasar global. Untuk pengembangan penggunaan zat warna alam perlu dilakukan melalui penelitian –penelitian untuk mendapatkan hasil yang semakin baik.

Variasi warna Napthol dan Garam Naphtol

Variasi warna Napthol dan Garam Naphtol

Pewarnaan menggunakan napthol membutuhkan pengalaman menggunakan campuran zat warna naphtol dan garam napthol untuk pembangkitnya. Gambar disamping dapat digunakan acuan untuk mengetahui arah warna dalam mewarnai bahan tekstil dengan zat warna napthol.

Proses batik

Proses batik

Pengertian Batik

Secara etimologi kata ambatik berasal dari kata tik yang berarti kecil/titik dapat diartikan menulis atau menggambar serba rumit (kecil-kecil). Batik sama artinya dengan menulis. Tetapi batik secara umum memiliki arti khusus yaitu melukis pada kain mempergunakan lilin (malam) dengan mempergunakan canting).

Yang dimaksud dengan teknik membuat batik adalah proses pekerjaan dari tahap persiapan kain sampai menjadi kain batik. Pekerjaan persiapan meliputi segala pekerjaan pada kain mori hingga siap dibuat batik seperti nggirah/ngetel (mencuci), nganji (menganji), ngemplong (seterika), kalendering. Sedangkan proses membuat batik meliputi pekerjaan pembuatan batik yang sebenarnya terdiri dari pembuatan motif, pelekatan lilin batik pada kain sesuai motif,, pewarnaan batik (celup, colet, lukis /painting, printing), yang terakhir adalah penghilangan lilin dari kain . Teknologi pembuatan batik di Indonesia pada prinsipnya berdasarkan Resist Dyes Technique (Teknik celup rintang) dimana pembuatannya semula dikerjakan dengan cara ikat – celup motif yang sangat sederhana, kemudian menggunakan zat perintang warna. Pada mulanya sebagai zat perintang digunakan bubur ketan, kemudian diketemukan zat perintang dari malam(lilin) dan digunakan sampai sekarang

Untuk membuat motif batik umumnya dilakukan dengan cara tulis tangan dengan canting tulis (batik tulis atau batik painting), menggunakan cap dari tembaga disebut (batik cap), dengan jalan dibuat motif pada mesin printing (batik printing), dengan cara dibordir disebut batik bordir, serta dibuat dengan kombinasi kombinasi cara-cara yang telah disebutkan.

Di pasaran kain batik dibedakan menjadi 2 jenis berdasarkan cara pembuatan motif batiknya. Yang pertama adalah Kain batik yaitu kain yang motifnya bercorak batik yang dibuat/digambar dengan cara pelekatan lilin (malam). Sedangkan kain bermotif batik adalah kain yang bermotif/bercorak batik tetapi motifnya tidak digambar melalui pelekatan lilin batik, biasanya dengan mesin printing tekstil, bodrir dan ataupun ornamen batik tanpa melalui pelekatan lilin.

Proses Pembuatan Batik

Teknik pembuatan batik pada awalnya adalah batik tulis dan alat yang digunakan pertama kali adalah canting tulis dari bambu yang kemudian berkembang/diketemukannya canting tulis dari tembaga. Tahapan proses pembuatan batik sebagai berikut:

1) Ngelowong Yaitu menggambari kain dengan lilin, baik menggunakan canthing tangan atau cap (stempel), sifat lilin yang digunakan dalam proses ini harus cukup kuat dan renyah supaya lilin mudah dilepaskan dengan cara dikerok, karena bekas gambar dari lilin ini nantinya akan diberi warna coklat (soga).

2) Nembok Proses ini hampir sama dengan ngelowong tetapi lilin yang digunakan lebih kuat karena lilin ini dimaksudkan untuk menahan warna biru (indigo) dan coklat (soga) agar tidak menembus kain. Bedanya dengan ngelowong adalah nembok untuk menahan warna, sedangkan ngelowong untuk menggambar dan menjadi tempat warna coklat setelah dikerok.

3) Wedelan / Celupan.Tahap ini untuk memberi warna biru dengan menggunakan indigo yang disesuaikan dengan tingkat warna yang dikehendaki. Pada waktu dahulu dengan menggunakan indigo alami dan proses ini berlangsung lebih dari satu minggu untuk warna biru yang lebih tua. Kemudian setelah ada indigo pasta/puder warna biru dapat diperoleh hanya dalam waktu 1-2 hari. Setelah tahun 1965, sedikit sekali orang memakai indigo. Untuk memperoleh warna biru biasanya menggunakan warna kimia yang lebih cepat seperti naphtol, dengan warna naphtol dapat mempercepat proses hanya beberapa menit.

4) Ngerok :Yaitu menghilangkan lilin klowongan untuk tempat warna coklat, pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan potongan kaleng dengan lebar 3 cm,panjang 30 cm yang ditajamkan sebelah lalu dilipat menjadi dua, alat ini disebut cawuk.

5) MbironiKain setelah dikerok pada bagian-bagian yang diinginkan tetap berwarna biru dan putih (cecek/titik-titik), perlu ditutup dengan lilin menggunakan canthing tulis/biron. Hal ini dimaksudkan agar bagian tersebut tidak kemasukan soga apabila disoga.

6) NyogaKain yang telah dibironi lalu diberi warna coklat (disoga) dengan ekstrak pewarna yang terbuat dari kulit kayu, soga, tingi, tegeran, dan lain lain (zat warna alam). Kain tersebut dicelup dalam bak pewarna hingga basah seluruhnya kemudian ditiris hingga kering. Proses ini diulang –ulang hingga sampai mendapatkan warna coklat yang diinginkan. Untuk warna tua sekali proses ini dapat memakan waktu 2 minggu. Jika mnenggunakan pewarna kimia (zat warna sintetis) proses ini dapat selesai dalam waktu satu hari.

7) Mbabar / Ngebyok / NglorodTahap ini untuk membersihkan seluruh lilin yang masih ada di kain dengan cara dimasak dalam air mendidih dengan ditambah air tapioca encer atau TRO agar lilin tidak melekat kembali ke kain

Bahan - Bahan Batik

Bahan - Bahan Batik

September 3rd, 2008

Mori adalah bahan baku batik dari katun. Kwalitet mori bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan.

1. UKURAN MORI

Mori yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain yang dikehendaki. Ada juga kebutuhan yang pasti misalnya udeng atau ikat kepala.

Ukuran panjang pendek mori biasanya tidak menurut standar yang pasti, tetapi dengan ukuran tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan sekacu. Kacu ialah sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar (persegi). Maka yang disebut sekacu ialah ukuran perseginya mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lainnya. Maka lebar mori sangat menentukan panjang masing-masing jenis mori, meskipun jumlah kacunya sama. Cara mengukurnya pun hanya dengan jalan memegang kedua sudut mori pada sebuah sisi lebar dan menempelkan salah satu sudut tadi pada sisi panjang berseberangan sepanjang lebar mori. Kalau akan mengambil beberapa kacu, maka berganti-ganti tangan kiri dan kanan memegang sudut mori itu, menempelkan pada sisi panjang yang sama dengan menekuk mori.

2. MENGOLAH MORI SEBELUM DIBATIK

sebelum dibatik mori harus diolah lebih dahulu. Baik buruknya pengolahan akan menentukan baik buruknya kain.

Mori yang sudah dipotong diplipit. Diplipit adalah dijahit pada bekas potongan supaya benang pakan tidak terlepas. Benang pakan ialah benang yang melintang pada tenunan. Setelah diplipit kemudian di cuci dengan air tawar sampai bersih. Kalau mori kotor, maka kotoran itu akan menahan meresapnya cairan lilin (malam) yang di aplikasikan ke kain dan menahan cairan warna pada waktu proses pembabaran. Di daerah Yogyakarta dan Surakarta mori dijemur sampai kering. Setelah dicuci bersih mori selanjutnya direbus.

Berbeda daerah, beda pula cara pengolahannya. Di daerah Blora, orang membuat Wantu, yaitu air yang dipanaskan dalam suatu wadah sebelum moridi masukkan didalamnya. Wadah untuk membuat Wantu diberi dasar di dalamnya, supaya barang rebusan tidak hangus. Sebagai wadah dasar tadi digunakan daun bambu, daun pepaya atau merang (tangkai bulir padi). Bahan-bahan tadi lebih baik dari bahan lainnya untuk dasar merebus sesuatu, karena meskipun hangus tidak akan mengerut dan arangnya tidak mengotori mori.

Setelah wantu panas, mori bersih dimasukkan di masukan di dalamnya. Cara memesukkan mori kedalam wantu mulai dari ujung sampai pangkal secra urut. Rebusan memakan waktu beberapa menit. Mori kemudian diangkat dan dicuci untuk menghilangkan kotoran sewaktu direbus. Selesai dicuci barulah dijemur sampai kering.

Mori menjadi lemas; kemudian dikanji. Bahan kanji ialah beras. Di daerah Blora dipakai sembarang beras asalkan putih. Beras direndam beberapa saat dalam air secukupnya; kemudian beras bersama airnya direbus sampai mendidih. Air rebusan beras diambil dan dinamakan tajin.

Mori kering dimasukkan kedalam tajin sampai merata; tanpa diperas langsung dijemur supaya kering. Akhirnya mori menjadi kaku.

Tetapi didaerah Yogyakarta dan Surakarta pada jaman sebelum perang bahan kanji terbuat dari beras ketan; dan cara pembuatannya pun berbeda-beda. Ada yang memakai cara seperti didaerah Blora, tetapi ada juga dengan cara beras dijadikan tepung halus. Apabila berupa tepung, sesenduk tepung diberi empat gelas besar air, dimasak sampai mendidih, kemudian disaring. Air saringan seukuran tadi hanya untuk mori sekacu.

Mori kering sehabis dikanji akan mengerut dan kaku. Maka mori diembun-embunkan setiap pagi beberapa hari. Diembun-embunkan ialah dibentangkan diluar rumah waktu pagi hari ( jam 5.00), supaya menjadi lembab karena air embun.

Setelah mori lembab, kemudian dikemplong. DiKemplong ialah dipukuli pada tempat tertentu dengan cara tertentu pula, supaya benang-benang menjadi kendor dan lemas, sehingga cairan lilin dapat meresap.

Untuk mengemplong mori diperlukan kayu kemplongan sebagai alas dan alu pemukul atau ganden (ganden ialah martil agak besar terbuat dari kayu). Mori dilipat memanjang menurut lebarnya. Lebar lipatan lebih kurang setengah jengkal; kemudian ditaruh diatas kayu dasar memanjang, lalu dipukul-pukul. Jika perlu dibolak-balik agar pukulan menjadi rata.

Selesai dikemplong, tinggal menentukan motif batikan yang dikehendaki. Jika ingin motif parang-paragan, atau motif-motif yang membutuhkan bidang-bidang tertentu, maka mori digaris terlebih dahulu. Fungsi penggarisan ini hanyalah untuk menentukan letak motif agar menjadi rapi (lurus). Pembatik yang sudah mahir tidak menggunakan penggarisan. Besar kecilnya garisan tidak sama, tergantung pada motif rencana batikan. Biasanya kayu garisan berpenampang bujur sangkar. Cara memindah kayu penggaris setelah garisan pertama ke garis kedua ialah dengan memutar kayu penggaris (membalik), tanpa mengangkatnya. Maka lebar sempitnya ruang antara garis satu sama lain ditentukan oleh banyaknya putaran kayu penggaris. Mori yang dibatik motif semen tidak perlu digaris, langsung dirangkap dengan pola pada muka mori. Setelah semua itu selesai, barulah dapat dimulai kerja membatik.

POLA

Pola ialah suatu motif batik dalam mori ukuran tertentu sebagai contoh motif batik yang akan dibuat.

LILIN (MALAM).

Lilin atau malam ialah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang), karena akhirnya diambil kembali sewaktu proses membabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain.

Mengapa Batik Warna Alam Lebih Menarik?

July 6th, 2008

Pernah mendengar kata Batik? Pasti! Coba lihat disekitar Anda. Jangan-jangan baju yang sekarang Anda pakai dari kain Batik.

Batik dikenal diseluruh nusantara. Belum ada informasi pasti kapan awalnya. Batik diterima sebagai warisan leluhur di Indonesia.

Tadinya saya pikir Batik hanya milik Indonesia. Tapi ternyata… di banyak negara ada Batik dengan ciri khasnya masing-masing.

Kata Batik konon kabarnya berasal dari kata ‘tik’ atau ‘tik-tik’. Itu kata Bahasa Indonesia. Bagaimana kalau Batik di negara lain? Apakah adari asal kata yang sama? Entahlah…

Pekerjaan membatik adalah pekerjaan orang sabar. Bayangkan, untuk membuat satu kain Batik diperlukan proses yang panjang. diawali dengan mencuci, menganji, menjemur dan mengetuknya. Suatu proses yang memakan waktu berhari-hari.

Selanjutnya kain putih tersebut dipola. Kemudian baru mulai digambar dengan menggunakan canting. Proses pewarnaan juga memerlukan waktu tergantung berapa warna yang akan digunakan dalam satu kain.

Bagian yang tidak ingin diwarna tertentu harus ditutup dengan lilin. Setelah satu warna selesai, lilin dihilangkan dengan merebus. Selanjutnya dikerjakan warna yang lain. Demikian seterusnya sampai seluruh kain diberi warna sesuai dengna keinginan sang designer.

Warna alami Batik diambil dari daun, bunga serta kulit kayu. Memang penangann batik dengan warna alam sedikit membutuhkan ketelitian, tetapi warna yang ditampilkannya lembut dan alami. Tidak banyak lagi yang mau menggunakan warna alam. Karena itu, jika Anda menggunakan Batik warna alam, Batik yang Anda pakai akan berbeda dari batik-batik yang lain. Batik ini justru menarik karena kelembutan warnanya. Cobalah!

Batik, Setia Bersama Masa PDF Cetak E-mail




Solo adalah Kota Batik. Pemberian nama ini bukan tanpa alasan, karena batik, yang merupakan salah satu ikon identitas bangsa Indonesia, adalah bagian dari keseharian masyarakat Solo yang turut menjadi tulang punggung kehidupan. Batik ada di mana-mana. Setia bersama masa dan meraja melebihi raja. Batik bukan hanya tentang kain dengan berbagai macam motif yang tergambar di atasnya, karena berbagai filosofi pun tertanam di dalam karya seni itu. Batik Solo memiliki keunikan dari daerah-daerah yang lain dan membuatnya mengandung nilai historis di luar kekuatan estetika yang jelas-jelas tersaji. Berdasarkan beberapa sumber, batik dan teknik pembuatannya memang tidak sepenuhnya ditemukan oleh bangsa Indonesia, namun di sinilah ia berkembang dan menemukan tempatnya di dalam perjalanan panjang kebudayaan bangsa.

Batik, Riwayatmu Dulu...
Batik telah dikenal sejak jaman Kerajaan Majapahit, bahkan teknik membatik itu sendiri konon diperkenalkan saat kebudayaan India dan Cina masuk ke Nusantara, karena teknik mewarnai dengan menggunakan malam telah dipergunakan di Negeri Tirai Bambu sejak zaman Dinasti Tang.

Kata batik konon berasal dari kata ambatik, yang artinya kain dengan titik-titik kecil. Tik sendiri artinya titik dan batik merupakan kain yang diberi motif dengan menitikkan malam di atasnya. Dahulu batik hanya dipergunakan oleh kalangan kerajaan, karena teknik pembuatan dan motif yang terkandung di dalamnya. Sebuah catatan sejarah bahkan mengatakan bahwa Sultan Agung, sebagai raja Mataram yang sangat terkenal, mempergunakan batik sebagai pakaian kebesaran.

Canting vs Cap
Pembatikan biasanya dilakukan di atas 2 macam bahan, yakni katun dan sutera. Kedua bahan itu memiliki tingkat penyerapan malam terbaik yang akan sangat membantu dalam proses pewarnaan. Bahan tersebut harus melalui pencucian hingga beberapa kali untuk menghilangkan semua kotoran yang menempel sebelum mulai diproses. Setelah itu outline motif diletakkan dengan menggunakan arang atau pensil, sebelum ditimpa dengan malam.

Terdapat 3 teknik pembuatan batik, yakni tubs, cap dan printing. Namun hanya tulis dan cap yang dipergunakan di dalam batik Solo. Batik tulis merupakan proses yang lebih rumit dibandingkan dengan cap. Pembuat barus memiliki keterampilan dalam menggunakan canting, yakni semacam pena untuk menggambar motif dengan malam atau lilin. Canting sendiri konon merupakan ciptaan asli suku Jawa. Teknik pewarnaan menggunakan malam boleh berasal dari budaya asing, namun alat mungil ini merupakan hasil karya anak bangsa yang pantas dibanggakan.

Seiring waktu, batik tidak lagi hanya digunakan oleh keluarga dan penghuni kerajaan, namun menjadi milik publik dan dipergunakan oleh segala kalangan. Memenuhi permintaan yang semakin meningkat, teknik pembuatan batik pun mengalami perkembangan, yakni dengan menggunakan cap yang terbuat dari tembaga. Berbagai motif dengan mudah diaplikasikan kepada bahan dengan mencapnya. Kuncinya, cap itu harus dibuat dengan sangat teliti dan hati-hati karena antara satu dan lainnya harus benar-benar sama.

Batik yang dibuat menggunakan teknik cap, tulis atau penggabungan keduanya dengan mudah dapat Anda temukan di berbagai toko busana dan pasar tradisional yang ada di Solo. Harga dapat bervariasi, tergantung teknik pembuatan dan bahan yang dipergunakan. Batik yang dibuat dengan teknik tulis, dengan warna yang beragam memiliki harga yang lebih mahal karena pertimbangan waktu, usaha dan nilai estetika yang terkandung di dalamnya. (and)

Tradisi Di Dalam Motif Batik
Walaupun banyak perancang kini seringkali melahirkan motif-motif free style, alias lepas pakem tradisional, namun beberapa motif berikut masih dan tetap akan menjadi identitas utama batik.

Kawung
Motif kawung adalah salah satu motif tertua yang dikenal di dalam pembuatan batik, paling tidak sejak abad ke-13. Motif ini berupa lingkaran-lingkaran yang saling menempel. Beberapa ornamen dekorasi lainnya, seperti garis-garis yang bersilangan atau titik-titik, kadang diletakkan di dalam lingkaran itu. Motif ini dahulu hanya dipergunakan oleh keluarga kerajaan Jogjakarta.

Ceplok
Motif ceplok adalah perpaduan dari banyak bentuk, seperti kotak, bintang atau lingkaran. Walau pada dasarnya sangat geometris, namun motif ceplok juga bisa terlihat sangat abstrak dan mengakomodasi gambar-gambar yang lebih alami seperti bunga atau binatang.

Parang
Seperti motif kawung, dahulu motif parang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan di Jawa Tengah. Motif ini terlihat seperti pisau atau parang yang dipergunakan untuk berperang. Konon orang yang menikah tidak boleh mempergunakan motif ini karena nanti pernikahannya akan penuh pertengkaran.

Fakta Menarik Tentang Batik
  1. Batik tulis yang berkualitas baik bersifat reversible, atau terlihat sama persis dari depan atau belakang.
  2. Kalau maiam jatuh di luar motif yang diinginkan, harus dibersihkan dengan air panas dan harus dicungkil menggunakan besi panas.
  3. Batik cap yang jelek biasanya terlihat dari motif yang saling meniban dan garis yang warnanya tidak solid.

1.KLOWONGAN

1.KLOWONGAN
Langkah pertama membuat Batik adalah menggambar garis rangka dengan Chanting(Alat membatik dengan pipa kecil diujungnya yang diisi malam cair yang dipanaskan)

2.NGISENI
Mengisi kerangka dengan motif Batik yang utuh. Ada beberapa macam Chanting. Cecek untuk pota titik titik, chanting galaran untuk pola garis.dll

3.NERUSI
Langkah berikutnya adalah menduplikat dan mengisi motif Batik sama persis pada sisi kain sebaliknya.

4.NEMBOK
Memisahkan motif Batik warna demi warna dengan menutup warna per warna dengan malam. Proses ini menggunakan chanting tembokan yang memiliki lubang besar pada pipanya

5.BLIRIKI
Menutup warna demi warna pada sisi kain sebaliknya. Kombinasi langkah ke-3 dan ke-4

6.MEDEL
Memberi warna biru pada kain dengan zat pewarna bernama Wedel (terbuat dari Nila).

Namun sekarang wedel jarang digunakkan dan diganti oleh pewarna kimia.

7.NGEROK
Removes the wax and wash the fabric

8.MBIRONI
Menutup kain yang telah diberi warna biru dengan malam, sehingga pada saat dicelupkan ke warna lain, warna birunya tidak berubah.

9.NYOGA
Memberi kain warna coklat(soga), dengan mencelupkan kain pada cairan Soga

10.NGLOROT
Langkah terakhir dalam membuat Batik dengan merebus kain agar lapisan malamnya hilang, sesudah semua malam hilang, kain dicuci bersih dan dijemur sampai kering dibawah sinar matahar

Perbedaan dan Persamaan antara Batik Tulis dan Batik Cap

Perbedaan dan Persamaan antara Batik Tulis dan Batik Cap

Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah.

Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar.

Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.

Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:?

Batik Tulis

    1. Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
    2. Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
    3. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
    4. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
    5. Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
    6. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
    7. Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
    8. Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.

Contoh gambar Batik Tulis:


Batik Cap

    1. Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
    2. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis. Ada pula batik cap yang tidak nampak pengulangannya misalnya pada motif Kembang Buketan, karena biasanya menggunakan lebih dari satu cap (bisa 5 hingga 10 cap).
    3. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain. Kecuali pada bahan atau kain batik yang tipis, seperti pada kain sutra organza atau kain sutra Chiffon.
    4. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
    5. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
    6. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan penggunaan cap batik tembaga untuk pemakainya hampir tidak terbatas tergantung dari permintaan pasar.
    7. Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan batik cap biasanya berjumlah banyak dan memiliki kesamaan diantara satu dengan yang lainnya sehingga tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.

Contoh gambar Batik Cap:


Persamaannya
Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:

  1. Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
  2. Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
  3. Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
  4. Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
  5. Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
  6. Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
  7. Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.
Semoga bagi konsumen pecinta batik tidak akan merasa tertipu lagi dan bisa mengenal lebih jauh perbedaan antara batik tulis dan batik cap. Tidak lama lagi pemakaian Batik Mark Indonesia akan dikenalkan dan dipergunakan oleh perusahaan batik yang peduli akan kualitas batik Indonesia.
Batik pesisir saat ini sangat diminati, setidaknya sebagai barang dagangan. Bentuknya memang menarik, sayangnya popularitas batik pesisir berhenti sebagai sebuah komoditas. Tetapi apa di balik selembar kain batik pesisir kurang menjadi perhatian, dalam konteks ini batik pesisir kalah jauh dengan batik yang berasal dari lingkungan Istana.


Achmad Ilyas

Bahkan, yang ironis, di tingkat lokal sendiri, sebut saja di Pekalongan, yang merupakan sentra terbesar dari batik pesisir, pengetahuan orang tentang apa yang ada di dalam batik pesisir sangat kurang. Mereka jauh lebih akrab dengan nama-nama batik dari wilayah lain, terutama batik yang dibuat di lingkungan istana.

Dalam kajian sejarah batik, batik pesisir hampir diabaikan. Perhatian dan penelitian sejarah yang dilakukan sejumlah ahli lebih banyak ditujukan pada batik yang berasal dari lingkungan istana, terutama batik dari lingkungan Kraton Solo dan Yogyakarta. Kajian tentang batik pesisir dilakukan lebih akhir.

Terlepas dari persoalan ketidakseimbangan perhatian dari pemerhati batik. Memang harus diakui bahwa jumlah peninggalan atau dokumentasi tentang batik pesisir memang sangat kurang, Kalah jauh dengan peninggalan batik dari lingkungan istana. Peninggalan atau dokumentasi tentang-- dari masa lampau yang saat ini ada, lebih banyak yang berkaitan-- dengan batik istana. Kalaupun ada peninggalan yang berhubungan dengan batik pesisir, maka peninggalan itu berasal dari abad sembilan dan abad dua puluh. Sedang untuk masa sebelumnya hampir dapat disebut tidak ada.
Dokumentasi tentang batik pesisir yang paling awalpun, hanya dapat dilihat dari buku The History Of Java, itupun tidak menjelaskan secara langsung tentang corak batik pesisir.Buku ini menjelaskan adanya dua jenis batik yang ada di Jawa.
Para ahli mempercayai bahwa sejarah keberadaan batik pesisir sudah sangat tua. Dalam buku The Development of Javanese Cotton Industry yang disusun Matsuo Hiroshi,batik telah lama menjadi pakaian yang umum dipakai di kalangan petani, bahkan sejak jaman Majapahit. Atau jauh sebelum batik ditetapkan sebagai pakaian resmi kerajaan oleh Mataram. Meskipun begitu, sejarah perkembangan batik di wilayah ini hingga abad delapan belas tidak banyak diketahui.

Karakter Desain Batik Pesisir
Istilah batik pesisir, adalah sebuah istilah yang umum dipakai untuk menyebut style atau gaya batik yang dibuat di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Secara tradisional di Jawa batik dibagi menjadi dua jenis batik, batik pesisir dan batik yang dibuat di lingkungan kraton.

Perbedaan yang menonjol antara batik pesisir dan batik dari lingkungan kraton adalah pada pola pewarnaan dan corak ragam yang dipilih. Desain batik pesisir sangat bebas, warna dan corak ragamnya, berbeda dengan batik kraton yang terikat dengan sejumlah pakem atau aturan-aturan yang ditetapkan kraton.
Memang agak susah untuk mendefinisikan bagaimana karakter yang khas dari batik pesisir, Raffles dalam bukuThe History Of Java menjelaskan bahwa ada dua macam pewarnaan dalam jenis batik yang dibuat di pulau Jawa, salah satunya adalah yang kemudian kita kenal sebagai batik pesisir Dalam buku itu ia menyebutkan tentang salah satu pola pewarnaan dari salah satu jenis batik yang ada, batik bang-bangan, biron dan bang-biron atau pola pewarnaan yang sekarang kita sebut sebagai pewarnaan kelengan. Tentu yang ia maksud dengan dengan jenis itu adalah jenis batik pesisir
Pola pewarnaan ini memang dapat disebut sebagai karakter dari jenis batik pesisir yang dapat dilhat sejak masa Raffles, pewarnaan inilah yang membedakan batik pesisir dengan batik dengan pola pewarnaan sogan pada batik dari lingkungan istana.
Sementara batik pesisir dengan pewarnaan yang warna-warni, banyak disebut sebagai karakter batik pesisir pada masa selanjutnya,hal ini sebenarnya perkembangan dari batik merah-biru Pewarnaan kelengan atau merah biru adalah pola pewarnaan yang paling awal dari batik pesisir, pola pewarnaan ini sangat berbeda dengan pola pewarnaan yang pada saat itu berjalan di lingkungan istana. Yang barangkali menjadi pertanyaan apakah pola pewarnaan yang terjadi di wilayah pesisir merupakah pola pewarnaan yang lebih awal dalam sejarah proses pembuatan batik di Jawa? Tetapi yang pasti, sudah sejak lama, batik pesisir memakai bahan pewarna alam yang berbeda dengan bahan pewarna alam yang di pakai di lingkungan kraton. Mengkudu (Morinda Citrifolia), indigo (indigofera) dan kayu tegeran (Cundria Javanese) adalah bahan yang sering dipakai, sementara itu pewarna dari pohon jambal (Pelthoporum Pterocarpa) untuk warna soga yang banyak dipakai pada Batik kraton di lingkungan istana, tidak dikenal di wilayah pesisir .

Pola pewarnaan yang lebih kaya dan tidak sekedar merah biru yang terjadi selanjutnya adalah sebagai akibat introduksi dari sejumlah pengusaha peranakan, terutama keturunan Cina dan kalangan perempuan indo-Eropa yang banyak berkecimpung dalam proses produksi pada pertengahan abad sembilan belas.

Meskipun batik kelengan atau merah-biru disebut sebagai batik pesisir tradisional, tetapi itu tidak berarti corak ragam yang ada pada jenis batik ini di awal abad sembilan belas dapat disebut sebagai corak ragam yang paling original. Sebagian corak ragam batik merah biru yang disebut batik pesisir tradisional meniru dari corak batik dari lingkungan kraton dan corak ragam asing.
Bahkan batik dari desa Klerek di Tuban, yang sering disebut sebagai batik yang paling tradisional di wilayah utara Jawa, juga tidak dapat disebut sebagai bentuk desain yang mewakili atau menjelaskan desain asli dari batik di daerah pesisir. Bahkan dari corak ragam yang ada dari Batik Klerek Tuban itu sendiri, barangkali hanya ada satu jenis yang barangkali tidak dipengaruhi oleh unsur asing, yaitu corak ganggengan.
Sementara itu catatan lain yang berasal dari Cornet de Groot, seorang pejabat di Gresik pada tahun 1822 tentang sejumlah pola yang banyak dibuat di wilayah Gresik,menunjukan bahwa corak ragam yang banyak di buat pada saat itu adalah corak ragam yang dipengaruhi corak tenun, mulai dari corak ragam yang sederhana hingga ke corak ragam tenun yang kompleks. Corak ragam itu sebagian berasal dari corak ragam kain-kain India yang beredar sebelumnya.

Sebagian besar batik pesisir di masa lampau adalah sarung, hanya sebagian yang merupakan kain panjang. Meskipun sarung bukan asli Indonesia, sarung berasal dari melayu atau bahkan ada kemungkinan dari wilayah lebih utara lagi, tetapi sarung sangat popular di wilayah ini. Corak desain sarung adalah corak desain yang mengikuti corak kain India.
Dalam model kain asal India, bagian kepala seperti dalam sarung tidak terdapat pada salah satu sisi kain tetapi merupakan corak ragam yang ada pada kedua tepi kainnya. Sehingga ketika kedua sisi kain itu dipertemukan seperti dalam pemakaian sarung corak ragam itu menjadi satu atau menjadi bagian kepala yang ada dalam sarung. Corak ragam yang umum di dalam kain India adalah corak ragam tumpal,
Sementara batik pesisir dengan desain kain panjang muncul atau popular lebih akhir di wilayah ini.Desain pagi sore, terang bulan dan jawa hokokai yang dibuat lebih akhir adalah desain batik pesisir dalam bentuk kain panjang.
Karakter Corak ragam
Disamping pola pewarnaan yang disebutkan di atas, batik pesisir dapat dibedakan dari jenis batik lain berdasarkan corak ragamnya. Corak ragam batik pesisir tidak satu, tetapi sangat beragam .
Corak ragam dari luar diserap secara bebas di wilayah ini. Hampir tidak ada kendala yang membatasi di dalam proses ini. Bahkan corak-corak ragam dari kraton yang disakralkan di wilayah ini digabungkan dengan corak ragam lain. Atau diberi nuansa yang berbeda,
Di wilayah pesisir penyerapan unsur asing terjadi begitu bebas. Kondisi ini memang agak berbeda dengan yang terjadi dengan batik di wilayah istana. Dalam kajian yang sering ditulis, Batik di masa lalu sering, bahkan hampir selalu dikaitkan dengan sebuah pemaknaan (symbol) atau sebagai syarat dalam suatu acara ritual. Tetapi itu tidak terjadi dengan batik di wilayah pesisir, meskipun sebagian corak ragam di wilayah pesisir juga dipengaruhi oleh kultur dan kepercayaan setempat, tetapi corak ragam dalam desain batik pesisir setelah abad delapan belas atau barangkali sejak awalnya memang tidak pernah dikaitkan dengan symbol. Orang sering menyebut corak ragam di dalam batik pesisir lebih berfungsi sebagai unsur dekoratif

Barangkali pemaknaan atau simbolitas dalam batik sendiri baru terjadi setelah batik menjadi pakaian resmi di lingkungan Kerajaan Mataram. Dulu, atau sebelumnya, ketika batik hanya di pakai oleh kalangan petani, batik tidak menjadi sebuah symbol
Tidak munculnya fungsi symbol di dalam batik pesisir, barangkali karena perancangan desain batik pesisir tidak pernah berhubungan dengan sebuah proses kekuasaan dari sebuah rezim sebagaimana layaknya batik istana, bahkan pada masa perkembangannya perancangan batik lebih terkait dengan sebuah aktivitas perdagangan. Dalam konteks ini, batik pesisir tidak dibebani pesan untuk membangun sebuah kesakralan, yang ujung-ujungnya berakhir pada sebuah legitimasi kekuasan.

Proses perancangan batik pesisir tidak terpusat pada sebuah kekuatan tetapi tersebar pada sejumlah pelaku yang terjun di dalam proses perdagangan atau pembuatan batik. Dalam konsep ini nyaris tidak ada aturan yang membelenggu kecuali kreativitas itu sendiri. Hampir semua corak ragam dapat masuk ke dalam desain batik pesisir.

Macam corak ragam pesisir sangat beragam. Heringas dan Veldhuisen membagi batik pesisir menjadi delapan macam model batik (1) Batik pesisir tradisional yang merah biru (2) batik hasil pengembangan pengusaha keturunan, khususnya cina dan Indo Eropa (3) batik yang dipengaruhi kuat oleh Belanda (4) batik yang mencerminkan kekuasan kolonial (5) Batik hasil modifikasi pengusaha China yang ditujukan untuk kebutuhan kalangan China (6) Kain panjang (7) batik hasil pengembangan dari model batik merah biru (8) kain adat

Batik Pekalongan
Pekalongan yang dalam sejumlah tulisan disebut berdiri pada jaman Sultan Agung dari kerajaan Mataram, walaupun masih ada kemungkinan keberadaan Pekalongan sebagai sebuah wilayah hunian telah terjadi jauh sebelumnya.
Di wilayah ini, sejak abad sembilan belas telah terjadi perkembangan desain batik yang paling dinamis. Kondisi ini menunjukan kompleksitas sosial yang terjadi di wilayah itu. Betapa tidak, bayangkan hampir seluruh corak ragam asing muncul dalam desain batik Pekalongan. Batik dari wilayah ini sangat kosmopolitan. Corak ragam khas India, Persia, Turki , China dan Belanda terlihat mencolok dalam wajah batik Pekalongan, bahkan menjelang tahun 1940 di Pekalongan, muncul batik dengan gaya Jepang, yang disebut Batik Java Hokokai.

Dalam buku Batik Fabled Cloth Of Java, disebutkan bahwa batik telah diperdagangkan di wilayah ini mulai tahun 1840. tetapi kemungkinan ini bisa lebih awal lagi. Hanya sejak saat itu, dapat disebutkan bahwa di wilayah ini telah berkembang perdagangan batik yang pesat. Kalangan pedagang keturunan, terutama keturunan Cina dan Arab yang banyak tinggal di wilayah pesisir terdorong untuk menjadikan batik sebagai komoditas dagang. Perkembangan yang dipicu oleh hilangnya kain asal di India dan munculnya pasar baru seiring dengan munculnya sejumlah kelas menengah baru di wilayah Indonesia sebagai akibat pemberlakukan kebijakan tanam paksa (cultivation system ) oleh Belanda.
Kalangan pedagang ini pada awalnya hanya memesan batik kepada pengrajin batik yang saat itu banyak tersebar di desa-desa. Konon praktek pemesanan batik oleh kalangan keturunan asing kepada pengrajin yang ada di wilayah pedesaan ini telah berlangsung sejak sebelum VOC.

Batik Tradisional Pesisir
Memang agak susah untuk mendapatkan gambaran yang paling original dari batik pesisir, Veldhuisen ketika mengulas batik Klerek dari Tuban, ia menyebutkan bahwa hanya corak ganggengan yang mungkin merupakan corak ragam yang asli pesisir dan tidak dipengaruhi oleh unsur desain asing.
Sementara corak ragam yang lain dari batik Klerek banyak dipengaruhi oleh corak ragam asing, khususnya India dan China. Memang ada kemungkinan bahwa sebagian corak flora atau fauna adalah corak ragam batik pesisir yang asli, meskipun banyak juga corak jenis dari kelompok ini jelas menunjukan adanya pengaruh India dan China.

Batik India
Kalangan pengusaha keturunan, China dan Arab yang banyak menetap di sejumlah tempat pesisir, memanfaatkan kondisi perubahan peta perdagangan tekstil di wilayah Indonesia dengan memperdagangkan batik.
Mereka memperoleh batik dengan memesan atau meminta para pengrajin untuk membikin batik dengan memberikan upah di depan. Sebagian besar corak ragam yang banyak dipesan adalah corak-corak ragam dari kain Pathola dan Cindai asal India yang sebelumnya sudah sangat popular di Indonesia.
Batik pesisir dengan corak ragam kain India di perkirakan banyak dibuat pada awal abad sembilan belas atau akhir abad delapan belas, Batik dengan corak ragam ini di perdagangkan ke wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan pasar tradisional kain asal India. Karena saat itu kain-kain asal hilang dari pasaran..
Sejak awal abad sembilas atau semenjak menghilangnya kain asal India, batik pesisir dengan corak kain India secara perlahan menjadi busana resmi kalangan perempuan Indo Eropa, mereka memadukan sarung batik yang khas pesisiran dengan kebaya panjang putih.
Corak ragam India yang muncul di dalam batik pesisir adalah corak ragam yang ada di dalam kain India yang dipasarkan di Indonesia sejak abad lima belas. Sebagian merupakan corak ragam geometris tetapi sebagian yang lain corak ragam flora dan fauna. Meskipun berasal dari kain India tidak semua corak ragam itu berasal dari India, sebagian adalah corak ragam dari Persia dan Turki. Batik Jlamprang yang dulu banyak dibuat di Krapyak dan sekitarnya adalah contoh batik dengan corak ragam geometris meniru corak kain pathola (sutera tenun ikat) asal Gujarat India.
Batik Belanda
Berbarengan dengan perkembangan teknik cap, di wilayah Pekalongan sejumlah perempuan Indo Eropa mulai membuat, barangkali terjunnya mereka dalam proses pembikinan batik dipengaruhi sebuah kecenderungan di kalangan mereka yang menjadikan sarung sebagai busana resmi. Mereka dalam mengerjakan batik tidak menggunakan teknik cap(handstamp) yang saat itu banyak di gunakan oleh sejumlah perusahan di wilayah ini. Mereka lebih tertarik dengan teknik tulis(handdrawn).
Mereka yang terjun dalam kegiatan batik ini adalah istri-istri dari sejumlah orang Eropa yang tinggal di Pekalongan, sebagian besar rumah mereka berada di antara Kantor Residen dan Rumah Residen di Kota itu, sekarang jalan Diponegoro, Jl Imam Bonjol atau Jl Progo.
Batik Pekalongan, oleh Veldhiusen dan Heringas disebut sebagai batik yang sangat dipengaruhi Belanda, setidaknya sejak tahun 1860. Caroline Josephine Van Franquemont, adalah orang Indo Eropa pertama yang membikin batik, ia melakukan sekitar tahun 1850-1860. Ia tidak menjalankan kegiatan itu di Pekalongan tetapi di Semarang. Yang lain adalah Lien Metzelaar, dia melakukan pekerjaan itu dari tahun 1870-1920, dan sebenarnya masih banyak nama yang dapat disebutkan. Tetapi yang paling terkenal di antara mereka adalah Eliza Charlota Van Zuylen.
Mereka memusatkan sejumlah pekerja ke dalam sebuah bengkel kerja yang ada di belakang rumahnya, cara ini merupakan sebuah pendekatan baru di dalam proses kerja pembikinan batik. Karena sebelumnya proses batik banyak dilakukan di rumah para pekerja batik. Masuknya mereka atau kalangan perempuan Indo eropa dalam proses produksi pada saat itu, telah menyebabkan sejumlah perubahan pada batik pesisir.

Pengaruh Perempuan Indo eropa dalam perkembangan batik di Pekalongan
Pewarnaan menjadi lebih beragam, sejumlah unsur warna baru muncul di dalam batik Pekalongan, tidak lagi hanya merah biru seperti sebelumnya.
Perubahan pada corak kepala sarung, tidak lagi tumpal, tetapi juga corak yang lain. Pada perkembangan terakhir, corak kepala sarung yang umum merupakan kebalikan (invert) dari corak yang ada pada badan sarung.Pemunculan tulisan nama atau tanda pembikin dalam lembaran batik yang dibuatnya.Corak ragam baru, misal corak ragam flora yang sama sekali baru dalam konsep desain batik, yang kemudian kita sebut sebagai corak buket. Sebagian jenis bunga yang diadopsi dalam batik tersebut adalah bunga khas Eropa.
Corak ragam khas Eropa, mulai muncul setelah tahun 1860. corak ragam yang di adopsi sangat bermacam-macam, disamping corak ragam flora terdapat juga corak ragam yang mewakili symbol budaya Eropa atau corak ragam yang menggambarkan dongeng di negeri mereka, seperti cinderela, topi merah dan yang lain. Dari sekian corak ragam Eropa, maka yang paling menonjol adalah corak ragam buket yang dikembangkan Eliza Carlota Van Zuylen, konon sebagian besar dari corak ragam ini terinspirasi dari gambar karangan bunga pada post-card

Batik China
Menyusul kalangan perempuan indo Eropa, adalah pengusaha keturunan cina. Mereka mulai tertarik pada pengembangan desain batik, mereka tidak hanya terjun pada proses produksi seperti sebelumnya. Dalam pengembangan desain mereka tidak hanya memasukan corak ragam khas China. Tetapi juga corak ragam yang lain. Setelah tahun 1910 banyak batik yang di desain oleh sejumlah pengusaha Cina tidak hanya memasukan ornament yang khas china, seperti Naga atau Phoenix.
TheTie Siet, Oey Soen King, Lim Siok Hien, Lim Boe In, Lim Boen Gan dan Oey Soe Tjoen adalah sebagian dari nama-nama para pengrajin batik dari kalangan keturunan Cina yang banyak berperan dalam pengembangan desain batik di Pekalongan. Diantara mereka Oey Soe Tjoen dapat disebut yang paling dikenal.

Sejumlah batik yang di desain oleh sejumlah peranakan China sangat mirip dengan yang didesain oleh pengusaha Indo eropa. Meski terdapat sejumlah perubahan pada pola pewarnaan atau isen. Sarung encim dapat disebut sebagai contoh dari jenis ini.
Pengaruh desain china pada batik Pekalongan adalah sebagai berikut
Munculnya sejumlah corak ragam China, seperti Naga, Phoenix, Kupu-kupu dan corak ragam yang lain
Pola pewarnaan, para pengusaha Cina memunculkan macam warna yang lebih beraneka ragam, mereka juga memunculkan bayangan atau gradasi warna. Pengembangan pola pewarnaan batik oleh mereka menjadi lebih maju lagi, ketika mereka melakukan proses pewarnaan dengan bahan kimia pada akhir abad kesembilan belas.

Batik Java Hokokai
Malaise dunia yang pertama pada tahun 1930 telah menghancurkan sejumlah perusahaan batik Banyak perusahaan batik di wilayah ini yang bangkrut. Bahkan ada yang mengalihkan usahanya. Di Pekajangan sejumlah pengusaha batik mulai membuka usaha tenun.
Perubahan yang paling fundamental setelah malaise dunia dalam perkembangan desain batik pesisir adalah dibukanya kontak perdagangan Jepang dengan Indonesia. Karena proses ini telah memunculkan gagasan tentang jenis batik yang cocok untuk dipakai sebagai bahan kimono, pakaian khas perempuan Jepang
Batik Java Hokokai dapat disebut sebagai desain batik yang khusus di pasarkan Jepang, rata-rata batik hokokai digarap dengan sangat halus, rancangan corak ragam dan isen juga sangat rumit. Menurut pengakuan pemilik Batik Art di Kedungwuni, Ny Mulyadi Wijaya yang juga menantu Oey Soe Tjoen, Batik Java hokokai yang halus adalah yang di produksi pada saat penjajahan Jepang.Para pengrajin yang bekerja berlama-lama dengan pekerjaan, sederhana saja alasan bagi pembatiknya, untuk tetap mendapatkan jatah makan di tempat kerjanya, Maklum zaman itu makan menjadi problem yang paling penting

Batik Pesisir Yang Lain
Corak ragam batik pesisir yang lain adalah desain batik yang menyerap corak ragam dari batik-batik yang dibuat di lingkungan istana, meskipun terjadi perubahan pada tata warna atau dilakukannya kombinasi dengan corak ragam yang lain. Sehingga desain batik pesisir yang menyerap corak ragam batik dari lingkungan istana ini tidak umum atau tampak beda dengan desain aslinya. Seperti Dlorong Kembang dan Dlorong Kewan.
Disamping itu masih ada corak yang menggabung sejumlah unsur desain yang ada di sejumlah sentra batik, desain ini menyusul perkembangan perdagangan dan interaksi yang kuat antar sentra batik di Jawa. Desain-desain batik yang menggabungkan desain yang berasal dari dua atau tiga sentra batik disebut sebagi batik dua negeri atau batik tiga negeri.
Sayangnya dari sejumlah koleksi batik yang ada dari Pekalongan, lebih banyak yang merupakan batik yang dibuat oleh orang-orang asing atau keturunan, tidak banyak yang merujuk kepada pengusaha pribumi. Kondisi ini dapat berarti karya mereka tidak banyak terkoleksi, mungkin sedikit sekali produksi pengrajin dari kalangan pribumi yang layak di koleksi, tetapi hal ini susah dipahami karena secara kuantitatif jumlah mereka yang terjun dalam proses produksi lebih banyak dari orang-orang asing atau keturunan. Tetapi bisa juga berarti karena mereka tidak menguasai perdagangan. Sehingga sejumlah karya mereka harus berganti label.

Achmad Ilyas, pemerhati batik tinggal di Pekalongan

Wednesday, July 25, 2007

I left my heart in Pekalongan



Ini adalah catatan perjalanan saya ke Pekalongan pada akhir Juni yang lalu. Acara HUT Jalansutra di TMII belum lagi rampung tapi saya sudah harus bergegas ke titik bertemu dengan teman-teman yang akan berangkat ke Pekalongan. Sambil bersalam-salaman dan pamit saya lihat Tatyo berjalan ke mobilnya. “Mau pulang, Mas?” tanya saya. “Oh nggak, ini mau ngambil wine di mobil..” Waks, I missed the best part!

Setelah berkumpul kami pun memulai perjalanan bermobil. Jalan tol Cikampek pamer dada alias padat merayap tersendat-sendat. Di beberapa titik ada rest area yang kian kinclong saja. Jalan Pantura sebagian aspalnya keriting. Di beberapa ruas sedang di perbaiki, mengantisipasi mudik yang akan datang. Lepas tengah malam badan mulai dingin, waktunya minum kopi. Sambil mengurangi kecepatan kami pun celingukan mencari warung atau rumah makan di daerah yang bernama Patrol. Sebagian besar sudah tutup. Ada beberapa warung yang buka, biasanya persinggahan truk, tapi kok remang-remang ya? Bikin malas menghampiri. Akhirnya, kami pun sampai di satu warung yang cukup ramai—walau remang-remang. Sambil ngopi saya mengamati sekeliling ternyata semua warung di daerah situ menggunakan lampu remang-remang untuk menghindari laron dan serangga sejenis kumbang kecil yang banyak di daerah itu. Warung remang-remang di jalur Pantura ternyata memang… remang-remang betulan.

Matahari pagi menyambut kami di Pekalongan. Sekitar jam 07.30 kami sudah sampai di pusat kota. Hmm.. waktunya sarapan. Maksud hati mencari tauto, apa daya sampainya di Masduki. Tauto adalah soto khas Pekalongan yang menggunakan daging kerbau dan tauco. Kuahnya berminyak dan pedas. Tarikan tauco Pekalongan agak berbeda dengan tauco Cianjur; lebih “wide” dan “elegant” ketimbang temannya dari Cianjur yang “sharp” dan “crisp” (lho, ini tauco apa wine??).

Masduki yang saya sebut di atas adalah warung makan khas Pekalongan yang ada di dekat Alun-Alun. Tentu ada megono, cacahan nangka muda dengan parutan kelapa dan bunga kecombrang yang khas. Megono dijadikan taburan atau kondimen. Menu lengkapnya adalah nasi dengan sayur dan lauk pauk. Ada hidangan sayur di Pekalongan yang selalu bikin rindu: potongan tomat hijau, kuah encer berbumbu dengan irisan petai. Pilihan lauk pauk yang tersedia di warung-warung Kota Batik ini adalah sriping (kemungkinan sejenis scallop) yang dioseng-oseng dengan cabai merah (paduan gurih-pedasnya melenakan hati), cumi (biasa disebut sotong) yang dimasak dengan tintanya, juga otot (entah bagian otot sebelah mana dari sapi) yang dimasak pedas. Jadi bisa dibayangkan: sepiring nasi dengan ditaburi megono, kemudian megono itu tenggelam karena disiram kuah sayur tomat hijau dan ada lauk sriping atau otot, atau cumi dengan tinta hitamnya…

Satu hidangan khas warung Masduki adalah garang asem gagrak Pekalongan. Pak Bondan Winarno sudah mencatat paling tidak ada lima varian garang asem yang ada di Jawa. Nah, garang asem Masduki adalah daging sapi dengan kuah kluwak encer yang rich tapi tetap segar. Sebagai pelengkap bisa dipilih telur rebus yang sudah dimasak dengan kuah manis seperti semur.

Badan pun segar oleh kuah garang asem yang hangat. Di alun-alun ada anak-anak SD menampilkan drumband yang unik. Karena belum kuat meniup trumpet atau trombone, selain menggunakan pianika dan xylophone (kalo gak salah ya namanya, itu loh besi yang dentingannya enak), digunakan keyboard yang sudah dirancang bisa dicantel ke pundak dan dihubungkan ke megaphone. Inovasi yang bagus. Lagunya pun nggak tanggung-tanggung buat ukuran anak SD: lagu Melly! “Sampai kapan kau gantung cerita cintaku, memberi harapan.. uwoo uwooo…” Duile… Anak SD geto loh.

Tujuan kami ke Pekalongan adalah menghadiri syukuran pernikahan teman kami Imam Wibowo dengan Afi. Imam adalah penulis di MetroTV. Acaranya di rumah. Hangat dan bersahaja. Sudah lama saya merindukan suasana perhelatan seperti ini. Tapi diam-diam saya juga punya target lain. Saya ingat nasi kebuli Keluarga Darul (orang tua Imam) ini dahsyat punya. Betul juga. Di salah satu pojok ada meja dengan nasi kebuli lengkap dengan uba-rampenya.

Nasi kebuli Ibu Darul selalu hadir dengan dua “lauk” daging. Yang pertama daging sapi yang lean dan tender, yang dimasak dengan bumbu cabe merah berminyak mirip dendeng balado dan yang satu adalah daging yang berlemak yang dimasak bumbu seperti kare tapi dengan kekentalan kuah mendekati kalio. Tapi yang bikin merem-melek adalah acar dari nanas, bawang merah dan cabai merah yang segar lagi merona. Apalagi nasinya tanak sempurna. Ahlan-wa-sahlan.

Selesai bernostalgia dengan nasi kebuli saya pun ngobrol-ngobrol dan menikmati suasana. Eh, ternyata ada tauto. Langsung aja deh diserbu. Keinginan yang tadi pagi sempat teralihkan kini terpuaskan.

Selesai perhelatan kami pun keliling-keliling kota dan terdampar di Warung Barokah di daerah Wiradesa. Jika dari Jakarta, Wiradesa ini ada selepas Pemalang begitu kita memasuki daerah Pekalongan. Sepanjang jalan kita bisa belanja batik grosir. Ada gapura aneh lagi gigantik di perempatan yang mempertemukan empat lengkungan besi di titik tengahnya. Entah apa maksudnya. Nah, warung Barokah ada tak jauh dari gapura aneh itu.

Seperti layaknya warung di Pekalongan, megono, sayur tomat hijau, sotong dan lain-lain juga tersedia di sini. Ada panci berisi sepertinya sayur asem yang menarik perhatian saya karena tidak ada kuahnya. Saya tanya, “Ini kuahnya sudah habis?” Dijawab, “Bukan, Pak. Kuahnya sengaja dipisah biar sayurnya tidak hancur tapi tetap hangat” kata seorang kitchen staff seraya menunjuk panci berisi kuah sayur asem yang nangkring di atas kompor berapi kecil. Wah, tekniknya boleh juga nih..

Tapi bukan itu yang kami buru. Di Barokah ini kambing-kambingannya lumayan mantab (pakai huruf b). Kematangan dan ke-“kering”-an satenya pas dan tidak gosong. Ada kikil dan gulai kambing yang gurih. Sayang sekali karena kami datang ketika matahari mulai doyong ke barat, hidangan karnivoris itu sudah banyak yang habis. Kami cuma kebagian sate dan gulai kambing. Seperti saya bilang, sate kambing yang dihidang dalam hotplate tampil dengan kecantikan yang sempurna. Tidak ada karbon gosong atau bagian yang melawan. Bumbu gule kambingnya tidak kompleks malah menampilkan kegurihan yang lugas, tapi disitulah nikmatnya. Sayang sekali karena hari panas dan gerah, saya tidak bisa memadukan sate dan gule ini dengan “pairing-nya” yaitu teh poci warung ini. Hmmhh.. kalau saja suhu udara agak bersahabat, menyantap sate yang keringnya pas, dengan nasi putih bersaput kuah gule dan tarikan teh poci gula batu… I will be flying…even though I don’t see a bright white light at the end of the tunnel.. (he he he.. serem amat).

Check out dari Barokah dalam keadaan gembrobyos. Teman saya Djudjur T. Susila yang bersama rekan-rekannya beberapa waktu lalu sukses menggelar Festival Batik Pekalongan menceritakan ada kue-kue khas warga Pekalongan keturunan Tionghoa. Terdengar namanya “Nyajo”. Langsung saja mobil diarahkan ke Jl. Rajawali, daerah Bendan. Ternyata yang disebut “Nyajo” adalah “Nyonya Djoe”, nama ibu pembuat kue. Tapi Nyonya Djoe sudah pindah ke Jl. Sumatera, tidak jauh dari situ. Tak lama kami pun sampai di rumahnya. Di ruang tamu yang sederhana itu tersedia beberapa nampah berisi kue-kue berbahan dasar tepung beras dan santan yang gurih yang dimasak di loyang dan dipotong-potong ketika disajikan. Dari sisi genre mungkin agak dekat dengan kue talam, kue pepe atau ongol-ongol di Jakarta. Menurut mbak yang melayani kami, Ny. Djoe sudah 40 tahun berjualan kue “basah” ini. Ada kue lumpang yang berbalut kacang tanah yang digerus kasar. Dicetak dalam mangkok-mangkok kecil. Uniknya, kue lumpang ini tidak terlalu manis. Mungkin bagian dalamnya sengaja dibikin agak “plain” untuk mengimbangi rasa khas kacang. Ada lapis jeruk wangi yang sangat istimewa. Kue tepung beras putih gurih dengan selapis toping warna oranye kecoklatan yang menghantarkan wangi jeruk purut. Balance, dengan sensasi kelembutan yang istimewa. Ada kue latoh, dengan balutan warna dan aroma dari daun suji yang disantap dengan parutan kelapa kukus. Ada satu favorit saya, namun cuma kebagian icip-icip sedikit karena yang tersedia adalah pesanan orang, yaitu getuk singkong, yang mirip dengan getuk singkongnya di daerah Jawa Tengah lainnya namun dengan tekstur yang lebih lembut tapi juga sedikit crusty dengan sedikit isian coklat di tengahnya. I shall return for this getuk singkong!

Sore kami lalui dengan obrolan santai lengkap dengan kopi rempah yang dibeli di toko khas Arab di dekat lapangan Sorogenen. Pekalongan adalah salah satu melting pot kebudayaan yang mengagumkan. Orang keturunan Arab, Tionghoa, OPEK (alias orang Pekalongan) dan etnis-etnis lainnya hidup damai berdampingan dalam vibrancy khas kota pesisir. Almarhum Nurcholish Madjid alias Cak Nur pernah beranalogi, jika secara sederhana mindset kebudayaan nusantara dibagi dua antara pesisir (Sumatra) yang kosmopolit dengan pedalaman (Jawa) yang hirarkis dengan kekuasaan yang efektif beroperasi, maka “sintesis Indonesia” adalah Pekalongan karena Pekalongan adalah “Jawa yang pesisir, Jawa dengan kultur perniagaan dan tata pergaulan yang egaliter”.

Masuk waktu makan malam kami pun berembuk. Ada yang usul kepiting kombor, ikan bakar di Wiroto, sego megono Pak Bon, atau yang lainnya. Saya sebenarnya kepingin sekali makan es sekoteng Wan di daerah Klego. Namanya sekoteng tapi penampakannya sangat berbeda dengan sekoteng konvensional. Selain itu sekoteng di sini bisa disajikan panas atau dingin dengan es. Santan, susu kental manis dan sirup merah mengiringi misoa dan potongan roti tawar. Ya, misoa. Malah tekstur dan rasa plain misoa ini yang menjadi sensasi tersendiri. Tapi akhirnya kami sepakat mencoba tempat baru di Pantai Sigandu yang sudah masuk daerah kabupaten Batang.

Tempat ini merupakan pengembangan dari pelabuhan dan tempat pelelangan ikan di Pantai Sigandu. Agak keluar dari hiruk-pikuk pelabuhan dan pelelangan ikan ada dua tempat makan ikan bakar al-fresco dengan penampilan yang cukup baik. Kami mengambil tempat di salah satu warung itu, yang paling dekat dengan pantai. DI tempat ini saya baru sadar teringat lagi perbedaan nomenklatur penamaan ikan yang sempa menggelitik penasaran saya beberapa tahun yang lalu. Ternyata ikan “pihi” di sini adalah ikan “sebelah” di Jakarta dan ikan “jeruk” adalah ikan “ayam-ayam”.

Bersama pilihan ikan lain dan cumi goreng tepung, datanglah kedua ikan ini. Kesegarannya memang patut dipuji tapi bumbu bakarannya biasa saja, bahkan cenderung tenggelam oleh kecap. Tapi sambel terasinya mana tahan! Sangat kuat aromanya, gurih dan tidak terlalu pedas. Tarikan terasinya mengingatkan saya pada terasi dari Juwana. Aahhh…

Selesai makan kamipun bersiap-siap pulang. Lumayan nih, dua malam berturut-turut tidur di mobil. Sampai di Depok keesokan paginya, walau badan masih pegal, langsung saya menyeduh kopi dan menggelar kue-kue dari Nyonya Djoe untuk dinikmati bareng-bareng keluarga. Tapi rasanya masih ada yang tertinggal di sana.

Duh, Tony Bennett, terpaksa kupinjam lagumu:

“I left my heart, in Pekalongan…”





Tips memilih kain sutera sebagai bahan batik

Untuk menghasilkan batik sutera dengan kualitas terbaik tentunya membutuhkan kain sutera yang batik pula. Ada beberapa tips dalam menentukan kain sutera yang baik sebagai bahan batik:

  1. Anyaman kain adalah anyaman plat. (anyaman blaco)
  2. Kehalusan kain prima sampai primisima (rangkap 2 sampai 4 dari benang 16 cocoon)
  3. Lebar kain kurang lebih 105 cm (untuk kain tapih), 90 cm (untuk rok, baju dsb), 70 cm (untuk kain baju, rok) dan 50 cm (untuk selendang)
  4. Keadaan kain sutera sudah di-deguming (tingkatan souple silk). Karena dasar kain batik sering dibuat agak kuning, maka kiranya kain sutera yang hendak dibatik tidak perlu diputihkan dengan obat pemutih (perxyde dsb)
  5. Anyamannya cukup padat sehingga benang-benang dalam kain tidak bergeser bila kena tekanan atau tarikan .
  6. Karena proses pembuatan batik berhubungan dengan rendaman dalam air (basah), maka sebaiknya twist pada benang sutera jangan terlalu tinggi untuk menghindari mengkerutnya kain pada proses basah
  7. Benang yang ditenun diadakan seleksi agar kain terdapat satu jenis sutera sehingga pada pewarnaan tidak timbul belang-belang karena perbedaan penyerapan warna.

Batik sutera tidak selamanya berupa kain sutera murni, namun dapat dikombinasikan dengan cara ditenun menggunakan benang lain seperti tetoron katun atau acetat rayon. Bila terjadi campuran dan tidak diketahui maka akan timbul problema dalam proses pewarnaan

Sutera Alam ditinjau dari proses pembuatan batik

Secara umum proses pembuatan batik memiliki tiga macam proses utama yakni :

  1. Penempelan ilin batik pada kain baik secara tulis, cap maupun kuas. Lilin berfungsi sebagai resist (penutup) terhadap warna yang akan diberikan pada kain.
  2. Pemberian warna. Dapat diakukan dengan teknik celupan (deying) atau coletan (painting). Pemberian warna dilakukan tanpa pemanasan dan warna tidak hilang pada waktu penghiangan ilin batik.
  3. Menghilangkan kembali lilin batik dari kain, dapat diakukan dengan di kerok (dikerik) atau secara lorodan.

Tinjauan singkat sifat-sifat sutera terhadap proses pembatikan sebagai berikut :

  1. Penempelan lilin pada kain sutera. Liin batik ditempelkan pada kain dalam keadaan panas dan cair, seteleh menempel makan lilin akan dingin dan membeku. Ilin dapat menempel dengan baik pada kain. Pada kain sutera sendiri tidak terjadi perubahan sewaktu terkena lilin panas tidak seperti serat protein lain misalnya rambut yang jika terkena panas maka mengkerut.
  2. Pewarnaan Sutera secara proses batik. Kain yang sudah dilapisi liin maka dapat diwarnai dengan zat warna yang diinginkan. Pewarnaan dapat dikerjakan pada proses dingin dengan adanya lilin yang melekat maka menghidari terjadinya proses pelunturan warna pada bidang tertentu. Zat-zat pewarna yang biasa digunakan adaah indigosol, Rapid, soga ergan, soga croom dan soga dari tumbuh-tumbuhan (tegeran, tingi, jambal) dan indigosol. Pada prinsipnya semua zat warna batik dapat digunakan untuk mewarnai batik sutera namun karena proses penghilangan lilin pada kain sutera yang sedikit bermasalah maka sebaiknya menggunakan zat pewarna yang memiliki ketahanan yang kuat seperti cat indigosol, rapid, dan Napthol.
  3. Menghilangkan ilin pada batik. Pada batik berbahan katun proses penghilangan lilin dapat dilakukan dengan merendam keseluruhan pada air panas, proses ini disebut ”mlorod”(nglorod, ngebyok, mbabar). Sedaangkan bagi zat warna yang tidak tahan alkali maka pada air lorodan dicampur dengan kanji. Untuk batik sutera proses penghilangan lilin memiliki problema tersendiri. Lilin batik memiliki tendensi melekat lebih kuat pada kain sutera dari padakain katun. Untuk itu ada beberapa cara untuk menghilangkannya :
  1. Cara pelepasan dengan air panas alkali. Cara ini menggunakan lilin batik dengan campuran khusus untuk menghindarkan atau mengurangi bahan pokok lilin yang mengakibatkan sukar lepas (speperti lilin bekas, mata kucing dan paraffin kasar). Dalam air lorodan ditambahkan soda abu dan air lorodan akan menjadi alkalis (pada pH tidak lebih dari 9,5 atau soda abu tidak lebih dari 0,1%)
  2. Cara melarutkan lilin. Lilin dilarutkan dengan bensin. Lilin yang melekat pada kain akan larut dan kain pun menjadi bersih. Cara ini mudah akan tetapi banyak perusahan tidak menggunakan karena resiko kebakaran tinggi)
  3. Cara kombinasi antara pelepasan dan pelarutan. Ksin dimasukan dalam air lorodan yang kemudian dicampur dengan pelarut lilin seperti bensin, benzol, minyak tanah dalam bentuk emulsi sehingga dapat bercampur dengan air serta mengurangi resiko kebakaran. Cara ini pertama ditemukan pada seminar sutera alam pada tenggal 23-25 februari 1970.

Secara umum proses pembuatan batik sutera sama dengan batik pada umumnya namun yang berbeda adalah bagaimana proses penghilangan lilin. Namun berkembangnya waktu dan pengalaman hal tersebut tidak menjadi masalah yang sangat serius. Misalnya saja untuk melorodnya cukup dimasukan dalam air lorodan yang ditambah minyak tanah (2 cc/liter) dan teepol (0,5 cc/liter)


Agar Warna Tak Cepat Pudar

Agar Warna Tak Cepat Pudar

— Ini mengingat warna alam pada batik tulis tersebut sama sekali tidak menggunakan zat-zat kimia dalam pewarnaan.

— Kain batik tulis yang pewarnaannya menggunakan hasil rebusan dari berbagai tumbuhan, terutama dari bagian kulit pohon, akar dan daun itu memang memerlukan penanganan khusus. Di sini untuk warna hijau pada motif batik, misalnya, digunakan warna hasil rebusan daun mangga, adapun akar mengkudu menghasilkan warna merah muda.

— Untuk merawat kain batik tulis dengan pewarna alami, caranya antara lain:

* Mencuci kain batik dengan menggunakan sampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu sampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan.

* Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.

* Kain batik tulis jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Cara mencuci kain batik seperti ini akan membuat warna alami kain batik tak bertahan lama.

* Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik tulis berpewarna alami di bawah sinar matahari langsung.

* Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.

* Masih dengan koran menutupi kain, Anda bisa menyetrika kain batik berpewarna alami tersebut. Jangan menyetrika langsung pada kainnya karena ini bisa memengaruhi warna motifnya.

* Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
Proses ekstrak pewarna alami dari tanaman
ambil bagian tanaman yang hendak diekstrak. potong menjadi bagian kecilkecil kemudian rebus dalam air mendidih selama kurang lebih 1-2 jam (perbandingan bahan tanaman dan air adalah 1: 10)
misalnya kita mengambil 250gr daun jati maka airnya adalah 2,5 liter direbus hingga air menjadi setengahnya/sperempat bagian. Setelah selesai air rebusan disaring dan setelah dingin air siap dijadikan bahan pewarna
(resep ini bisa digunakan untuk eksperimen dengan berbagai bagian tanaman di sekitar kita). proses ini disebut proses ekstraksi

Kain yang akan dicelup/diwarnai sebaiknya di rebus dulu dalam larutan tawas (untuk kain katun ditambahkan soda abu dan suhu mendidih sedangkan untuk kain sutera sekitar 60 derajat) selama satu jam dan setelah itu dibiarkan dingin dan biarkan kain terendam semalaman dalam larutan (proses ini disebut proses mordanting)

kemudia kain yang telah di mordanting dikeringkan kemudian dicelup pada larutan hasil ekstrak (dapat menggunakan suhu dingin ataupun panas)
setelah itu dilanjutkan proses fiksasi dalam larutan tunjung(ferosulfat) ato tawas ato kapus tohor ataupun senyawa yang mengandung unsur logam. Untuk membuat larutan fiksasi misalnya
Larutan tawas, kapur tohor ataupun tunjung dibuat dengan melarutkan 70gram bahan dalam 1 liter air (resep ini bisa divariasikan) setelah mengendap diambil larutan beningnya kemudian baru digunakan untuk proses pemfiksasian. masing masing larutan fixer ini akan membangkitkan warna pada kain dengan arah warna yang berbeda-beda tawas cenderung lebih muda, kemudian kapur tohor agak tua, dan tunjung cenderung kearah gelap. beberapa eksperimen yang telah kami lakukan bahan dari daun cenderung mengarah ke kuning ( fiksasi tawas), kuning kecoklatan/kehijauan (fiksasi kapur tohor) dan hijau gelap (fiksasi tunjung).

Hasilnya umumnya lebih bagus pada kain sutera dibanding pada kain katun beberapa pewarna alami bahkan tidak mampu mewarnai katun dengan baik.
Dengan kita memperkaya eksperimen untuk menggali sumber pewarna alami baru maka kita turut menyumbangkan pelestarian penggunaan warna alami. (ingat tanaman penghasil pewarna alami seperti tingi, tegeran, akar mengkudu, dll sudah sulit ditemui di pasaran) oleh karena itu amri kita ekplorasi tanaman di sekitar kita.

demikian sekilas proses pencelupan tekstil dengan pewarna alami. semoga bermanfaat

Hak Moral, Indikasi Asal, dan Hak Kebudayaan

Oleh Miranda Risang Ayu
Opini, Pikiran Rakyat, Selasa 4 Desember 2007.

Belum lama berselang, saya mengunjungi penggiat sekaligus pewaris batik pekalongan. Begitu saya mengatakan maksud saya untuk meneliti kemungkinan penguatan perlindungan atas batik mereka selain dengan Hak Cipta, kontan keluhan berhamburan.

Puluhan tahun silam, sejumlah pebatik pekalongan diundang ke Malaysia untuk memeragakan kebolehannya membatik. Dengan hati bersih dan kebanggaan naif untuk turut mengharumkan nama bangsa, mereka memenuhi undangan itu. Akan tetapi, orang Malaysia itu murid yang bukan hanya pintar, tapi juga cerdik.

Begitu memahami seluk-beluk pembuatan dan pengayaan corak khas batik pekalongan, mereka membuat pola-pola desain tersendiri dengan motif floral dan warna yang mirip sekali dengan batik pekalongan. Hasil “kreasi” itulah yang kemudian didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual mereka.

Pemerintah Kota Pekalongan bereaksi dengan mendata berbagai corak batik khas Pekalongan lalu mendaftarkannya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual di Tangerang. Kini, puluhan corak batik asal Pekalongan telah “diamankan” melalui perlindungan Hak Cipta.

Tentu saja, pendaftaran itu tidak serta-merta menghapus hak para pendaftar di Malaysia. Masalahnya, mereka sudah lebih awal mendaftarkan “kreasi” batiknya, yang kini mulai dikenal luas di mancanegara sebagai batik malaysia. Tampaknya, mereka juga dapat membuktikan bahwa corak batik karya mereka memiliki orisinalitas tertentu yang beda dengan batik pekalongan.

Dalam Hak Cipta, kreasi independen dua seniman yang mirip memang bisa sama-sama mendapat perlindungan, selama dapat dibuktikan bahwa kreasi itu tidak dihasilkan dari niat buruk mencontek. Apalagi kalau “contekan” itu berasal dari karya seni tradisional yang memang masih sulit dilindungi secara menyeluruh oleh sistem Hak Kekayaan Intelektual yang kini umum berlaku, yang umumnya diturunkan dari Perjanjian Internasional TRIPS 1994 (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights 1994).

Milik bersama

Mengapa bisa begitu? Argumen hukum yang paling mudah disodorkan adalah, karena kebanyakan karya tradisional sudah jadi milik umum. Agar dapat dilindungi, harus jelas lebih dulu siapa penciptanya. Padahal sulit menemukan individu pencipta karya seni tradisional. Kalaupun bisa, sering kali penciptanya sudah meninggal lebih dari 50 tahun lalu. Padahal, perlindungan Hak Cipta rata-rata hanya berlaku sepanjang hidup pencipta ditambah 50 tahun. Lebih dari jangka waktu itu, karya itu harus dianggap sudah menjadi milik umum.

Kalaupun hukum Hak Cipta nasional sekarang telah melakukan terobosan dengan memungkinkan pemerintah mengambil alih pengelolaan hak untuk kepentingan pencipta yang tidak diketahui identitasnya, jangka waktu perlindungannya juga rawan perdebatan.

Alhasil, batik pekalongan, angklung sunda, “Rasa Sayange”, dan reog ponorogo, jika tampil murni sebagai karya tradisional tanpa “sentuhan baru” dari individu yang masih hidup, juga adalah kekayaan tradisional yang sudah jadi milik bersama. Inilah yang membuat perlindungan Hak Cipta yang kini berlaku bisa saja bicara, tetapi tidak banyak.

Hak moral

Hak Cipta juga meliputi Hak Moral. Hak Moral tercantum dalam Konvensi Bern dengan Malaysia dan Indonesia terikat di dalamnya. Hak Moral bukan hak ekonomi, tetapi ada untuk melindungi integritas ciptaan serta hak pencipta untuk tetap dicantumkan namanya, sekalipun ia sudah tidak lagi memiliki hak untuk menerima keuntungan ekonomi dari ciptaannya.

Ahli perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dan Hak Kebudayaan berdarah Aborigin Australia, Terri Janke menyatakan, Hak Moral sesungguhnya juga bisa dipakai, tidak hanya untuk melindungi integritas seorang pencipta dengan karyanya, tetapi juga integritas puluhan kelompok masyarakat pemangku tradisi Aborigin Australia dengan kekayaan tradisional mereka (Terri Janke dalam Sam Garkawe et.al, 2001).

Jadi minimal, jika ada reproduksi atau pemakaian baru dari karya-karya tradisi mereka, izin harus tetap dimintakan dan nama kelompoknya juga harus tetap disertakan. Karena karakter Hak Cipta merupakan hak individu, yang terjadi kemudian biasanya, seorang seniman Aborigin yang telah memiliki otoritas dari kaumnya, membuat karya berdasarkan tradisi mereka. Lalu, ketika karya itu diumumkan, ia mencantumkan namanya sekaligus nama daerah atau kelompok masyarakat Aborigin yang memberinya otoritas, sebagai satu kesatuan pemilik.

Hak atas Indikasi Asal

Selain itu, ada juga potensi perlindungan lain yang ditawarkan hukum, yakni perlindungan terhadap tanda, nama atau indikasi asal suatu barang, yang disebut perlindungan Indikasi Asal. Perlindungan ini terdapat dalam Perjanjian Paris untuk Perlindungan Hak Kekayaan Industrial 1883 (The Paris Convention for Protection of Industrial Property of 1883). Perjanjian internasional tersebut melindungi hak-hak kekayaan intelektual selain Hak Cipta. Sama dengan Konvensi Bern, perjanjian itu juga mengikat Malaysia dan Indonesia. Perjanjian Paris melarang setiap barang beredar dengan menggunakan Indikasi Asal yang salah atau menyesatkan.

Dalam hukum nasional Indonesia, Indikasi Asal sebetulnya juga telah diatur. Sayangnya, pengaturannya hanya merupakan bagian kecil dari UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Itu membuat penafsiran umum yang sempit di kalangan pakar hukum nasional, jika ada pembicaraan soal Indikasi Asal, pasti yang dibicarakan “hanyalah” sejenis merek dagang seperti Nike, Channel atau Prada.

Umumnya, lagu, tari-tarian, atau karya-karya artistik lain, memang bukan objek langsung dari Hak Merek, tetapi Hak Cipta. Jadi, belum apa-apa, sudah timbul persepsi bahwa penghubungan perlindungan Indikasi Asal dengan karya-karya tradisional yang berwujud karya-karya seni itu sudah “salah” dari awal.

Padahal, perlindungan Indikasi Asal tidak sesempit itu. Jika Indikasi Asal diartikan sebagai bagian dari Indikasi Geografis dalam arti luas, hanya saja belum didaftar, sejarah dan akar budaya setempat, termasuk tradisi pembuatannya, justru adalah salah satu syarat utama perlindungan, di samping faktor alamiah lainnya.

Perlindungan ini juga tidak mensyaratkan orisinalitas sekualitas Hak Cipta atau tingkat invensi setinggi paten. Yang “hanya” perlu dibuktikan adalah, suatu nama yang disandang oleh barang atau karya material terkait punya karakter yang unik, yang berasal dari pengaruh faktor alam dan sejarah budaya setempat. Jadi, perlindungan atas Indikasi Geografis, termasuk Indikasi Asal, betul-betul menjunjung karakter lokal.

Singkatnya, perlindungan Indikasi Geografis dan Indikasi Asal, sesuai namanya, memang hendak melindungi dan menghormati “tempat asal” karya yang sebenarnya.

Menariknya, kepemilikan Indikasi Asal yang kini umum ditemukan dan diakui banyak negara, justru adalah kepemilikan kolektif dan bukan individual. Selain itu, sekali dilindungi, waktu perlindungannya akan berlangsung terus-menerus, selama kualitasnya terjaga. Yang perlu dilakukan hanyalah memastikan bahwa karya terkait sudah bisa disebut barang. Artinya, sudah ada dalam bentuk material, misalnya kaset.

Selain itu, karya itu pun masih terbukti tetap dirawat, dikembangkan, dan menjadi ekspresi identitas kelompok masyarakat yang tinggal di daerah itu sebagai suatu kesatuan wilayah (cluster). Karena Indikasi Asal cakupannya paling luas, maka kesatuan wilayah itu bisa saja mencakup satu kota atau desa, beberapa desa yang bersebelahan dalam suatu provinsi, sebuah pulau dalam suatu negara, dan bahkan wilayah suatu negara. Contoh mudah, di dalam dompet atau tas Strandbag, salah satu merek terkenal Australia, biasanya juga terdapat keterangan Made in China, Imported by Strandbag, Australia. Keterangan Made in China itulah Indikasi Asal.

Kasus keju Feta

Kasus keju tradisional Feta mungkin adalah kasus paling menarik sekaligus kontroversial tentang “perebutan” tempat asal satu produk kekayaan tradisi. Feta adalah keju putih dari kambing atau domba yang selama ratusan tahun dihasilkan produsen lokal di Yunani. Keju ini kemudian terkenal ke mancanegara dengan nama tradisionalnya, Feta. Dalam bahasa Yunani, Feta berarti irisan. Nama tradisional itu secara tidak langsung mengaitkan produk dengan asal daerahnya, yakni Yunani. Karena terkenalnya, keju itu kemudian diproduksi juga di Perancis, Denmark, dan Jerman.

Awalnya, nama Feta telah dianggap menjadi milik umum, setidaknya di daratan Eropa. Tetapi kemudian, kasus bergulir terus dan penelitian ilmiah, termasuk survei konsumen terbaru, yang diadakan untuk menentukan apakah nama itu sudah betul-betul menjadi milik umum di wilayah Eropa (generik) pada pertengahan tahun 2005, tampil dengan hasil mengagetkan.

Ternyata, ciri khas keju tradisional Feta, baik dari segi tradisi pembuatan maupun asosiasi di benak sebagian besar konsumen, menunjukkan bahwa Feta masih berakar kuat di Yunani. Maka, dengan besar hati, produsen keju Feta di Perancis, Denmark, dan Jerman harus menghentikan produksi mereka. Paling tidak, mengganti sebagian unsur produksi mereka, termasuk pemakaian nama Feta yang terkenal itu, dalam jangka waktu lima tahun sekaligus mengembalikan kontrol atas produk itu kepada produsen lokal di Yunani.

Hak Kebudayaan

Kekayaan tradisional juga merupakan Hak Kebudayaan. Menurut Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang telah diratifikasi Indonesia, Hak Kebudayaan adalah Hak Asasi. Hak Kekayaan Intelektual bisa dikatakan sebagai bagian dari Hak Kebudayaan karena kesamaan objek. Apalagi, jika objek itu juga sudah jelas terkait dengan Hak Atas Identitas, yakni sebagai salah satu faktor penentu identitas kultural. Menariknya, penegakan Hak Kebudayaan sebagai hak kolektif menuntut peran aktif pemerintah.

Pemerintah wajib mengambil langkah konkret, tanpa menunda, melindungi, mengisi, dan menegakkan Hak Kebudayaan itu. Jika tidak, identitas suatu kelompok budaya, yang merupakan sumber kekuatan mental kolektif, akan runtuh juga. Dalam konteks Hak Kebudayaan, Indonesia sebetulnya sudah meratifikasi kovenan tersebut, sedangkan Malaysia belum.

Singkatnya, Hak Moral, Hak Indikasi Awal, dan Hak Kebudayaan dapat dipakai untuk tetap mempertahankan kekayaan budaya Indonesia. Untuk menghormatinya, pemerintah Indonesia harus lebih tegas dan seluruh masyarakat Indonesia pun harus lebih banyak belajar.

Masyarakat negara tetangga pun, terutama Malaysia, harus turut serta belajar. Proses pembelajaran ini tidak mudah, tetapi merupakan kemestian. Jika tidak, integritas bangsa dan harmoni hubungan antarsesama bangsa serumpun akan menjadi taruhannya.***

Penulis, esais, dosen Fakultas Hukum Unpad Bandung, dan kandidat Doktor di Law Faculty, University of Technology Sydney, New South Wales, Australia.

Published in: on December 9, 2007 at 7:51 am Comments (12)
Tags: , , , , ,

Batik Mega Mendung

mega mendung

Hampir di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota lainnya.
Menurut sejarahnya, di daerah cirebon terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari dalam maupun luar negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya.
Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.
Salah satu motif yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau Awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya selera cina.
Motif mega mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingg biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.


Batik Untuk Pengantin

sido mukti sido luhur sido mulyo sido asih

Setiap motif pada batik tradisional klasik selalu memiliki filosofi tersendiri. Pada motif Batik, Khususnya dari daerah jawa tengah, terutama Solo dan Yogya, setiap gambar memiliki makna. Hal ini ada hubungannya dengan arti atau makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Pada motif tertentu ada yang dianggap sakral dan hanya dapat dipakai pada kesempatan atau peristiwa tertentu, diantaranya pada upacara perkawinan.

Motif Sido-Mukti biasanya dipakai oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang).
Sido berarti terus menerus atau menjadi dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. jadi dapat disimpulkan motif ini melambangka harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan unuk kedua mempelai.
Selain Sido Mukti terdapat pula motif Sido Asih yang maknanya hidup dalam kasih sayang.
Masih ada lagi motif Sido Mulyo yang berarti hidup dalam kemuliaan dan Sido Luhur yang berarti dalam hidup selalu berbudi luhur.
Ada pula motif yang bukan sawitan kembar, tetapi biasanya dipakai pasangan pengantin yaiu motif Ratu Ratih berpasangan dengan Semen Rama, yang melambangkan kesetiaan seorang istri kepada suaminya.
Sebenarnya masih banyak lagi motif yang biasa dipakai pasangan pengantin, semuanya diciptakan dengan melambangkan harapan, pesan, niat dan itikad baik kepada pasangan pengantin.
Pada Upacara Perkawinan Orang tua pengantin biasanya memakai motif truntum yang dapat pula berarti menuntun, yang maknanya menuntun kedua mempelai dalam memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu berumah tangga.
Dikenal juga motif Sido Wirasat, wirasat berarti nasehat, dan pada motif ini selalu terdapat kombinasi motif truntum di dalamnya, yang melambangkan orangtua akan selalu memberi nasehat dan menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumahtangga.

Motif Truntum

motif truntum

Boleh dibilang motif truntum merupakan simbol dari cinta yang bersemi kembali. Menurut kisahnya, motif ini diciptakan oleh seorang Ratu Keraton Yogyakarta.

Sang Ratu yang selama ini dicintai dan dimanja oleh Raja, merasa dilupakan oleh Raja yang telah mempunyai kekasih baru. Untuk mengisi waktu dan menghilangkan kesedihan, Ratu pun mulai membatik. Secara tidak sadar ratu membuat motif berbentukbintang-bintang di langit yang kelam, yang selama ini menemaninya dalam kesendirian. Ketekunan Ratu dalam membatik menarik perhatian Raja yang kemudian mulai mendekati Ratu untuk melihat pembatikannya. Sejak itu Raja selalu memantau perkembangan pembatikan Sang Ratu, sedikit demi sedikit kasih sayang Raja terhadap Ratu tumbuh kembali. Berkat motif ini cinta raja bersemi kembali atau tum-tum kembali, sehingga motif ini diberi nama Truntum, sebagai lambang cinta Raja yang bersemi kembali


Batik Pekalongan

Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik Jlamprang.

Batik Pekalongan banyak dipasarkan hingga ke daerah luar jawa, diantaranya Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Minahasa, hingga Makassar. Biasanya pedagang batik di daerah ini memesan motif yang sesuai dengan selera dan adat daerah masing-masing.

Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan jaman . Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama’Batik Jawa Hokokai’,yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik jawa hokokai ini merupakan batik pagi-sore. Pada tahun enampuluhan juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif batik yang mirip dengankain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer akhir-akhir ini adalah motif Tsunami. Memang orang Pekalongan tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik.

Sumber: Ungkapan Spesial Batik, Its Mystery and Meaning

Published in:

Proses Pembuatan Batik

Secara umum proses pembuatan batik melalui 3 tahapan yaitu pewarnaan, pemberian malam(lilin) pada kain dan pelepasan lilin dari kain.

Kain putih yang akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai selera kita atau tetap berwarna putih sebelum kemudian di beri malam. Proses pemberian malam ini dapat menggunakan proses batik tulis dengan canting tangan atau dengan proses cap. Pada bagian kain yang diberi malam maka proses pewarnaan pada batik tidak dapat masuk karena tertutup oleh malam (wax resist). Setelah diberi malam, batik dicelup dengan warna. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai keinginan, berapa warna yang diinginkan.

Jika proses pewarnaan dan pemberian malam selesai maka malam dilunturkan dengan proses pemanasan. Batik yang telah jadi direbus hingga malam menjadi leleh dan terlepas dari air. Proses perebusan ini dilakukan dua kali, yang terakhir dengan larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada batik, dan menghindari kelunturan. Setelah perebusan selesai, batik direndam air dingin dan dijemur.

Limbah Batik

Dibalik semua keindahan Batik Pekalongan yang penuh variasi warna, tersimpan satu masalah yang cukup membahayakan bagi lingkungan, yaitu limbah. Karena hampir semua produsen batik di Pekalongan masih memakai cara tradisional dalam pembuatan batik, maka rata-rata mereka jarang sekali ada yang memperhatikan limbah buangan sisa pencelupan dan ddapat mencemari lingkungan, karena kebanyakan hanya dibuang ke saluran air yang akhirnya bermuara di sungai. Lihatlah saluran air yang berwarna merah ini.

limbah batik

Perlu dipikirkan bagaimana cara menangani limbah yang ekonomis dan praktis sehingga tidak menjadikan masalah unuk sosialisasinya. Adalah tugas kita bersama pemerintah untuk ikut memperhatikan kondisi lingkungan…

Pekalongan Kota Batik

Pekalongan dikenal sebagai kota batik karena produksi batiknya yang indah dan dinamis. Selain itu Pekalongan tepatnya kabupaten Pekalongan lebih dikenal sebagai kota santri, karena kebudayaan kota pekalongan yang sangat kental nuansa islaminya. Beberapa waktu lalu saya berkeliling di salah satu daerah di Pekalongan yang merupakan penghasil batik yaitu daerah Buaran, tepatnya di desa Simbang Kulon, dan menemukan suatu pemandangan menarik.

sd-sarung.jpg

Anak-anak yang sedang bermain sebuah sekolah negri di daerah itu memakai batik dengan seragam pramuka, bersarung batik dan memakai kopiah/songkok. Benar-benar gambaran yang pas untuk kota Pekalongan.

Daur Ulang Malam

Pada umumnya para pembatik dapat mendaur ulang sisa malam yang telah digunakan menjadi malam baru yang dapat dipakai kembali. Setelah batik dilorod (direbus), maka malam akan terlepas dari kain dan terdapat di permukaan air. Hal ini terjadi karena malam (lilin) yang merupakan lemak memiliki massa jenis lebih kecil dari air. Jika air telah dingin maka malampun akan beku dan dapat diambil. Diusahakan air yang terbawa seminimal mungkin, kemudian malam bekas tersebut dicampur dengan BPM (Paraffin/kendal) yang merupakan sisa/ampas dari pembuatan minyak goreng. Bahan lainnya adalah Gondorukem yaitu getah pohon pinus. Jika ingin membuat batik dengan motif garis yang sangat tipis dan halus (ngawat) maka dapat dicampur dengan damar yaitu getah dari pohon meranti. Semua bahan tersebut direbus hingga larut semua yaitu sekitar 5-7 jam. Setelah itu malam yang telah jadi dicetak dan siap digunakan.

Batik Jlamprang

gambar batik jlamprang

Motif – motif Jlamprang atau di Yogyakarta dengan nama Nitik adalah salah satu batik yang cukup popular diproduksi di daerah Krapyak Pekalongan. Batik ini merupakan pengembangan dari motif kain Potola dari India yang berbentuk geometris kadang berbentuk bintang atau mata angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan.


BATIK




POLA BATIK

Pola Batik Semen Contoh Pola Batik Semen [I] [II] [III] [IV]



I. Pendahuluan

Pola batik semen tampil dalam batik dari setiap daerah, terutama di Pulau Jawa, yang meliputi antara lain Yogyakarta, Surakarta, Banyumas dan Cirebon. Pola batik semen dijumpai terutama pada jenis Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran, Batik Petani, dan Batik Indonesia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pola batik semen terdapat pada sebagian besar jenis batik. Pola semen sangat mudah dikenali karena mempunyai ragam hias penyusun yang khas yang selalu hadir dalam pola-polanya.

II. Sejarah Pola Semen

Asal mula hadirnya pola semen berawal pada saat pemerintahan Sunan Paku Buwono IV (1787 1816) di saat beliau mengangkat putera mahkota sebagai calon penggantinya. Beliau menciptakan pola tersebut guna mengingatkan puteranya kepada perilaku dan watak seorang penguasa seperti wejangan yang diberikan oleh Prabu Rama kepada Raden Gunawan Wibisana saat akan menjadi raja. Wejangan tersebut dikenal dengan sebutan Hasta Brata.

Wejangan ini terdiri dari 8 (hasta) hal yang masing-masing ditampilkan dalam pola semen dengan bentuk ragam-ragam hias yang mempunyai arti filosofis sesuai dengan makna masing masing ragam hias tersebut. Oleh karena itu, pola batik ciptaan beliau tersebut diberi nama semen Rama (dari Prabu Rama). Berdasarkan uraian diatas nampak bahwa pola semen merupakan salah satu pola batik yang mencerminkan pengaruh agama Hindhu-Budha pada batik. Hal tersebut dapat dimengerti karena pada saat pola-pola batik diciptakan yaitu kira-kira pada zaman kerajaan Mataram (pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, abad 17 M), peradaban di kerajaan tersebut masih mempertahankan unsur-unsur tradisi Jawa yang sangat dipengaruhi oleh agama Hindhu-Budha. Pengaruh tersebut tidak hanya terdapat pada unsur-unsur kesenian dan kesusasteraan saja, melainkan juga unsur-unsur yang terdapat dalam upacara adat dan keagamaan hingga saat ini.

Dibandingkan dengan pola Parang atau Lereng yang sudah ada sejak zaman Mataram (pada masa Penembahan Senopati), pola semen tergolong lebih muda. Pola semen yang diciptakan setelah pola semen Rama selalu mengandung ragam-ragam hias yang terdapat pada pola semen Rama, baik sebagian ataupun seluruhnya. Namun demikian, ada satu ragam hias yang selalu harus dihadirkan dan merupakan ciri dari sebuah pola semen adalah ragam hias gunung atau meru. Hal ini disebabkan karena nama dari pola semen diperoleh dari ragam hias tersebut.

Asal kata semen adalah semi. Ragam hias gunung atau meru berasal dari kata Mahameru yaitu gunung tertinggi tempat bersemayam para dewa dari agama Hindhu. Di gunung pasti terdapat tanah tempat tumbuh-tumbuhan bersemi. Dari sinilah asal kata semen.

Pola semen termasuk dalam golongan pola batik non geometris, selain pola-pola batik Lung-lungan Buketan, Dan Pinggiran.

III. Perkembangan Pola Semen

Sebagaimana disebutkan diatas, pola semen pertama-tama menampilkan ragam-ragam hias yang mengikuti arti filosofis agama Hindhu (diambil dari ceritera Ramayana), sehingga arti filosofis pola semen sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam Hastabrata Ramayana.

Dalam perkembangan selanjutnya, kandungan nilai filosofis pola semen, selain yang dilambangkan oleh ragam hias dari Hastabrata, ada pula yang ditambah dengan ragam-ragam hias lain yang menjadi dasar pemberian nama polanya, sebagai contoh adalah pola semen Gajah Birawa. Dalam pola tersebut nampak adanya ragam hias berupa gajah, pada semen rante terdapat bentuk-bentuk seperti rantai, dan seterusnya. Selain itu, banyak pola semen dengan ragam hias pokok yang sudah mengalami improvisasi sesuai selera penciptanya tetapi tetap alam arti filosofis yang sama, diberi nama yang mempunyai arti sebagai cerminan serta harapan. Sebagai contoh adalah semen Sidoasih dengan berbagai versi namun mencerminkan arti yang sama.

IV. Jenis jenis batik yang memiliki pola semen

1. Batik Kraton - Kraton Yogyakarta (semen gurdho, semen sinom), Kraton Surakarta (semen gendhong, semen rama), Puro Pakualaman (semen sidoasih), Puro Mangkunegaran (semen jolen), Cirebon (semen rama, sawat pengantin).

2. Batik Pengaruh Kraton - Banyumas (semen klewer banyumasan).

3. Batik Sudagaran - Yogyakarta (semen sidoasih, semen giri), Surakarta (semen rama, semen kakrasana).

4. Batik Pedesaan - Yogyakarta (semen rante), Surakarta (semen rama).

5. Batik Indonesia
Bermacam-macam pola semen terdapat dalam jenis Batik Indonesia ini. Bahkan pada pemunculan pertamanya yaitu kurang lebih pada tahun 1950, pola batik semen mendominasi jenis Batik Indonesia ini disamping pola parang dan lereng karena pada prinsipnya Batik Indonesia merupakan perpaduan antara pola batik klasik atau tradisional (pola semen dan pola parang atau lereng) dengan pewarnaan Batik Pesisira

POLA BATIK

Contoh Pola Batik Semen

Blenderan

Cuwiri

Cuwiri Ceceg

Cuwiri Sala

Semen Condro

Semen Gunung

Semen Gurdo

Semen Jlekethit

Jlekethit - Keraton Sala

Semen Nogo



PROSES PEMBUATAN KAIN BATIK

PROSES PEMBUATAN KAIN BATIK

NGANJI

Proses Nganji - from Handbook of Indonesian Batik

Sebelum dicap, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan air hingga kanji aslinya hilang dan bersih, kemudian di kanji lagi. Motif batik harus dilapisi dengan kanji dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal nantinya malam kurang baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya malam akan “mblobor” yang nantinya akan sulit dihilangkan.

Mori dengan kualitas tertinggi [Primisima] tidak perlu dikanji lagi, karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi syarat.

NGEMPLONG

Proses Ngemplong - from Handbook of Indonesian Batik

Biasanya hanya mori yang halus yang perlu dikemplong terlebih dahulu sebelum dibatik. Mori biru untuk batik cap biasanya bisa langsung dikerjakan tanpa dilakukan pekerjaan persiapan.

Tujuan dari ngemplong ialah agar mori menjadi licin dan lemas. Untuk maksud ini mori ditaruh diatas sebilah kayu dan dipukul-pukul secara teratur oleh pemukul kayu pula.

Mori yang dikemplong akan lebih mudah dibatik sehingga hasilnya lebih baik.

TEKNIK PEMBUATAN BATIK

NGLOWONG, Pelekatan malam [lilin] yang pertama.

Proses Nglowong dengan cap - [Vie]

Proses Nglowong dengan canting - [Vie]

Selesai dikemplong mori sudah siap untuk dikerjakan. Teknik pembikinan batik terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dari pekerjaan utama, dimulai dengan nglowong ialah mengecap atau membatik motif-motifnya diatas mori dengan menggunakan canting

Nglowong pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah selesai dilanjutkan dengan nerusi pada sebelah lainnya

NEMBOK, pelekatan malam kedua

Proses Nembok - [Vie]

Sebelum dicelup kedalam zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap berwarna putih harus ditutup dengan malam. Lapisan malam ini ibaratnya tembok untuk menahan zat perwarna agar jangan merembes kebagian yang tertutup malam.

Oleh karena itu pekerjaan ini disebut menembok, jika ada perembesan karena tembokannya kurang kuat maka bagian yang seharusnya putih akan tampak jalur2 berwarna yang akan mengurangi keindahan batik tersebut. Itulah sebabnya malam temboknya harus kuat dan ulet, lain dengan malam klowong yang justru tidak boleh terlalu ulet agar mudah dikerok.

MEDEL, Pencelupan pertama dalam zat warna

Tujuan Medel adalah memberi warna biru tua sebagai warna dasar kain. Jaman dulu pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari karena menggunakan bahan pewarna indigo [bahasa jawanya : tom]

Zat pewarna ini sangat lambat menyerap dalam kain mori sehingga harus dilakukan berulang kali, kini dengan bahan warna modern bisa dilakukan dengan cepat.

NGEROK, Menghilangkan malam klowong

Bagian yang akan di soga agar berwarna coklat, dikerok dengan Cawuk [semacam pisau tumpul dibuat dari seng] untuk menghilangkan malam nya.

mBIRONI, Penggunaan malam ke tiga

Pekerjaan berikutnya adalam mBironi, yang terdiri dari penutupan dengan malam bagian-bagian kain yang tetap diharapkan berwarna biru, sedangkan bagian yang akan di soga tetap terbuka. Pekerjaan mBironi ini dikerjakan didua sisi kain.

MENYOGA, Pencelupan kedua

Proses Me"Nyoga" - [Vie]

Menyoga merupakan proses yang banyak memakan waktu, karena mencelup kedalam soga. Jika menggunakan soga alam, tidak cukup hanya satu dua kali saja, harus berulang.

Tiap kali pencelupan harus dikeringkan diudara terbuka. Dengan menggunakan soga sintetis maka proses ini bisa diperpendek hanya setengah jam saja. Istilah menyoga diambil dari kata pohon tertentu yang kulit pohonnya menghasilkan warna soga [coklat] bila direndam di air.

NGLOROD, Menghilangkan malam

Proses Nglorod - [Vie]

Setelah mendapat warna yang dikehendaki, maka kain harus mengalami proses pengerjaan lagi yaitu malam yang masih ketinggalan di mori harus dihilangkan, caranya dengan dimasukkan kedalam air mendidih yang disebut Nglorod.

Welcome to our Batik Indonesia website

NEW PRODUCT - Selimut Batik [Segera beredar]

Keunggulan SELIMUT BATIK

WWW.JAVABATIK.ORG adalah web yang dibuat untuk memperkenalkan batik Indonesia. Kami mencoba menelusuri dan share informasi semua jenis batik yang ada di Nusantara, menerangkan bagaimana batik itu dibuat dalam bentuk gambar dan video dengan harapan makin banyak orang, terutama kita sendiri sebagai bangsa yang mengaku mempunyai batik menghargai dan makin mencintai batik sebagai milik bangsa Indonesia.

Alat Cap untuk membuat Batik Cap

Semua Informasi didapat dari artikel, buku, web referensi, meliput sendiri dan sumbangan beberapa teman pecinta batik.

Semua sumbangan dan kritik terhadap keberadaan kami sangat diharapkan agar sesuai tujuan semula, web javabatik.org bisa menjadi rujukan bagi para pecinta batik demi melestarikan batik itu sendiri.

Salam kami,

Contoh Pola Batik

Jenis-jenis Batik

Jenis-jenis Batik

Kawung Prabu

Parang Barong

Parang Curiga

Parang Rusak Barong

Pola kampuh Semen Gunung (1)

Kain ini dibuat di zaman pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Pola kampuh Semen Gunung (2)

Ada satu peristiwa yang tak kan terlupakan sepanjang hayat. Ketika itu, seminggu setelah Sri Sultan HB IX mangkat, GBPH Prabukusumo - salah seorang putra HB IX datang menemui ibu Harti, yang merupakan salah seorang koordinator perajin batik Bima Sakti, Giriloyo, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Gusti Prabu membawa kain kampuh yang sudah koyak-koyak. Kain yang dibuat di jaman HB VII itu bekas alas peti jenazah HB IX. Gusti Prabu minta agar membuat pola dengan kertas, meniru kain kampuh tua motif semen gunung itu.

Bersama suaminya, Albani, pensiunan Brimob Kelapa Dua, bu Harti membuat coretan dengan pensil di atas kertas yang ditumpangkan pada kain yang sudah rusak itu. Tanpa ada pikiran apapun, suami isteri itu menggambar pola dengan menginjak kain itu. Sebab kalau tidak diinjak, tangannya tidak bisa menjangkau kain yang lebarnya 4 meter.

Sebelum mengakhiri pembuatan pola - setelah 3 hari dikerjakan - Pak Albani dan Bu Harti pingsan tanpa sebab. Padahal saat itu kondisi keduanya sehat wal’afiat. Orang se dusun geger. Nenek bu Harti berdoa sambil menyelipkan kalimat mohon ampun karena Albani - Harti terpaksa menginjak-injak kain disebabkan tangannya tidak mampu menjangkau sudut kain yang lain.
Tirta Reja

Tips dan Trik Merawat Batik

Tips dan Trik Merawat Batik

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar busana atau kain batik Anda tetap indah, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran.
  2. Pada saat mencuci batik jangan digosok dan jangan gunakan deterjen. Jika batik Anda tidak terlalu kotor maka Anda bisa mencucinya dengan air hangat. Tapi jika batik Anda terkena noda maka Anda bisa mencucinya cukup dengan sabun mandi saja. Akan tetapi jika nodanya masih membandel maka Anda bisa menghilangkannya dengan kulit jeruk pada bagian yang kotor saja. Janganlah mencuci kain batik dengan menggunakan mesin cuci.
  3. Setelah kotoran hilang Anda harus menjemurnya di tempat yang teduh tetapi Anda tidak perlu memerasnya, biarkan saja kain tersebut mengering secara alami. Pada saat menjemur sebaiknya Anda tarik bagian tepi kain agar serat kain yang terlipat kembali seperti sediakala.
  4. Hindari penyetrikaan secara langsung, jika terlalu kusut Anda bisa semprotkan air di atas kain batik Anda lalu lapisi batik Anda dengan kain lainnya. Hal ini untuk menghindari kain batik Anda terkena panas langsung dari setrikaan.
  5. Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain. Sebaiknya Anda tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
  6. Sesudah disetrika sebaiknya Anda simpan batik Anda dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Sebaiknya Anda jangan memberi kapur barus karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak kain batik Anda. Ada baiknya Anda beri merica atau lada yang dibungkus dengan tisu lalu masukkan dalam lemari pakaian Anda untuk mengusir ngengat. Atau Anda bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya Anda celup ke dalam air panas kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi tersebut kering Anda baru bisa menggunakannya.

Pembuatan Batik

Pembuatan Batik

Bagaimana cara membuat batik ?

Untuk membuat batik, peralatan yang diperlukan adalah : kain mori (bisa terbuat dari sutra, katun atau campuran kain polyester), pensil untuk membuat desain batik, canting yang terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bercerat atau bermulut, canting ini berfungsi seperti sebuah pulpen. Canting dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna. gawangan (tempat untuk menyampirkan kain), lilin, panci dan kompor kecil untuk memanaskan.

Langkah - langkahnya adalah sebagai berikut :

  • Langkah pertama kita membuat desain batik diatas kain mori dengan pensil atau biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada.
  • Langkah kedua adalah menggunakan canting yang telah berisi lilin cair untuk melapisi motif yang diinginkan. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena. Setelah lilin cukup kering, celupkan kain ke dalam larutan pewarna.

Maka hasilnya adalah kain batik yang dikenal dengan kain batik tulis. Penamaan itu diberikan, karena disamping batik tulis, ada juga batik cap, batik printing, batik painting dan sablon.

Sejarah batik

sejarah Batik

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa..(Kalau ga salah)


Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.(loh katanya kerajaan Majapahit ko jadi kerajaan Mataram????)

Jadi kesenian batik gaul ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batikkus adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman Majapahit(Kerajaan tempo dulu gtu deh)
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

Batik Solo dan Yogyakarta

Dari kerjaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, pleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagamgan.

Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.

Sedangkan Asal-usul pembatikan didaerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan raj any a Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.

Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainy a. Meluasny a daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.

Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.

question

FRAKTAL BATIK KOMPUTASIONAL
INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
DEPAN - FRAKTAL - BATIK HIBRIDA - BATIK INOVATIF - TANYA-JAWAB
----------------------------------------------------------------------------






Keunikan Batik
Batik merupakan ikhwal kriya tekstil yang tak asing bagi orang Indonesia, bahkan sering menjadi sebuah simbol akan bangsa Indonesia. Batik dikenal erat kaitannya dengan kebudayaan etnis Jawa di Indonesia bahkan semenjak zaman Raden Wijaya (1294-1309) pada masa kerajaan Majapahit. Namun pada dasarnya berbagai bahan sandang memiliki corak batik juga dari luar pulau Jawa, misalnya di beberapa tempat di Sumatera, seperti Jambi bahkan beberapa tempat di Kalimantan dan Sulawesi. Motif batik digunakan mulai dari hiasan, kain sarung, kopiah, kemeja, bahkan kerudung dan banyak lagi. Namun hal yang sangat menarik dengan batik adalah bahwa ia merupakan konsep yang tidak sederhana bahkan dari sisi etimologinya. Batik dapat merepresentasikan ornamentasi yang unik dan rumit dalam corak dan warna dan bentuk-bentuk geometris yang ditampilkannya. Namun yang terpenting adalah bahwa batik dapat pula merepresentasikan proses dari pembuatan corak dan ornamentasi yang ditunjukkan di dalamnya.

Proses batik atau dalam verbia disebut pula sebagai “mbatik”, merupakan hal yang tidak sesederhana menggambarkan sebuah lukisan, misalnya. Multiperspektif yang terpancar dari ornamentasinya merupakan hasil dari proses dan tahapan-tahapan pseudo-algoritmik yang sangat menarik. Berdasarkan publikasi “Batik: The Impact of Time and Environment” oleh H. Santosa Doellah yang diterbitkan oleh Danar Hadi, terdapat setidaknya tiga tahapan proses dalam ornamentasi batik, yakni:

1. “Klowongan“, yang merupakan proses penggambaran dan pembentukan elemen dasar dari disain batik secara umum.

2. “Isen-isen“, yaitu proses pengisian bagian-bagian dari ornamen dari pola isen yang ditentukan. Terdapat beberapa pola yang biasa digunakan secara tradisional seperti motif cecek, sawut, cecek sawut, sisik melik, dan sebagainya.

3. Ornamentasi Harmoni, yaitu penempatan berbagai latar belakang dari desain secara keseluruhan sehingga menunjukkan harmonisasi secara umum. Pola yang digunakan biasanya adalah pola ukel, galar, gringsing, atau beberapa pengaturan yang menunjukkan modifikasi tertentu dari pola isen, misalnya sekar sedhah, rembyang, sekar pacar, dan sebagainya.

Fraktal: Geometri Batik
Hal yang menakjubkan dari batik adalah bahwa batik adalah sebuah proses yang lahir dari sistem kognitif dan penggambaran akan alam dan lingkungan sekitar. Batik tercipta melalui pemetaan antara obyek di luar manusia pembatik dan artikulasi kognisi dan aspek psikomotorik yang tertuang dalam kriya batik.

Meski batik tak mungkin bisa dilihat dengan melepaskan konteks dan proses pembuatan dari batik tersebut, motif dan ornamentasi yang terkandung dalam batik pun ternyata memiliki tingkat kompleksitas yang sangat menarik.

Cara pandang akan bentuk-bentuk geometris kita saat ini cenderung terkait erat dengan geometri yang diwarisi dari cara pandang pakem Aristotelian barat, yang memandang dimensi geometris sebagai bilangan asli. Dimensi 1 sebagai garis, dimensi 2 sebagai bangun datar, dimensi tiga sebagai bangun ruang, dan seterusnya. Namun dunia ternyata tak sesederhana itu. Perjalanan panjang sejarah ilmu pengetahuan telah membawa kita pada kenyataan ilmu pengetahuan sebagaimana kita saksikan sekarang ini. Dalam perjalanan filsafat ilmu pengetahuan, sains menjadi selalu bersifat positif terhadap kenyataan; bahwa sains tak terbatas, reduksionisme merupakan hal yang pada akhirnya akan membawa kita pada penjelasan yang utama dan fundamental, dan seterusnya.

Kejadian aneh kita anggap sebagai bentuk kerandoman. Ilmu pengetahuan telah sangat percaya diri, hingga akhirnya meta-matematika mulai mempertanyakan aritmatika (oleh matematikawan Kurt Godel, 1931), filsafat mulai berbicara tentang paradoks dan keabsahan deduksi (oleh filsuf Bertrand Russel, 1903), sosiologi mulai berbicara tentang posmodernisme (sosiolog Jean Jaques Lyotard, 1979), gelombang karya seni multi-perspektif seperti dadaisme pada senirupa dan psikodelik pada seni musik, dan banyak lagi di hampir semua lini ilmu pengetahuan dan seni modern, termasuk pertanyaan tentang panjang garis pantai dan bahwa geometri mulai berkenalan dengan konsep fraktal (Benoit Mandelbrot, 1982). Filsafat ilmu pengetahuan akhirnya menyadari bahwa ada permasalahan dalam cara bagaimana kita memandang dunia. Reduksionisme filsafat sains dipertanyakan ketika akhirnya secara umum disadari bahwa "keseluruhan jauh lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya".

Dunia itu ternyata tak linier, dan sains yang ada sekarang perlu memperhatikan hal ini. Bahkan secara filosofis, ilmu pengetahuan yang ada saat ini tak boleh berdiri sendiri dengan tradisi dan konvensionalisme yang menyertainya. Pendekatan interdisiplin menjadi penting. Kenyataan akan betapa tingginya kompleksitas alam semesta dan lingkungan sosial kita akhirnya melahirkan bio-fisika, kimia komputasi, ekonofisika, sosiologi komputasi, sains kognitif, ekonomi evolusioner, dan sederet nama yang menggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan mesti mondar-mandir melintas batas pakemnya. Dalam perjalanan sejarah ilmu pengetahuan modern, semua berlandas secara elementer pada cara kita memandang dunia, di mana geometri klasik tak pelak adalah sebuah fundamen-nya. Sejarah ilmu pengetahuan akhirnya menyadari bahwa fraktal lebih baik dan lebih tepat dalam memandang dunia. Kajian yang berdasar sifat fraktal yang menyadari "ke-tidak-purna-an" model semesta yang salah satunya ditunjukkan dengan pengetahuan akan dimensi yang bukan bilangan bulat, tapi justru adalah pecahan.

Kenyataan bahwa batik bersifat fraktal seolah menjadi hal yang menunjukkan bahwa ada kebijaksanaan terpendam dalam penggambaran dunia yang tak seperti geometri Aristotelian yang kita kenal. Hal ini implisit dalam karya-karya batik. Jika seni budaya dan sains modern telah berinteraksi sedemikian sebagaimana kita kenal saat ini, maka jelas budaya kriya batik telah berinteraksi dengan kebudayaan orang-orang yang tinggal di kepulauan Indonesia. Jika fraktal telah menginspirasi perubahan dan menjadi sumber kreativitas dan progresifitas sains di berbagai bidang dalam bentuk interdisiplinaritas, bukankah menjadi tak mungkin jika batik juga dapat memberi inspirasi dan sumber kreativitas cara pandang yang lebih baik akan dunia?

Bukan tak mungkin, bahasa orang Indonesia-nya interdisplinaritas adalah gotong-royong, sebagaimana geometrinya orang Indonesia adalah batik. Penemuan akan aspek fraktalitas pada batik (sebagaimana juga ditemukan pada banyak aspek seni dan budaya kuno dan klasik lain di banyak temapat ketika pengaruh Yunani dan Romawi kuno belum kuat, seperti Cina, India, Arab) memberi kita peringatan bahwa kita perlu mengubah cara pandang kita atas nilai tradisi dan warisan budaya kita. Menikmati batik tak pernah sama dengan cara menikmati lukisan perspektif. Menyelesaikan permasalahan secara mono-disiplin tak pernah sama dengan menggunakan pendekatan interdisiplin.

Kenyataan fraktalitas pada batik, sebagai aspek budaya visual yang erat dengan budaya dan peradaban Indonesia menjadi sebuah hal yang sangat penting.



mbatik: dari ngisen dan iterasi komputasional ke seni generatif
Perkembangan sains dan teknologi modern telah membawa kita pada generasi dimana kita bisa melakukan simulasi yang meniru proses (baik proses alamiah, fisis, biologis, bahkan pergerakan harga dan interaksi sosial) secara komputasional. Dari berbagai pendekatan sains disadari bahwa banyak sekali fenomena alam dan sosial yang terlihat rumit, acak, chaos pada dasarnya berasal dari sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.

Secara aritmatik, pola matematis dan dinamika yang chaos dan terlihat tak-deterministik dapat ditunjukkan dapat lahir dari apa yang sebenarnya sederhana dan justru deterministik. Ini dapat dilakukan karena teknologi komputer mengizinkan kita merekam dinamika secara iteratif.

Bagaimana dengan bentuk-bentuk dan pola yang rumit di alam, seperti awan, asap, pola garis pantai, dan sebagainya yang terlihat acak dan rumit secara visual itu? Teknologi komputasi, sebagaimana dapat diterapkan untuk melihat pola aritmatika sederhana yang menghasilkan chaos dapat pula diterapkan untuk melihat pola geometri sederhana yang menghasilkan fraktal. Usaha melihat fenomena fraktal pada batik telah memperluas pula khazanah dan peluang apresiasi yang lebih lagi pada batik.

Dekade abad ke-21 merayakan perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat. Karya-karya seni, baik rupa maupun suara mulai mengakuisisi teknologi ini untuk memperluas bidang cakupan dan ketakterbatasan daya imajinasi dan kreativitas manusia. Salah satu aspeknya adalah pemahaman akan seni generatif. Seni generatif visual modern diawali dengan membuat aturan-aturan visualisasi yang secara berulang (iteratif) memvisualkan bentuk sederhana sehingga pada akhirnya diperoleh pola-pola yang rumit dan kompleks. Pola seni ini bertumpu pada proses yang atas perulangan pola dan bentuk yang mirip pada media - sebuah kreasi karya seni yang sering menyebut-nyebut seniman Belanda, G. Escher (1898-1972) sebagai perintisnya dalam sejarah seni rupa modern. Jelas pola berulang (baca: iteratif) akan menghasilkan bentuk fraktal sebagaimana pola berulang aritmatik sederhana dapat menghasilkan pola chaos.

Pigmentasi kerang, pola sulir cangkang kerang, bentuk-bentuk rumit dari bunga salju, pertumbuhan kanker, bahkan beberapa pola pergerakan harga saham dan indeks dalam ekonomi menunjukkan pola-pola fraktal. Dengan melakukan "peniruan" secara komputasional dengan berbagai sistem komputasional, kita mengetahui bagaimana pola-pola kompleks dapat terjadi di alam semesta dan lingkunngan sosial kita. Analisis semacam ini dikenal pula sebagai bentuk analisis berdasarkan ilmu generatif, dan berbagai obyek estetik yang melahirkannya dinamai seni generatif komputasional. Dalam studi-studi komputasi dan ilmu geometri fraktal, hal-hal seperti otomata selular, himpunan Mandelbrot dan Julia, sistem-L, kurva Peano, dan sebagainya sering dijadikan bentuk referensi.

Ketika batik telah dapat ditunjukkan pola fraktalnya, maka ia menjadi memiliki peluang untuk dilihat sebagai bentuk generatif. Beruntung, karena kita memang telah pula mengetahui pseudo-algoritma bagaimana menghasilkan batik sebagaimana kita telah singgung sebelumnya: klowongan >> isen >> harmonisasi. Bahkan bukan tak mungkin, beberapa jenis pola fraktal yang telah dikenal sebagai "keindahan matematika" dapat pula meng-inspirasi pola batik. Dari sini, penelitian menunjukkan bahwa terdapat setidaknya 3 tipe pola fraktal yang secara komputasional dapat menjadi bentuk motif batik fraktal generatif secara komputasional, yakni:

Tipe 1: Fraktal sebagai Batik
beberapa jenis fraktal yang dikustomisasi sedemikian sehingga memiliki pola tertentu dapat didesain sebagai inspirasi atas konstruksi desain batik. Kustomisasi dapat dilakukan atas aturan-aturan iteratifnya, modifikasi pada bentuk pencorakan warna, dan sebagainya. Dalam demonstrasi berikut ini, kita mensimulasikan zooming dan kustomisasi teknis pewarnaan dari himpunan Mandelbrot yang dapat digunakan sebagai bahan dasar fraktal batik mode 1.

Tipe 2: Hibrida Fraktal Batik
pola-pola dari fraktal dapat digunakan sebagai pola model utama dari ornamentasi dan dasar dekorasi bersama-sama dengan isen original dari motif dasar batik dan sebaliknya. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan secara komputasional apa yang merupakan motif batik tradisional dengan hasil adaptasi sedemikian dari fraktal non-batik. Modus disain ini menggabungkan secara estetik pola fraktal yangr dilahirkan secara komputasional dan apa yang dilahirkan melalui tradisi budaya batik yang luas dikenal. Dalam demonstrasi ini, ditunjukkan sebuah modifikasi dari sistem-L yang dirancang sehingga menghasilkan bentuk pengisian ruang (space-filling curves) yang dapat dijadikan sebagai bentuk bahan bagi batik untuk dikustomisasi.

Tipe 3: Batik Inovasi Fraktal
merupakan bentuk implementasi dari gambar dengan pola tertentu dan atau acak dengan menggunakan bentuk-bentuk teselasi iteratif atau algoritma pengisian dari ornamentasi batik yang asali sebagai isen atau pola batik yang telah dikenal secara tradisional. Hal ini dapat dilakukan dengan ekstraksi motif dasar dari ornamentasi batik yang kemudian di-iterasi ulang dengan menggunakan pseudo-algoritma batik yang telah dikenal. Sebagai contoh demonstratif sebagaimana yang ditunjukkan pada contoh ini. Di sini, dua motif batik di-proses ulang secara komputasional dengan memberikan desain besar atas pola umum yang secara komputasional akan diproses (isen dan harmonisasi) yang menghasilkan sifat-sifat fraktal sehingga menghasilkan motif yang sama sekali baru dengan memperhatikan pola dan prinsip proses mbatik. Pengguna dapat melakukan kustomisasi dengan pewarnaan tertentu.

Ketiga pola ini merupakan bentuk dari implementasi generatif atas kesadaran bagaimana batik memiliki sifat fraktal dan mendukung peluasan bentuk apresiasi terhadap budaya tekstil Indonesia non-tenun ini.

Catatan
Budaya batik berasal dari pemahaman kognitif yang tertuang ke dalam karya estetika visual yang sedikit banyak memberi gambaran implisit tentang bagaimana orang Indonesia memandang dirinya, alamnya, dan lingkungan sosialnya. Pola batik yang diketahui bersifat fraktal merupakan sebuah kenyataan bahwa terdapat perspektif alternatif yang ada di kalangan masyarakat dan peradaban Indonesia yang unik relatif terhadap cara pandang modern yang umum. Keunikan ini merupakan sesuatu yang penting mengingat fraktal merupakan bentuk pemahaman geometri yang mutakhir dan memiliki kesadaran akan kompleksitas sistem dan menanganinya dengan lebih bijaksana.

Batik sebagai sebuah obyek estetika berpola memiliki tata aturan penggambaran pseudo-algoritmik yang dapat diperlakukan sebagai bentuk seni generatif yang memiliki kegunaan:
- memberikan sumbangan dan inspirasi kepada peradaban umat manusia, khususnya dalam bidang perkembangans seni generatif.
- mendorong dan memperluas ekslorasi dan apresiasi atas batik sebagai bagian dari seni tradisi nusantara Indonesia.
- penelitian tentang aspek fraktalitas pada batik secara umum mendorong penggalian lebih jauh tentang aspek kognitif terkait cara pandang dan kebijaksanaan masyarakat terdahulu kita tentang alam dan masyarakat - mengingat eratnya kaitan antara seni dan sains sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah perkembangan dan sejarah sains modern.

BATIK

Batik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Batik Indonesia

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan "malam" (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya "wax-resist dyeing".

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Jenis batik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

MAGANG

MAGANG/PRAKTEK KERJA

1. Teknologi proses tekstil kerajinan (jumputan, tritik, dan sasirangan)
2. Produk kerajinan anyaman menggunakan serat alam non tekstil dengan teknologi weaving (sarung bantal, topi, tas dan lain-lain).
3. Pewarnaan batik dengan Zat Warna Alam (untuk bahan tekstil)
4. Pewarnaan logam non ferrous dan elektroplating.
5. Teknologi proses batik painting.
6. Produk kerajinan knitting menggunakan serat alam non tekstil.
7. Pewarnaan batik dengan Zat Warna Alam II (untuk bahan serat alam non tekstil).
8. Teknologi proses batik remukan pada bahan sutra.
9. Produk kerajinan macrame menggunkan SANT.
10. Pewarnaan batik dengan ZWA (untuk bahan kombinasi)
11. Sulaman tangan dobel kruistik
12. Produk kerajinan dari kertas seni.
13. Teknik sulaman tangan metode Sashiko.
14. Teknik jahit lipat metode smoke.

INTISARI

Unggulan Ekonomis Penggunaan Zat Penguat lapisan Peka Sinar dari Gondorukem untuk Kasa Cap



INTISARI

Dibuat formulasi zat penguat lapisan peka sinar yang komponen utamanya adalah gondorukem. Gondorukem dicairkan dengan beberapa pelarut organik selektif sampai kekentalan tertentu. Untuk meningkatkan laju pengeringan, sistem larutan gondorukem setelah diberi stabilisator diemulsikan dengan kecepatan pengadukan 5000 rpm (konstan), selama 5 menit dengan pengemulsian dibuat variatif.

Formulasi yang mempunyai tingkat ketahanan optimal ditentukan sebgai berikut : zat penguat lapisan peka cahaya setelah dioleskan diatas lapisan peka sinar (pada kasa cap) diamati laju pengeringannya kemudian diuji ketahanannya terhadap gosokan (makanik) dan pasta zat warna (kimia). Nilai ketahanannya dibandingkan dengan ketahanan zat warna penguat peka sinar yang biasa dipakaiseperti : lak merah, renyulux dan kopal vernis.

Dari hasil percobaan, ternyata bahwa formulasi yang menggunakan pelrut organik terpentin dan emulsifier TS memberikan ketahanan yang paling baik dengan laju pengeringan sekitar 3 jam (alamiah) atau 2 jam (dibantu kipas angin), nilai ketahanan gosok 3-4, sedikit lebih rendah dari nilai ketahanan gosok lak merah (4), sedang komposisinya sebgai berikut : gondorukem : erpentin = 1:1, asam nitrat 0,5%, air 5 % dan pengemulsi 0,325%-0,350%.


PENGARUH SUHU DAN WAKTU OKSIDASI PADA PROSES PENCELUPAN BATIK KAIN KAPAS

DENGAN ZAT WARNA INDIGOSOL



PENELITIAN REKAYASA PEMBUATAN ALAT CELUP BENGAN TENUN BENTUK HANK



INTISARI

Proses pengerjaan benang tenun bentuk hank dengan alat celup tradisional (bak) dapat ditingkatkan efisiensi dan kualitas hasilnya apabila ditambah peralatan yang lebih efektif dan mempunyai kestabilan yang mantap. Teknologi penggulungan benang, pencelupan dan pengerjaan bahan logam dan pengetahuan tentang elemen mesin merupakan landasan yang dipergunakan dalam perencanaan rekayasa peralatan. Kegiatan penelitian meliputi pembuatan desain, bagian peralatan, suku cadang, perakitan dan ujicoba. Kemudian dilakukan pengujian ketidakrataan serta pengamatan jalannya proses.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peralatan dapat berfungsi dengan baik dan selama ujicoba terjadi kekusutan benang sebanyak satu kali untuk warna biru dan dua kali pada warna merah dengan hasil kerataan kedua warna mempunyai koefisien variasi dibawah satu persen.


INTISARI

Pencelupan batik dengan zat warna indigosol memerlukan sinar matahari untuk membangkitkan warnanya (oksidasi), karenanya pencelupan batik bentuk panjang dengan alat celup BLC mengalami kesulitan. Agar batik bentuk panjang (dengan alat BLC) dapat dicelup dengan zat warna indigosol, maka dilakukan penelitian untuk mengganti energi matahari dengan larutan oksidasi panas. mengingat sifat lilin batik yang melunak pada suhu tinggi, maka oksidasi dilakukan pada suhu 40 derajat celcius selama 1, 2, dan 3 menit.

Hasil penelitian diuji kekuatan tarik dan ketuaan warnanya. Dari evaluasi dapat diketahui bahwa kekuatan tarik lusi terendah sebesar 12,70 kg/cm2 lebih tinggi dari standar (Standar SII 10,39 kg/cm2). Untuk ketuaan warna, warna Grey IBL dan Green I3B lebih tinggi dari warna hasil pencelupan tradisional, sedangkan warna Pink R berada 1 tingkat dibawah hasil celupan tradiional.


DAYA SAING PROSES "BATIK RADIOAN" DENGAN ZAT WARNA REAKTIF DAN INDATHREEN



INTISARI

Pada proses Batik Radioan digunakan tahapan proses pemutihan yang berdampak menurunnya kekuatan tarik kain. Untuk mengatasi hal ini perlu dikembangkan proses penyempurnaan Batik Radioan yang tidak mengurangi kekuatan tarik tetapi kemurnian warnanya sama, sehingga warna pertama bila ditumpangi warna kedua tidak akan timbul warna tunpangan, warna yang diperoleh tetap warna yang kedua.

Dari hasil penelitian proses Batik Radioan dengan zat warna efektif dan indathreen sesuai dengan sifat kimianya, diperoleh efektifitas proses tanpa diperlukan tahap pemutihan karena zat warna rekatif dan indathreen mengandung gugus yang bila direduksi akan pecah dan mengikat ioh H dan membentuk gugus amin yang tidak berwarna. Selain itu biaya proses dapat ditekan dengan memperhitungkan harga zat warna dari yang termurah sampai yang termahal. Zat warna yang diperhitungkan antara lain zat warna reaktif, indathreen, indigosol, dan naphtol.

Efisiensi proses Batik Radioan dengan zat waran rekatif dan indathreen mencapai 8,76% sampai dengan 41,33% dari perhitungan harga zat warna termurah sampai dengan yang termahal utnuk zat warna tersebut diatas.

PENENTUAN KONSENTRASI ALKALI (NaOH) DAN JENIS OKSIDATOR PADA PEWARNAAN BATIK SUTERA DENGAN ZAT WARNA INDANTHREEN



INTISARI

Pewarnaan batik sutera dengan zat warna Indanthreen adalah salah satu alternatif aplikasi pewarnaan batik. Tetapi pada prosesnya diperlukan alkali (NaOH) sebagai zat pembantu pelarutan zat warna yang sifatnya dapat merusak serat sutera. Penelitian dilakukan untuk menentukan konsentrasi alkali yang diwujudkan dalam formulasi perbandingan zat warna : alkali : zat pereduksi. Pembangkitan warna dilakukan dengan cara oksidai dengan udara, H2O2 dan NaNO2 + H2SO4 (1 :5). Hasil percobaan diuji ketahanan luntur warna, kekuatan tarik kain dan kilau sutera dengan cara metode rangking. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa formulasi B ( 1 : 1,5 : 4 ) dengan oksidasi H2O2 selama 2 menit, menghasilkan ketahanan luntur warna yang baik, nilai rangking tertinggi serta kekuatan tarik kain memenuhi syarat mutu batik sutera (SNI 08-4039-1996).

PENGKAJIAN ZAT WARNA ALAM UNTUK BATIK SEBAGAI ALTERNATIF PEWARNA



INTISARI

Harga zat warna sintetis yang sangat tinggi dan beberapa diantaranya antara lain zat warna Naphtol diduga bersifat karsinogenik, telah mendorong pengkajian kembali terhadap kemungkinan penggunaan zat warna alam untuk batik sebagai alternatif pewarna. Dalam penelitian ini telah dilakukan identifikasi terhadap 17 jenis zat warna alam yangberasal dari bagian tumbuh-tumbuhan : kayu, umbi, akar, daun, kulit buah, kulit kayu dan getah. Zat warna yang terkandung didalamnya diambil melalui proses ekstaksi dengan pelarut air, vlot 1 : 10 pada suhu kamar (29*C) selama 24 jam, kemudian dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu yang divariasikan 50*C dan 90*C, selama 1 jam. Ekstrak yang diperoleh digunakan utnuk mencelup kain katun mori Primissima merser. Pencelupan dilakukan sebanyak 6 kali, selanjutnya kain difiksasi dengan larutan tawas 10 g/l. Hasil pencelupan diuji terhadap kualitas pewarnaan dan dihitung tekno ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan dari 17 jenis sumber zat warna alam yang diteliti, terdapat 11 jenis sumber zat warna alam yang secara teknis dan ekonomis layak utnuk pewarna batik, sedangkan 6 jenis lainnya perlu penelitian lebih lanjut untuk kelayakannya secara teknis. Suhu ekstraksi berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas ekstrak zat warna alam yang diperoleh.

MODIFIKASI MEJA EVALUASI PERBEDAAN WARNA

PADA INDUSTRI TEKSTIL KERAJINAN DAN BATIK





INTISARI

Industri tekstil kerajinan dan batik dalam mengevaluasi ketidak seragaman kualitas, dilakukan dengan pengujian perbedaan warna produk yang dihasilkan. Kekeliruan penilaian hasil pengujian dapat diminimalisasi apabila ada sarana kotak penilaian yang menjaga standar penyinaran yang meneranginya.

Penilaian perbedaan warna dilakukan pada kekuatan penerangan 50 feet candle atau lebih. Penerangan tersebut dapat disubstitusikan cahaya lampu listrik setara dengan 62.849,7 Lumen yang terdiri dari penggabungan warna ungu (violet), biru, putih dan kuning/jingga.

Meja evaluasi direncanakan berupa penggabungan berbagai warna sinar lampu listrik pada suatu ruangan, yang kemudian dilewatkan pada kaca pembaur sinar. Hasil sinar pada jarak tertentu dipakai untuk menyinari hasil pengujian perbedaan warna yang akan dinilai. Pembuatan meja diawali dari bagian box pengumpulan sinar yang berada diatas meja evaluasi dan bertumpu pada empat tiang penyangga. Pengerjaan pembuatannya sesuai aturan teknik pengerjaan yang berlaku.

Hasil unjuk kerja peralalatan terlihat bahwa sinar yang dihasilkan dapat menyinari obyek contoh uji pada setiap sudut meja tanpa menimbulkan bayangan. Kekuatan penyinaran yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dikatakan bahwa meja dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

OPTIMALISASI PENGGUNAAN ZAT WARNA PEREDUKSI DAN WAKTU FIKSASI PADA PEMBUATAN BATIK ETSA DENGAN BAHAN BAKU RAYON VISKOSA



INTISARI

Pembatikan etsa memungkinkan menghasilkan produk yang lebih efisien dan murah karena proses pelekatan lilin yang pertama sesuai desain motif, diganti dengan pencapan etsa putih. Pembuatan batik etsa pada kain rayon viskosa (shatung) belum lazim dilakukan karena serat rayonviskosa mempunyai derajat polimeraisasi jauh lebih rendah dari pada serat kapas sehingga daya tahan serat rayon secara fisika kimia lebih rendah dari serat kapas. Untuk membuat batik etsa pada bahan rayon viskosa dengan proses cabut warna tanpa merusak kainnya, dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi zat pereduksi dan waktu fiksasinya dengan cara pengukusan (steam). Hasil percobaan diuji derajat putih dan kekuatan tarik kain ke arah lusi dan pakan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapan pasta cap etsa putih dengan konsentrasi 50 g/kg zat pereduksi dan waktu fiksasi selama 12 menit pada suhu pengukusan 100 derajat Celcius medapatkan hasil yang sempurna dengan nilai derajat putih 75,83 dan kekuatan tarik arah lusi 9,37 kg/meter persegi, kekuatan tarik arah pakan 7,49 kg/meter persegi memenuhi syarat mutu batik rayon.



perbedaan batik

Perbedaan Batik Tulis dan Cap


Batik Tulis

1. Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
2. Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
3. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
4. Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
5. Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
6. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
7. Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
8. Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.

Batik Cap

1. Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
2. Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
3. Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
4. Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
5. Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
6. Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
7. Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.

Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:

* Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
* Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
* Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
* Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
* Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
* Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
* Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.

About Me

My Photo
Lulus dari seni rupa Solo Dan Jogya, jurusan seni kriya batik, patung dan ukir kayu,dan melanjutkan ke Design Komunikasi Visual ( DISKOMVIS ) Menyukai Teater, dan lukis, telah mengikuti beberapa lomba dan pameran, baik, pameran seni kriya, patung, lukis di solo dan jogya Bekerja di Ramayana Lestari Santosa Tbk Group di Jakarta( 1992 – 1993) Surabaya ( 1993 – 1994 ) Jogyakarta( 1994 – 1995 ) Semarang( 1996 – 1997 ) Bali ( 1997) sebagai Visual merchandiser. Visual merchandiser Pt Pakuwon Jati Tunjungan plasa Surabaya( 1995) Dekorator Citraland Semarang ( 1996 – 1997 ) Fashion Show Bali fashion week 2001 Hongkong Fashion Week 2006 Bali fashion week 2005 Fashion Tendenace APPMI Jakarta 2005 Fashion JFFF Jakarta 2006 Bali fashion week 2007 Dubai Fashion Week 2005 Fashion show german venus fair 2007 Fashion show indonesia switzerland 2008 Jebolan tata busana di LPTB Adrianto Halim Masuk APPMI ( 2004 sampai sekarang, Sebagai guru pengajar di Bali design Scholl LPTB Susan Budihardjo bali thn 2008 Fashion Els School Bali

Followers